
Undangan Dari Lind
Lexsi hampir saja menyemburkan minuman dari mulutnya, saat mendengar ucapan Loru—asisitennya itu. Ia terkejut karena ia pikir Loru tidak memiliki anak yang sukses menjadi detektif, seperti yang baru saja dikatakannya. Namun, gaji yang diberikan Lexsi pada Loru juga besar, wajar saja kalau ia mampu menyekolahkan anaknya sampai sarjana.
“Baiklah aku terima tawaranmu, perkenalkan aku padanya,” kata Lexsi pada akhirnya, sambil menwguk kembali minumannya. Ia kemudian menyerahkan tali kekang kudanya pada Loru dan melangkah pergi kembali ke rumah.
“Baiklah, Tuan. Besok dia pasti datang menemui Anda. Selamat istirahat!” kata Loru sambil menuntun kuda kembali ke kandangnya.
Lexsi pergi begitu saja setelah mengangguk.
Keesokan harinya, anak laki-laki Loru yang diminta untuk datang ke rumah Lexsi, pun menemui pria yang menjadi majikan ayahnya itu.
Ia bernama Lasonda dan ia mendengar semua keinginan dan informasi yang disampaikan Lexsi tentang Lela. Meskipun keterangan yang diberikan kepadanya sangat terbatas, pria bertubuh semampai itu tetap mencatat, dan menyanggupi untuk menemukan wanita itu dalam waktu beberapa hari.
Setelah menemui Leksi, pria itu menemui ayahnya yang sudah lama tidak bertemu karena rumah mereka sangat berjauhan. Kalau bukan karena jasa Lexsi, pada sang ayah, ia tidak akan repot-repot datang menemuinya sepagi ini.
“Tuan Lex memintaku mencari seorang perempuan bernama Lela. Ayah, informasinya sangat terbatas, apa Ayah bisa menyebutkan ciri wanita itu lebih rinci?”
“Katakan saja ciri-ciri wanita itu dan aku akan membuat sketsa wajahnya.”
Lasonda mengatakan semuanya dari ciri wajah yang di katakan Lexsi, lalu, Loru menggambarnya dengan baik. Ayah dan anak itu ternyata sangat kompak. Setelah selesai menggambar, Lasonda membawa hasil sketsa wajah itu kembali pada Lexsi dengan berjalan kaki ke rumahnya.
Setelah melihat hasilnya, Lexsi sangat kagum dengan kemampuan Loru yang tidak pernah terlihat ssebelumnya.
“Ya.Seperti inilah wajah gadis itu, bagaimana bisa? Padahal Loru tidak pernah melihatnya sama sekali.” Seperti itu komentar Lexsi begitu melihatnya.
“Benarkah? Kalau begitu saya akan secepatnya mengabari Anda.” Lasonda berkata dengan yakin.
“Ya. Aku percaya padamu!” sahut Lexsi sambil menepuk bahu Lasonda pelan, dan pemuda itu pun tersenyum puas, dengan begitu ia bisa lebih mudah melakukan pencarian.
Setelah Lasonda pergi, Leksi menerima panggilan telepon dari Lind, kerabatnya yang pernah mengajak beberapa teman, untuk menginap di depan rumahnya dengan membuat tenda.
Lexsi sebenarnya sangat enggan berbicara dengan laki-laki yang ia curigai telah mengambil ponsel dan dompetnya waktu itu. Untung saja ia masih punya cadangan ponsel lain yang bisa digunakan untuk sekedar berkomunikasi.
Namun, panggilan terus berbunyi sampai beberapa kali, padahal Lexsi sudah siap dengan kain dan sepatu boot nya karena ia akan memancing.
__ADS_1
“Halo!” Akhirnya Leksi menerima panggilan itu karena kesal.
“Ada perlu apa kau meneleponku! Ingat, aku tidak akan memenuhi permintaanmu lagi sebelum kau mengembalikan ponsel dan kartu identitasku!” Lexsi bicara langsung pada intinya.
“Cih! Aku tidak mengerti tuduhanmu itu, sembarangan saja, aku bukan pencuri!”
“Lantas ada apa kau menelepon? Hah!”
“Datanglah ke pesta bujang Loyuan! Dia akan menikah hari Sabtu, aku akan menjemputmu dua hari lagi!”
“Aku tidak peduli! Lebih banyak hal baik yang bisa aku lakukan dari pada ke pesta macam kalian!”
“Kau harus bergaul, Lex! Apa kau tahu salah satu penyebab dirimu tidak juga berjodoh, karena kau tidak pernah bersyukur dengan temanmu yang mau menikah! Makanya Tuhan tidak mengizinkanmu mendapatkan seorang tunangan!”
“Kau!”
“Terserah! Aku hanya mau mengingatkanmu, kalau sepupu Loyuan dulu pernah berjasa menyumbangkan darahnya pada Ibumu!”
Telepon di tutup secara sepihak.
Suasana kampung yang sunyi serta pemukiman warga yang damai, lebih memberinya kesenangan tersendiri dari pada pesta tak berguna. Apalagi semua kebun dan peternakannya lebih membutuhkan dirinya, untuk mengawasi kawasan seluas puluhan hektar miliknya.
Semua yang dikatakan Lind di telepon tadi bahwa, ibu Lexsi pernah berhutang budi, adalah benar.
Lusi, ibunya Lexsi dan ayah Lind bersaudara. Dua keluarga itu tinggal dalam kompleks perumahan elite yang sama.
Dahulu, Lusi pernah terkena tusukan pedang di lutut, saat sedang bermain olahraga anggar, kesukaannya. Lukanya begitu dalam hingga mengeluarkan banyak darah. Hanya Loyuan yang ada di lokasi itu, sementara Lusi membutuhkan banyak darah. Berhubung mereka masih kerabat dan kebetulan memiliki darah yang sama, maka pria itu mendonorkannya dengan sukarela.
Setelah kejadian itu, Loyuan tidak pernah mengungkit kebaikannya, karena ia memang orang yang baik. Hanya saja, keluarga yang lain justru yang sering mengatakan kebaikannya, untuk mengingatkan Lexsi agar mau bergaul dengan saudaranya sendiri.
Walaupun Lexsi tidak terlalu dekat dengan kedua orang tuanya, tapi sebagai anak ia tetap saja sayang dan berbakti. Namun, satu hal yang tidak ia sukai dari pasangan orang tuanya, Lusi dan Lexra yaitu, kalau keduanya meminta anak tengah dari tiga saudara itu untuk bekerja di kota, di kantor mereka.
Lexsi akan menolak permintaan itu mentah-mentah, ia lebih memilih untuk mempercayakan perusahaan pada Leo—asistennya. Bekerja di pertanian bukan berarti tidak mendukung perusahaan keluarga, begitulah pikirannya. Semua hasil perkebunan akan kembali pada perusahaan mereka juga.
Lexsi bukannya hendak mengasingkan diri dari keluarga atau melupakan semua saudaranya, hanya saja ia memang enggan bergaul dengan banyak orang, karena trauma.
__ADS_1
Waktu kecil, ia pernah diejek dan dianggap aneh disebabkan oleh postur tubuhnya, yang jauh lebih tinggi dan besar dari anak sebayanya. Semua teman menganggapnya seperti raksasa.
Walaupun, setelah dewasa Lexsi terlihat sama saja seperti banyak pria bertubuh atletis pada umumnya, ia tetap saja minder dan lebih suka menyendiri, sampai sekarang.
$$$$$$$$$$$
Dua hari kemudian, Lexsi masih bersantai di rumah sederhananya saat menerima panggilan dari Lind yang akan segera menjemputnya.
“Aku hanya mengingatkanmu, Lex! Aku akan menjemputmu! Jadi, kau harus ikut demi Loyuan!” kata Lind dari seberang telepon.
“Aku bisa pergi sendiri! Lo, tidak akan rugi kalau aku tidak datang.”
“Kau keterlaluan, setidaknya kalau kau peduli padanya, beri dia hadiah yang bagus!”
“Aku akan memberinya kuda pacu terbaikku! Tunggu saja.”
“Apa kau gila? Kau tidak perlu membawa kudamu sekarang, bodoh!”
“Ya, aku tahu bukan sekarang dan kau tidak perlu mengatakan aku bodoh, kau harus tahu kalau hadiahku akan jadi yang terunik!”
Sejenak hening, Lind setuju dengan hadiah Lexsi yang akan memberi kado seekor kuda pacu terbaik, itu akan jadi hadiah terunik.
“Baik! Jadi, bersiaplah! Aku tidak mau saat aku datang nanti, kau masih di kebun dan bicara dengan sapimu!”
Lexsi langsung menutup telepon karena tidak ingin memperpanjang ejekan Lind akan kebiasaannya yang sering bicara dengan binatang peliharaannya. Baginya, binatang tidak memandang rendah pada siapa pun yang memeliharanya. Tidak seperti manusia yang tetap menghina, walaupun mengaku kalau mereka teman atau saudara.
“Apa susahnya menghargai orang lain yang mereka anggap kurang sempurna, bukankah setiap manusia memang tidak sempurna? Bahkan, antara dua telinga mereka saja tidak sama!”
“Ah! Lebih baik bicara dengan kudaku dari pada dengan manusia sepertimu, Lind!” gumam Lexsi sambil melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lexsi membuka lemari tempat menyimpan pakaian, yang sangat jarang ia kenakan. Ia mengeluarkan kemeja putih lengan panjang, setelan jas dan celana warna dark brown dan sepatu pantofel hitam, jam tangan silver merek terkenal dan ikat pinggang warna senada dengan sepatunya.
Biar bagaimanapun juga, pesta itu akan sangat glamor dan dipenuhi pria tampan dari para keluarga kaya. Mau tidak mau, Lexsi harus menyesuaikan penampilan yang sebenarnya sangat tidak disukainya.
Belum selesai ia mengenakan ikat pinggang, ponselnya kembali berdering, dan nama Lasonda muncul pada layar. Pria itu segera beranjak untuk menerima panggilan dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
💗💗💗❤️❤️❤️