
Inner Chiled
Dug.
Pria bertubuh besar, memakai setelan jas berwarna hitam dan berjubah di belakangnya, menendang lelaki tampan berkulit putih, memakai baju jubah labu (baju tradisional china) berwarna merah. Dia berdiri tegak, memegang tongkat bermata kristal di ujung tongkat. Posisi tongkat tegak lurus berada di samping kanan. Genggaman tangan kanan berada di posisi atas tongkat, menggenggam ujung tongkat, mata kristal itulah ujungnya. Sedangkan tangan kiri memperbaiki topi tipe fedora yang dikenakan di atas kepala. Dia memakai topeng yang hampir menutupi seluruh wajah.
"Permainanmu sangat memalukan Chen," ujar pria besar dengan nada sinis. "Kau juga harus punya etika untuk menjadi penjahat. Masa’ anak kecil yang menjadi lawanmu." Pria tegap bertopeng menyindir lawannya yang dipanggil dengan sebutan Chen. Suaranya bernada mengejek.
"Aku tak perduli. Aku akan membunuhnya selagi aku belum terlambat," jawab pria yang dipanggil Chen. Berusaha bangun akibat tendangan pria berbadan tegap.
"Ya. Kau pasti akan terlambat, aku yang akan terlebih dahulu menyelamatkannya dan aku akan terus melindungi mereka sampai Big Boss keluar karena orang-orang yang akan dikirimnya tak akan pernah sanggup menghadapi kami," ujar pria itu masih dengan nada menyindir.
"Jangan banyak bacot!" Chen mengangkat tangan kanan. Menempelkan seruling yang berada di tangan kanan ke bibir. Perawakannya yang tampan, tak sesuai dengan karakternya yang dingin. Badannya kurus, tinggi dan berotot, tersembunyi di balik baju labunya yang terbuat dari sutra. Di dada baju tersemat bordiran bergambar naga berwarna emas. Seruling yang menempel di bibir, disepuh dengan warna emas. Pemuda bernama Chen meniup seruling beberapa kali. Seruling mengeluarkan irama yang merdu. Tapi... tak hanya mengeluarkan irama, benda itu juga mengeluarkan angin dingin, dibarengi dengan jarum-jarum kecil dalam jumlah banyak berwarna emas. Gerakan sekumpulan jarum itu sangat cepat, menyerang tubuh pria yang ada di depannya.
Pria berbadan tegap mengangkat tongkat dan memutarnya seperti gasing. "Arthaaaaaa.... lindungi dirimu," teriak pria berjubah dengan suara yang keras dan lantang.
Ternyata, dari awal ada seorang anak laki-laki yang berada dibelakangnya. Anak laki-laki berpostur kurus, tinggi memakai topeng berwarna hitam tapi ada sedikit warna merah di kedua ujung topeng. Topeng yang dikenakan hanya menutupi mata. Anak laki-laki bergerak maju menuju punggung yang bidang, berlindung di tubuh pria berbadan tegap. Tangannya sedang memegang busur panah.
Tring. Tring. Tring. Tring.
Jarum-jarum itu bertebaran jatuh di depan pria yang berjas hitam ketika berbenturan dengan tongkat yang diputar. Tongkat berwarna gelap membentuk bayangan seribu tongkat yang memutar, melindungi tubuhnya dari serangan jarum. Tak ada satupun yang mengenai dirinya.
Lelaki yang bernama Chen kelihatan geram. Memasang kuda-kuda. Menggerakkan kaki kanan, maju sedikit ke depan dan menekukkan sedikit kedua lutut. Ditiupnya kembali seruling emas yang sudah menempel di bibir. Kali ini irama yang keluar lebih panjang dari sebelumnya, tak merdu lagi, malah menyakiti telinga. Angin dingin keluar dari seruling, dibarengi gelombang jarum-jarum emas, tiga kali lebih banyak dari sebelumnya, menyembur keluar berdesakan.
Pria bertubuh tegap kembali menyiapkan tongkatnya. Bergerak memutar seperti gasing untuk melindungi tubuh dari serangan jarum. Berusaha menguraskan tenaga lebih besar ke kedua tangan. Tongkat berputar lebih cepat. Angin berdesing dengan kencang di depan tubuhnya.
Jarum yang melesat dengan cepat membentuk gelombang seperti semburan air, lurus ke depan. Ketika akan mendekati tongkat yang berputar seperti tameng, kumpulan jarum-jarum itu malah naik ke atas, berbelok mengikuti jalur, seolah-olah ada pipa yang tak kelihatan dan mengarahkan gelombang jarum ke atas, setinggi tiga meter. Kemudian menukik kembali ke bawah menyerang korban.
Pria berbadan tegap terkejut. Dengan cepat menjerit, "Artha, api pelindung!" Suaranya keras. Memerintah. Dia juga mengarahkan tongkat yang memutar seperti gasing ke atas untuk menahan serangan jarum. Tongkat terus berputar membentuk tameng pelindung.
Anak laki-laki yang dipanggil Artha melihat ke atas. Kedua bola matanya membesar. Dengan segera mengambil busur panah yang ada di belakang punggungnya. Memasangkan ke busur dan menembakkan ke atas dengan cepat. Setelah itu jari tangan kanannya menjentik sampai terdengar bunyi jentikan yang keras. Ujung anak panah yang melesat, mengeluarkan api berwarna biru. Lalu, Artha memainkan jari - jari di tangan kanan, menguncupkan kelima jari tangan, seakan jari-jarinya mencubit sesuatu, menariknya sedikit ke atas, kemudian melepaskan cubitan dan melebarkan jari-jarinya kembali. Matanya tetap melihat ke atas, fokus ke ujung anak panah. Tak disangka api biru yang berada di ujung anak panah melebar membentuk tameng seperti payung berukuran sekitar 80 cm. Tameng api berwarna biru melesat bertemu dengan jarum, menahan pergerakan jarum sehingga meleleh masuk ke dalam api biru.
Jleeb.
Anak panah itupun tertancap di langit-langit.
Anak laki-laki meniup ujung jari telunjuk yang didekatkan ke mulut. Secara spontan api biru yang berada di anak panah yang menancap di langit-langit, mati seketika.
Chen yang berdiri di depan mereka, ternyata ternyata telah beraksi. Sebelum jarum-jarum diperintahkan menungkik ke atas, dia sudah meniupkan seruling kembali dan mengeluarkan gelombang jarum yang baru. Menyerang ke pria berjas hitam. Dia sengaja ingin mengecoh lawannya.
Pria itu terkejut untuk ke sekian kalinya. Tongkat yang membentuk tameng pelindung mengarah ke atas, kembali diarahkannya ke depan, sejajar dengan dada untuk melindungi dirinya. Ternyata Chen ingin menjebak mereka. Untung Artha bisa mengendalikan gelombang jarum yang menyerang di atas kepala. Sedangkan gelombang jarum yang baru, juga berdentingan, jatuh setelah mengenai tongkat pria bertubuh tegap. Pria itu bertindak sangat cepat.
Chen berusaha memasang kuda-kuda kembali. Wajahnya semakin terlihat geram. Kali ini entah apa lagi strateginya.
Pria tegap berjubah melihat aksi Chen, segera menghentakkan ujung tongkat ke semen ruangan. Tanah berhamburan keluar membentuk garis lurus, tajam seperti stalagmit yang keluar dari dasar bumi dan menyerang Chen. Niat lawan untuk melakukan serangan lanjutan telah gagal.
Chen tersentak mundur ke belakang. Dia bahkan melompat melindungi dirinya dari semburan tanah padat dan tajam.
Pria tegap memanfaatkan momen lawan ketika dalam kondisi lemah. Mengangkat tangan kiri, mengarah ke Chen, membentang lurus ke depan. Tak berapa lama, tangannya mengkristal. Terdengar suara berderak. Disusul suara berdesing lima kali. Suara yang berasal dari benda berbentuk seperti ujung tombak yang terbuat dari es yang sangat beku. Ujung-ujung tombak sangat tajam keluar dari tangan pria berbadan tegap, dibarengi dengan hawa dingin.
Belum sempat Chen selesai menghindar dari serangan tanah yang berada di bawah, pemuda berwajah oriental ini terkejut dengan serangan berbentuk ujung tombak es, melesat menuju badannya yang sedang terangkat di udara. Sekuat tenaga berusaha menangkis serangan benda dari lawan dengan sulingnya.
Tak.... Tak.... Tak....
Crash.... Blaaar....
Crash.... Crash.... Crash....
Sret... Crash.....
Ugh.
__ADS_1
Benda itu beradu dengan seruling Chen, menabrak tembok dan pecah. Tiga benda berhasil dihancurkan dengan seruling emas. Satu meleset jauh terbang ke belakang. Chen sempat menghindari satu benda tapi satu lagi mengenai bagian perut, namun hanya tergores, tidak tertancap. Dia berhasil menghindari benda itu agar tidak menancap di bagian tubuhnya.
Chen jatuh ke lantai tapi dengan posisi setengah berjongkok. Kaki kanan menekuk, lututnya menempel di dada. Tangan kiri memegangi perut ke arah pinggang. Serulingnya yang berada di tangan kanan hampir terlepas. Meringis. Matanya menatap nanar ke arah pria yang ada di depannya.
"Kau bukan tandinganku Chen. Seharusnya Big Boss-mu yang berhadapan denganku," ujar pria itu. Kali ini, dia memasang wajah serius. Tidak ada raut wajah mengejek sedikitpun. "Pergilah Chen. Aku berharap suatu saat, ketika kita bertemu lagi, kau berubah dan berpihak kepada kami."
"Tidak akan pernah," jawab Chen pelan dan sedikit menahan sakit. Berbalik badan dan melompat dengan cepat beberapa kali.
Pria berbadan tegap menarik nafas lega. Menoleh ke belakang. "Artha, ikat pria itu!" perintahnya kepada anak laki-laki yang berada di belakang.
Anak laki-laki bergerak cepat. Mendekat ke arah pria yang berbadan gemuk tapi pendek yang sedang terbujur kaku di lantai. Pria yang menculik Hakiki kecil, pingsan ditendang oleh pria berbadan tegap sebelum bertarung dengan Chen. Artha menarik punggung pria penculik dari belakang, menyandarkannya ke dinding lalu mengikat kaki dan kedua tangan. Tali yang diikatkan antara kaki dan tangannya bersatu menjadi satu ikatan. Pekerjaan yang dilakukan sangat cepat. Tubuh anak laki-laki yang masih remaja tanggung bisa melakukan hal itu dengan cepat. Sepertinya dia sudah sangat terlatih.
"Kamu yang masuk ke dalam gudang, tenangkan anak itu," pinta pria tegap kepada Artha dengan suara pelan.
Artha mengangguk. Bergerak menuju pintu gudang yang ada di depan setelah urusan dengan pria penculik terselesaikan. Setelah di depan pintu, berusaha membuka pintu secara perlahan-lahan. Gelap. Hanya ada sedikit cahaya masuk dari jendela. Bola matanya membesar, berusaha melihat sekeliling tapi tak bisa mendeteksi keberadaan sosok yang dicari. Artha melesatkan anak panah ke bawah, sedetik kemudian menjentikkan jari. Anak panah yang tertancap di lantai mengeluarkan api dan membuat ruangan setengah terang. Artha menangkap sosok anak kecil di sudut ruangan.
Hakiki kecil yang sudah bersiap untuk memohon kepada penculik yang akan masuk dibalik pintu, langsung memicingkan mata dan memalingkan kepala karena cahaya yang menyilaukan berasal dari anak panah.
Artha berlari kecil, mendekati Hakiki. "Hei...," sapa Artha lembut. "Adik baik-baik saja...?" lanjutnya. Posisi setengah berjongkok di hadapan Hakiki kecil. Telapak tangan kanan secara spontan mengelus kepala anak kecil yang duduk terikat di sudut gudang.
Hakiki sedikit mendongakkan kepala. Suara ramah yang terdengar dari mulut seseorang, membuat rencana awalnya buyar. Bukan pria penculik yang berada di hadapannya saat ini. Mimik wajahnya polos dan keheranan. Mulutnya sedikit terbuka. Tapi dia tidak dalam kondisi takut. Perasaannnya mengatakan bahwa anak laki-laki yang di hadapannya adalah orang yang baik.
Artha tersenyum lebar melihat mimik wajah anak kecil di depannya. "Jangan takut ya, penculiknya sudah kakak hajar. Jadi kamu sudah aman. Kamu sudah bisa pulang," ujar Artha lembut.
Hakiki kecil masih terdiam. Terpaku. Kedua mata yang besar masih menatap anak laki-laki bertopeng yang berada di hadapannya.
"Hakiki Hulmi, Bang," jawab Hakiki mantap.
Kini Artha tertawa sedikit lebar. Dirinya baru tersadar kalau berhadapan dengan Anak Medan dan dia berada di Kota medan saat ini. Bukan kakak jika menyebutkan laki-laki yang lebih tua darinya, tapi harusnya menyebutkan kata Abang. "Oh... ya. Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Artha. Masih berusaha melepaskan ikatan di tangan Hakiki.
"Nama Abang siapa?" tanya Hakiki. Anak kecil ini malah tidak menjawab pertanyaan Artha sebelumnya. Terlihat santai. Mungkin karena sudah merasa dirinya telah selamat.
"Sebut saja, Abang Pemanah Api," seru Artha. Lidahnya agak kaku menyebutkan kata "abang".
"Oh, abang pahlawan?" tanya Hakiki lagi. "Kayak Spiderman?" lanjutnya.
Artha tertawa kecil mendengar pertanyaan Hakiki. Anak ini sungguh menggemaskan, pikirnya. Artha tak tahu harus menjawab apa. "Sudah... tali sudah dilepas. Sakit ya?" Artha bertanya dengan sembari membereskan tali-tali yang menjerat anak kecil yang bernama Hakiki.
Hakiki mengangguk.
"Arthaaaa...." Suara yang memanggil dari balik pintu adalah pria tegap yang bersamanya tadi.
Artha menoleh. Menangkap benda yang dilempar ke arah dirinya oleh pria yang berbadan tegap. Sebotol air mineral telah berada di tangan kanannya. Artha menangkap dengan cekatan.
"Papa sudah menghubungi polisi, sebentar lagi mereka akan datang. Bersiaplah ketika mereka tiba." Pria berbadan tegap membalik badan dengan cepat menuju keluar.
Artha mengangguk tanda mengerti perkataan pria itu.
"Hakiki minum dulu ya?" Artha membuka botol minuman. Menyodorkan ke mulut Hakiki. Anak kecil ini minum dengan cepat. Dia sangat kehausan. Hati Artha sangat tersentuh melihat anak sekecil ini disekap di ruangan tertutup. Dia masih sangat kecil untuk disakiti dan belum mengerti apa-apa tentang kehidupan orang dewasa.
__ADS_1
Artha mendapat cerita dari pria berbadan besar yang mengaku dirinya Papa tadi, bahwa Hakiki diculik dari sekolahnya oleh penculik yang mengalami gangguan jiwa. Penculik dimanfaatkan oleh Chen untuk menculik Hakiki. Penculik sengaja dilepaskan Chen dari Rumah Sakit Jiwa dan didoktrin Chen untuk menculik Hakiki. Penculik itu mengalami gangguan jiwa yang sangat berat. Pria yang berbadan gemuk dan pendek sangat benci melihat anak-anak yang berwajah hampir sempurna seperti Hakiki karena dia mengalami trauma masa kecil. Pengakuan dari dokter yang ditanya oleh pria berbadan tegap bahwa penculik itu mengalami b**ullying pada saat masa kecilnya karena memiliki kekurangan fisik. Bertumbuh pendek, gemuk dan rahangnya terlalu menonjol keluar sehingga membuat giginya lebih banyak tumbuh di luar. Begitu banyak trauma yang di alaminya sehingga mengganggu jiwa.
Chen memanfaatkan situasi. Dia tidak mau mengotori tangannya dengan pekerjaan lapangan.
Chen adalah seorang pria yang berusia sekitar 30 tahun. Bekerja untuk Big Boss dalam rencana merekrut Hakiki untuk masuk ke dalam komplotannya. Big Boss yaitu bos Chen tahu jika Hakiki akan memiliki kekuatan pada saat umur 16 tahun nanti. Jadi Hakiki akan diculik dan akan dididik menjadi penjahat. Seperti Big Boss mendidik Chen. Begitulah rencana yang mereka ingin laksanakan. Tapi rencana busuk itu terdengar oleh Papa Artha.
"Sudah, minumnya?"
Hakiki mengangguk untuk kesekian kali.
Artha menutup botol minuman, meletakkan botol plastik ke lantai, disamping busur panah. Kemudian, Artha mengambil posisi duduk di samping Hakiki.
"Oke. Dengar abang baik-baik ya. Nanti..., polisi akan datang dan membawa Hakiki ke kantor. Kami sudah melapor ke polisi untuk menjemput kamu di sini. Dan sudah diberi tahu kalau kamu diculik. Tuh penculiknya di luar, sudah abang ikat. Kamu sudah aman. Tapi kamu jangan ngomong ada dua orang pria bertopeng yang menyelamatkan kamu."
"Kenapa bang? Kok enggak boleh dibilang, Abang dan Om itu kan orang baik," tanya Hakiki polos.
"Iya. Nanti kalau diomongin ke polisi, Abang dan Om enggak bisa berbuat baik lagi sama orang lain," jawab Artha lembut.
"Oh, makanya itu Abang dan Om pakai topeng?"
Artha tertawa kecil kembali. Dia mengelus rambut Hakiki. "Kamu anak pintar. Iya..," jawab Artha. "Adik baik-baik saja kan
"Baik bang."
"Kamu pasti lapar. Tapi ditahan ya, nanti Pak Polisi pasti ngasi kamu makan, kamu nanti dibawa ke kantor polisi dan ketemu orang tua kamu di sana."
"Ayah udah di kantor polisi ya bang?" Nungguin Kiki?" Suaranya begitu lembut dan polos.
"Iya. Kamu sangat pintar. Belajar yang rajin ya, supaya jadi orang baik nantinya. Bisa membantu orang lain."
Hakiki mengangguk. Menatap Artha dengan mata sendu dan mimik wajah polos.
Terdengar suara sirene dari mobil polisi di kejauhan.
"Sebentar lagi Pak Polisi tiba di sini tuh. Adik enggak apa-apa ditinggal sendirian, kan?" Artha bertanya dengan suara pelan. Kini dia bangun dari duduk berjongkok menghadap Hakiki.
Hakiki kembali mengangguk. Tatapan matanya tetap sendu.
"Oke. Baik-baik ya. Jadi anak yang baik dan sampai ketemu lagi Hakiki Hulmi," seru Artha dengan nada lembut. Punggung jari telunjuk kanannya mengelus lembut pipi kiri Hakiki. Lalu mengedipkan mata dari balik topengnya.
Hakiki tersenyum. Mata sendunya sedikit menyipit. Ada perasaan bahagia hadir di hatinya.
"Arthaaaaa!" jerit pria besar dari luar ruangan.
Artha bergerak cepat mengambil busurnya, beranjak pergi meninggalkan Hakiki.
Hakiki kecil, berwajah polos dengan mulut sedikit terbuka, melihat punggung anak laki-laki yang menolongnya sampai hilang di balik pintu gudang.
*******
__ADS_1