
Perkelahian
Lela diam, lalu tersenyum miris sambil memalingkan muka. “Bagaimana dia bisa tahu?” pikirnya.
“Kau tidak perlu tahu anak siapa yang ada di perutku!”
“Ikut aku, kau akan aku lindungi dari orang seperti Lobo!” Lexsi berkata penuh dengan percaya diri.
Seketika Lela terhenyak dari duduknya saat Lexsi berkata seolah mengetahui semuanya. Ia memang sempat berpikir kalau pria itu ada di sana, bisa jadi dia tahu bagaimana keadaannya.
“Aku tidak rela anakku bersama laki-laki seperti dia!” kata Lexsi lagi.
“Ck! Yakin sekali kau, Tuan Lex?” kata Lela hanya untuk memastikan kesungguhan pria yang duduk di hadapannya dengan gaya seolah dirinya dokter sungguhan.
“Aku yakin hanya aku yang melakukan hal itu padamu!”
Seketika Lela bangkit dari duduknya, sambil mengayunkan tas kecil yang dibelinya di mall dan selalu di bawanya ke mana pun ia pergi, ke arah Lexsi.
Lalu ...Lexsi Tas itu melayang ke wajah Lexsi yang bahkan tidak bergerak sedikit pun, wajahnya hanya berpaling sebentar.
“Jadi, kau mengakuinya dasar kurang ajar! Kau pengacau! Cih! Kupikir kau pria terhormat!” kata Lela sambil terus-menerus memukulkan tas itu ke tubuh Lexsi.
Pria hanya ia menerima pukulan Lela dengan pasrah, karena ia mengakui memang dirinyalah yang bersalah.
“Tapi, benihku yang sudah menolongmu dari milik laki-laki itu!” Lexi berkata setelah Lela menghentikan pukulannya.
Buk! Sekali lagi Lela memukulkan tasnya ke arah Lexsi, tanpa suara dan hanya air mata yang menjadi jawabannya.
“Ayo ke rumahku, kau bisa memukulku sepuas hatimu di sana nanti!”
“Jangan gegabah, kau tidak tahu siapa Tuan Lobo ia bisa saja menghancurkanmu!” kata Lela sambil menepiskan tangan Leksi, yang berusaha menggenggam tangannya.
__ADS_1
“Apa kau peduli padaku dan kau takut aku tiada?” tanya Leksi dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Dua manusia itu kemudian saling tatap dalam diam, dan Lela pasrah saat Lexsi semakin mendekat lalu meraih bahunya dan mendekatnya erat.
Sentuhan pria itu lembut, walau tangannya kasar, ciri khas lelaki pekerja yang sering memegang cangkul, linggis ataupun kampak. Namun pesona pria yang sudah menodainya itu, begitu luar biasa di matanya tubuhnya sempurna. Dan, saat ini ia mengenakan kemeja putih bersih yang sangat kontras, dengan kulitnya yang berwarna seperti perunggu menyala.
“Percayalah!”
“Baiklah! Aku percaya padamu lindungilah aku dan bagiku dan jadikan nyawamu sebagai taruhannya!”
Tanpa bicara lagi, Lexsi membawa Lela menuju pintu di sebelah kanan, tempat yang ia gunakan untuk masuk tadi. Itu adalah pintu yang biasa gunakan para asisten bila diperlukan, serta sebagai jalan pintas jika terjadi kondisi darurat pasien saat melakukan pemeriksaan.
Pintu itu mengarah langsung ke area luar dan tempat parkir serta lift pasien juga bagi tenaga medis Lain, dengan demikian, Lexsi bisa bebas membawa Lela keluar dari sana.
Lela dan Leksi berjalan cepat menuju tempat parkir setelah keluar dari lift.
“Tungu!” kata seseorang yang berjalan dengan cepat ke arah Lexsi dan Lela, dengan mata yang tajam ke arah mereka. Ia memperhatikan Lela dengan saksama.
“Kau mau bawa ke mana Nona kami?” tanya pria itu. Seketika Lela menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia baru sadar kalau keamanan yang menjaganya adalah prioritas tingkat satu hingga siapa pun, tidak bisa sembarangan melewati mereka. Dari jarak sekian meter pun ada penjaga yang setia mengawasi Lela.
Namun, rupanya Lexsi terlalu meremehkan musuh hingga ia tak percaya kalau pria itu masih bisa bangkit dan berdiri, lalu kembali melayangkan tinju pada Lexsi yang tak kalah kuatnya.
“Kau mundurlah!” kata Lexsi sambil memberi isyarat pada Lela agar menjauh.
Sementara kedua tangan dan kakinya bergerak lincah ke sana ke sini menangkis serangan demi serangan dari lawannya.
Sementara pria yang menjadi lawan Lexsi, terus berbicara melalui earphone memanggil temannya.
Lela terus menangis tanpa suara sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan dan mundur beberapa langkah. Tidak tega rasanya melihat Leksi dipukuli seperti itu. Walaupun ia belum begitu dekat, tapi pria itu adalah ayah dari bayinya kelak. Bagaimana kalau ia tiada? Pikir Lela.
Beberapa orang terus berdatangan tidak hanya dua atau tiga, bahkan datang lagi beberapa orang lainnya. Namun, Lexsi terus melawan, sekuat tenaga dengan tatapan mata sebentar-sebentar melihat ke arah Lela.
Mungkin, kalau hanya melawan dua atau tiga orang Lexsi bisa menang, tetapi sudah ada enam orang yang mengepungnya membuat laki-laki itu sedikit kewalahan.
__ADS_1
Lela semakin menjauh dari tempat perkelahian, beberapa orang hendak menangkap Lela yang punya kesempatan untuk kabur. Namun tiba-tiba seseorang menariknya ke belakang, langsung masuk ke dalam sebuah mobil van. Lalu, mobil itu pergi dari sana dengan kecepatan tinggi.
Gadis itu tidak bisa melihat bagaimana pertempuran berlangsung, ia pun tidak tahu apakah Lexsi selamat atau tidak. Lela hanya tahu orang yang duduk di sisi dan tadi sempat membekap mulutnya, adalah seorang pria yang dulu pernah memintanya untuk tetap tinggal.
“Tuan Lasio?” tanya Lela gugup setelah menoleh, lalu ia menggeser duduknya sedikit menjauh dari tubuh pria yang begitu dihormatinya.
Lasio adalah pria yang memiliki pengendalian diri yang bagus. Selama Lela tinggal bersamanya, ia punya kesempatan cukup besar untuk menyentuh ataupun menodainya, tetapi ia tidak melakukan. Bahkan, Lasio memperlakukannya dengan sangat baik.
“Apa kabarmu Lela, apa kau baik-baik saja?” tanya Lasio.
“Ya!” jawab Lela, iya tercengang karena laki-laki itu terkesan peduli padanya, dengan menanyakan kabar.
“Jadi, katakan padaku dengan jujur, bayi siapa yang tengah kau kandung sekarang milik Tuan Lobo atau Tuan Lexsi?”
Sejenak Lela termenung, ia menatap jalanan melalui jendela. Sementara sang sopir yang duduk di depan, sesekali mencuri pandang dari spion kecil di depannya.
Lela tentu saja heran bagaimana mungkin beberapa laki-laki, mengetahui tentang kehamilannya, padahal ia merahasiakannya dengan sangat baik, begitu juga dengan dokter Linda ataupun Lobo.
“Dari mana Anda tahu aku hamil?”
“Jangan menaruh curiga padaku, aku hanya tidak sengaja mendengar keributan tadi di rumah sakit, kau ada di luar, kebetulan aku sedang memeriksa kesehatanku.”
Kemudian Lela kembali menoleh pada Lexsi dan berkata, “Maaf tuan tapi aku tidak bisa mengatakannya!”
Lela terlalu malu, ia tidak mempunyai hubungan khusus dengan dua laki-laki yang disebutkan Lasio itu, tetapi ia tengah mengandung anak dari salah satunya. Sungguh, hal yang sangat memalukan.
Memang, Lela sudah tidak perlu lagi menutupi siapa dirinya di mata Lasio, karena ia adalah wanita murahan yang sudah dibeli.
Namun, tetap saja Lela enggan mengakui bahwa, telah mengandung anak Lexsi. Ia pikir laki-laki itu membutuhkan nama baik sehingga ia tidak bisa sembarangan membuka diri.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bicara, tapi aku hanya ingin melindungi, karena aku tidak peduli kau hamil atau tidak ... Lela ... Aku lihat sepertinya kau memang ingin menghindar dari dua laki-laki itu, apa aku benar?”
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️