Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Tidak Ingin Menyesal


__ADS_3

Tidak Ingin Menyesal


Lexsi masih diam mematung, saat Loru bicara.


“Tuan, ada baiknya sesuatu disimpan, tapi ada juga sesuatu yang sebaiknya diutarakan hingga tidak menjadi beban pikiran. Sungguh, Tuan, aku tidak ingin melihatmu sedih seperti ini,” kata asisten itu dan sukses membuat Lexsi meliriknya dengan lirikan menyakitkan.


“Siapa bilang aku sedih?”


“Maaf, bukannya aku ingin ikut campur, tapi aku tidak pernah melihatmu seperti ini ... apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kalau kau tidak ingin bicara tidak apa-apa!” katanya lagi, tentu saja pria itu mengerti bagaimana kebiasaan Lexsi yang jarang bicara.


“Apa kau pernah meremehkan seseorang, tapi justru orang itulah yang menyeretmu jatuh, dan membuatmu merasa bersalah?”


Loru tidak mengerti maksud Lexsi, tapi demi menghormati sang majikan, ia tidak bertanya siapa orang yang dimaksud oleh pria gagah itu, tapi hanya tersenyum tipis.


“Pernah ...,” jawab Loru dengan perasaan miris, “aku pernah meremehkan anak perempuanku yang terlahir dengan kaki tidak sempurna, tapi aku baru sadar ketika ia sudah tiada. Aku sungguh merasa bersalah, karena dialah, aku selamat dari maut yang hampir merenggut nyawaku sendiri.”


“Benarkah? Kejadian apa itu?”


“Aku bekerja bersamamu dari sejak awal peternakan itu berdiri, anakku masih kecil saat pertama kali aku bekerja di sini dan dia sangat lemah, sedangkan istriku masih sakit waktu itu ...,” kata Loru, ia mulai bercerita, sebuah kejadian yang selama ini menjadi rahasia pribadinya.


Ini adalah pengalaman Loru, suatu hari saat ia masih bekerja, anaknya yang cacat menangis. Anak itu berjalan tertatih, ingin menghampiri sang ayah, dan pria itu berlari untuk menggendongnya, padahal ia tengah memanen madu dari ternak lebah yang sudah layak untuk dipanen. Ia marah dan sempat memukulnya waktu itu. Namun, tak lama setelah ia meninggalkan ternak madunya, ada sebatang pohon tumbang, ke arah tempat di mana ia berdiri .

__ADS_1


“Kalau saja anak itu tidak menangis dan aku tidak menghampirinya, mungkin aku sudah mati tertimpa pohon, yang aku sesali adalah mengapa aku harus kesal, memukul dan menyakitinya, hanya karena dia menangis,” kata Loru di akhir ceritanya, matanya tampak berkaca-kaca.


Sejenak Lexsi seperti tersadar dengan sesuatu dan ia bertanya, “Seandainya anakmu itu masih hidup, apa yang akan kau lakukan, sebagai bentuk balas budi atau kasih sayangmu padanya?”


“Aku akan membelikan kursi roda yang nyaman untuknya, dan mungkin aku akan mengajaknya berjalan-jalan setiap sore biar dia senang!”


“Hanya itu?”


“Ya. Kadang kita tidak perlu berlebihan dalam membahagiakan seseorang, karena kebahagiaan tidak akan bertahan selamanya, dan kadang seseorang cukup merasa bahagia hanya dengan perhatian yang sederhana.”


Setelah mengucapkan terima kasih kepada Loru, Leksi berjalan ke rumahnya untuk mengambil ponsel. Ia mengirimkan beberapa pesan kepada Lulu dan mempertanyakan keadaan Lela.


“Hai! Madam Lu? Bagaimana dengan Lela, apa kabarnya hari ini?”


“Apa keinginanmu setelah ia selesai satu bulan nanti?” tulis Lulu, sebagai jawaban dari pesan yang dikirim Lexi, wanita itu bukannya menjawab, justru memberinya pertanyaan lagi.


“Aku tidak tahu!” tulis Lexsi.


“Aku kira kau akan menikahinya atau merubah identitasnya, kukira itu akan membahagiakannya sebagai wanita yang sesungguhnya, daripada ia terus menjadi buronan! Iya, kan?”


Tiba-tiba Lexsi tersenyum tipis, terbetik dalam pikirannya untuk melakukan apa yang baru saja dikatakan Lulu padanya.

__ADS_1


Ia bisa menikahi Lela dan mengubah identitas pribadinya sehingga gadis itu bisa bebas tanpa harus memiliki beban sebagai seorang buronan. Sepertinya itu mudah bagi Lexsi. Ia bisa mengandalkan teman-temannya untuk membantunya dalam hal ini.


Ia menutup panggilannya pada Lulu secara sepihak, membuat orang yang mendengar di seberang telepon pun mengumpat dan kesal padanya.


“Dasar Tuan Muda tak punya aturan! Dia pikir manusia sama saja seperti tanaman dan sapi? Hah!” seru Lulu sambil membanting telepon genggam di atas tempat tidurnya.


Ia melirik jam di kamarnya dan melihat ke arah pintu yang terbuka, dari sana ia bisa melihat Lela yang sedang olahraga membentuk pinggul dan punggung dan dada secara bersamaan. Ia sudah terbiasa melakukannya sendiri.


Setelah beberapa pekan melihat perkembangan Lela, Lulu menyadari jika gadis itu tidak sejelek kelihatannya. Ia memiliki bentuk tubuh yang bagus, hanya kurang perawatan saja dan wajahnya memiliki kontur wajah dan kulit yang unik.


Setiap ia hari menjalani terapi, makan makanan bergizi dan sedikit berlemak, agar ia tidak terlalu kurus. Ia juga berolah raga, melakukan yoga dan yang paling di sukai Lela adalah berenang. Ia juga senang makan.


Perawatan wajah dan kulit nomor satu yang diberikan Lulu pada Lela setiap hari, membuat sebuah perubahan yang signifikan dari keadaan tubuhnya sebelum melaksanakan agendanya.


Lulu melihat Lela sudah menyelesaikan olahraganya, ia pun mendekat.


“Apa kau mau berbelanja? Mungkin kau butuh kesegaran udara luar!” tanya Lulu, sambil melihat Lela satu ujung rambut sampai ujung kakinya. Tatapan matanya sedang menilai.


Tiba-tiba Lela tersenyum menyeringai, akhirnya ia punya kesempatan juga keluar dari tempat karantina, seperti rencananya.


💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2