Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Stigma : Ep. 26


__ADS_3

-9 Oktober 2011 -


Hakiki sudah sampai di depan rumah Arini. Melihat jam tangan yang ada di kiri lengan. Jam itu menunjukkan angka 1. Hari ini begitu cerah, secerah baju yang dipakai Hakiki dan secerah wajahnya. Dia memakai kemeja putih berliris hitam kecil, dipasangkan dengan celana chino hitam. Bagian bawah celana yang meruncing ke bagian betis memperlihatkan kaki Hakiki yang panjang. Kakinya menggunakan sepatu slip on berwarna merah bata pudar. Penampilannya hari ini semi casual.


Hari ini acara ulang tahun Arini ke - 16 tahun. Sahabatnya lahir tanggal 4 Oktober, 16 tahun yang lalu. Karena 4 Oktober kemarin jatuh di Hari Selasa maka mengadakan acara ini di Hari Minggu. Sebenarnya Arini ingin membuat acara ulang tahunnya di Hari Sabtu malam tapi ayahnya tidak mengizinkan karena tamu yang datang adalah teman-teman Arini atau teman kakaknya, karena masih pelajar dan mahasiswa, jadi lebih bagus diadakan di siang hari saja. Itu yang Hakiki dengar dari pengakuan Arini tentang kondisi pesta ulang tahun hari ini.


Hakiki melangkahkan kaki dengan pelan menuju gerbang utama. Di depan sudah berdiri beberapa anak perempuan untuk menyambut tamu yang datang. Hakiki tak mengenal mereka, bukan temannya, mungkin saudara dari keluarga Arini. Gadis-gadis yang memakai baju kebaya modern sedikit berbisik ketika Hakiki mulai masuk ke dalam pekarangan rumah. dirinya tahu jika sedang dibicarakan oleh gadis-gadis itu.


Belum banyak tamu yang datang dan acara juga belum dimulai. Dari kejauhan Hakiki sudah melihat Arini sedang berbicara dengan ibunya. Dia masuk lebih maju menuju tempat Arini berdiri. Memasang wajah tenang dan polos. Hakiki bak model berjalan di catwalk, semua mata memandang ke arahnya. Dia mulai menyadari pandangan itu dan menahan malu di wajah.


"Itu Hakiki, kan?" tanya ibu Arini yang sedang berdiri di teras rumah menghadap ke halaman rumah. Melihat langsung ke arah Hakiki. Berhadapan dengan Arini yang sedang berdiri membelakangi halaman. Ibu Arini berbicara kepadanya.


Arini menoleh. Tersenyum. "Kiki," seru Arini. Berusaha mengejar Arini. Menuruni anak tangga teras.


Hakiki cepat berlari kecil, menahan Arini untuk tidak mengejarnya karena tak ingin sahabatnya itu jatuh gara-gara mengejar dirinya dengan kondisi pakaian yang dipakainya sekarang. Memberi aba-aba kepada Arini untuk tetap di situ dan mengisyaratkan agar dia saja yang mendekat.


Arini begitu cantik hari ini. Mengenakan gaun pesta royal dress. Gaun berwarna merah muda sangat sesuai dengan kulitnya yang putih. Gaun yang dikenakan panjang menyapu lantai. Desainnya yang cukup menarik juga menambah pesona pemakai. Tubuhnya yang ramping dan tinggi pasti membuat orang berdecak kagum. Gaun yang dipakai memperlihatkan bagian pundaknya yang terbuka. Di lehernya tersemat kalung yang menjadi kado Hakiki untuknya. Sangat cocok dipakai di leher yang jenjang.


Hakiki melangkah berhati-hati setelah melihat fokus ke leher Arini, padahal sebelumnya berlari kecil untuk mencegah Arini mengejarnya. Kini... berjalan pelan. Wajahnya penuh perasaan bimbang. Semakin mendekati Arini, keningnya semakin berkerut. Dia merasa aneh. Ya, aneh karena tidak ada aliran listrik kecil yang menyengat tubuhnya ketika mendekati Arini. Padahal Arini memakai kalung terbuat dari perak yang diberikannya di hari Selasa kemarin.


Arini menarik tangan Hakiki dengan cepat. Mengomel, "Pakaian udah oke, tolong mukamu disesuaikan dengan penampilan," bisik Arini. Arini mengeluarkan kalimat itu karena melihat air muka Hakiki yang bloon. "Ini Mama loh, Ki," ujar Arini setelah Hakiki menaiki tangga teras, berdiri sejajar dengan Arini. Kali ini dengan suara yang sedikit keras. Sedikit menarik Hakiki ke atas teras.


Hakiki tersenyum kepada wanita cantik di depannya. "Halo Tante. Apa kabar?" tanya Hakiki sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Iya, Hakiki. Tante baik, kamu apa kabar? Sudah lama ya kita tidak ketemu?" balas wanita itu. Senyumnya sangat ramah.


"Saya baik Tan. Iya Tan, sudah lama ya Tan. Om dimana sekarang Tan?" tanyanya lagi.


"Ada di dalam."

__ADS_1


"Oh. Di Indonesia. Saya pikir lagi di luar negri."


"Enggak dong, kan hari ini ultahnya Arini, jadi kami sudah mempersiapkannya untuk pulang ke Indonesia," jelas wanita itu. Senyum manis tetap terpasang di wajahnya yang cantik. Sepertinya Arini mendapatkan wajah yang cantik dari ibunya.


Hakiki hanya tertawa kecil mendengar jawaban wanita itu.


"Orang tua kamu gimana kabarnya?" tanya Ibu Arini.


"Mereka sehat Tan."


"Mengapa tidak diajak kemari?" tanya wanita itu lagi.


"Ayah lagi ada kepentingan Tan, jadi kalau Mama pergi tanpa Ayah agak repot katanya," jelas Hakiki. Menjawab pertanyaan wanita itu, tetap dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Rini..., sebentar lagi acaranya mau dimulai, Mama panggil papa dulu ya," ujar wanita itu. Dan bergerak masuk ke dalam.


Arini yang dari tadi hanya diam dan tersenyum melihat Ibu dan sahabatnya berdialog, menganggukkan kepala. Lalu pandangannya beralih ke Hakiki. "Ayo, Ki. Bantu aku untuk mengecek makanan." Tiba-tiba Arini menarik tangan Hakiki. Lagi.


Pesta ulang tahun Arini tidak terlalu mewah. Sederhana saja. Cuma ada 500 orang teman diundang. Teman SMA dan beberapa teman akrab sewaktu SMP dulu dan teman kakaknya, paling hanya 10 orang. Sebenarnya undangan 500 orang itu masih terlalu sedikit untuk orang-orang yang dianggap teman oleh Arini, tapi orang tuanya mengatakan bahwa lebih baik uangnya disisihkan untuk yayasan panti asuhan dan Arini menyetujui itu.


Dekorasi yang didesain juga tidak terlalu mewah. Pestanya berada di halaman depan. Terdiri dari beberapa tenda. Ada hiburan. Ada makanan dan makanan kecil serta minuman. Ada kue ulang tahun yang bertingkat tiga. Serta dekorasi halaman depan rumah mereka dengan beberapa balon. Itu saja. Tidak ada yang terlalu istimewa.


Arini mengecek stok makanan yang akan disajikan ke tamu. Tak ingin jika nanti kekurangan makanan dan minuman untuk para tamu. Memberi arahan kepada beberapa petugas catering yang disewa. Sedangkan Hakiki tak mengikutinya lagi, sahabatnya itu sudah duduk di kursi tamu barisan paling depan.


Hakiki duduk di kursi tamu, terdiam. Melihat ke arah kedua telapak tangannya. Tangan dan seluruh tubuhnya baik-baik saja ketika dekat dengan Arini atau lebih tepatnya lagi dekat dengan liontin yang dipakai Arini. Benda itu dari perak, mengapa tidak bereaksi seperti biasa di tubuhnya. Dia sangat penasaran dengan yang telah terjadi. Berulang kali memandang kedua telapak tangan.


"Kamu sudah lama di sini? " tanya seseorang dengan suara pelan. Seseorang pemuda yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


Hakiki menoleh ke samping. Ternyata orang itu adalah kakak Arini. Hakiki mendongakkan sedikit kepalanya dan terbengong.

__ADS_1


"Sudah lama berada di sini?" tanya kakak Arini mengulangi pertanyaannya. Kali ini duduk di sebelah Hakiki. Wajahnya datar tapi tidak cemberut. Tak menoleh ke arah hakiki ketika melontarkan pertanyaan itu.


"Su... dah, Kak," jawab Hakiki terbata.


"Kenapa?" Ada yang salah?" tanya kakak Arini penasaran. Wajahnya yang imut sedikit berkerut dan serius.


"Eh. Enggak kok, Kak," tangkis Hakiki. Kali ini terpaksa tertawa kecil. Hakiki melihat gaya bicara kakak Arini tidak seperti ketemu pertama sekali. Kali ini pemuda di sampingnya berbicara seperti pria dewasa.


"Kenapa dengan tangan kamu?"


"Tanganku? Emang kenapa dengan tanganku?" Hakiki malah balik bertanya.


"Kamu melihat telapak tanganmu serius amat. Apa ada yang salah dengan tanganmu?" tanya kakak Arini menyelidik.


"Oh. Enggak kok," jawab Hakiki cepat.


"Okelah kalau begitu. Selamat bersenang-senang." Artha memukul pundak Hakiki, mengedipkan matanya. Beranjak bangun dari tempat duduknya.


Deg.


Hakiki terkejut. "Kak...," panggilnya.


"Ya." Pemuda itu membalikkan badannya setengah. Berhenti. Menatap tajam ke arah Hakiki. Menunggu jawaban. Wajahnya begitu mempesona. Pose yang diberinya bak seorang model. Ditambah lagi dengan baju jas yang dikenakan, membuat daya pesonanya seperti grup K-pop yang akan manggung di pentas yang besar.


"Ah. Anu.... Tidak apa-apa," jawab Hakiki terbata.


Kakak Arini langsung membalikkan badannya kembali dan pergi tanpa basa basi.


Hakiki menatap punggung pemuda itu. "Aku yakin pasti dia orangnya. Kedipan mata itu tidak akan pernah aku lupakan," batinnya. Hakiki berusaha mencari cara, bagaimana untuk membuktikan kalau kakak Hakiki adalah orang yang menolongnya sewaktu kecil.

__ADS_1


*******


__ADS_2