Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Kita Bersaudara


__ADS_3

Kita Bersaudara


Tanpa diketahui oleh Lela dan Lexsi, di luar kamar pasien yang tidak tertutup rapat itu ada seorang pria yang patah hati. Ia adalah Lasio yang cemburu melihat keintiman dan keakraban mereka.


Lasio mendengar semua percakapan mereka dari luar, karena ia tidak diizinkan masuk oleh penjaga. Para penjaga tidak mengenal siapa Lasio. Oleh karena itu Ia hanya bisa mengepalkan tangan karena geram, terlalu sakit kali ini sebab cintanya benar-benar suci. Mengorbankan waktu, tenaga dan perasaannya yang sia-sia hanya karena keraguannya untuk bicara.


Selama ini Lasio tidak pernah pengecut, ia selalu berani mengatakan semua hal tentang ingin dan mimpi. Atau cita-cuta suci seperti membuat beberapa panti, dan juga tempat sosial lainnya. Keinginan memiliki Lela adalah niat terbaik dalam hidupnya, tapi justru ia tunda.


Permainan takdir ternyata hanya membawanya berputar pada kisaran kekecewaan tentang pendamping hidup. Dicintai banyak anak yatim, orang tua jompo, para fakir miskin, nyatanya justru membuatnya abai pada cinta pribadi yang setengah mati ia cari.


Tentu setiap episode drama selalu akan ada orang yang patah hati, mungkin kini gilirannya merasakannya lagi. Namun, babak kehidupan tidak boleh berhenti, ia harus tetap menjalaninya walau hanya tinggal separuh jiwa.


Masih banyak anak yatim yang menunggu uluran tangannya, masih ada para pelajar yang membutuhkan bantuannya dan banyak juga orang miskin yang menginginkan derma darinya.


Lasio melangkah pergi dengan gontai, bagai pohon yang tercabut dari akarnya. Ia sudah mengetahui semua kejadiannya dari Larin. Ia yakin kalau Lexsi bisa datang ke rumah sakit itu tepat waktu, karena mendapatkan notifikasi dari kartu debit miliknya yang digunakan Lela.


Seandainya waktu bisa kembali. Pikirnya. Itu adalah semua keinginan anak manusia yang menyesali takdirnya.


$$$$$$$$$$


Setelah genap satu bulan Lela berada di mansion keluarga Humaish, Lexsi mendaftarkan pernikahan mereka di kantor catatan sipil. Ia melakukannya sendiri tanpa bantuan Leo. Merak pun tidur dalam satu kamar.


Lela Saudah mahir memberikan ASI-nya, walau ada baby sitter yang membantu, ia tetap lebih banyak mengurus bayinya yang sudah terlihat lebih montok. Bayi itu dioerbolehkan keluar dari inkubator setelah mengalami pertumbuhan berat badan. Kalau tidak, maka sudah barang tentu ia masih berada di kotak kaca itu.


Lexsi bekerja di perusahaan seperti biasa, walau terkadang ia lebih banyak di rumah. Tentu saja Lela tidak pernah protes sebab ia tahu kalau pria itu tidak menyukai pekerjaan resmi seperti orang kantoran. Namun, hanya demi dirinya saja ia mau berubah.


Hari itu Leimena datang berkunjung. Ia membawa banyak oleh-oleh dan cindera mata untuk Lela dan juga Leriando.

__ADS_1


Tentu saja kedatangannya dengan cara seperti itu, membuat semua orang heran. Hanya Lexsi yang tahu, karena Leimena melarangnya mengatakan segala hal tentang dirinya dan Lela pada siapa pun.


Leimena menunggu Lela bersiap dengan kursi rodanya di ruang tamu rumah besar. Lexsi yang memaksanya berjalan dengan kursi roda, karena begitu mengkhawatirkan istrinya.


“Aku harus menjemputnya untuk sebuah pemeriksaan penting!” kata Leimena berpura-pura membuat alasan untuk membawa Lela.


“Kenapa kau harus menjemput? Kan, ada Lexsi yang bisa mengantarnya?” Lusi bertanya dengan heran.


“Entahlah, Nyonya! Dia yang memintaku datang menjemput,” ujar Lasio sambil melirik.


Lexsi terlihat kesal, ia tahu kalau dirinya dimanfaatkan saja oleh Leimena. Namun, ia tahu tujuan sebenarnya hingga sahabatnya harus berbohong. Meskipun dengan berat hati, ia akhirnya mengizinkan.


Leimena mengatakan keinginannya pada Lexsi kalau ingin memiliki waktu berdua saja dengan Lela.


Lela hanya bisa menurut kalau itu demi kesehatannya. Ia selama ini diperlakukan dengan baik oleh kedua orang tua Lexsi, di rumah besar yang kini menjadi tempat tinggalnya. meskipun tidak hangat.


“Maafkan aku, Lela!” kata Leimena setelah mereka berada di dalam mobil. Pria itu menjalankan kendaraan dengan kecepatan sedang. Demi kenyamanan, Lela duduk di kursi penumpang belakang.


“Aku tidak akan ke rumah sakit, tapi aku akan menunjukkan sesuatu padamu.”


“Apa itu Dokter Lei?”


“Nanti, kau juga akan tahu!”


Leimena membawa Lela ke sebuah pemakaman umum, tempat peristirahatan terakhir setiap manusia.


Walaupun semasa hidupnya manusia itu kaya raya, maka lihatlah setelah dirinya tiada, hanya dikubur dalam tanah yang sempit. Tidak ada bedanya dengan orang miskin.

__ADS_1


Di sanalah ayah mereka terbaring dengan tenang. Leimena mendorong kursi roda Lela ke depan sebuah makam yang berada di tengah area pemakaman.


“Kau masih ingat siapa nama ayahmu?” Leimena bertanya sambil berjalan.


Lela masih diam, ia tidak tahu ke mana arah pembicaraan dokter itu. Tentu saja dia ingat nama pria yang sudah ikut andil dalam kehadirannya di dunia. Namun, Ia hanya tahu laki-laki itu adalah ayah yang dicintai dirinya dan ibunya.


Terakhir bertemu saat dia berusia tujuh tahun, tidak banyak kenangan yang terhimpun dalam waktu sesingkat itu dengan sang ayah. Ia merasakan kalau pria itu lembut dan hangat.


Namun, kenapa ayahnya pergi dan sebab mengapa tidak pernah kembali pun ia tidak tahu. Lesira—ibunya tidak pernah menceritakan hal buruk padanya.


Setiap kali ia bertanya, maka wanita itu selalu menjawab bahwa, ayahnya pergi dan suatu saat akan kembali. Wanita itu hanya memintanya untuk menunggu, tapi pada kenyataannya pria yang disebutnya ayah, tidak pernah pulang.


“Ya. Aku ingat, namanya Leno, untuk apa kau menanyakannya, Dokter Lei?”


Leimena diam, karena saat itu mereka sudah sampai di kuburan yang ingin ia perlihatkan. Pria itu pun menghentikan dorongannya pada kursi roda.


“Dia ayahmu!” kata Leimena sambil berjongkok dan mengusap batu nisan yang bertuliskan nama ayah mereka.


“Apa maksudmu?” tanya Lela, ia hampir meneteskan air mata.


“Dia ayah kita dan kita bersaudara!”


Lela menggelengkan kepala. Ingin rasanya menangis karena ia tiba-tiba teringat ibu dan bagaimana kematiannya. Ia merasa harapannya selama ini sia-sia, merindukan dan mengharapkan seseorang yang ternyata sudah tiada, ini sama saja mengharapkan hal kosong belaka.


Kerinduan pada orang yang sudah pergi meninggalkan adalah kerinduan yang sia-sia dan membuat seseorang tidak bisa melakukan apa-apa selain doa.


Leimena memegang tangan Lela dan menepuknya lembut sambil menatap saudara satu-satunya itu dengan hangat.

__ADS_1


“Kau mau mendengar ceritaku?” Tanya Leimena. Namun Lela tetap diam.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2