
Acara pesta ulang tahun Arini sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Tentu saja tamu sudah datang dan berkumpul di halaman rumah. Mereka dipersilahkan untuk menyantap makanan terlebih dahulu. Setelah itu akan ada kata ucapan terima kasih dari Ayah Arini dan Arini sendiri.
Suara musik terdengar melantunkan irama pop. Para tamu dimanjakan dengan suara penyanyi yang sangat merdu selagi menikmati makanan yang telah disediakan.
Hakiki sudah berkumpul dengan teman sekelasnya. Mereka berbincang, bercanda dan tertawa bersama. Arini berkali-kali menyuruh Hakiki untuk menikmati makanan tapi memutuskan untuk menunggu dan menghabiskan antrian yang masih panjang.
Di sisi lain. Di ujung halaman rumah Arini, kakak Arini berdiri dengan seorang pemuda yang memakai jas hitam. Dibalik jas, pemuda berbadan kurus dan tinggi memakai kemeja berwarna biru. Rambutnya yang lurus dan hitam sesekali disisirnya dengan jari-jemari di tangan kanan.
"Kapan kamu akan pindah ke sekolah Arini?" tanya kakak Arini kepada pemuda itu.
"Januari." Memasang wajah datar.
"Apa! Itu, 3 bulan lagi," nyatanya dengan nada tinggi dan menoleh ke lawan bicara. Kedua kelopak mata yang kecil berusaha diperbesar olehnya. Bola matanya sedikit melotot.
"Ya, aku harus menyiapkan berkasku di sekolah yang lama dan aku bisa pindah setelah ujian semester ganjil ini selesai," jelasnya. Memasang wajah tak bersalah.
"Mengapa begitu ribet urusan untuk pindah sekolah doang," kesalnya kepada pemuda itu. Kini nada bicaranya seperti anak kecil.
__ADS_1
"Kak, sabar.... Lagian Hakiki akan baik-baik saja. Biarkan dia menikmati perjalanan waktu ini. Lagian kakak kan selalu melihatnya setiap Bulan Sabit muncul. Dan, aku selalu mengikutinya. Syukurnya, mereka selalu pergi bersama... jadi, ibaratnya aku bisa menjaga mereka berdua sekaligus. Dan aku juga sering memergoki pria sialan itu, pria itu juga menguntit Hakiki."
"Biarkan pria sialan itu beraksi. Setiap saat kita akan siap berhadapan dengannya," jelas kakak Arini geram. "Arini sudah 16 tahun sekarang. Aku sudah melihat tanda-tanda yang ganjil dengan dirinya. Tapi aku tidak merasa kalau adikku memiliki kekuatan juga. Dari kecil aku tinggal dengannya, tapi aku tidak merasakan itu."
"Arini? Benarkah? Hal apa yang ganjil itu?" tanya pemuda itu penasaran.
"Dia selalu diikuti oleh kupu-kupu," jawab kakak Arini serius dan memandang lurus ke depan.
"Apakah itu kekuatan?"
"Waaaaah.... Dasar bawel. Makanya aku merasa aneh dan mencari tahu akan hal itu." Langsung menoleh ke arah pemuda disampingnya. Mimik wajah Artha berubah seketika. Wibawanya hilang. Wajahnya malah semakin imut ketika mengeluarkan kalimat dengan nada yang sangat cepat.
"Kak, kenapa Hakiki akan mendapat kekuatan pada saat berumur 16 tahun, sedangkan aku tahun lalu, ketika umurku 15 sudah mendapatkannya?" tanyanya serius.
"Setiap orang berbeda. Aku sudah mendapatkan kekuatanku di umur 10 tahun. Itu karena Papa Arini melatihku dengan baik."
"Waaah.... Hebat. Kakak benar-benar hebat." Merangkul bahu kakak Arini dan tertawa secara spontan
__ADS_1
"Sudah, jangan berlebihan," tukas kakak Arini. Menggerakkan bahunya sedikit ke atas agar pemuda di sampingnya melepaskan rangkulan.
"Siap kak." Pemuda itu melepas rangkulan tangannya dari bahu kakak Arini. Kembali berusaha mengembalikan suasana serius. "Kak, bagaimana dengan yang lain?" tanyanya lagi.
"Kenapa dengan yang lain?"
"Kapan kita akan berkumpul bersama?"
"Masih ada anak laki - laki yang belum muncul kekuatannya. Papa masih memerintahkan orang kepercayaannya untuk menjaga mereka," jelas kakak Arini.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah yang lain. Apakah aku kenal dengan mereka. Aku penasaran," jelasnya manja. Kedua lengannya mengepal di dada membentuk huruf X. Wajahnya tersenyum dan bersikap imut.
"Waaaaah.... Waaaaaaah..... Sekarang kamu hanya perlu fokus dengan Hakiki. Hakiki harus menjadi sahabatmu dan kamu menjadi orang kepercayaannya. Bantu dia untuk menemukan kekuatannya. Jangan memikirkan hal yang lain lagi." Kakak Arini sedikit mengomel kepada pemuda itu. Bicaranya sangat cepat, bermimik wajah yang menggelikan dan kepalanya bergerak maju mundur beberapa kali.
"Siaaaaap kak...," tukas pemuda di sebelah kakak Arini. Sedikit berbalik menghadap ke pemuda yang disampingnya. Mengangkat lengan kanan membentuk segitiga. Memberi hormat layaknya menghormati Pembina Upacara. Ujung jarinya menyentuh alis ujung alis. Ada senyum terkulum di bibirnya. Sengaja menggoda kakak Arini.
"Aaaah.... Bener-bener deh. Sepertinya cukup satu doang orang yang di tim ini seperti kamu. Kalau ada dua, aku akan gila."
__ADS_1
Pemuda itu malah tertawa melihat tingkah kakak Arini. Menghentikan tawanya dan menutup mulutnya sendiri. Dia baru sadar jika mereka berdua sengaja menjauh dari tamu yang lain agar keberadaan mereka tidak diketahui. Kembali bersikap berwibawa dan merapikan jas yang dipakai. Wajahnya serius menatap ke depan. Menatap Hakiki yang sedang bercanda dengan sekumpulan temannya.
*******