Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Rekaman Video Untuk Lela


__ADS_3

Rekaman Untuk Lela


Lexsi masih melihat pemandangan yang mengerikan di depan sana, dan ia merekamnya dengan kamera ponsel. Suatu saat nanti akan ia tunjukkan pada Lela sebagai hadiah baginya. Pemandangan itu menyuguhkan bagaimana Lein dan Landu disayat kulitnya sedikit demi oleh Lobo dan beberapa orang anak buahnya.


Lalu, mereka menampung darah yang keluar dari setiap sayatannya. Setelah banyak mereka pun mengusapkan ke wajah dua orang itu, serta memaksa untuk meminum darah mereka sendiri.


Suara jeritan dan tangisan terdengar menyayat, tapi bukan belas kasihnya yang diterima, melainkan siksaan yang lebih kejam lagi.


“Kalian tahu, apa akibatnya kalau menipuku? Hah!” kata Lobo dengan suara sangat keras dan kemarahan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.


Mereka bebas melakukan penyiksaan itu di sana sebab tidak akan ada orang yang melalui tempat itu selain mereka.


“Kau penipu, pembohong, sudah kubilang, kalau tak mampu membayar hutangmu maka kau harus membayarnya dengan nyawamu!” kata orang lain lagi.


Ya, ternyata bukan hanya Lobo yang memiliki dendam dengan Landu, beberapa orang lain juga memiliki dendam lama pada pasangan itu hingga mereka menggunakan kesempatan secara bersamaan.


Awalnya Lobo berhasil menangkap Lein dan Landu di rumah Lela yang ditempati mereka. Lalu, perbuatan itu secara kebetulan diketahui oleh seorang pemilik Bar.


Lalu, kedua orang itu saling berbicara dan Lobo pun mengatakan alasannya menangkap Lein dan Landu. Sedangkan pemilik Bar mengatakan jika Landu pernah membuat keributan dan juga berhutang tapi tidak pernah membayar di klub malamnya.


Kejadian penangkapan yang dilakukan Lobo, terjadi tepat beberapa jam setelah ia selesai bicara dengan Lexsi di rumah hari itu juga.


Lobo tidak menduga ternyata kejahatan yang dilakukan Lein dan Landu, bukan sekali saja hingga datang beberapa orang lain yang ingin ikut andil dalam memberikan balasan pada dua orang itu, secara bersamaan. Semua berkat informasi yang disampaikan oleh pemilik Bar, pada beberapa temannya yang juga memiliki masalah yang sama.


“Kau pasti akan puas kalau sudah melihat hal ini, Lela ....!” kata Lexsi dengan suara lirih sambil tersenyum puas menatap layar ponselnya.


“Tuan, apa kita akan melihat perbuatan mereka sampai selesai?” tanya Leo sambil melihat Lexsi dari balik kaca spion depan.


“Tidak!” sahut Lexsi sambil mengalihkan pandangan pada tanah lapang lagi. Masih terdengar jeritan dan juga umpatan, caci maki dari beberapa orang dari arah itu.


Bukan hanya sumpah serapah dari orang-orang yang mendendam, tapi umpatan kemarahan juga keluar dari mulut Lein yang menyalahkan suaminya.

__ADS_1


“Sudah kubilang, jangan berjudi dan mabuk di bar! Dasar bodoh! Apa masih kurang kekayaan yang aku dapatkan dari Lela, sampai kau berjudi? Hah!” kata Lein sambil meringis kesakitan saat kulit di betisnya disayat kembali.


“Lihat kita disiksa seperti ini dan kau pasrah? Semua karena kesalahanmu, kenapa tidak pernah bertanya apakah Lela punya pacar atau tidak! Bagaimana dia bisa hamil? Dasar bodoh!”


Landu hanya diam sambil memejamkan mata menahan perih dan sakit di sekujur tubuhnya, mereka hanya menunggu waktu untuk mati saja.


“Kalau kau punya otak, kita tidak akan mati konyol seperti ini! Percuma aku korbankan hidup setahun untuk merawat wanita tua demi hartanya, tapi tidak bisa menikmatinya! Sialan!”


Landu masih diam.


“Bodoh! Sialan! Sebentar lagi kita pasti akan mati! Semua karena salahmu, Landu!”


“Diam, kau! Dasar istri serakah tidak berguna, kau Bibinya Lela, kau yang seharusnya tahu kalau gadis itu sudah hamil!”


Landu bicara sambil menahan napas sesak karena menahan perih, wajahnya pucat karena darahnya hampir habis.


“Dengar, mana pernah kau memberiku uang banyak agar aku bisa bersenang-senang, semua kau habiskan sendirian! Iya kan? Jadi, jangan salahkan aku!”


“Apa aku tidak boleh bersenang-senang sebentar? Kau istri yang pelit!”


“Kau suami miskin, masih saja mengatakan aku pelit? Hah! Kau pikir dari mana biaya makan dan pakaianmu? Bukankah selama ini kau bisa hidup layak, dari mana semua itu kalau bukan karena aku?”


Ucapan seperti ini sudah tidak asing lagi ditelinga Landu, meskipun begitu, dia sangat marah karena tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Lein, walaupun semuanya benar.


“Diam kau wanita sialan, pemberianmu itu cuma sedikit! Lihat, kalau bukan karena idemu menawarkan rahim Lela pada Lobo, kita tidak akan jadi seperti ini! Jadi, jangan menyalahkan aku!” bentak Landu dengan suara keras hingga semua orang, yang ada di sana bisa mendengar teriakannya.


Plak! Suara tamparan Lobo yang begitu keras mendarat di pipi Landu berulang kali. Bukan hanya itu tendangan dan pukulan pun dilayangkan tanpa ampun tentu saja Landu tidak bisa melawan. Ia dalam kondisi terikat baik kaki dan tangannya di sebuah tiang, dalam keadaan berdiri, hingga kemudian karena rasa sakit yang amat sangat ia pun pingsan.


Lein berteriak dengan sangat keras memanggil nama suaminya agar terbangun, tetapi sepertinya sia-sia. Ia juga tidak bisa melakukan apa pun mereka terikat dalam keadaan yang sama tapi terpisah.


Seseorang akhirnya kesal dengan teriakan Lein dan akhirnya ia pun menampar wanita itu berulang kali hingga pipinya bengkak dan merah lalu wanita itu pun pingsan juga.

__ADS_1


Setelah cukup melihat kejadian demi kejadian yang terjadi di hadapannya, akhirnya Lexsi memutuskan pergi.


“Jadi, kita pergi saja sekarang, Tuan?” kata Leo sambil memutar kendaraannya.


“Ya, sepertinya rekaman yang aku buat sudah cukup!”


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, itu adalah kendaraan mewah yang baru saja dibeli oleh ayah Lexsi, untuk di gunakan selama anaknya berada di kota guna mengurus perusahaan.


Walaupun, Lexsi menolaknya, tapi sang ayah tetap memaksa hingga pria itu pun, mau tidak mau memakainya, dan menyimpan mobil tuanya di garasi rumah keluarga.


Setelah beberapa meter saja jarak kendaraan mereka dari tempat itu, terdengar suara ledakan yang cukup besar. Baik Lexi maupun Leo, seketika menoleh ke belakang dengan terkejut. Mereka melihat asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa, dari lokasi tempat di mana Lein dan Landu disiksa.


“Tuan, apa kita akan kembali untuk memastikan suara ledakan berasal dari tempat itu?” tanya Leo.


“Tidak perlu!”


“Ledakan itu sangat besar, Tuan! Apa kemungkinan mereka semua mati?”


“Biarkan saja!” sahut Lexsi, dalam hati ia berkata jika mereka semuanya tiada atau tidak, bukan urusannya. Kalau benar-benar lenyap pun, itu justru lebih baik.


“Termasuk Tuan Lobo, apa itu tidak masalah, bukankah dia punya kerja sama dengan perusahaan kita, Tuan?”


“Ya.”


Setelah itu Lexsi meminta Leo mengantarkannya ke rumah Lela yang selama ini ditempati paman dan bibinya, ia akan memeriksa semua surat-surat rumah itu dan memastikan kalau semua masih menjadi milik Lela.


Walaupun, dalam hati ia ragu apakah akan kembali bertemu dengan gadis itu atau tidak, Lexsi tetap merasa perlu untuk mempertahankan hak Lela, yang telah mengandung bayinya. Ikatan batin segera terjadi hari itu saat ia tahu bahwa, Lela hamil. Bahkan dirinyalah yang mengidam dan anehnya lagi, begitu melihat Lela rasa mulanya seakan sirna.


Ia begitu bahagia saat Lela mau menuruti keinginannya untuk ikut keluar dari rumah sakit, akan diajaknya wanita hamil itu pulang. Namun, kini nasib memisahkan mereka lagi. Rasa mual yang sempat hilang pun datang lagi. Walaupun, sudah sedikit berkurang, tetap saja ia muntah setiap hari.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2