
Bertemu Lasio
Lexsi tidak menjawab tapi justru pergi begitu saja, setelah menyimpan sendok dan garpu di atas piring yang masih penuh. Ia hanya makan tiga sendok saja saat sarapan pagi itu.
Ia langsung menaiki mobil tuanya dan memacu di jalanan dengan kecepatan penuh. Sebagian orang tidak akan percaya kalau mobil tua bercat kusam itu, bisa berlari sekencang mobil sport masa kini. Ia pergi tanpa memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya, yang saat itu pun bertengkar karena ulahnya.
Lusi dan Lextra mendebat karakter Lexsi yang tidak sesuai dengan harapan mereka, kedua orang tua itu saling menyalahkan, karena masing-masing punya andil dalam membuat perangainya yang kasar.
Sebenarnya Lexsi tidak ingin dirinya selalu disalahkan karena orang lain. Perasaan terkucil karena diejek masa anak-anak, membuatnya belajar agar tidak memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Oleh karena itu ia lebih baik menghindari masalah, di mana ia akan di cecar tentang keputusan atau pun kepribadiannya.
Sesampainya di kantor ia mengerjakan hal yang biasa, semua pegawai yang melihatnya termasuk Leo, terkesiap dengan perubahan Lexsi, bos mereka. Ia seorang pria yang kemarin masih berambut gondrong, berjanggut dan berkumis tebal. Namun, kini ia bagai pangeran berkuda tampan dalam dongeng putri raja, yang memesona.
“Apa ada yang aneh? Mereka seperti baru pertama kali melihatku!” kata Lexsi saat melewati sebuah ruangan yang terbuka dan para pegawai secara serentak menghentikan aktivitas mereka.
“Apa Anda tidak sadar, Tuan? Penampilan Anda berubah!”
“Biasa saja! Atur pertemuanku dengan Lasio, nanti siang. Cari informasi dia akan makan siang di mana hari ini?” Lexsi mengalihkan topik pembicaraannya.
Permintaan Lexsi sontak membuat Leo heran, sebab ini tugas yang tidak biasa. Selama ini perusahaan mereka tidak pernah terlibat, dengan urusan Lasio dan juga yayasannya.
Namun, karena Leo masih sebagai pegawai terhukum yang tidak bisa berbuat apa-apa, mau tidak mau ia pun menuruti pimpinannya, dan segera menghubungi seseorang yang kira-kira bisa membantu mendapatkan informasi itu.
Setelah lewat beberapa jam, barulah Leo mendapatkan informasi yang diinginkan Lexsi. Begitu ia memberitahukan di mana Lasio makan siang, Lexsi langsung pergi begitu saja ke tempat yang menjadi tujuannya.
Lexsi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti biasanya. Perjalanan yang cukup jauh pun bisa dilewati dengan cepat. Akhirnya Lexsi berhasil tiba lebih dulu di sebuah restoran klasik, dengan gaya oriental yang sangat kental.
Ia memilih duduk di dekat pintu agar bisa dengan jelas melihat siapa pun yang datang ke tempat itu.
Dari menu makanan dan juga tempat yang terkesan spesial, menunjukkan kalau hanya kalangan tertentu saja yang datang menikmati makanannya.
Selama menunggu, Lexsi memesan secangkir kopi pahit, dan menikmatinya dengan sedikit gelisah, sambil melihat ke arah pintu dan ponselnya secara bergantian.
__ADS_1
“Nah! Itu dia!” katanya begitu Lasio muncul dengan seorang asisten dan seorang wanita yang terlihat lebih tua darinya.
Lexsi beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Lasio dengan sopan dan tenang.
“Halo! Benarkah Anda Tuan Lasio?” tanya Lexsi setelah berada tepat di hadapan Lasio tanpa mencegah perjalanan rombongan kecil itu.
Lasio melihat pada Lexsi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Perkenalkan, nama saya Lexsi Huamish!” kata Lexsi sambil mengulurkan tangannya. Lasio menerima dengan hangat, ia pernah mendengar nama Humaish, sebagai nama salah satu keluarga terhormat dan terpandang di kota.
“Ya. Benar, saya Lasio.”
“Senang berkenalan dengan Anda!” kata Lexsi.
“Tentu, saya juga. Selama ini saya hanya mengenal nama belakang keluarga Anda. Oh ya, perkenalkan juga, ini asisten pribadi dan sekretaris saya!” kata Lasio menunjuk dua orang lelaki dan perempuan yang ada di belakangnya.
Mereka saling berjabat tangan, lalu sepakat untuk makan siang bersama dalam satu meja.
Lexsi memulai pembicaraan serius, setelah mereka selesai menikmati makan siang.
“Saya ingin menanyakan satu hal yang bersifat sangat pribadi pada Anda,” katanya.
“Masalah apa, Tuan Lex?”
“Seorang perempuan bernama Lela.”
Mendengar ucapan Lexsi, Lasio menoleh ke kanan dan kirinya, meminta dua orang asisten dan sekretaris wanitanya untuk menjauh. Kedua orang itu pun pergi dari ruang privat yang di sewa Lexsi.
“Apa yang Anda tahu soal Lela?” tanya Lasio penasaran, sebab ia melakukan transaksi dengan penuh kerahasiaan, bahkan mengutus sopir yang berbeda, saat mengunjungi club malam dan membawa Lela pulang.
Namun, sekarang Lexsi bisa mengetahuinya hingga ia pun, jadi waspada kalau saja Lexsi mengetahui lebih jauh tentang transaksinya. Biar bagaimanapun juga, nama baiknya harus tetap di jaga.
__ADS_1
Lasio sedang menyelidiki Lela lebih jauh tentang, sebab dirinya bisa berada di club malam itu. Ia tidak bisa menanyakan langsung padanya, karena terikat perjanjian. Salah satu poin menyebutkan bahwa, mereka dikarang mengurus urusan pribadi masing-masing. Tentu saja hal itu membatasi geraknya, tapi, tidak masalah selama Lela bersedia menjadi Lilian demi ibunya.
“Sebenarnya, Lela adalah kekasihku!” kata Lexsi tegas, membuat Lasio terdiam sambil menghela napas dalam.
“Apa buktinya kalau dia kekasih Anda, Tuan Lex? Bagaimana dia bisa berada di club malam dan dijual sementara dia mempunyai kekasih seperti Anda?” ucapan Lasio menunjukkan pendapat kerasnya bahwa, ia heran mengapa Lexsi tiba-tiba datang dan mengaku kekasih Lela.
Dalam hati, Lasio sudah mulai tertarik dengan gadis yang dinilainya begitu sabar serta baik dalam merawat ibunya. Setahu Lasio, Lela sudah tidak memiliki seorang ibu, oleh karena itu ia dapat berperan sangat baik sebagai Lilian, dan menganggap Lina sebagai teman.
“Itu karena kesalahan seseorang dan saat aku mencarinya, dia sudah Anda bawa. Selama ini saya berada jauh dari kedua orang tua saya, hingga saya tidak tahun kalau dia punya masalah!”
“Anda melakukan hubungan jarak jauh?”
“Bisa dikatakan seperti itu.”
“Apa yang Anda inginkan, Tuan Lex? Terus terang saya sangat membutuhkannya.”
“Apa Anda membayar atau memanfaatkannya hanya karena Anda sudah membelinya?”
“Saya membayarnya dengan gaji yang sangat pantas. Saya menghargainya! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan kalau dia tidak ada.”
“Bagus kalau begitu!”
“Apa masalahnya, kalau saya boleh tahu?”
Lexsi menceritakan dengan singkat bagaimana Lela bisa terjebak dalam pusaran perdagangan orang yang dilakukan oleh pamannya itu. Ia tidak menutupinya sedikit pun, dengan mengatakan bahwa hubungannya sudah sangat dekat dengan Lela. Bahkan ia berniat akan menikahinya secepat mungkin.
Mendengar cerita dari Lexsi, Lasio tertegun, tiba-tiba ada rasa sakit di sudut hatinya. Ia tidak rela kalau harus melepaskan Lela, gadis sederhana yang diam-diam mencuri perhatiannya.
“Maaf, Tuan Lexs. Sepertinya saya tidak bisa meneruskan pembicaraan ini, karena saya masih harus bekerja, lain waktu mungkin kita bisa bicara lagi soal Lela. Tenang saja, saya akan memastikan kalau dia bahagia bersama dengan keluarga saya.”
Ucapan Lasio membuat Lexsi berpikir lebih keras tentang maknanya yang terdengar sangat ambigu. Namun, sampai Lasio menjauh pun, ia tidak bisa Manahan laki-laki itu pergi.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️