Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Membuat Janji


__ADS_3

Membuat Janji


 


“Itu suara hp-mu, Dokter Lei?” tanya Linda saat melihat ponselnya tidak menunjukkan panggilan apa pun, setelah itu di pergi meninggalkan Leimena, sambil menundukkan kepalanya.


Leimena membalas anggukan Linda dan melihat pada ponselnya.


“Aku akan ke sana, di mana kau sekarang, Lei!” kata Lexsi, begitu Leimena menempelkan ponselnya ke telinga.


“Hai, apa kau tidak bisa basa-basi sedikit saja, Lex? Ingat, kau akan memiliki istri!”


Hening, tidak ada jawaban.


“Aku masih di rumah sakit, cepat kemari. Ada informasi yang bagus untukmu!”


“Apa Lela masih ada di sana?”


“Tidak! Dia sudah pulang.”


Tuut. Suara ponsel di tutup secara sepihak oleh Lexsi, membuat Leimena keheranan sekaligus kesal.


Sementara Lexsi merasa tidak ada gunanya menghubungi Leimena lebih lama, sebab tujuannya menelepon adalah untuk bertemu Lela. Setelah mengetahui kalau gadis itu tidak ada, maka dia enggan meneruskan obrolannya.


Namun, tak lama setelah itu, Lexsi menghubungi Leimena lagi untuk menanyakan informasi tentang Lela yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


“Kupikir kau tidak membutuhkan informasi itu!” kata Leimena, pada Lexsi di seberang telepon, sambil berjalan ke ruangannya.


“Katakan apa itu?” tanya Lexsi datar.


“Heis! Kau ini, sopan santunlah sedikit!”


Hening, tidak ada jawaban.


“Baiklah, aku tutup teleponnya!” Leimena bicara dengan kesal.


“Lei, kalau kau memang memiliki informasi penting, katakan padaku!”


“Menurutku itu penting kal—“ ucapan Leimen terputus.


“Katakan!” sahut Leksi cepat.


“Baiklah, baiklah!” Leimena akhirnya mengalah dan ia mengatakan semua informasi yang ia dapatkan dari Linda, tentang Lela.


Semua informasi itu bukannya membuat Lexsi senang, tapi justru semakin marah dan geram. Ia tahu siapa Lobo dan yang lebih membuat pria itu tak habis pikir kenapa Lela mau melakukan permintaannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Lela padanya, tapi Lexsi tidak rela kalau wanita yang sudah membuat hatinya berantakan itu menjadi orang bayaran Lobo.


Apalagi sekarang dia hamil. Akh! Yang benar saja!


“Buatkan aku janji dengan Linda!” kata Lexsi setelah Leimena selesai bicara.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Menemui Lela secara diam-diam di ruangannya!”


“Apa, apa?”


“Ya. Aku akan menemui Lela kalau dia datang melakukan pemeriksaan selanjutnya!”


“Apa kau gila, Lex!?”


“Anggap saja aku gila!”


“Itu menyalahi kode etik kedokteran!”


“Aku tidak peduli!”


“Aku tidak mau, melakukan saja sendiri, Lex!”


“Baiklah, hubungan persahabatan kita putus!” suara Lexsi terdengar kesal.


“Ya Tuhan! Aku tidak merasa kau sahabatku,” kata Leimena lebih kesal.


“Terserah!” kata Lexsi putus asa.


“Kau sialan!” umpat Leimena lebih keras.


“Kau yang sialan! Berikan nomor Dokter Linda padaku, biar aku urus sendiri!”


Telepon kembali di tutup secara sepihak oleh Lexsi.


Leimena tidak menyangka kalau ternyata Linda merespon pesannya dengan cepat.


“Kau tahu kan, Dokter Lei. Kalau permintaanmu itu menyalahi peraturan?” tulis Linda sebagai balasan.


“Ya, tapi aku tidak memaksa. Kalau kau bersedia saja dan aku tidak akan lama. Mungkin aku akan menemuinya kalau dia sudah selesai denganmu.”


“Baiklah. Jadwalnya sekitar dua pekan lagi. Kalau Lobo sudah mengingatkan aku, nanti aku akan menghubungimu lagi.”


“Terima kasih.”


“Kau harus tahu, pengamanan yang diberikan Lobo pada Lela adalah bodyguard kelas satu. Jadi, berhati-hatilah.”


“Tentu.”


Setelah selesai berbalas pesan dengan Linda, Leimena memberikan informasi itu pada Lexsi dan meminta Lexsi tidak gegabah dalam melakukan keinginannya.


Dua orang bersahabat itu tahu bagaimana kondisi Lela dan tidak mungkin menembus keamanan keluarga Lobo tanpa persiapan, kecuali mereka hendak membuat keributan.


Loran dan Lodi segera bertemu untuk membicarakan masalah yang dihadapi Lexsi, mereka saling bicara melalui panggilan video dengan Leimena. Biar bagaimanapun mereka bersahabat, dan hanya Lexsi saja yang belum mempunyai pasangan hidup.


Leimena memberikan semua informasi pada Loran dan Lodi, dua orang itu sedang berada di rumah Lodi untuk membuat api unggun dan barbeque di hari ulang tahun anak kedua Lodi. Mereka bukan kelompok mafia dan penguasa kita, tapi mereka punya beberapa teman yang bisa diandalkan.


“Tidak, sepertinya tidak perlu mengerahkan mereka, sebab kita harus melihat bagaimana perkembangan hubungan antara Lela, Lobo dan Lexsi,” kata Leimena melalui video di ponsel Lodi.

__ADS_1


“Apa kau yakin?” tanya Loran.


“Ya. Aku sudah memberikan informasi ini, kalau saja Lexsi membutuhkan pertolongan, kita harus siap, apa pun itu!” kata Leimena dari video.


“Oke!” sahut Lodi sambil membuat angka nol dengan jarinya.


“Eh! Sepertinya dia benar-benar menyukai wanita bernama Lela, apa dia cantik?” tanya Leimena penasaran, dialah satu-satunya orang yang belum melihat Lela, di antara sahabat Lexsi.


“Tidak!” kata Lodi dan Loran secara bersamaan.


Kemudian ketiga orang sahabat itu terkekeh bersama.


 


$$$$$$$$$


 


Dua pekan kemudian saat Lela datang ke ruang pemeriksaan Linda, ia dikelilingi oleh pengawal seperti saat pertama kali ke sana. Sekarang ia bersama Lobo yang akan melakukan tindakan selanjutnya dari serangkaian fase bayi tabung. Mereka melakukan pemeriksaan secara terpisah.


Walaupun Lela tidak perlu melakukan pemeriksaan apa pun, tapi ia tetap harus memeriksakan diri, demi menutupi kecurigaan. Ia dengan malas duduk di kursi yang disediakan untuk konsultasi, dan betapa terkejutnya gadis itu saat melihat pria yang akhir-akhir ini diharapkan muncul ada di sana.


Lexsi memaksakan kehendaknya pada Linda dengan berbagai cara dan iming-iming menarik tentunya. Pria itu masuk, dengan memakai pakaian Leimena, karena demi keamanan hingg sahabatnya itu meminjamkannya dengan sukarela.


Sementara sahabat Lexsi yang lain, Loran dan Lodi, waspada dan siaga bersama dengan Leimena. Mereka bertiga berada di ruangan yang tidak jauh dari tempat di mana Lela melakukan pemeriksaan. Tentu tanpa sepengetahuan Lexsi.


“Kau?” tanya Lela dengan rasa terkejutnya.


Lexsi hanya menatapnya dengan tatapan rumit dan menilai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia semakin tertarik dengan gadis di hadapannya itu.


“Bagaimana kau bisa ada di sini, di mana Dokter Linda?” tanya Lela lagi sambil melihat ke sekeliling ruangan yang lengang. Tidak ada Linda dan asistennya yang lain.


Lexsi hanya mengangkat kedua bahu, tanpa mengalihkan tatapan matanya.


“Apa keperluanku di sini, Tuan Lex? Kau bukan dokter, kan?”


“Kau, adalah keperluanku!”


“Aku? Kita tidak punya urusan, sekarang aku tidak punya perjanjian apa pun lagi, maafkan aku! Pasti Madam sudah menceritakan semuanya padamu,” kata Lela dengan suara gemetar.


Sejujurnya Lela menahan tangis, dia tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya saat melihat Lexsi. Ingin menangis di dadanya, sambil memeluk, tapi sekaligus ia ingin memukul atau menendangnya sekuat tenaga.


“Ya. Aku tahu.”


“Kalau begitu, pergilah. Aku mau memeriksakan diriku pada Dokter Linda!”


“Apa kau hamil anakku?”


 


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2