Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Wanita Penghibur


__ADS_3

Wanita Penghibur


Namun, betapa kecewanya gadis itu setelah mengetahui jika dirinya dibawa ke sebuah klub malam, dan tidak bisa keluar dari sana kecuali bisa menebus diri, dengan membayar ganti rugi sebesar sepuluh juta.


Saat itu Lela benar-benar putus asa, ia menangis sejadi-jadinya dan baru berhenti setelah malam tiba, karena seorang yang menjadi germo, memarahinya habis-habisan. Lalu, memintanya untuk segera berganti pakaian yang sangat minim dan berdandan dengan dandanan yang mencolok.


Semua yang ada pada diri para wanita itu adalah sebagai pemikat, baik riasan yang mencolok juga pakaian terbuka. Mereka diharapkan bertingkah laku genit dan lemah gemulai untuk menarik minat para pria kaya.


“Ayo! Semua bersiap, para Tuan Muda dan Tuan-tuan lain yang akan menjadikan kalian ratu malam ini sudah menunggu!” demikian ucapan seorang wanita yang memberi isyarat agar semua wanita segera menyelesaikan riasan dan mengikuti langkahnya ke sebuah ruangan yang berdinding kaca.


Cih!


Lela muak sekali mendengar ucapan wanita gemuk yang memakai pakaian dengan dada terbuka itu.


Bagaimana mungkin seorang wanita yang akan dijadikan budak napsu, adalah ratu bagi laki-laki yang sudah membelinya, itu hal yang mustahil bagi Lela. Seorang ratu adalah kehormatan, tapi wanita yang sudah dilelang adalah kerendahan martabat dan harga diri. Tidak bisa disamakan dengan sebutan ratu kalau hanya jadi pemuas laki-laki.


Di antara para wanita itu, hanya Lela yang berjalan dengan angkuh, dan tidak menampakkan sikap gemulai sama sekali. Bahkan wajahnya pun cemberut. Berulang kali wanita yang memberinya pakaian tadi, mengisyaratkan untuk bersikap manis dan tersenyum, tapi Lela mengabaikannya begitu saja.


Para wanita itu duduk secara berbaris, dengan posisi yang cukup menantang, menghadap ke salah satu dinding kaca. Ada beberapa pria dengan pakaian perlente dan memandang ke arah mereka, dengan tatapan mesum serta senyuman yang menggoda.

__ADS_1


Lela yakin, dengan tingkahnya yang dingin dan acuh tak acuh itu, tidak akan menarik minat para pria yang memang menginginkan wanita penggoda.


Tak lama setelah itu, satu, dua wanita mulai keluar dari ruangan, karena berhasil dipilih oleh pria yang menginginkan mereka. Wanita yang terpilih itu tentu saja memiliki penampilan menarik, lebih cantik dan menggoda di antara yang lainnya.


Sementara Lela masih menunggu gilirannya dengan pasrah untuk dipilih, ada dua orang yang tampak seperti suami istri, sedang bertengkar di luar klub, atau tepatnya di dekat tempat parkir.


Plak!


Terdengar suara tamparan keras di pipi Landu yang dilakukan oleh istrinya, wanita itu terlihat sangat marah. Lein menatap Landu dengan tatapan membara, sambil mengepalkan satu tangan. Ia ingin menampar laki-laki itu lagi, tetapi Landu menahan tangannya sambil menyeringai.


Beberapa orang yang melihat, bersikap cuek dan acuh tak acuh dengan pertengkaran mereka, karena sudah sangat biasa terjadi adu mulut atau orang mabuk yang meracau tak menentu di tempat itu. Jangan demikian mereka leluasa saling berteriak walaupun di tempat umum.


Lein baru pulang dari berbelanja saat tidak melihat keberadaan Lela di rumah, kecuali anak mereka yang masih kecil bersama pengasuhnya. Ia sangat mengenal tabiat Landu hingga menebak kalau laki-laki itu pasti yang sudah membawa pergi keponakannya.


“Kau berani sekali menjual Lela tanpa seizinku? Hah! Keluarkan dia dari tempat itu sekarang juga!” bentak Lein dengan nada sangat keras pada suaminya.


“Tidak bisa, kecuali aku menebusnya dengan uang sepuluh juta!” kata Landu.


“Apa kau gila? Uang sebanyak itu lebih baik aku habiskan untuk berbelanja daripada, untuk menembus anak itu. Dasar bodoh!”

__ADS_1


Napas Lein tampak tersengal-sengal saat bicara, karena ia menahan amarah.


“Kau seharusnya tahu, aku akan menjualnya pada orang yang lebih bisa di percaya dan menjamin hidup kita, tapi kau malah menjualnya dengan harga murah di sini?”


“Apa maksudmu, siapa yang kau maksud akan membelinya dengan menjamin hidup kita?”


“Tuan Lobo!”


“Ah! Kenapa kau tidak bilang padaku?”


“Aku baru mendapatkan kesepakatan dengannya, kau kenal dengan istrinya yang tidak bisa hamil itu, kan? Ternyata, dia tidak memiliki rahim hingga mereka berniat meminjam rahim Lela, untuk menyimpan benih mereka berdua, bukankah ini perjanjian ganda yang sangat menggiurkan?” Kata Lein dengan dada yang bergemuruh karena masih menyimpan kesal.


“Ya, kau benar.” suara Landu terdengar lemah saat bicara.


“Ya. Kita bukan hanya mendapatkan bayaran dari sewa rahimnya, tetapi ketika anak itu lahir nanti, mereka akan menebusnya dengan uang yang lebih banyak lagi!”


Lein diam untuk sejenak, sekedar mengambil napas.


“Jadi, kita harus menjaga agar Lela tetap aman bersama kita dan baik-baik saja agar Tuan lobo tidak mencari wanita lain untuk dia sewa.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita biarkan Lela untuk malam ini bersama seorang laki-laki? Jadi, aku tidak harus menebusnya!” usul Landu.


❤️❤️❤️


__ADS_2