Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Singularity : Ep. 19


__ADS_3

- 2 Oktober 2011 -


 


 


Hakiki berjalan menyusuri gerai-gerai yang ada di mall ternama di Kota Jakarta sekitar bundaran Hotel Indonesia. Dia berniat mencari kado ulang tahun untuk Arini. Dari seminggu yang lalu, dia berpikir keras, kado apa yang cocok untuk sahabatnya itu, tapi sampai sekarang dia belum bisa memutuskan. Kemarin dia ke Tanah Abang berniat untuk mencari pakaian, tapi dia jadi lupa karena penguntit sialan itu, makinya dalam hati.


 


 


 


 


Pemuda itu berhenti di toko boneka, memperhatikan begitu banyak boneka satu per satu yang terpajang di etalase toko. Matanya yang besar tapi sendu seakan-akan memecahkan masalah yang sangat besar tapi masih dalam keadaan santai. Jari telunjuk kanan mengetuk-ngetuk bibir atasnya. "Tapi tahun lalu aku sudah memberikan dia boneka, sepertinya tidak untuk tahun ini." Dia mengurungkan niat, lalu kembali berjalan menyusuri lorong mall itu dengan santai.


 


 


 


 


Ini tahun ke empat dia mengenal Arini. Ulang tahun pertama kenal dengan Arini, dia tidak memberikan kado bahkan tidak mengucapkan apapun, karena pada saat itu dia baru 4 bulan mengenal  Arini dan masih duduk di kelas 1 SMP. Tapi karena Arini mengingat ulang tahunnya, beberapa bulan setelah Arini ulang tahun dan sahabatnya itu memberikan kado, dia akhirnya memutuskan untuk membalas kebaikan Arini setiap tahun ketika sahabatnya itu merayakan hari jadi.


 


 


 


 


Hakiki masih berpikir keras. Berjalan masih dengan langkah kaki perlahan, wajah yang datar tanpa senyuman tapi daya pesonanya masih tetap terpancar.


 


 


 


 


Langkah kakinya yang panjang terhenti. Di depan, antara persimpangan kiri dan kanan, ada satu gerai aksesoris yang berada pas di tengah lorong dan gerai itu membelah jalan ke kanan dan ke kiri membentuk sudut 45 derajat ke kanan dan 315 derajat ke kiri, seperti kaki yang sedang membentang dan terkangkang, gerai itu berada di tengah-tengah seakan gerai itu adalah perut dari peta lorong mall. Mungkin gerai ini memang di desain berada di tengah.


 


 


 


Hakiki terpaku pada satu aksesoris yang tergantung di leher manekin berlapis beludru berwarna hitam. Liontin itu seakan memanggilnya untuk mendekat. Dia berdiri sekitar 2 meter dari etalase toko aksesoris itu. Terpaku. Matanya tajam melihat benda itu dengan tatapan sayu. Liontin itu berbentuk kepala wanita bersama leher, berparas cantik. Hanya sebatas itu bentuk liontin, tidak seluruh badan. Rambutnya tergerai panjang tapi ada sebagian yang disanggul sedikit ke atas, sanggul itu berbentuk bunga melati dengan 5 kelopak. Dari hasil karya seni, terlihat kecantikan seorang gadis yang sengaja dipancarkan. Dibawahnya terjuntai 2 rantai dan dibawah rantai ada batu putih berkilau. Sedangkan di utasan yang lain masih ada rantai kecil yang terjuntai tapi dibawahnya bukan batu melainkan, mainan yang berbentuk kunci kecil.


 


 


 


"Zzzzzzzz....."


 


 


 


 


"Ah...." Hakiki mendesah. Jari telunjuk tangan kiri sedikit terangkat dan kaku. Seperti ada sengatan listrik yang masuk ke dalam tubuh. Tubuhnya diam sesaat. Berusaha merasakan sengatan listrik kecil itu menjalar di aliran darah. Dia lalu tersadar. Cepat melangkah menuju kanan lorong dan melewati toko itu secara perlahan. Dia sudah tahu terbuat dari apa liontin itu dan dia berusaha menjauh. Sambil berjalan, dia menoleh ke kiri, mengamati toko itu sampai hampir habis blok toko tersebut, tapi setelah itu kaki kirinya berbelok ke kiri secara tiba - tiba, menuju jalan berlorong antara toko aksesoris dan toko di sebelahnya, tanpa dia perintahkan. Lalu berbelok ke kiri lagi melewati lorong kiri yang bersudut 315 derajat sesuai tempat dia berdiri kaku sebelumnya. Ternyata dia memutari toko aksesoris itu secara reflek. Kakinya terus bergerak, dia berusaha melawan tapi sia-sia, akhirnya dia sampai di pintu depan toko aksesoris, membuka dan masuk ke dalam.


 


 


 


 


"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan toko yang cantik dengan sapaan lembut.


 


 


 


 


Hakiki bingung. Raut wajahnya sangat kelihatan menggambarkan ekspresi itu. Dia terdiam kaku setelah pintu yang dibuka tadi tertutup kembali. Dia menunduk ke bawah memandang kedua kakinya, lalu memandang sekeliling toko.


 


 


 


"Mas, ada yang bisa kami bantu," tanya pelayan itu lagi. Kali ini dia sedikit mendekat dengan Hakiki.


 


 


Hakiki secepatnya menyadarkan diri. "Hmmmmm..... Saya.... mau beli kalung," jawabnya terbata.


 


 


 


"Oh, boleh. Silahkan dilihat mas, mau yang mana."


 

__ADS_1


 


 


"Ah..." desahnya. Dia menahan sakit di jari tangan, mukanya sedikit memerah. Kali ini hampir sepuluh jari tangan tersengat listrik. Sedikit tertunduk menahan sakit.


 


 


 


"Mas?" tanya pelayan itu. Dia kebingungan. Mencari tahu apa yang sedang terjadi.


 


 


 


"Mba, saya mau kalung yang berliontin kepala gadis yang dipajang di depan," seraya menunjuk ke etalase. Lalu dia melanjutkan, "Ini kartu debit saya, tolong digesek aja dan langsung dikemas kado yang rapi, saya tunggu di luar." Hakiki berusaha keras mengambil dompet di kantong celana, lalu mengeluarkan satu kartu debit dan memberikan kepada pelayan toko. Lalu dia keluar dengan buru-buru, membuka pintu dan menunggu di luar. Dia berdiri 2 meter dari pintu toko.


 


 


 


Tentu saja pelayan toko itu keheranan. Manajer toko yang berada tak jauh dari pelayan toko tadi, langsung bergerak keluar dan mendatangi Hakiki.


 


 


 


"Maaf mas, apa benar mau membeli kalung dengan liontin berbentuk Madam Rafless, yang mas tunjuk tadi." Manajer itu bertanya dengan tegas, dia seorang lelaki.


 


 


 


"Iya mas. Kartu debit saya sudah saya kasi sama mba itu. Tolong cepat diproses." Hakiki berbicara sedikit kaku.


 


 


 


 


"Tapi apa mas tidak melihat harganya dulu dan melihat liontinnya?" tanyanya lagi.


 


 


 


 


 


 


"Liontin yang bergambar kepala gadis tradisional itu khan?", manajer toko bertanya untuk meyakinkan lagi.


 


 


"Ya."


 


 


"Hampir 1.8 juta mas."


 


 


 


"Ya sudah. Diproses saja langsung, dikemas yang rapi."


 


 


 


"Tapi pada saat pembayaran, mas harus masuk untuk menekan pin di EDC Card."


 


 


 


"EDC nya wireless khan? Bisa dibawa keluar untuk menekan pin kartu saya?"


 


 


 


"Oh. Bisa tapi apa ada yang salah dengan toko kami?.


 


 

__ADS_1


 


"Tidak. Saya hanya kurang sehat. Tolong segera diproses mas. Bisa khan?.


 


 


 


"Oke." Manajer toko itu langsung masuk ke dalam dengan wajah yang bingung. Tapi dia lebih bingung lagi ketika melihat Hakiki berbicara. Nampaknya memang pemuda itu kurang sehat, pikirnya.


 


 


 


Hakiki masih menunggu proses pengemasan barang yang dipesan. Sesekali dia meremas jemarinya yang kaku. Wajahnya sedikit menahan sakit tapi tidak separah ketika dia berada di dalam toko. Kini tubuhnya seakan penuh dengan sengatan- sengatan listrik dan menjalar ke seluruh tubuh sesuai aliran darah. Bulu roma di kedua tangan seakan berdiri. Wajah putihnya sedikit memerah, begitu juga dengan kedua telinga.


 


 


 


Hampir 15 menit dia berdiri di depan toko aksesoris itu. Terkadang dia melirik sedikit ke dalam toko, mengecek apakah sudah selesai pesanannya.


 


 


 


Tak berapa lama manajer toko itu pun keluar dan menyodorkan mesin EDC Card. Dan dia sudah membawa barang yang dipesan oleh Hakiki. Jadi, mungkin pikirnya sekalian memberikan barang langsung kepada Hakiki supaya tidak mondar-mandir.


 


 


"Maaf mas, jadi repot seperti ini. Sekali lagi saya minta maaf." Hakiki menunjukkan rasa menyesal dari wajahnya, lalu dia memencet beberapa angka di mesin EDC Card yang disodorkan oleh manajer toko. Lalu menekan tombol oke. Struk tanda terima pun keluar.


 


 


 


Manajer toko itu merobek struk.


 


 


"Oke mas. Ini struk dan kartu debit untuk mas. Ini barangnya. Terima kasih." Dia sedikit membungkukkan badan.


 


 


 


"Terima kasih kembali. Sekali lagi saya minta maaf karena telah merepotkan."


 


 


Manajer toko itu  hanya tersenyum manis lalu meninggalkan Hakiki, masuk ke dalam toko.


 


 


 


Hakiki berjalan perlahan. Dia mengambil rute tempat dia berjalan pertama kali menyusuri gerai - gerai di mall itu.


 


 


Di sisi lain, tak jauh dari toko aksesoris itu, seorang pemuda berbadan kurus tinggi memiliki bidang dada yang lebar tersenyum. Penampilannya sederhana, tapi menawan. Dia memakai topi baseball cap berwarna putih. Memakai baju kaos berwarna merah maron dan bagian bawahnya dipasangkan dengan celana jeans berwarna biru pudar. Kakinya terbalut dengan sneaker berwarna putih.


 


 


Pemuda ini dari awal sudah memperhatikan Hakiki sampai akhirnya Hakiki membeli kalung itu. Lalu dia bergerak berlawanan arah dengan yang diambil Hakiki. Dia berjalan santai, lurus menuju lorong-lorong mall dan menuju elevator. Dia menunggu elevator yang menuju ke atas. Tak lama elevator itupun berhenti di lantai 3, tempat dia berdiri. Dia masuk ke dalam dan menekan tombol angka 7 menuju ke atas dan menekan tombol memerintahkan pintu elevator untuk menutup. Tak lama elevator itupun bergerak naik, dia hanya seorang diri di dalam. Ketika elevator berada di lantai 4, ada suara berbunyi menandakan ada orang lain yang akan masuk ke elevator itu. Pintu elevatorpun terbuka perlahan. Di depan pintu berdiri seorang pemuda menggunakan topi baseball cap berwarna biru. Dia memakai baju kaos berwarna putih dipasangkan dengan celana skinny jeans berwarna coklat yang pas melekat di tubuh bagian bawah. Sepatunya berjenis deck shoes berwarna coklat. Pemuda itu masuk ke dalam elevator, lalu berdiri sejajar dengan pemuda memakai topi berwarna putih yang sebelumnya naik dari lantai 3.


 


 


 


Mereka berdua berdiri menghadap pintu elevator. Pemuda bertopi berwarna putih sedikit tersenyum lalu memalingkan wajah ke arah pemuda disampingnya. "Selanjutnya tugas kamu untuk memancing keluar kekuatannya." Pemuda itu berkata dengan nada lirih.


 


 


Pemuda yang memakai topi berwarna biru tertawa kecil. Dia menunjukkan giginya yang rapi. Wajahnya yang putih menambah kesan menggemaskan dalam diri. Pemuda yang sedikit lebih pendek dari pemuda yang berdiri disampingnya berkata, "Serahkan kepadaku."


 


 


*******


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2