
Anak Wanita Tua
Leimena tidak menjawab, tapi merangkul bahu Lexsi dan berjalan keluar kamar. Ia menoleh pada Lela sebelum menutup pintu.
“Istirahatlah!” katanya.
Di luar ruangan, Leimena dan Lexsi bicara empat mata, jauh dari penjaga di pintu kamar Lela.
“Kau tahu siapa ayah Lela?”
“Aku memiliki datanya di rumah, tapi aku tidak ingat siapa nama kedua orang tuanya, kenapa?”
“Aku tidak yakin!”
“Katakan padaku!”
Leimena mengatakan pada Lexsi, kalau kemungkinan mereka bersaudara. Ia tahu dari wajah Lela yang memiliki kemiripan dengan sang ayah. Lagi pula, ia sudah melihat tanda di bahu Lela, sama persis seperti yang dikatakan ayahnya sebelum tiada.
Ayahnya berpesan menjelang kematiannya jika ia memiliki seorang adik yang berada jauh di pinggiran kota. Dahulu laki-laki itu sempat pergi untuk menenangkan diri, karena tidak sanggup kehilangan istrinya yang lebih dulu pergi. Saat itu Leimena masih remaja, dan hidup bersama dengan kakek neneknya.
Leno sempat terlantar di pengasingan dan kemudian ditolong oleh seorang wanita bernama Lesira. Lama kelamaan akhirnya mereka sepakat menjalin hubungan dan menikah meski usia tak lagi muda. Ya, karena mereka sudah saling jatuh cinta.
Setelah mereka menikah, Lesira pun melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Lela. Namun, hubungan itu hanya bertahan selama delapan tahun, karena Leno memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya. Pria itu mendapat kabar jika Leimena sakit keras dan membutuhkan kehadirannya sebagai seorang ayah.
Setelah kembali bersama dengan ayahnya, Leimena berangsur-angsur pulih. Ia cukup senang karena sang ayah tidak pernah kembali ke tempat pelarian di mana ia menenangkan diri.
Selama bersama, ayah Leimena tidak pernah mengatakan apa pun tentang pernikahannya, dan juga anak yang sudah dilahirkan dari hubungan dengan Lesira—ibunda Lela. Ia baru mengatakan semuanya, setelah jatuh sakit, semakin hari semakin parah.
Leimena yang sudah menjadi dokter waktu itu, terus merawatnya dengan baik. Walaupun, akhirnya pria itu tiada setelah berpesan untuk menjaga dan menyayangi Lela.
“Walaupun dia tidak lahir dari rahim ibumu, tetapi dia tetaplah adikmu ... maafkan Ayah yang tidak pernah berterus terang selama ini, karena ayah kuatir kau tidak akan bisa menerimanya, tetapi sekarang Ayah rasa kau harus tahu semuanya.” Kata Leno—ayah Leimena, disela-sela napasnya yang sesak.
__ADS_1
“Nak, Ibunya bukanlah wanita cantik yang masih muda dan menggodaku, bukan! Dia benar-benar wanita mapan yang tidak membutuhkan laki-laki seperti aku, tetapi dia mau mencintaiku dan aku tidak menyangka di usianya yang sudah lanjut, bisa melahirkan seorang anak wanita yang memberikan kebahagiaan berbeda ... maafkan ayah, sungguh aku melakukannya bukan karena tidak mencintaimu, kalian adalah anak-anakku, aku mencintai kalian berdua.”
Itulah ucapan terakhir yang Leimena ingat dari ayahnya, sedangkan Lexsi mendengar kisah sahabatnya, sambil mengerutkan kening. Ia pun berpikir kalau Lela benar-benar adik dari pria di hadapannya itu, maka ia tidak bisa sembarangan dalam bersikap.
“Kalau begitu, katakan saja langsung padanya,” kata Lexsi.
“Tidak sekarang,” sahut Leimena, sambil berlalu meninggalkan Lexsi.
Lexsi tertegun sambil berpikir bagaimana ia harus menjelaskannya pada Lela tentang perasaannya.
Keesokan harinya setelah Lela sudah bisa melepas selang oksigen, ia mulai belajar mengeluarkan ASI di bantu seorang suster. Ia pun sudah kuat duduk dan melihat anaknya di ruang khusus, meski harus menggunakan kursi roda. Tentu perkembangan diri dan anaknya semakin baik dari waktu ke waktu.
Lexsi dengan setia mendampingi Lela dan sering melihat anaknya, meski hanya dari balik kaca.
$$$$$$$$$$
Sepekan kemudian, kabar keberadaan Lexsi di kota dan menempati apartemen pribadinya, tercium oleh Lusi dan Lexta. Setelah mencari informasi dari Leo, mereka pun marah besar. Mereka langsung pergi ke rumah sakit setelah mengetahuinya. Lalu, menemui Lexsi yang baru saja keluar dari ruangan bayi, mereka membawanya ke salah satu sudut ruang yang sepi.
“Maafkan saya, Tuan!” kata Leo setelah semua orang itu bertemu.
“Dasar, kau bekerja tidak pakai otak!” keluh Lexsi. Ia kecewa karena seharusnya Leo tidak belanja seorang diri dan ketahuan oleh ibunya.
Sementara Leo harus menghemat uang karena bekerja tanpa di bayar, hingga ia tidak mungkin membayar asisten hanya untuk belanja. Namun, nasib sial menimpanya.
Lexsi, dikelilingi oleh Lusi, Lextra, Leo dan Leimena yang kebetulan ada di sana. Mereka mempertanyakan kejujuran pria itu dengan semua yang perbuatannya. Siap tidak siap ia harus mengatakan semua pada kedua orang tuanya, lalu ia pun menceritakan kejadiannya dari awal hingga saat membawa Lela ke rumah sakit.
Plak! Suara tamparan keras yang berasal dari Lusi di pipi Lexsi. Wanita itu sangat marah dan juga kecewa karena merasa tidak dihargai oleh anaknya.
“Ibu?” lirih Lexsi.
“Apa? Kau pikir aku takut? Walaupun kau punya badan besar dan kuat, aku tidak takut padamu, Lex! Aku ibumu,” kata Lusi dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Lexsi diam, tamparan Ibunya tidak terasa sakit sama sekali.
“Kau tidak mengatakan hal sebesar ini kepadaku, memang kau anggap apa aku, ha?”
“Aku khawatir ibu tidak menyukainya!” sahut Lexsi.
“Lex! Aku akan setuju walaupun kau menikahi gembel sekalipun, lihat dirimu itu? Hitung juga usiamu! Kau pantasnya tak punya otak, menghamili anak orang dan membawanya kabur dari Tuan Lasio yang sudah membantunya?” Lusi mengoceh dengan suara lantang, tidak perduli didengar orang.
“Mau di taruh di mana muka keluarga kita, Lex? Kau pikir Tuan Lasio mau dan tetap bertahan menerima perjanjian dengan kita setelah kejadian ini?” ujar Lextra.
“Kenapa tidak? Dia sudah tahu, Lela itu hamil anakku!” tandas Lexsi
“Kau?” geram Lusi.
“Kita harus segera menemui Tuan Lasio secara resmi dan mengucapkan permintaan maaf padanya, kalau perlu beli dia kompensasi!” sahut Lexstra.
“Astaga ...! Ayah, Ibu ..., Lela bukan perjanjian perusahaan, tidak perlu kompensasi!”
Lexsi cukup kecewa karena kedua orang tuanya hanya memikirkan bisnis semata. Keadaan Lela dan bayinya bagi mereka tidak penting, karena yang penting adalah nama baik dan juga perusahaannya.
“Ayo! Tunjukkan di mana cucuku!” kata Lusi membuat Lexsi bernapas lega, setidak-tidaknya Lusi menyebut anaknya sebagai cucu.
Rombongan kecil itu melangkah ke ruangan di mana bayi Lela berada. Tampak seorang perawat sedang memberikan susu botol kepadanya. Mereka terlalu banyak hingga tidak diizinkan untuk masuk dan hanya melihat dari jendela kaca. Lusi tersenyum tipis, ia begitu kasihan melihat bayi merah yang masih lemah itu, ada sedikit kasih sayang di matanya.
Mereka pun meminta agar Leksi segera mendaftarkan pernikahan dengan Lela, hingga resmi menjadi suami istri di mata hukum. Sedang untuk urusan resepsi bisa diselenggarakan kemudian, setelah Lela dan bayinya sehat.
Kedua orang tua Lexsi, segera membuat kesepakatan, yang akan membuat pesta pernikahan tiga bulan kemudian, setelah kedua anaknya yang berada di luar negeri, benar-benar bisa menyisihkan waktu untuk menghadiri pesta kakak mereka.
Sementara Leimena pun merasa bahagia, karena kedua orang tua Leksi bisa menerima kehadiran bayi itu dengan senang. Ia tetap berharap, setelah bertemu Lela nanti, baik Lekra maupun Lusi pun tidak ada perdebatan dalam menerimanya.
Mereka kini beralih ke kamar Lela, Lexsi ingin memperkenalkan Lextra dan Lusi, pada wanita yang telah melahirkan anaknya. Kebetulan sekali saat berada di dalam, Lela tidak sedang tidur.
__ADS_1
“Kenalkan ini ayah dan ibuku!”
❤️❤️❤️❤️