
Kedatangan Loran
Lexsi memejamkan mata dan mendongak ke langit, menyesal pun tidak berguna. Dia seharusnya dengan cepat bertanya pada Lasio tentang maksud ucapannya.
“Kenapa?” kata seseorang, tiba-tiba datang dan menempati tempat duduk Lasio, “seharusnya kau mengejarnya, Lex! Kenapa kau tiba-tiba lemah di hadapan laki-laki itu, apa karena seorang wanita?”
“Bukan urusanmu!” Lexsi menjawab sambil memalingkan muka, enggan membicarakan masalah Lela dengan Loran yang sudah ada di sana secara tiba-tiba. Pria itu sebenarnya sudah banyak tahu tentang Lela.
“Kau boleh bilang bukan urusanku kalau bukan tentang Lela, aku benar, kan? Semua tentang gadis itu?” Loran langsung menebak seperti biasa karena ia paham betul tabiat sahabatnya.
Lexsi tetap diam, memikirkan bagaimana Loran bisa tahu keberadaannya dan tahu pula arah pembacaan dirinya dengan Lasio.
“Jangan heran kalau aku tahu banyak soal dia, aku baru saja bertemu dengan Lulu, dan dia menceritakan semuanya, tentang gadis itu. Aku juga pergi ke kantormu, tapi kau tidak ada dan Leo bilang kalau kau di sini sedang ada urusan dengan Lasio.”
“Lalu?”
“Lex! Aku tahu kenapa kau mencari informasi tentang gadis itu! Dan, lihat! Penampilanmu sekarang, tidak mungkin kau mau membuang kumismu kalau bukan karena perempuan itu!”
“Tutup mulutmu! Apa hanya ini maksud kedatanganmu kemari, untuk mengejekku?”
“Tidak, sebenarnya aku membuat acara bakar jagung bersama, tapi ternyata kau punya masalah .... Jadi, aku batalkan saja!”
“Lalu?”
“Aku punya rencana!”
Loran mengatakan sesuatu pada Lexsi dengan serius dan setelah selesai, kedua pria itu pun saling melemparkan pandangan sambil mengangguk.
$$$$$$$$$$$$
Lela baru saja selesai menyuapi Lina makan siang, dan mendorong kursi rodanya kembali ke kamarnya. Kondisi wanita tua itu semakin melemah, dari hari ke hari, tidak ada kekuatan lagi untuk sekedar berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Kini Lela beralih profesi menjadi perawat yang mengurus Lina setiap harinya, dan ia pun melakukannya dengan baik serta telaten.
Dia tidak memiliki keterampilan dan kemampuan merawat orang tua, tapi ada dua seorang asisten lain yang mengajari dan membantunya mengurus Lina. Bukan tanpa sebab gadis itu melakukan semuanya, tapi karena Lina tidak mau di rawat oleh orang lain selain dirinya. Walaupun, Lina tidak lagi menganggap Lela adalah Lilian—temannya, tapi wanita tua yang kini semakin pikun itu sudah terlanjur nyaman dengannya.
“Maaf, seharusnya kau tidak perlu melakukan ini!” kata Lasio saat baru saja pulang dari rumah sakit waktu itu.
“Tidak apa, Tuan Las. Kita tidak pernah tahu takdir akan membawa kita sampai akhirnya seperti apa, kan?”
“Ya.”
“Aku sudah sangat senang kau tidak menjadikanku sebagai seorang wanita murahan seperti sebelumnya.”
“Maaf soal itu, aku sudah berusaha mencari perawat yang cocok dengan ibuku, tapi dia justru cocok dengan dirimu. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi kalau kau pun tidak membuatnya nyaman!”
“Aku pikir justru kau sebagai jawaban atas takdirku yang memang tidak harus berakhir di tempat seperti itu!”
“Oh, ya? Apa sebenarnya yang membuatmu me—“
“Maaf, Tuan Las. Kita sudah sepakat soal ini, kita tidak akan membicarakan hal pribadi sampai perjanjian berakhir, bukan?” Lela selalu mengelak saat mereka sudah bicara hal pribadi.
“Baiklah!”
Awalnya Lela dibawa ke rumah itu oleh Lasio hanya untuk menjadi teman bagi ibunya, tetapi hal itu hanya berlangsung sebentaran, yaitu hari saja. Semua berubah karena Lina terjatuh dan menjadi lumpuh. Bahkan, ia terpaksa harus di rawat di rumah sakit. Namun, kondisinya bukannya membaik, justru semakin lama semakin memburuk hingga Lasio membawanya pulang kembali.
Lina terjatuh bukan karena kesalahan Lela, melainkan karena kelalaian Lasio sendiri.
Kejadian itu bermula ketika Lina dan Lazio tengah berada di tepi kolam, memberi makan ikan. Saat Lina hendak beralih posisi, ia terpeleset sedangkan Lazio tidak cekatan untuk membantunya, karena mereka berjarak sedikit berjauhan. Seluruh anggota tubuh wanita tua itu terbanting ke tanah hingga Ia pun tidak bisa bergerak karena kesakitan.
Sejak Lina terjatuh dan pulang dari rumah sakit, ia tidak lagi menganggap Lela sebagai temannya, tapi justru sudah melupakan semuanya bahkan termasuk anaknya sendiri pun sudah tidak ingat.
Lela mau menuruti keinginan orang tua itu dan juga Lasio untuk tetap bertahan di sana, karena ia terlanjur Sayang dan juga kasihan pada Lina.
__ADS_1
Kesanggupan Lela merawat ibunya membuat Lasio diam-diam menyukainya dan mencari informasi tentang Lela.
Lasio sudah hampir menemukan semua informasi yang ia inginkan dengan cepat dalam beberapa hari, dan ia berniat untuk menjadikan Lela sebagai kekasihnya. Namun, belum juga niat itu terwujud, dia sudah dipertemukan dengan Lexsi yang mengaku sebagai kekasih dari wanita incarannya. Hatinya pun patah, bahkan sebelum menjalin hubungan cintanya.
Awalnya Lasio tidak percaya dengan pengakuan Lexsi, tetapi karena Lela tidak pernah membicarakan hal pribadi dengannya, sepertinya wajar kalau gadis itu memang memiliki seorang kekasih.
Setelah tiba di kamar, Lela dan dua asisten memindahkan Lina dari kursi roda ke tempat tidur, dan menyelimutinya.
“Ibu, sudah kenyang, kan?” tanya Lela dengan penuh kelembutan dan Lina mengangguk tanpa ekspresi sedangkan tatapan matanya kosong ke arah langit-langit kamar.
“Sekarang istirahat dulu, ya, Bu?”
Lina mengangguk lagi dan Lela memberi isyarat pada asisten lainnya untuk pergi.
“Kalau kalian lelah, istirahat saja, mumpung Nyonya mau tidur, kalian harus tidur juga. Aku juga lelah, dan akan istirahat juga!” katanya sambil beranjak dari sisi pembaringan Lina.
“Menjaga Nyonya pasti melelahkan, aku tahu itu, jadi, kalian boleh tidur siang, sebelum aku bangunkan kalian nanti!” kata Lela lagi sambil merebahkan diri di sofa panjang yang ada di kamar Lina.
Dari arah itu Lela bisa melihat dengan jelas ke tempat tidur. Ia harus siap kalau ada apa pun yang terjadi pada Lina. Merawat orang tua yang sudah tidak berdaya pada dirinya sendiri, justru lebih repot daripada mengurus seorang bayi.
Lela merasa baru saja tertidur ketika mendengar suara Lina terbatuk beberapa kali dan ia pun membuka mata. Namun, saat ia hendak bangun, Lasio yang sudah ada di sana, melarangnya.
“Biar aku saja, tidurlah kalau masih mengantuk!” katanya sambil mengusapkan minyak gosok ke punggung ibunya. Namun, matanya tidak terlepas dari wajah Lela, membuat gadis itu salah tingkah.
“Apa Tuan yakin akan melakukannya sendiri?”
“Ya. Maaf aku tidak pernah membantumu merawat Ibuku sendiri.”
“Tidak apa-apa sudah jadi kesepakatan kita!”
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Saya minta maaf pada pembaca yang setia semua, karena jarang update. Saya masih nulis juga di PF sebelah 🙏🙏🙏
terima kasih atas pengertian dan dukungannya 🥰