Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Scenery : Ep. 10


__ADS_3

“Namaku Hakiki Hulmi. Kakekku yang memberi nama itu. Nama yang diberi kakekku mengandung arti semua keinginan akan terwujud. Aku dilahirkan sebagai anak sulung dari 3 bersaudara. Aku memiliki dua adik. Satu laki laki dan yang lain perempuan. Ayahku berasal dari Brastagi, salah satu kota di Sumatera Utara. Kota dataran tinggi yang berdekatan dengan Gunung Sibayak, perbukitan Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Kota ini merupakan salah satu objek wisata di Sumatera Utara layaknya Puncak di Jakarta. Udara yang dingin sangat cocok untuk bercocok tanam. Tanah yang subur membuat kota ini produktif dan mengutamakan bertani sebagai mata pencaharian, selain pekerjaan menjadi jasa dalam bidang pariwisata. Hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan sudah terkenal sampai keluar negri. Di zaman presiden ke-2 di Indonesia, kata ayahku, banyak anak-anak dari petani yang biasa sekolah keluar negri. Ibu dan ayah bertani dan berjualan sayuran di pinggir jalan, tapi anaknya mengambil S3 di Amerika. Sangat membanggakan. Ketika anaknya sudah berhasil di Amerika, orang tua tak mau diajak ke sana, masih tetap berjualan di pinggir jalan atau di pasar - pasar tradisional di Kota Brastagi. Begitu gigih perjuangan mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya.”


“Namun, setelah presiden kedua di Indonesia diturunkan, para petani merasa kesusahan, saat itu aku baru umur 3 tahun, aku tahu cerita ini dari ayahku. Berjalannya waktu, persaingan antar negara membuat produksi sayuran dan buah - buahan di Indonesia menurun, dikalahkan oleh negara lain seperti Thailand dan China daratan. Kehidupan petani semakin berat setelah berganti presiden dari yang ketiga, keempat, kelima, keenam yang tak berpihak kepada petani membuat rakyat semakin sulit karena terlalu banyak impor barang dari luar negri terutama China Daratan. Hal itulah yang membuat ayahku pindah ke Jakarta dan berterima kasih kepada Tuhan karena dia mendapatkan pekerjaan di BUMN di negara ini.”


“Tentang karakterku. Aku sering dipanggil teman-temanblank facekarena menurut mereka aku punya wajah yang polos, lugu secara spontan. Dan benar bahwa wajah itu bukan aku sengaja, memang seperti itulah adanya. Terkadang aku mengekspresikan diri dan wajah sesuai dengan emosi yang sedang aku rasakan pada saat itu. Aku bisa menjadi manusia yang tenang, melihat dan meneliti orang lain secara detail, memperhatikan manusia lain dengan seksama seperti aku bisa membaca gerak - gerik tubuh mereka selanjutnya. Aku bisa menunjukkan berbagai macam ekspresi wajah senang, sedih, susah, terharu, terkejut, merasa tersakiti, malu, buruk rupa, menawan dan berkelas serta yang lain. Aku tak tahu mengapa aku bisa melakukan mimik wajah seperti itu dan aku juga menyukai karena membuat orang lain tertawa. Kata orang-orang, aku terlalu kekanak-kanakan, belum dewasa, tapi inilah aku, aku tidak bisa menjadi manusia yang menjaga kharisma dan wibawa, aku ya aku, apa adanya dan aku bahagia jika manusia lain juga bahagia jika bersamaku.”


“Kata orang-orang, aku mempunyai fisik yang mendekati sempurna. Terkadang aku merasa memang seperti itu ketika melihat parasku, mataku, hidungku, rambutku dan telingaku walaupun itu besar. Aku juga membandingkan postur tubuhku dengan yang lain, memang diberi kelebihan yang sangat banyak oleh Tuhan. Tapi, ketika orang memujiku, aku tak pernah bangga, aku malah merasa malu karena terlalu banyak yang memuji. Aku malu karena harus ada rasa malu itu supaya aku tidak sombong di kemudian hari. Aku malu supaya aku bisa bersyukur bahwa aku diberi kelebihan fisik yang sangat banyak oleh Tuhan. Aku malu karena begitu banyak anugerah yang diberikan oleh Tuhan tapi aku sebagai manusia belum banyak bersyukur kepada-Nya.”

__ADS_1


“Aku punya dunia sendiri di bidang seni. Aku suka bermain gitar, piano dansaxophone. Aku bisa melukis tapi tidak terlalu mahir. Aku suka fotografi. Ini yang sangat aku sukai. Aku ingin sekali mengabadikan setiap momen dalam hidupku dengan foto. Begitu indah. Terus terkenang dan ingin terus abadi. Menikmati keindahan alam dari mataku langsung dibandingkan dari foto hasil jepretanku, sangat berbeda. Begitu banyak keindahan ketika momen itu berhenti tepat di depan mataku. Seakan aku bisa mengendalikan setiap momen dan membuat menjadi abadi.”


Hakiki tersenyum kecil. Memandang tulisan di buku dengan kertas berwarna krim. Menutup buku yang bersampul kulit berwarna coklat. Meletakkan di pinggir meja belajar. Tubuhnya yang besar terangkat, bergeser dari tempat duduk meja belajar menuju pinggir tempat tidur. Duduk sebentar di pinggir tempat tidur. Termenung.


“Keinginanku saat ini adalah menemukan Pahlawan kecil yang menolongku tujuh tahun lalu. Kabulkan Tuhan....”


*******

__ADS_1


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2