
Sweet Night
Hakiki terbangun dari pingsan. Berusaha membuka kedua mata. Tangannya meraba-raba tempat tidur. Mengecek dimana posisi dirinya sekarang. Kamar itu gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam kamar, cahaya dari luar, mungkin dari lampu jalan. Tapi, walaupun sedikit gelap, Hakiki melihat jelas sosok tubuh yang duduk di pinggir tempat tidurnya. Sosok itu duduk di samping Kakinya.
Hakiki berusaha bangun. Memegangi dada kiri. Seseorang yang duduk di samping berusaha membantu untuk bangun. Kepala Hakiki terasa berat. Dadanya masih terasa nyeri. Dia berusaha duduk dan menggeser posisi pantatnya mundur ke belakang agar bisa bersandar di kepala tempat tidur. Seseorang disampingnya, tak lain adalah Artha membantu gerakan yang dilakukannya.
"Terima kasih, Kak," ujarnya.
Artha hanya tersenyum. Kembali merapikan selimut yang menyelimuti pemuda yang terduduk di punggung tempat tidur.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi, Kak?" tanya Hakiki lemah.
"Kamu istirahatlah deh. Kalau ada waktu kita akan bertemu lagi dan ngobrol banyak. Kamu tidak apa-apa? Apa sebenarnya yang terjadi denganmu?” Artha malah balik bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Dadaku sakit Kak. Seperti terbakar, sekarang saja masih terasa nyeri," nyatanya ke Artha. Dia sedikit meringis.
"Apa ini sering terjadi setiap Bulan Sabit muncul?" tanya Artha penasaran.
"Enggak. Baru kali ini," jawabnya.
__ADS_1
"Tapi tidak ada yang luka, kan?" tanya Artha.
Dia masih duduk di pinggir tempat tidur besi. Menatap wajah Hakiki dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Sepertinya tidak. Mungkin besok pagi aku sudah baik-baik saja," jelasnya.
"Syukur hari ini, Hari Minggu, jadi kamu tidak harus sekolah dengan rasa sakit. Kamu bisa istirahat hari ini."
"Terima kasih, Kak. Kak Artha sudah menyelamatkan nyawaku dua kali," nyatanya lirih. Ada nada suara tersendat yang dikeluarkan Hakiki.
"Nanti kita ngobrol, secepatnya. Kakak akan jelaskan semuanya," jelas Artha.
Hakiki tersenyum kecil. Senyumnya tertahan.
"Sepertinya sudah mau Shubuh. Lihat tuh," nyata Artha. Menunjuk ke jam dinding yang berwarna hitam dominan putih.
Jarum pendek jam menunjuk ke angka 4 pagi lewat 10 menit. "Kakak harus pulang. Nanti Kakak hubungi kamu, Kakak sudah menyimpan nomor kamu sejak lama, Kakak ambil dari handphone Arini untuk berjaga-jaga," jelas Artha
Gaya bicara Artha sangat beda ketika bertemu pertama kali dan ketika Hakiki menjebak Artha di atas pohon. Sangat berwibawa dan bijaksana. Orang yang di hadapannya seperti orang yang berbeda. Mata Hakiki menatap Artha dengan sendu. Wajahnya datar. "Terima kasih, Kak," ujar Hakiki pelan.
__ADS_1
"Ya. Kamu istirahat, ya," sarannya. Kembali meraih kepala Hakiki dan mengusap beberapa kali. Berjalan menuju pintu teras atas.
"Kak...," panggil Hakiki.
"Kakak lewat sini saja. Kakak sudah sering melakukannya selama setahun ini, Ki," jawabnya lugas sambil tersenyum dan mengedipkan mata kanan. Dia sudah membaca pikiran Hakiki karena alasan apa pemuda itu memanggilnya.
Artha mengambil masker kain di kantong belakang, mengenakan ke wajah. Membuka pintu teras dan langsung melompat dengan cepat. Hanya dengan beberapa lompatan pemuda berbadan ramping sudah hilang seperti di telan bumi.
Hakiki tertegun. Pintu teras atas yang berada tak jauh di depannya, masih terbuka. Dia tersadar dengan dadanya yang sakit seperti terbakar. Memasukkan tangannya ke dalam baju yang dikenakan dan meraba dadanya. Keningnya berkerut. Mulutnya setengah terbuka. Tangannya berulang kali menggosok bagian dada. Wajahnya semakin menampilkan rasa penasaran. Keningnya semakin berkerut.
Hakiki dengan cepat membuka baju. Badannya yang putih terlihat bersih. Bidang dadanya yang besar terlihat dari bagian depan. Dia menundukkan kepala, berusaha melihat ke arah sebelah kiri. Tapi sepertinya tidak puas dengan pandangannya saat itu. Lalu bangkit perlahan-lahan, berjalan menuju lemari baju yang memiliki kaca di salah satu daun pintu. Lemari itu berada di depan tempat tidur, tak jauh berada di samping pintu teras atas.
Dia berdiri dan memegangi dada kiri. Meraba-raba kembali dada kiri. Di cermin, berdiri dan di hadapannya terlihat jelas menempel sesuatu di kulit bagian dada kiri seperti tato yang terbentuk secara alami, berbentuk Bulan Sabit di dada. Tepat di atas ****** susu. Besarnya sekitar 7 cm. Wajahnya terkejut, seakan tak percaya. "Apa ini?" lirihnya.
*******
__ADS_1