Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Singularity : Ep. 16


__ADS_3

Hakiki menangis lagi. Kali ini suara yang dikeluarkan sudah lemah. Dia berusaha mengusap air mata dengan bahu tangan. Kaki dan tangannya terasa sakit, sepertinya sudah cukup lama dia terikat dan terduduk di sudut gudang. Bau menyengat di gudang tua itu sudah tak membuat perutnya mual lagi.


 


Dia melihat ke arah jendela yang tingginya hampir tiga meter dari lantai. Jendela itu hanya berukuran 50 x 80 cm. Ada beberapa bilah kaca yang tersemat lebar di antara kusen jendela, itupun hanya satu yang bagus, tiga lainnya sudah pada rusak di pinggir-pinggirnya. Dia menatap Bulan Sabit yang terlihat dari jendela. Hatinya sedikit tenang. Itu hiburan dia beberapa jam ini.


 


Dia tersadar bahwa sebelumnya dia bertemu dengan pria yang menculiknya. Pada saat itu dia ketakutan dan menangis kencang. Dia masih mengingat bentakan penculik itu.


 


"Diam kau anak *******!!" bentak seseorang yang masuk ke dalam gudang. "Manusia seperti kaulah yang buat hidup seperti diriku ini sengsara," bentak orang itu lagi.


 


Badannya tak terlalu tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Tapi terlihat perutnya sedikit membuncit dan penuh lemak di pinggang. Terlihat badan pria penculik tak ideal dengan tinggi badannya. Hakiki tak bisa melihat jelas wajahnya, tapi dia bisa sedikit memperhatikan gigi orang itu agak maju ke depan. Dia juga terlihat sedikit susah menutup seluruh mulut karena gigi yang tidak normal.


 


Pikirannya melayang, terlintas  beberapa memori. Wajah seorang lelaki. Gudang yang gelap. Bulan Sabit. Suara pukulan. Anak panah yang melesat. Manusia bertopeng menggunakan jas hitam, bertopi, memegang tongkat. Dibelakang bajunya terdapat sayap. Disampingnya ada anak laki-laki yang lebih pendek darinya, hanya menggunakan topeng, ada sedikit berwarna merah di bagian topeng. Dia memakai pakaian berwarna hitam dan sedikit berwarna merah di bagian dada. Di tangannya terdapat busur panah dan di punggung terdapat beberapa anak panah yang menyembul keluar dari wadah. Anak laki-laki ini lebih pendek sedikit dan kurus di bandingkan dengan lelaki yang berpakaian jas, berbadan tegap. Dia mendekati Hakiki dan mengerlingkan matanya, bibirnya tersenyum.


Cring.


Hakiki tersentak dari tempat tidur. Terduduk di atas Spring bed. Keringat bercucuran di wajah. Ujung-ujung rambut yang menutupi kening terlihat basah. Nafasnya terengah-engah. Dia berusaha menstabilkan nafas. Sekitar sepuluh menit, dia baru bisa menstabilkan diri. Kedua tangannya menutup wajah secara perlahan. Mengusap wajah dengan pelan beberapa kali. Posisinya masih terduduk di tempat tidur. Hakiki berusaha turun dari tempat tidur yang berukuran sedang terbuat dari bahan besi, beberapa menit kemudian. Kedua kaki menjulur keluar dari selimut berwarna abu-abu muda dan tergantung di tempat tidur. Kini, dia duduk di pinggir tempat tidur. Dia berusaha menyadarkan diri dari mimpi. Dia masih tertunduk di pinggir tempat tidur. Beberapa menit. Terpaku.


 


Hakiki berusaha bangkit, berjalan menuju pintu teras atas. Kamarnya di lantai dua, memiliki teras menuju keluar. Berusaha menekan pegangan pintu teras perlahan-lahan dan membuka daun pintu dengan aksi yang sama. Bibirnya sedikit digigit seolah-olah menahan suara dari gagang pintu agar tak berisik. Sembari membuka pintu, menoleh ke kiri, melihat jam dinding. Terlihat jarum panjang di jam dinding, menunjukkan angka dua. Hakiki segera keluar mengendap-endap dari daun pintu dan menutupnya secara perlahan.

__ADS_1


 


"Ah... ternyata masih ada Bulan Sabit jam segini," bisiknya kepada diri sendiri.


 


Bulan Sabit itu malah lebih terang ketika dilihatnya pada saat sekarang. Mungkin karena suasana kota sudah gelap, jadi tatapan cahaya berfokus ke Bulan Sabit. Dia berusaha memandang bulan yang berbentuk sabit, lalu berkata pelan "Hei Bulan kembalikan semangatku malam ini seperti yang engkau lakukan pertama kali, tujuh tahun yang lalu." Hakiki memejamkan kedua matanya, lalu menarik nafas panjang melalui hidung.


Seeeer....


Hakiki merasakan ada sesuatu di balik udara dingin, masuk ke dalam diri. Berjalan ke paru-paru, jantung dan perut. Kemudian menjalar keseluruhan aliran darah. Kepala, tangan, kaki dan seluruh badannya terasa menguat. Dia seakan minum nutrisi yang langsung berefek ke tubuh. Pemuda ini langsung melihat telapak tangannya yang sedikit bercahaya berwarna perak di garis tangan kiri dan kanan yang membentuk angka M. Mengangkat kedua telapak tangan, mengamati baik-baik dan dia mengikuti pergerakan warna perak yang terus bergerak di garis-garis tangan.


 


Hakiki merasakan Bulan Sabit menjadi penyemangat dirinya semenjak kejadian menakutkan tujuh tahun yang lalu. Namun, tangannya mulai bercahaya berwarna perak ketika menghirup udara pada saat Bulan Sabit muncul, hal itu baru saja terjadi setahun terakhir ini.


 


 


Hakikipun mulai mencari tahu keganjilan ini secara bertahap. Dia  terus berusaha membaca situasi dan berteori. Awalnya dia merasa sakit kepala ketika melewati toko aksesoris. Toko yang sering dilewati setiap pagi menuju ke halte. Biasanya tidak tidak ada masalah, bertahun-tahun melewati toko itu, tapi tak pernah merasakan sakit kepala, pikirnya. Hal itu berlangsung setiap hari, dia merasa aneh. Sakit kepala yang diderita tidak parah, hanya seperti sengatan listrik pendek yang menyengat kepala. Hanya sekali ketika melewati toko itu. Setelah seminggu terjadi berulang kali, Hakiki mencoba hal yang berbeda. Ketika sampai di toko tersebut, dihentikannya langkah tepat di depan toko. Dia ingin tahu apa yang terjadi. Ternyata sakit kepalanya semakin berat dan seperti ada kekuatan yang menariknya untuk masuk ke toko. Seperti gaya gravitasi yang kuat, yang bisa menyeret seluruh tubuh. Pemuda itu cepat berlari, menjauhi toko.


 


Kejadian aneh tak hanya di toko aksesoris pinggir jalan. Pernah sekali ke mall Pondok Indah bersama Arini. Mereka berencana untuk nonton bioskop. Berjalan menyusuri jalan seperti layaknya anak muda yang lain. Tentu saja banyak gerai-gerai yang mereka lewati. Akhirnya sampailah di satu lantai yang terdapat gerai khusus menjual perhiasan dan aksesoris dari logam. Ada sekitar 6 gerai di lantai dan berjejer di pinggir lorong. Hakiki merasa ada sengatan listrik menusuk kepalanya. Awalnya kecil, mungkin karena jarak tubuhnya masih jauh dengan gerai, namun lama kelamaan rasa sengatan listrik semakin banyak menuju kepala. Diapun mendesah, memegang kepala. Arini aneh dengan tingkah lakunya. Hakiki berusaha melangkah dengan lebih cepat melewati ke enam gerai menjual aksesoris berbahan logam. Dari kejadian itu, dia tahu ada yang salah jika dia melewati gerai aksesoris berbahan logam.


 


Tiga bulan yang lalu, Hakiki baru menyadari jenis logam yang membuat dia mendapat sengatan listrik, ternyata tak semua logam. Ketika Hakiki berada di sekolah, pagi hari sebelum masuk jam pelajaran, Arini, seperti biasa menyapanya di kelas. Arini lalu menunjukkan cincin pemberian kakaknya yang melingkar di jari manis tangan kanan, kepada Hakiki. Arini menjulurkan tangan kanan dan mengembangkannya, meletakkan di atas meja, bersentuhan dengan tangan Hakiki. Maksud Arini ingin memperlihatkan cincin itu. Saat itulah sengatan listrik masuk melalui ujung jarinya. Dia sontak menarik tangan kanan yang tertimpa tangan Arini. Dia mengeluarkan kata 'oh' pendek. Arini sedikit terkejut dan menanyakan  apa yang sedang terjadi. Hakiki tidak menjawab, dia malah bertanya kepada Arini dari bahan apa cincin itu dan Arini menjawab dari bahan perak.

__ADS_1


 


Sejak kejadian di sekolah, Hakiki tahu jika badannya sensitif dengan perak. Tapi dia terus mencari tahu, mengapa tubuhnya bereaksi ketika berdekatan dengan logam itu. Mengapa dia baik-baik saja dengan logam yang lain, seperti emas, besi yang begitu banyak di setiap sudut kota. Mengapa perak, tanyanya. Dia meniliti hal ini secara hati-hati dan dia tidak memberi tahu kepada siapapun.


 


Hakiki masih berdiri dan memandangi Bulan Sabit di malam ini. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Yang pertama, kedipan mata kakak Arini mengingatkan dia akan kejadian tujuh tahun lalu. Sosok anak laki-laki yang berperan dalam menyelamatkan diri di kasus penculikan tujuh tahun lalu. Kakak Arini mengingatkan dia akan anak laki-laki yang menyelamatkan dari kedipan mata. Dia mencari anak laki-laki yang memakai topeng, selama ini. "Tapi, apakah dia orangnya?" tanya Hakiki di dalam hati.


 


Yang kedua, tapi tak terlalu penting menurutnya, mengapa wajah kakak Arini berbeda jauh dengan sahabatnya, malah bisa dibilang tidak ada persamaan sama sekali. Arini memiliki mata besar, beda dengan kakaknya. Tak hanya bagian mata, tapi hidung, bibir, telinga semua kelihatan berbeda. Ada teori yang berada di dalam pikirannya saat ini, Tapi dia berusaha untuk menghapus teori itu dari benaknya.


 


Mimpi malam ini, yang mengingatkan dia akan kepingan-kepingan peristiwa tujuh tahun lalu, sering terjadi di satu tahun belakangan ini, sejak dia berumur lima belas tahun. Sebelumnya, Hakiki hanya bermimpi, mungkin dalam setahun hanya dua kali. Tapi setahun terakhir ini, Hakiki bisa bermimpi hal yang sama sebanyak dua atau tiga kali dalam sebulan.


 


"Ah... apa sebenarnya yang telah terjadi?" desahnya. Dia menundukkan kepala, berusaha mencari tahu tentang makna mimpi yang berulang-ulang. Apakah hanya sekedar trauma atau ada hal lain. Karena dia merasa setahun belakangan ini begitu banyak keganjilan yang dirasakan. Wajahnya datar, fokus memikirkan sesuatu. Pemuda yang memakai baju piyama berlangsung ngan pendek, memandangi kembali kedua telapak tangannya.


 


Tiba-tiba mata Hakiki bergerak cepat menatap pohon besar di depan rumah, tepat di depan dia berdiri. Daun-daun di pohon sedikit bergerak. Sepertinya dia menangkap bayangan seseorang yang keluar melompat dari pohon itu. Wajahnya penuh rasa penasaran. Mulutnya sedikit terbuka. Dia berusaha menyusuri pohon besar yang gelap dengan kedua matanya. Sepertinya memang ada seseorang yang melompat keluar dari pohon besar di halmana rumah. Dia yakin akan hal itu.


 


 


 

__ADS_1


*******


__ADS_2