Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Lela Hilang


__ADS_3

Lela Hilang


Lulu yang penasaran, segera melangkah dengan cepat mengikuti mereka, sekedar memastikan apakah benar seorang yang dilihatnya adalah Lela, tetapi terlambat. Saat ia sudah sampai di luar mal, lalu mengitari lahan parkir pun, dua wanita yang dilihatnya tadi sudah tidak ada.


Perempuan bertubuh montok itu segera kembali ke tempat semula di mana Lela berjanji akan menunggunya. Namun, wanita itu sudah tidak ada juga. Ia pun bertanya pada beberapa penjaga toko yang ada di luar, yang biasa beramah tamah pada pengunjung, dan mereka menjawab tidak tahu atau sekedar memberikan sebuah clue kalau gadis dengan ciri-ciri yang ditanyakan Lulu tadi, sudah pergi.


Tanpa berpikir panjang lagi, Lulu menghubungi Lexsi kembali, untuk mengatakan apa yang dilihatnya tadi, dan betapa marahnya pria itu saat menyadari jika tebakannya benar, Lela pasti akan kabur karena mendapatkan kebebasan. Ia bersumpah akan memusuhi Lulu dan memutuskankan hubungan persahabatan mereka sampai Lela ditemukannya.


“Apakah ada kemungkinan kalau dia diculik?” tanya Lulu.


“Apa kau punya bukti?”


“Tidak, tapi aku lihat gelagat dua wanita itu mencurigakan, sebab aku yakin Lela sudah percaya padaku dan aku mempercayai nya!”


“Itu tidak bisa dijadikan jaminan!”


“Bisa saja, karena wanita itu adalah Bibinya! Kau harus menyelidikinya, Lex! Aku tahu kau punya beberapa teman yang baik yang bisa kau percayai, walaupun kau hanya seorang petani!”


“Aku bisa jadi CEO atau komisaris kalau aku mau!”


“Ya, ya aku percaya, jadi lakukanlah pencarian kalau kau memang sudah jatuh cinta padanya!”


“Jangan memfitnahku!”


“Aku tidak memfitnah, tapi setidaknya, jujurlah soal perasaan pada dirimu sendiri, Lex! Seseorang tidak mungkin dituntut di pengadilan hanya karena menyukai seseorang, Jadi kau tidak perlu takut kalau mengakuinya!”


Setelah percakapan itu, mereka pun sama-sama mengakhiri panggilan. Lulu kembali ke kediamannya dan menyerahkan semua urusan Lela ke tangan Lexsi. Ia sudah dibebaskan dari tugasnya, walaupun belum genap satu bulan.


Sementara Lexsi, langsung menghubungi beberapa temannya yang bisa ia andalkan untuk mengatasi masalahnya kali ini. Pria itu menduga jika Bibi dari Lela kemungkinan terlibat di dalamnya, itu pun kakau dugaan Lulu benar bahwa, Lela sedang diculik oleh bibinya sendiri.

__ADS_1


Setelah malam tiba, Lexsi terlihat melamun di tempat tidur. Ia tidak banyak bergerak, tapi tubuhnya berkeringat padahal AC sudah cukup dingin di kamar itu. Sebenarnya ia gelisah memikirkan Lela, tapi hanya bisa melamunkan gadis itu dan berharap semuanya baik-baik saja.


Beberapa kali ia menghubungi nomor temannya yang sama, untuk mendapatkan jawaban dari permintaannya guna menyelidiki seorang gadis yang bernama Lela Leana.


Ia tidak bisa meminta bantuan polisi untuk mencari Lela, karena biasanya pihak berwajib hanya menerima laporan orang hilang, setelah yang bersangkutan itu, tidak ditemukan oleh keluarganya, selama dua hari berturut-turut.


Lexsi sudah kesekian kalinya menghubungi Loran, ia sahabatnya yang bekerja sebagai ahli teknisi di salah satu perusahaan terkenal. Setahu Lexsi, Loran mempunyai seorang saudara yang berprofesi sebagai Intel, maksudnya adalah untuk meminta bantuan saudaranya itu.


“Kau pikir mudah mencari sebuah nama tanpa foto dan keterangan lainnya? Ayo kita berpikir logis, Lex! Kau tidak bisa mengandalkan aku secepat ini jadi berhentilah menelepon, setidak-tidaknya tunggulah sampai satu pekan!” Itulah jawaban Loran yang tidak memuaskan bagi Lexsi.


“Kenapa lama sekali? Aku tidak bisa menunggu kabar darimu selama satu pekan! Apa kau gila?”


Loran terdengar tertawa kecil di seberang teleponnya karena Leksi kali ini begitu banyak bicara karena urusan seorang wanita.


“Kau yang gila! Bisa-bisanya memintaku menemukan gadis itu sekarang juga? Ini sudah malam, Lex!”


Setelah berkata seperti itu, telepon pun ditutup secara sepihak membuat Lexi semakin geram.


“Hei Lexsi! Apa kau pikir aku polisi? Aku ini seorang dokter! Kau salah meminta bantuanku untuk mencari seseorang ... aku hanya bisa mencari penyakitmu, seperti penyakit di hatimu ... kemarilah! Akan aku periksa, tapi kalau kau suruh untuk mencari gadis itu, aku tidak bisa, cari saja dia di antara tumpukan kayumu!”


Lexsi mendengus dan mengacak rambutnya sendiri, lalu pergi ke instal kuda yang berjarak agak jauh dari rumahnya. Ia berjalan sambil menendang kerikil yang ditemui di jalanan, menumpahkan keluh kesahnya di sana.


Saat sudah tiba di salah satu kandang kuda, ia mengusap leher kuda jantan berkulit coklat keemasan dan mengeluarkan decakan keras dari mulutnya.


“Maafkan aku, kalian sedang istirahat? Maafkan aku!” katanya sambil terus mengusap leher Kuda Flores kesayangannya.


Tak lama setelah memakaikan pelana, Lexsi memacu kuda itu di lapangan pacu tempat biasa ia melatih kuda-kudanya dengan Loru.


Di dalam rumahnya, Loru berjengit dan bangkit dari duduknya, karena mendengar suara kuda di pacu dengan kuat. Jarang sekali Lexsi melatih kuda di malam hari, kecuali ada pesanan dari seseorang yang menginginkan kuda pacu terlatih. Maka, ia akan semangat pelatih kudanya siang dan malam. Namun, pekan ini Loru tidak mendengar ada seseorang yang memesan kuda, membuatnya heran, pada majikannya.

__ADS_1


Saat Loru keluar dari rumah, dilihatnya Leksi yang tengah memacu kuda itu sekuat tenaga seperti anak panah yang lepas dari busurnya, melesat dan berputar-putar di seluas lapangan pacu. Suasana yang terang benderang oleh lampu pun kini mulai mengepulkan debu.


Loru, si penjaga kandang sapi dan kuda itu pun mendekat, dan berdiri di samping pagar pembatas lapangan pacu. Ia memperhatikan Lexsi yang terlihat sedang kesal. Berulang kali memukul bagian belakang kuda dengan salah satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya mencengkeram tali kekang kuda dengan kuat.


Lebih dari satu jam Lexsi terus mengajak kudanya berlari, hingga kuda jantan yang tinggi dan tampak kuat itu meringkik, seperti memberi isyarat pada majikannya untuk berhenti. Akhirnya pria itu menarik tali kekang kuda dan berjalan melambat.


“Anda mau minum Tuan?” Loru menawarinya minuman hangat, secara kebetulan malam itu ia membuat teh ginseng dengan jahe.


Lexsi turun dari kudanya dan memdekati Loru.


“Kau tidak sengaja menawarkan aku minuman agar aku mabuk dan berharap bisa melupakan masalahku, kan?” katanya.


Pria yang berusia lebih dari separuh baya itu, tersenyum sambil menggeleng, ia sengaja membawa dua cangkir gelas saat keluar rumahnya tadi, karena yakin yang memacu kuda di lapangan pacu adalah Lexsi.


“Apa Anda punya masalah, Tuan?”


“Ya. Aku kehilangan seseorang, apa yang harus aku lakukan kalau tidak bisa melaporkannya ke polisi sekarang?” Lexsi balik bertanya.


Mendengar ucapan Leksi, Loru berpikir sambil mengurutkan alisnya, karena ia semakin heran. Selama ini tidak ada keluarga dan saudara yang berkepentingan atau dekat dengan majikannya itu. Lalu, adakah orang yang bisa membuatnya merasa kehilangan serta harus mencarinya ke polisi.


“Kapan Anda kehilangan orang itu, Tuan? Sudah berapa hari dia tidak pulang?”


“Sore tadi!”


“Apa?”


Loru heran, tetapi tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena banyak sangkut pautnya dengan hak privasi Leksi. Ia tahu majikannya adalah orang yang enggan sekali banyak berbicara.


Namun, ia menyimpulkan jika itu adalah orang yang penting bagi tuannya. Ia penasaran tentang siapa yang dimaksud Lexsi, sampai ia berubah seperti sekarang. Biasanya yang membuat laki-laki berubah hanyalah seorang wanita.

__ADS_1


“Anakku seorang detektif, kalau Anda mau menggunakan jasanya, aku akan memperkenalkannya!” kata Loru.


💗💗💗


__ADS_2