
Buang Angin
Usapan lembut dari tangan Leimena di bahu Lela, bersamaan dengan gerakan pelan dari jari-jari gadis itu. Dan, ia melihatnya sekilas pada gerakan yang menunjukkan jika gadis itu kesadarannya sudah mulai pulih, hanya saja belum kuat untuk membuka mata atau melakukan gerakan normal lainnya.
Dia mengetahui riwayat kesehatan gadis itu, dari laporan yang dikirimkan oleh rumah sakit sebelumnya. Gadis itu ditangani dengan cepat namun seadanya, oleh karena itu dia maklum.
Leimena duduk di tempat di Leksi, sambil menunggu gadis itu benar-benar siuman dan berharap sahabatnya akan segera selesai membersihkan diri.
Setelah satu jam kemudian, Lexsi sudah kembali dan Leimena tersenyum dibuatnya. Sambil berdiri dari duduknya, Leimena mengangguk-anggukkan kepalanya.
Leimena melihat Lexsi sudah terlihat tampan, entah di mana laki-laki itu merubah penampilan dengan sangat cepat, apakah karena bantuan Leo, ia tidak tahu, yang jelas, sekarang pria itu sudah rapi. Rambutnya tidak gondrong lagi, kumis dan jenggot sudah pergi dan pakaiannya pun sudah hampir mirip dirinya, tanpa jas dokter.
“Kau jauh lebih baik sekarang, mungkin sebentar lagi Lela akan membuka mata, sebab tadi aku lihat dia menggerakkan jarinya ... jadi, duduklah!” kata Leimena.
“Apa kau sudah memeriksanya, Lei?”
“Belum, aku menunggumu, buat kau lihat apa yang aku lakukan padanya!”
“Baik, periksa saja sekarang!”
“Kau terlihat khawatir, apa dia begitu berarti bagimu?” Leimena bicara, sambil menempelkan status ke dada Lela yang masih tertutup pakaian.
Dalam sejenak suasana hening, karena Lexsi tidak menjawab dia hanya menatap ke arah Lela lekat-lekat. Ia masih perlu meyakinkan diri, apakah benar gadis itu sudah mengambil sebuah tempat di hatinya dan membuatnya menjadi berarti.
“Dia sudah melahirkan anakku!” hanya itu yang terucap dari bibirnya
“Hanya karena itu?” Leimena semakin mempertegas perasaan Leksi tapi pria itu kembali diam.
Leimena memeriksa Lela dengan saksama, memastikan bahwa, detak jantung, nadi dan beberapa organ vital di tubuh gadis itu baik serta menunjukkan sudah normal kembali. Ia lalu berbalik ke arah Leksi.
Ia tersenyum, sambil berkata, “Tanya dalam hatimu sendiri, Lex! Apakah kau menyayanginya atau tidak, kalau kau sudah yakin maka jaga dia baik-baik, kalau kau tidak bisa menjaganya, maka berikan dia padaku dan aku yang akan melindunginya!”
“Kenapa harus kau? Apa hubungannya denganmu?”
Leimenna tidak menjawab, ia hanya tersenyum menepuk bahu Lexsi, kemudian berlalu dari hadapan pria itu dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Tentu saja sikap dan ucapan Leimena itu membuat Leksi penasaran, tapi ia abaikan. Untuk sementara waktu ia hanya akan fokus pada kesehatan Lela saja. Semua demi kesehatan bayinya, karena menurut dokter anak yang memeriksa bayi prematur itu, yang paling baik untuk asupan nutrisi adalah air susu ibunya.
Sudah menjelang sore, saat mata Lela terbuka secara perlahan-lahan dan setelah penglihatannya jelas, ia pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, sambil mengumpulkan kesadaran. Ia menarik napas panjang beberapa kali, dan menoleh ke samping, saat jari tangannya menyentuh rambut seseorang yang tertidur di sisinya.
__ADS_1
Lela mengerutkan alis seraya berpikir, siapa laki-laki berkemeja biru muda dan tertidur di sana, pasti orang yang menungguinya. Ia kira pria itu adalah Lasio, mana mungkin ia bisa berada di ruangan luas dengan segala fasilitas lengkap, kalau bukan karena pria seperti dirinya.
Namun, hatinya sedikit ragu, sebab rambut Lasio hitam, lurus dan tipis, tidak berwarna coklat dan ikal seperti itu.
Demi menebus rasa penasaran, Lela membelai lembut rambut pria itu secara perlahan, gerakannya pun sukses membuat Lexsi yang sempat tertidur, mengangkat kepalanya dan langsung melihat Lela.
“Kau sudah sadar?” tanya Lexsi antusias sambil menggenggam tangan Lela dan menciumnya.
Lela terkejut, dan secara refleks menarik tangannya dari genggaman Lexsi, bagaimana pria itu ada di sini, pikirnya.
Menerima adanya penolakan, Lexsi tidak memaksakan diri. Ia memilih melepaskan tangan gadis itu dan hanya tersenyum. Ia tahu jika Lela mungkin heran dengan keberadaan orang yang tidak pernah ia harapkan untuk berada di sisinya.
“Apa aku mengejutkanmu?” tanya Lexsi dan Lela tak menyahut.
“Apa kau membenciku?”
Lela tetap diam dan masih menatapnya heran. Ia bertemu Lexsi hanya dalam hitungan jari, waktu pertemuan pertamanya adalah yang paling berkesan. Is lelaki yang membawa senapan dengan penampilan sangar dan terlihat arogan. Lalu, pertemuan keduanya sempat membuat ragu, karena pria itu berubah dan sekarang ia melihat penampilan yang sama dengan saat itu.
“Sekarang kau ada di kota, aku yang membawamu!” kata Lexsi, menceritakan keadaan tanpa diminta.
Suasana canggung pun terjadi. Lexsi melihat tatapan Lela yang tajam ke arahnya. Walaupun, tidak bicara tapi jelas memperlihatkan ketidaksukaannya.
Ucapan Lexsi membuat Lela memalingkan pandangannya. Namun, ia begitu malu setelahnya, karena ia buang angin tanpa sengaja.
“Sekarang, minumlah!” Lexsi berkata sambil menyendok air dalam gelas yang sudah dipegangnya. Ia mengikuti perintah Leimena, jika Lela sudah buang angin, baru boleh di beri minum tapi hanya satu atau dua sendok saja. Wanita itu baru boleh minum lagi setelah satu jam kemudian.
Lela terlihat enggan, walau tenggorokannya sudah terasa sangat kering, bisa dikatakan hampir dua malam ia belum minum.
Melihat penolakan lagi, Lexsi mencoba bersabar dan tetap menawarkan diri.
“Kata dokter, kau harus minum setelah buang angin, semua demi kebaikanmu.”
Lela masih memalingkan wajahnya dalam diam.
“ Apa kau tidak ingin melihat bayimu?”
Lela masih diam.
“Kalau kau tidak menginginkan bayi itu, aku akan merawatnya dengan suka rela!” kata Lexsi sambil menyimpan gelas di meja kecil samping tempat tidur.
__ADS_1
Seketika Lela menoleh dan melirik gelas itu, ia tidak berdaya dan tidak ada orang lain selain Lexsi di sana.
Lexsi menyuapkan dua sendok air, ke mulut Lela tanpa penolakan dan ia pun senang, meski ada sedikit pemaksaan. Bahkan ada setetes air mata di sudut mata wanita yang telah melahirkan anaknya. Setelah itu, ia keluar kamar untuk memanggil Leimena.
Lela tertegun saat pria berjas putih itu datang sambil tersenyum ramah, ia dokter yang berbeda dari saat pertama memeriksa dirinya. Akhirnya ia yakin memang saat ini sudah berada di kota dan jauh dari panti. Tentu saja ia bingung bagaimana harus mengucapkan terima kasihnya pada Lasio, Larin dan Liran.
“Namamu Lela, kan? Aku Leimena, biasa dipanggil Dokter Lei, tapi kau boleh memanggilku, Kakak!” Leimena berkata sambil memeriksa kembali keadaan Lela, setelah sadar bersama beberapa suster dan melakukan pencatatan perkembangannya.
“Apa maksudmu?” tanya Lexsi terlihat tidak suka.
Leimena menoleh pada Lexsi, dan berkata, “Aku hanya berkenalan, jangan cemburu ... aku tidak akan mengambilnya sebagai kekasih, kecuali kau tidak mencintainya!”
“Tidak akan!” kata Lexsi tegas.
Leimena kembali tersenyum manis ke arah Lela, dan meminta semua perawat keluar ruangan.
Lalu, ia berkata, “Kau baik-baik saja, Lela ... dan segera memberikan asi untuk anakmu, dia sangat membutuhkan ibunya ... kau harus cepat sehat, bukan demi anakmu, tapi demi aku dan juga Lexsi!”
Meskipun merasa aneh dengan maksud Leimena, Lela kali ini mengangguk.
“Sepertinya dia sangat mencintaimu!” Leimena bicara sambil melirik Lexsi yang berdiri di sebelahnya, “kau tahu, saat kau membutuhkan darah ... dialah yang sudah mendonorkan darahnya untukmu.”
Cerita Leimena tentang semua yang dilakukan Leksi malam itu, mengalir begitu saja tanpa diminta. Lela yang masih enggan bicara, tapi ia mendengarkan dengan saksama. Walaupun, tanpa komentar apa pun, ia mengerti jika tanpa Leksi semua tidak akan bisa terjadi.
Saat itu Lela tidak bisa mengandalkan siapa-siapa, Lasio pun tidak ada. Kalaupun kemudian Tuhan mengirimkan pria itu sebagai penolong, Lela tidak bisa menolak dan hanya bisa bersyukur serta berterima kasih padanya. Biar bagaimanapun, Lexsi adalah ayah dari bayinya.
“Jadi, Lela ... kau harus mempersiapkan dirimu mulai sekarang kalau-kalau dia akan melamar dan menikahimu demi anak kalian!” kata Leimena di akhir ceritanya.
“Lexs! Aku bisa mengandalkan dirimu mulai sekarang, ingat! Kalau terjadi hal buruk padanya, maka aku tidak akan segan membunuhmu, demi Lela!”
“Lei! Kau memberi teka-teki padaku soal Lela?”
Lexsi sangat jelas melihat perbedaan yang terjadi pada sahabatnya, setelah memeriksa Lela. Seolah-olah gadis itu adalah seorang kekasih ataupun wanita yang memiliki hubungan dekat dengannya. Ia tidak ingin memperpanjang segala urusan, maka ia harus membicarakannya saat ini juga, walau Leimena tidak suka.
“Tidak! Tidak baik menjelaskannya sekarang, lebih baik kau ingat ucapanku!”
“Baik, katakan alasannya mengapa kau harus membunuhku?”
❤️❤️❤️
__ADS_1