Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Menjadi Lilian


__ADS_3

Menjadi Lilian


Asisten pribadi Lasio itu mengatakan bahwa masih banyak wanita baik-baik di tempat yang baik, dan bisa di gaji untuk menemani dan merawat ibunya.


Namun, sang Tuan bersikeras mencari wanita yang putus asa, hanya untuk memanfaatkannya. Orang yang berada antara hidup dan mati, biasanya akan lebih sabar dalam menghadapi cobaan, dari pada wanita yang digaji sebagai perawat orang jompo pada umumnya.


Lasio pemilik Panti Werda terbesar di pusat kota, tapi ia lebih suka merawat ibunya sendiri di rumah dengan baik. Bahkan, sampai menyiapkan dokter dan perawat pribadi, untuk wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.


Pria itu memiliki beberapa usaha lain yang mendukung keberadaan panti Wreda, seperti rumah sakit dan perusahaan penyalur tenaga kerja, yang sudah menyebar di beberapa kota. Selain itu, Lasio dikenal sebagai salah satu pria yang disegani karena kemurahan hatinya.


Lela merasa aneh saat ia menoleh pada Lasio yang sama sekali tidak berminat sedikit pun. Pria itu terlihat acuh dan mengabaikannya begitu saja.


Sampai saat mobil berhenti di depan sebuah rumah megah dengan gerbang yang tinggi, Lasio melemparkan selembar pakaian pada Lela.


“Pakai ini sekarang, sebelum kau bekerja, pakaianmu sangat tidak pantas!” kata pria itu, sambil mengalihkan ke luar jendela.


Lela hanya melapisi saja pakaian yang terbuka, dengan baju yang diberikan oleh Lasio padanya. Ternyata itu adalah sebuah pakaian terusan yang tertutup dengan motif berbunga-bunga cerah.


Setelah Lela selesai melapisi pakaian, mobil kembali berjalan pelan dan berhenti di teras depan pintu rumah mewah itu.


“Turun!” kata Lasio pada Lela dan mereka pun turun secara bersamaan, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah beriringan.


Dua orang asisten perempuan menyambut kedatangan Lasio dan Lela. Disaat yang hampir bersamaan, mereka dikejutkan oleh sebuah suara memanggil yang terdengar dari ruang sebelah.


Tiba-tiba Lasio merangkul pinggang Lela dengan erat, lalu melangkah ke ruangan di mana wanita itu berada.

__ADS_1


“Las! Apa kau sudah menemukan Lilian?” tanya seorang wanita tua yang duduk di kursi roda.


Lasio tidak tahu mengapa Ibunya yang menderita alzheimer itu suka sekali dengan wanita bernama Lilian itu. Lilian adalah temannya di masa muda, dan saat ibunya kambuh, maka Lasio akan bersikap sebagai adiknya.


“Ya. Aku bersamanya, lihatlah!” kata Lasio sambil menunjukkan Lela dan wanita itu tersenyum.


Lela tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun, tentang tugasnya kali ini hingga membuatnya bingung. Ia pikir bahwa, dirinya harus melayani seorang laki-laki di tempat tidur. Namun, ketika melihat kenyataan yang terjadi di hadapannya, hatinya sedikit bergembira.


Lela tidak harus melakukan hal yang menjijikkan, dan Lasio pun tidak seperti perkiraannya. Ia tahu kalau dirinya hanya harus berpura-pura di hadapan seorang wanita tua.


“Berpura-puralah menjadi Lilian di hadapan ibuku, kalau kau bisa menyenangkannya, Aku akan memberimu bayaran yang bagus! Apa kau mengerti?” Lasio berkata di dekat telinga Lela.


“Ya. Siapa nama ibumu, Tuan?” tanya Lela.


“Setiap kali ibuku memanggilmu Lilian, maka kau harus memanggil namanya, Lina!”


Lasio terus senyum tipis karena tidak harus menjelaskan panjang lebar pada Lela. Gadis itu paham apa yang harus dilakukannya.


Lelah berjongkok di dekat kaki wanita itu, ia tersenyum ramah dan membelai kedua tangannya.


“Lina, kenapa kau belum tidur juga ini sudah malam?” tanya Lela sambil tersenyum.


“Aku menunggumu, dari mana saja kau?”


“Aku tadi mencari pakaian yang cocok untukmu tapi aku tidak menemukannya toko langganan kita sudah tutup!”

__ADS_1


“Oh, begitu ya?”


“Ya. Jadi, apa kau lapar?”


Percakapan antara Lela dan ibu Lasio berjalan dengan lancar, pria itu melihat interaksi keduanya sambil tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka, karena iya tampak percaya kepada Lela.


“Tidak!” jawab Lina.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita tidur sekarang?” Lela berkata sambil berdiri, lalu ia bergerak ke belakang kursi roda yang diduduki Lina.


“Baiklah! Apa kau akan menginap di sini denganku?”


“Apa aku boleh menginap dan tidur berdua?”


“Tentu saja, kenapa tidak?”


Malam itu akhirnya Lela tidur dengan Lina dalam satu kamar, mereka layaknya dua sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain.


Keesokan hari saat pagi menjelang, Lela menumpang untuk membersihkan diri di kamar mandi, sebelum Lina terbangun. Ia melihat sudah tersedia perlengkapan yang dibutuhkannya, di atas meja kecil dekat tempat tidur. Ia tidak tahu bagaimana bisa seperangkat pakaian lengkap yang pas dan cocok itu, bisa berada di sana.


Seperti itulah sehari berlalu dengan baik bagi Lela dan Lina. Dua wanita itu tidak bisa terpisahkan satu dan yang lainnya. Bahkan, sampai keesokan harinya, ingatan Lina tidak kembali dan masih menganggap jika Lela adalah Lilian.


Lalu, karena puas dengan pekerjaan yang dilakukan Lela, Lasio memintanya untuk tetap berada di rumah itu sampai ibunya tiada.


Lela pun menyanggupi permintaan Lasio, dengan sebuah perjanjian bahwa, pria itu tidak berhak mencampuri segala urusan pribadinya. Keberadaannya di tempat itu semata-mata hanya karena ibunya dan berpura-pura menjadi seorang teman yang baik. Meskipun hanya pura-pura, Lela melakukannya dengan sangat baik dan menganggap wanita itu seperti temannya sendiri.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2