Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Sweet Night : Ep. 35


__ADS_3

Malam ini, hujan sangat deras mengguyur Bumi. Dua sosok pemuda berdiri di tengah lapangan terbuka, mereka saling memunggungi. Memasang kuda-kuda dan kedua pemuda itu menyalurkan kekuatan ke mata dan telinga mereka agar tetap waspada. Mereka berdua memakai baju serba hitam, termasuk topi baseball cap yang mereka kenakan. Tubuh mereka berdua basah kuyub.


Satu pemuda yang berbadan kurus dan lebih tinggi dari yang lain, di tangannya telah terentang anak panah di busur berwarna hitam dan pemuda satunya lagi yang sedikit lebih pendek, berbadan lebih kecil, memegang tombak kristal yang memanjang di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya merentang lurus ke depan seperti ingin menembakkan sesuatu.


Hujan yang sangat deras membuat tubuh mereka basah secara keseluruhan dan pakaian yang mereka kenakan sangat lengket di tubuh mereka. Baju itu telah menyatu dengan lekuk-lekuk tubuh mereka yang ramping namun berotot.


"Awasi Manusia Serigala, itu bagianmu, aku akan berhadapan dengan Chen," nyata pemuda yang lebih tinggi. Matanya menatap ke depan dan fokus.


"Oke, Kak."


Sekelebat bayangan tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sangat cepat, lebih cepat dari kedipan mata. Dia bisa berteleportasi. Bayangan itu kini terlihat jelas di depan pemuda yang lebih tinggi dari yang satunya.


Bayangan itu berwujud seorang pria yang memakai Jubah Labu (baju tradisional China) berwarna hitam. Baju itu longgar. Di dalamnya dilapisi kain berwarna krim dan ada sedikit kain berwarna krim dengan bahan yang sama keluar dari ujung lengan, menutupi kedua pergelangan tangan. Sedangkan bawahan adalah celana yang longgar seperti rok celana yang juga berwarna krim. Di bagian depan baju yang dikenakannya terdapat bordiran bergambar naga berwarna emas.


Dia mendengus. "Apa kau tak bosen bertemu denganku, Artha? Kau selalu menghalangi misi kami," nyata pria itu. Usianya sekitar 35 tahun.


"Aku tak akan pernah bosen melawanmu Chen, demi menyelamatkan adik-adikku." Pemuda itu adalah Artha. Suara yang dikeluarkan Artha sedikit menggeram. Air hujan yang mengguyur tubuhnya, tak diperdulikan.


"Ouh... sekarang kau mengaku bahwa mereka adalah adik-adikmu. Menarik. Sangat menarik," ujar pria itu yang tak lain adalah Chen. Dia berjalan beberapa langkah ke samping, berbalik lagi ke jalur yang sama, sedangkan Artha berdiri, penuh waspada, beberapa langkah di depannya.


Pemuda yang di belakang Artha hanya berjaga, melihat lurus ke depan, ke arah yang lain. Waspada karena merasakan ada satu sosok yang mengintai. Dia hanya mendengar pembicaraan Artha dan Chen tapi tidak melihat pria itu karena berdiri memunggungi Artha dan Chen.


Artha tidak menanggapi perkataan Chen. Hanya melihat Chen dengan mata yang tajam dan tetap waspada memasang kuda-kuda. Busur panah bergerak mengikuti pergerakan tubuh lawannya. Siap melesat.


"Dapi, bersihkan pandangan kita dari air hujan yang turun ini," nyata Artha kepada pemuda yang di belakang punggungnya. Sedikit menoleh ke samping agar suaranya jelas didengar oleh pemuda itu.


Pemuda itu, tentu saja Hikma Andapi. Mereka sudah setahun saling kenal dekat dan bersama menjaga Hakiki. Dapi tak mengeluarkan kata - kata sama sekali, hanya mengangguk. Dengan cepat membuat lingkaran dengan ujung jari telunjuk kiri. Lingkaran itu besar, berdiameter sekitar 50 cm. Melempar lingkaran yang tak terlihat ke atas. Kepalanya sedikit mendongak dan matanya menuju ke arah lemparan seakan-akan lingkaran itu terlempar di atas kepala mereka. Lalu secara tiba-tiba air hujan yang membasahi tubuh mereka sejak tadi, berhenti total. Tapi hanya berbentuk lingkaran menutupi tubuh mereka berdua, sedangkan di luar dari lingkaran, hujan tetap jatuh ke bumi dan masih dalam kondisi deras. Kekuatan Dapi adalah sebagai Pengendali Air. Itu kekuatan awal yang didapatnya setahun yang lalu.


Artha dan Dapi tetap berdiri di dalam lingkaran yang tidak di guyur hujan. Artha menghadap ke Chen sedangkan Dapi membelakangi Artha. Waspada karena ada satu sosok lagi yang belum muncul tapi sedang mengawasi Dapi.


Chen mengambil aba-aba, setengah berjongkok, menempelkan seruling di bibir tipisnya. Tubuhnya basah kuyub karena diterpa hujan dan dia tidak perduli dengan hal itu sama sekali. Dari seruling berwarna emas keluar suara merdu dan hawa dingin yang membuat tetesan air hujan yang sejajar dengan lubang seruling menuju Artha, membeku dan dari lubang seruling keluar ratusan jarum kecil menyerang Artha.


Artha langsung membidikkan anak panahnya ke arah ratusan jarum itu.


Taaaak.


Terdengar suara jentikan jari dari tangan Artha setelah anak panah itu melesat. Keluar api biru di ujung anak panah yang melesat dan api biru semakin melebar membentuk seperti bagian atas payung, menahan ratusan jarum. Api itu tentu saja tidak padam terkena tetesan hujan, karena suhu api sangat tinggi sehingga tetesan hujan tak mampu memadamkan.


Chen melompat, menghindar dari anak panah yang melesat. Anak panah berapi sudah melumerkan ratusan jarum-jarum emasnya tapi tak berhasil mengenai tubuhnya.


Di sisi lain, ketika Chen menyerang Artha, jauh di hadapan Dapi, terlihat dua mata yang bersinar di kegelapan malam. Dengan seketika keluar dari kegelapan, seekor serigala yang bertubuh besar. Berlari menuju Dapi dengan kecepatan tinggi, seakan-akan ingin melahap mangsa. Dapi menembakkan beberapa kali kepingan kristal sepanjang ujung tombak dari telapak tangan kiri yang membentang ke depan. Kristal-kristal itu melesat dengan cepat, mengejar sasaran yang ada di depan. Tapi tak satupun mengenai sasaran karena sosok serigala menghindar dengan cepat. Tembakan Dapi hanya mengenai ruang kosong. Dapi kembali berusaha menembakkan beberapa kristal dari tangan kiri.


Wush.... Wush.... Wush....


Tapi lawannya tetap bisa mengelak dengan cepat, seakan menari menghindari serangan lawan. Manusia Serigala semakin mendekati Dapi.


Dapi berpikir dengan sangat cepat. Melompat ke atas, keluar dari lingkaran tak terlihat yang melindungi mereka dari tetesan hujan yang deras. Dia sengaja keluar agar tidak mengganggu konsentrasi Artha melawan Chen. Sekarang berada sekitar lima langkah dari punggung Artha. Dengan cepat tangannya kembali membuat lingkaran dan melemparkan ke atas kepala. Kini, dia juga terlindung dari tetesan hujan yang jatuh. Membuat pelindung baru.


Sosok serigala yang melihat lawannya berpaling beberapa langkah ke kanan, langsung merubah sasarannya sedikit membelok. Gerakannya sangat cepat. Tetap mengejar Dapi sebagai mangsa.


Dapi sudah siap dengan serangan Manusia Serigala ini. Ketika Manusia Serigala melompat ke atas, ingin menerkam kepalanya, Dapi mengangkat tombak kristal yang ada di tangan kanan, memegang dengan kedua tangan menghadap ke atas, melindungi kepala. Manusia Serigala melompat dan menerkam Dapi. Dengan cepat Dapi menahan mulut makhluk itu dengan tombak yang melintang di atas kepala. Menahan dengan sangat keras serangan mulut dari Manusia Serigala yang tertahan oleh tombak kristal. Dapi bahkan bergeser ke belakang dan menahan dorongan dari serangan dengan kakinya. Kedua kakinya bergesekan dengan tanah dan menimbulkan bekas beberapa senti meter di tanah. Mundur ke belakang.


Manusia Serigala menapakkan kaki belakang ke tanah karena serangannya tertahan oleh tombak kristal lawan. Tetap menggeram walaupun mulutnya menggigit tombak kristal yang melintang. Kedua kaki depannya yang mengeluarkan cakar, berusaha untuk merobek dada Dapi.


Dapi menendang Manusia Serigala dengan kaki kanan.


Dug.


Ngiiik.


Manusia Serigala terdorong beberapa meter, menjauh dari Dapi. Tapi dengan cepat berdiri dan kembali menyerang lawannya.


Dapi dengan cepat melempar tombak kristal di tangan kanan. Posisi tubuhnya seperti atlet pelempar lembing. Kaki kanan berada di depan, dan kaki kiri di belakang. Mengambil posisi seperti akan mulai berlari, lalu membungkukkan sedikit badannya ke depan. Seluruh kekuatan difokuskan ke tangan kanan. mengayunkan tombak di tangan kanan sedikit mundur ke belakang dan melesatkan tombak ke lawan dengan kecepatan yang penuh.

__ADS_1


Manusia Serigala melihat serangan  dengan mata yang bengis. berlari dengan sangat cepat. Menggeser tubuh berbulunya sedikit ke samping kiri untuk mengelak dari tombak kristal yang di lemparkan Dapi.


Dapi tersenyum tipis. Dia sudah menduga itu akan terjadi. Sedetik setelah tongkat kristal dilepaskan, kedua telapak tangannya sudah bergerak cepat, membentuk bidang bulat di depan dadanya. Tetesan air hujan di hadapannya masuk ke dalam lingkaran lalu membentuk paku-paku kristal yang sangat banyak. Dapi merubah tetesan hujan menjadi paku-paku es yang kuat dan tajam. Selanjutnya, mendorong lingkaran sebesar telapak tangan ke depan. Dia kembali menyerang Manusia Serigala. "Kau tak akan bisa lolos dari serangan yang ini," nyata Dapi menggeram.


Dan memang benar. Manusia Serigala terkecoh dengan serangan paku - paku kristal yang dikeluarkan Dapi. Manusia Serigala fokus menghindari tombak kristal tapi tidak menyadari serangan kristal es yang berbentuk puluhan paku menyerangnya. Lawannya memang sudah melesatkan serangan berjarak sedetik ketika telah melemparkan tombak kristal. Akhirnya, benda kecil yang berbentuk kristal sudah mengenai mata kiri, kedua kaki  depan dan menancap beberapa di tubuhnya.


Kaing.


Bruuk.


Manusia Serigala terjatuh di tanah, beberapa meter dari lawan yang masih memasang kuda-kuda seperti atlet pelempar lembing. Manusia Serigala berusaha bangkit dengan susah payah, lari meninggalkan lawan. Hilang di tengah kegelapan dan di bawah hujan yang deras. Suara lolongan kesakitan terdengar dengan keras.


Bruuuuk.


Dapi melihat Artha terpental di sampingnya. Ada darah mengalir di pundak Artha. Bajunya sedikit robek. Dapi juga melihat serangan susulan yang akan dilakukan Chen ke arah Artha. Chen sudah melompat dengan ganas menghunuskan pisau kecil yang keluar dari serulingnya, menyasar ke dada Artha.


Dapi langsung melompat dengan gesit. Sekarang berada di depan Artha yang lagi terduduk menahan sakit. Dapi setengah berjongkok, telapak kaki kanannya membentuk kuda-kuda, menancap di tanah dengan lutut menempel di dada, sedangkan kaki kirinya berlipat dan lutut menempel di tanah, ujung jari kaki juga menempel di tanah, membantu posisi kuda - kuda kaki satunya lagi. Kedua pergelangan tangannya bersatu membentuk huruf X di atas kepala. Tak berapa lama keluar uap es di atas kepala membentuk tameng es yang menutupi seluruh tubuhnya dari atas hingga ke tanah. Tameng es itu setebal lima inchi.


Jeep.... Sreeeet....


Pisau kecil dari seruling Chen menancap di tameng kristal. Chen sengaja menggeseknya menurun ke bawah ketika pisau itu sudah tertancap. Tapi hanya memberikan bekas goresan di dinding es kristal.


Chen mundur beberapa langkah. Kini, dia melihat Dapi berdiri, keluar dari tameng.


"Anak kecil keparat," bentak Chen.


"Aku.... BUKAAAAN anak kecil," balas Dapi membentak. Dia sangat emosi. Membentuk tangannya seakan membuat bola dalam lingkaran, melemparkan lingkaran berbentuk bola yang sejajar dengan perutnya ke arah Chen bersamaan dengan kata terakhir yang diucapkannya. Paku-paku kristal melesat dengan cepat ke arah Chen. Jumlah paku-paku kristal, mungkin ada sekitar puluhan paku. Dia sangat marah jika ada seseorang yang menyebutkan kata anak kecil kepadanya.


Chen bergerak ke sana kemari dengan cepat. Gerakannya sangat cepat. Dia bisa berteleportasi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghindari paku-paku kristal. Dan belum habis paku kristal itu, ternyata melesat kembali tiga anak panah berapi biru ke arahnya. Tapi, dia juga bisa menghindari dengan berteleportasi.


Artha sudah berdiri di samping Dapi ketika melesatkan anak panah ke arah Chen.


"Dia sangat cepat, Kak. Dia menghindar dari serangan kita hanya dengan berteleportasi," nyata Dapi. Nafasnya tersengal.


"Aku bisa menghindari dari jarum-jarumnya, Kak, tapi tubuhnya berteleportasi sangat cepat, aku tak bisa membaca gerakannya," ujar Dapi lagi.


Di depan mereka, Chen masih berdiri tegak. Tubuhnya basah kuyub  dan sikapnya dingin, sedingin malam itu. Dia memasang kuda - kuda seperti biasa untuk meniup seruling. Seruling itu mengeluarkan nada keras yang tak merdu lagi ketika sudah menyentuh bibir tipisnya. Panjang dan menyakitkan telinga. Dengan cepat berhamburan jarum-jarum emas keluar dari seruling. Serangan gelombang pertama keluar menyerang ke depan, menungkik ke atas. Gelombang kedua menyerang di depan lawannya. Tiba-tiba Chen berteleportasi dan berada di belakang mereka dan meniupkan kembali seruling untuk serangan gelombang ke tiga dan ke empat. Sekarang mereka terkepung dengan jarum-jarum emas yang dikeluarkan Chen.


Dapi dan Artha melihat pergerakan musuhnya.


Dapi mengerutkan dahi. Berdiri tegak lurus, merapatkan kakinya dan mengangkat tangannya lurus ke atas, menyatu, lalu kedua telapak tangan membuka di atas kepala. Dari telapak tangan menyembur uap es kristal, mencelat ke atas, berbelok turun ke bawah membentuk tameng seperti rumah suku eskimo, es kristal membentuk bulat dari atas menuju ke bawah sampai ke tanah. Dinding-dinding es kristal sangat tebal. Sekarang, Dapi dan Artha berada di dalam ruangan. Dapi membentuk ruang untuk melindungi diri mereka berdua dari segala sisi. Jarum-jarum kecil yang terbuat dari emas menancap di dinding es kristal. Jumlahnya ratusan. Ruang itu tidak seperti rumah suku eskimo lagi tapi sudah seperti landak. Jarum menancap dimana-mana.


Artha hanya bisa melihat ke atas. Mulutnya sedikit ternganga dengan ruang yang dibuat Dapi. Dia tidak bisa berpikir dengan cepat dan fokus karena pundaknya sedikit terluka.


Chen tersenyum sinis. "Tameng itu tidak akan bisa menahan kalian lebih lama." Chen mengeluarkan nada mengejek. "Artha, kita sudah bertemu beberapa kali tapi kali ini nyawamu akan habis di tanganku. Kau tak akan sempat membuat timmu untuk menyelamatkan dunia. Gerakanmu terlalu lambat," lanjut Chen dengan umpatan.


Dapi dan Artha memandang dengan wajah serius ke arah Chen. Pria itu sudah memasang kembali kuda-kuda untuk meniup seruling. Meniup dengan hembusan panjang sekali. Keluar benda dari seruling sebesar paku lima inchi, seperti Dapi membentuk kristal-kristal paku. Tapi Chen tidak hanya menyerang dari satu sisi tapi dari beberapa sisi. Setelah menghembuskan seruling di sudut pertama, kemudian berteleportasi ke sudut yang lain dan meniupkan seruling kembali dan mengeluarkan benda itu lagi. Dia sangat cepat berteleportasi. Dalam hitungan 6 detik sudah ada enam paku yang menyerang tameng dari segala penjuru, melingkari mereka. Paku-paku emas tertancap di dinding tameng es kristal yang dibuat Dapi.


Dapi hanya melihat paku tertancap dengan wajah tenang, namun di detik berikutnya wajahnya memucat karena paku-paku emas berusaha masuk ke dalam dengan mengebor tameng es kristal. Dengan cepat Dapi menembakkan beberapa uap es kristal dari tangannya untuk mempertebal dinding yang berusaha dijebol oleh paku-paku emas yang dikeluarkan lawan. Ada enam sudut yang ditembakkannya dengan es kristal di kedua tangan.


Artha tak bisa berbuat apa-apa. Hanya memegang busur panah dan melihat ke arah paku-paku emas itu yang berusaha mengebor dinding es kristal.


Chen berdiri tersenyum sinis. merasa kemenangan berpihak kepadanya. melihat dua pemuda yang menjadi musuhnya sedang berjuang untuk keluar dari kematian.


"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA...."


Tiba-tiba terdengar suara jeritan  panjang yang menusuk telinga Chen. Dia menutupi kedua telinganya dengan tangan kanan dan kiri. Tertunduk menahan rasa sakit yang amat sangat. berusaha untuk berteleportasi agar bisa terhindar dari suara jeritan itu tapi tak bisa melakukannya. Malah sedikit tertunduk menahan rasa sakit di kedua telinga. Sekian detik, suara itu masih terus menggema, menusuk gendang telinga. Dia merasa di tangannya keluar cairan segar. "Darah," gumamnya. Lalu terjerembab ke tanah menahan rasa sakit yang amat sangat.


Karena Chen berada dalam kondisi terdesak dan tidak dapat mengendalikan kekuatannya, maka paku-paku emas yang berusaha masuk dan menembus tameng es kristal, berhenti bekerja dengan seketika.


Satu sosok muncul dari kegelapan malam. Melompat, berdiri di depan tameng es kristal yang dibuat Dapi.


"Yusuf." Sapa Artha. Matanya terbelalak. Kalo ini wajahnya cerah.

__ADS_1


Dapi mencairkan dinding es kristal yang menjadi tameng mereka. Berdiam diri keheranan. Pada saat itu hujan sudah tidak deras lagi, hanya rintik-rintik kecil yang jatuh ke tanah.


"Kak, Kalian tidak apa-apa?" tanya pemuda yang dipanggil Yusuf. Dia berperawakan sedikit maskulin dengan wajahnya yang panjang. Memakai celana jeans biru gelap dan di atasnya memakai baju kaos berwarna hitam. Rambutnya lurus, sedikit merah dan berbelah tengah. Tingginya lebih pendek daripada Artha tapi lebih tinggi daripada Dapi.


"Tidak. Kami baik-baik saja. Terima kasih Yusuf."


"Siapa dia, Kak?" tanya pemuda yang dipanggil Yusuf oleh Artha. Pemuda itu bertanya identitas musuh yang dibekuknya.


Sebelum Artha menjawab, tiba - tiba Yusuf menjerit, "Lah, kemana keparat itu?" makinya.


 


 


Ya, ketika Yusuf bertanya dan ingin memperkenalkan diri dengan Dapi, matanya menangkap ke samping ternyata musuh yang dikalahkannya, sudah tidak ada lagi terbaring di tanah. Sudah lenyap entah kemana.


Dapi dan Artha pun terbengong keheranan. Begitu cepat Chen menghilang dari hadapan mereka.


"Itu salah satu musuh kita. Nanti akan aku jelaskan," nyata Artha.


"Kaaaaak...," panggil Dapi pelan. Mengkode Artha dengan mengangkat kedua alisnya. Dia bertingkah imut.


"Oh. Maaf. Dapi ini Yusuf. Yusuf ini Dapi." Artha memperkenalkan mereka berdua.


Dapi dan Yusuf bersalaman. Mereka saling melempar senyum. Tapi ada wajah penasaran terpampang dari wajah masing-masing.


Artha langsung bisa membaca dari mimik wajah mereka. "Kita berada dalam tim yang sama. Kalian berdua tergabung dalam tim yang kami rekrut."


"Oh. Hebat banget. Akhirnya aku bertemu dengan salah seorang dari mereka," ujar Dapi kegirangan. "Berarti tinggal tiga orang lagi yang belum aku liat."


"Tiga orang lagi?" tanya pemuda yang bernama Yusuf.


"Ya. Aku sudah bertemu Kak Artha, Hakiki dan kamu. Dihitung denganku menjadi empat. Berarti tinggal tiga dari tim kita yang belum aku kenal," nyata Dapi penuh semangat. Dia tertawa kegirangan.


"Hakiki?" tanya Yusuf lagi. Dia merasa aneh. Rasa aneh di pikirannya kian bertambah ketika melihat pemuda yang baru dikenal sangat kegirangan seperti menang lotere.


"Kata siapa kamu akan kenal tiga orang lagi, mungkin lebih," jawab Artha.


"Oh. Benarkah, Kak?" tanya Dapi. Kali ini wajahnya berubah serius. Badannya berdiri kaku menatap ke arah Artha.


"Sudah. Ayo kita mencari tempat yang aman untuk istirahat dan membersihkan luka ini," nyata Artha.


"Uh... Kakak baik-baik aja. Bisa berjalan?" tanya Yusuf khawatir.


Artha hanya mengangguk.


"Aku yang menyelamatkan Kak Artha sebelum kamu datang," nyata Dapi dengan bangga.


"Dia lebih tua darimu. Jangan memanggil dengan sebutan yang tidak sopan," nyata Artha ke arah Dapi.


"Oh, maaf, Kak Yusuf." Dapi langsung meminta maaf setelah sadar Yusuf lebih tua darinya.


"Ayo, kita pergi," ajak Artha. "Kamu dari mana, Yusuf?"


Yusuf menjelaskan situasi yang telah terjadi sembari mereka berjalan.


Mereka bertiga bergegas bergerak dari tempat itu. Yusuf sedikit memapah Artha yang lagi kesakitan. Mereka melompat dengan sangat ringan dan hilang di kegelapan malam.


Hujan rintik di tengah malam itupun mulai berhenti perlahan.


*******


 

__ADS_1


 


__ADS_2