
Darah Yang Sama
“Ya! Keluarga yang bersamanya tidak punya darah yang sama!”
“Apa golongan darahnya?”
“B+, Tuan!”
“Kalau begitu, ambil darahku!”
Suster itu menatap Lexsi dengan tatapan ragu bahkan sedikit takut, tapi ia mengangguk juga setelah itu.
“Baiklah, ikut dengan saya!”
Lexsi mengikuti langkah suster itu dengan cepat ke salah satu ruang yang biasa digunakan untuk mengambil donor darah. Ia harus menjalani beberapa pemeriksaan, sebelum darah benar-benar di ambil sesuai kapasitas biasa seorang pendonor.
Saat melewati ruangan operasi, Lexsi sempat melirik pada Larin, wanita itu tampak begitu cemas. Lexsi tahu siapa Larin.
Setelah darahnya selesai di ambil, Lexsi masih diharuskan berbaring selama beberapa saat di tempat tidur pasien. Ia tersenyum bahagia bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan oleh Lela. Bahkan, jauh lebih baik dari yang Lasio berikan padanya.
Larin melihat Lexsi keluar dari ruangan pendonor, dengan langkah perlahan. Pria itu merasa lebih baik, padahal sebelumnya sempat merasa lemas akibat darahnya baru saja disedot. Sebenarnya itu hal yang normal. mengetahui jika Lexsi adalah orang yang sudah memberikan darahnya untuk Lela, dan ia pun mendekat.
Lalu, mereka duduk di kursi besi panjang di depan kamar operasi.
“Terima kasih, Tuan! Anda sudah mau menyumbang darah untuk Lela, dia saudara kami!” Larin memulai obrolan sambil membungkuk hormat pada Lexsi.
“Ya. Itu tidak masalah, Lela sudah melahirkan anakku!”
Ucapan Lexsi spontan membuat Larin tercengang dan segera memalingkan muka. Enggan rasanya bicara pada pria yang tiba-tiba datang mengaku sebagai ayah dari bayi yang dilahirkan Lela. Walaupun, ia sudah mendonorkan darahnya. Ada-ada saja.
__ADS_1
“Kau pasti tidak percaya!” kata Lexsi setelah sekian detik lamanya mereka hanya diam.
“Apa yang harus aku percayai?”
“Aku sengaja datang dari kota demi dia!”
Larin mengerutkan kening saat Lexsi mengakui tindakannya. Sebenarnya dia hampir tidak percaya, bagaimana bisa pria itu datang di waktu yang tepat seperti ini. Ada kemungkinan jika pria itu mengawasi Lela.
“Dari mana kau tahu dia ada di sini?” tanya Larin, dan Lexsi tidak menjawabnya karena ia tidak merasa perlu mengatakan soal itu.
“Katakan padaku, bagaimana dia bisa melahirkan? Ini baru tujuh bulan!”
Larin tertegun lagi, karena ucapan Lexsi tentang usia kandungan Lela benar. Gadis itu baru hamil selama tujuh bulan lebih dan dokter menyarankan untuk operasi. Ya, bayi harus segera dikeluarkan karena pendarahan. Padahal, ia pikir, Lela tidak terlalu banyak bekerja. Hanya saja gadis itu pagi ini melakukan gerakan berlebihan, dalam mengikuti olah raga bersama anak-anak dan instruktur senamnya.
Saat datang ke rumah sakit tadi, Lela langsung ditangani dan dokter melakukan observasi hampir satu jam hingga memutuskan untuk operasi dengan segera. Larin sebagai wakil dari keluarga hanya bisa menyetujuinya.
Saat Lexsi datang, operasi baru berjalan sebentar, tapi Larin mengatakan jika Lela pasti baik-baik saja karena gadis itu sangat kuat. Tak lupa Larin pun menceritakan bagaimana Lasio sudah sangat baik padanya.
Lexsi merasa kecut saat Larin dengan lugas mengakui keinginan dan harapannya bahwa Lela bisa menjadi pendamping bagi seorang dermawan seperti Lasio.
“Selama ini, Tuan Las tidak pernah mengabaikan Lela sedikit pun, padahal dia tahu gadis itu hamil anak dari pria lain. Dia sangat mulia bukan?” kata Larin di akhir ceritanya.
Lexsi mendengarnya dalam diam, tanpa ekspresi berati di wajahnya. Ia ingin agar Larin segera berhenti bicara, setelah wanita itu mulai membicarakan Lasio, laki-laki yang menyukai kekasihnya.
Sesaat kemudian, pintu ruang operasi terbuka, padahal Larin hampir membicarakan hal lain lagi tentang kebaikan Lasio padanya. Lexsi merasa senang sekaligus lega karena dengan berakhirnya operasi Lela, artinya berakhir pula cerita Larin tentang Lasio.
“Bagaimana keadaannya, dokter?” tanya Lexsi dan Larin hampir bersamaan, ketika seorang dokter keluar dari ruangan.
“Apa Anda berdua dari keluarga pasien?” tanya dokter itu.
__ADS_1
“Ya!” sahut Lexsi dan Larin, hampir bersamaan lagi.
“Pasien masih belum sadar, tadi agak terlambat di bawa kemari hingga kehilangan banyak darah. Jadi, untuk sementara akan di tempatkan di ruang ICU hingga siuman. Bukan apa-apa, hanya untuk observasi kedua saja!” kata dokter laki-laki itu.
“Apa bisa dilakukan pemindahan?” tanya Lexsi.
“Ke rumah sakit mana?”
“Ke Kota!”
“Bisa saja, silakan lakukan prosedurnya!” jawab dokter itu tegas sambil berlalu dari hadapan Lexsi dan Larin.
“Kalau ingin memindahkannya, kau harus memberitahu Tuan Las!”
“Tidak perlu, dia calon istriku!”
“Sebaiknya pikirkan bayi dan istrimu!”
Aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka, kau tidak perlu kuatir. Dan soal Lasio, aku bisa menanganinya!”
Setelah pembicaraan itu, Larin dan Lexsi mengikuti para petugas medis yang melakukan pemindahan pasien ke ruang ICU, di ruang itu Lela mendapatkan perawatan intensif, sampai proses pemindahan yang di inginkan Lexsi bisa dilakukan.
Pria itu ingin Lela dan bayinya mendapatkan perawatan secara lebih baik di ruang VVIP di rumah sakit besar di kota, tempat di mana Leimena bekerja. Ia tinggal menghubungi sahabatnya itu untuk membantu segala prosesnya.
Keesokan harinya, Lexsi sudah mendapatkan kabar kalau semua proses pemindahan dari rumah sakit lokal ke kota, bisa dilakukan siang harinya, semuanya terjadi saat Lela belum sadarkan diri.
“Sebaiknya segera dilakukan, Tuan Lex! Sebelum pasien siuman.” Dokter berkata dengan wajah cemas, saat mengawasi para petugas medis yang melakukan pemindahan Lela ke dalam ambulans khusus.
“Apa yang harus aku waspadai, Dok?”
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️