Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Teringat Orang Yang Dibenci


__ADS_3

Teringat Orang Yang Dibenci


Tiba-tiba Lela seperti tersadar akan sesuatu, sekarang sudah lebih dari satu bulan sejak kejadian waktu itu. Dalam hati ia menyebut nama Lexsi beberapa kali, dan untuk pertama kalinya ia mengharapkan pria itu ada bersamanya.


Apa dia bisa diandalkan? Batin Lela, sambil memikirkan pria yang selama ini dibenci sekaligus, menjadi semangat untuk tetap baik-baik saja, karena ingin membalaskan dendam.


“Euum ... sepertinya, aku sudah terlambat tapi lupa tanggalnya,” sahut Lela datar, padahal hatinya bergejolak.


“Sepertinya kau tidak bisa melanjutkan bayi tabung ini karena kau sudah hamil, Lela!”


“Hmm ...,” gumam Lela.


“Kalau aku perkirakan di sini ... usia kandunganmu sudah mencapai enam minggu, kau harus membersihkannya kalau ingin menerima benih Tuan Lobo!”


“Tidak ... jangan ..., Dok!”


Sejenak suasana hening, Linda juga tengah berpikir.


Tuhan, aku tidak tahu kalau hubungan yang sekali dengan laki-laki itu, bisa membuatku hamil! Batin Lela.


“Dok, apa hal itu bisa terjadi, itu hanya sekali!” kata Lela lagi.


“Tentu bisa karena waktu itu melakukan hubungan itu, kemungkinan kau sedang dalam masa subur.”


Ya Tuhan Ya Tuhan Ya Tuhan!


“Dokter, kumohon ...! Rahasiakan semua ini dari Lobo dan katakan semuanya baik-baik saja, jangan pernah memberutahunya kalau aku hamil anak dari laki-laki lain!”


Linda masih diam.

__ADS_1


“Dok! Apa aku boleh meminta hal itu padamu? Aku yakin kau tidak mau menjadi seorang pembunuh dengan membersihkan rahimku sekarang bukan?”


Linda menatap Lela lekat-lekat.


“Kalau kau ingin membiarkan janinmu sendiri tetap berkembang, dan kau menutupinya dari Tuan Lobo, itu artinya kau akan melahirkan bayimu?” ujar Linda.


“Ya.”


“Lalu, kau akan menyerahkannya kepada dua orang itu? Lela ... kau Ibu yang gila!”


“Tidak, tidak akan! Dok, aku punya rencana lain!”


Linda mendengar dengan saksama apa yang dikatakan oleh Lela, kemudian dokter itu pun mengangguk-angguk. Dia hanya berharap rencana mereka akan berjalan dengan baik, selama Lobo dan siapa pun itu tidak mengetahuinya.


Semua yang dikatakan Lela benar, ia tidak mungkin menjadi seorang pembunuh, karena apa yang akan dilakukan sekarang jauh lebih baik.


Linda merasa lebih baik kalau bisa mencari jalan lain, untuk tidak membiarkan benih Lobo menjadi janin di rahim Lela. Apalagi sampai lahir menjadi seorang bayi. Ia tidak bisa membayangkan jika bayi itu, kemudian di asuh oleh Lobo dan Lily, entah akan seperti apa kelak anak itu tumbuh.


Lela senang, karena rupanya dokter itu masih memiliki hati nurani yang bagus. Namun, ia masih heran mengapa seorang dokter seperti Linda, mau melakukan perjanjian dengan Lobo. Tentu ada alasan dibalik semua yang sudah dilakukannya, tapi Lela tidak ingin tahu, walaupun ia melihat dengan jelas ada tekanan di raut wajah sang dokter.


Lela membaca kembali perjanjiannya dengan teliti, ia pun maklum, karena ternyata dalam perjanjian itu dirinya diakui sebagai istri Lobo.


Tertulis di sana bahwa, Lela mengalami masalah, dengan pembuahan dan sel telurnya, hingga memutuskan untuk menjalani proses bayi tabung, ini sungguh kebohongan yang besar.


Linda akhirnya sepakat dengan Lela dan akan menjalankan rencana sekuat tenaga. Ia hanya perlu mengisi data pasien dan pemeriksaan sesuai dengan harapan Lobo agar semua aman.


Sepulang dari rumah sakit, Lela yang sudah memiliki ponsel keluaran terbaru, menghubungi Lobo. Hanya ada nomor Lily dan pria itu di sana. Ia menyampaikan informasi jika semua proses awal stimulasi, berjalan lancar. Mereka bisa menjalani proses selanjutnya, yaitu operasi kecil folikuler atau pengambilan sel telur.


“Jadi, kau sehat dan siap mengandung bayiku?” tanya Lobo di ujung telepon.

__ADS_1


“Ya, Tuan. Kau bisa menjalani proses inseminasi dua pekan lagi.”


“Ya. Aku tahu, apa kata Linda?”


“Oh, harus minum banyak vitamin, sampai semua proses selesai beberapa pekan lagi!”


“Hanya itu?”


“Ya.”


Lela sudah berada di mansion tepi Pantai Lorus. Ia istirahat dengan tenang, di kamarnya yang luas dan mewah. Ia menggunakan waktu sendirinya, untuk berselancar di dunia Maya, berusaha mencari informasi tentang Lexsi.


Namun, usahanya tidak berhasil sebab informasi tentang pria itu sangat minim. Kalaupun ada di laman media sosial tentang nama yang sama, tapi bukan dia.


Lela pun menyesali kebodohannya yang tidak tahu apa nama perusahaan Lexsi atau butik Lulu, kalau seandainya ia tahu, maka akan lebih mudah untuk menemukannya dan mengatakan tentang kehamilan pada mereka. Sungguh Lela ingin agar Lexsi mengetahui jika ia tengah mengandung anaknya.


Lela yakin jika yang ada dalam rahimnya adalah anak Lexsi, karena ia belum pernah berhubungan dengan pria mana pun, kecuali saat pria itu melakukan rudapaksa padanya.


Namun, timbul satu lagi pertanyaan di benaknya apakah Lexsi mau menerima kehamilannya atau tidak.


Lela kembali merasa hancur, mengingat kejadian saat ia baru sadar dari pingsannya waktu itu, sebab dalam sekejap, ia menjadi wanita yang tidak memiliki harga diri. Sebenarnya ia masih belum bisa menerima keadaan dirinya sekarang, tapi ia tidak bisa protes dengan takdir Tuhan.


Dalam waktu hampir satu bulan ia mengalami stres berat, di tambah dengan aktivitas yang dipaksakan oleh Lulu. Sungguh ia sudah menjalani hal paling melelahkan, lebih lelah dari saat dirinya bersama dengan Lein dan Landu.


Sekarang, menyadari dirinya hamil, Lela lebih syok lagi. Bagaimana bisa? Pikirnya.


Padahal ia sama sekali tidak merasakan keanehan pada tubuhnya, seperti wanita kebanyakan wanita hamil pada umumnya yang merasa mual dan sering muntah.


Lela kembali menangis saat merasakan kesedihan yang mendera, menyayat-nyayat hati, lebih sakit dari saat ditinggal sang ibu pergi. Kejadian demi kejadian ia lalui dan tekanan jiwa raga datang silih berganti. Tak sanggup ia menanggung sendiri, tapi kini ia hanyalah seorang yatim piatu, tidak tahu ke mana harus mengadu.

__ADS_1


Dalam waktu lebih dari satu tahun, garis kehidupan Lela berubah drastis. Dari anak yang dimanja menjadi anak yang penuh derita. Bahkan, kini, mau tidak mau ia terpaksa menerima kenyataan jika dirinya berbadan dua. Sebenarnya ia tidak ingin menerima janin siapa pun tumbuh di rahimnya tanpa ikatan cinta.


❤️❤️❤️


__ADS_2