
Tadi malam, Hakiki mengingat sesuatu hal. Kemudian mengajak Artha pulang ke rumahnya.
Mereka berdua telah berdiri di meja belajar di kamar Hakiki.
"Ada apa?" tanya Artha.
"Aku teringat dengan kotak yang diberikan oleh Arini. Sampai sekarang aku tak berhasil membukanya dan aku selalu lupa bertanya kepada Arini soal itu," jelas Hakiki.
"Jadi kamu belum mengetahui apa isi di dalam kotak itu sampai sekarang?"
"Belum."
Artha mengerenyitkan kening. Dia merasa heran dengan perlakuan Hakiki, padahal kado itu sudah di tangannya hampir dua bulan.
Hakiki membuka laci meja belajar dan mengambil kotak berwarna putih kecoklatan. Duduk di samping tempat tidur dan Artha mengikutinya.
"Ini Kak, kotaknya." Hakiki menyodorkan kotak itu ke arah Artha.
"Trus?" Artha tak mengerti maksud pemuda di sampingnya. Memegang kotak yang disodorkan oleh Hakiki.
"Kak, siapa yang membuat liontin untuk kalung Arini yang aku beri sebagai hadiah ulang tahun?"
"Aku."
"Di kalung itu ada anak kunci selain liontin, kan?" tanya Hakiki lagi.
"Iya."
"Mengapa kakak membuat liontin dan anak kunci untuk kalung Arini?"
"Papa yang menganjurkan untuk membuat liontin itu beserta anak kunci. Awalnya Papa berusaha untuk menyadarkan akan kekuatanmu dengan liontin perak. Karena itulah kami membimbingmu untuk membeli liontin dan menyerahkan kepada Arini."
"Mengapa harus seribet itu Om Bagas mengatur semuanya? Mengapa tidak kakak atau Om Bagas saja yang langsung memberikan liontin perak ke Arini? Mengapa harus melalui aku?" Hakiki memberikan teori itu dengan tatapan serius ke arah Artha.
"Aku tak mengerti arah pembicaraan ini?" tanya Artha.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti kemana arahnya. Sewaktu aku memeluk Arini ketika dia terluka, liontin ini bersentuhan dengan tato Bulan Sabit di dadaku. Ada hawa aneh yang mengalir di situ. Setelah itu, tubuh Arini berpendar dan menjadi ratusan kupu-kupu kecil. Dan ada satu hal yang aku ingat setelah sebulan kejadian dan belum pernah aku coba. Sebentar," pinta Hakiki.
Tubuhnya yang kurus digerakkan ke lemari pakaian yang berada beberapa langkah di depan tempat tidur. Dia membuka lemari dan membuka laci kecil yang ada di lemari pakaian yang berwarna coklat muda. Mengambil benda di laci dan membawa ke Artha.
Artha melihat tindak-tanduk Hakiki dengan diam dan fokus.
Hakiki berdiri di samping Artha. Menggantungkan kalung yang berliontin kepala Madam Rafless di hadapan pemuda yang sudah dianggapnya seperti saudara kandungnya.
Artha melihat kalung yang digantung dengan tangan Hakiki di hadapannya. Dia mengerutkan dahi.
"Kak, liat. Ada anak kunci di kalung ini."
"Wah. Kau sangat pintar," seru Artha setelah menyadari maksud Hakiki.
"Kotaknya, Kak?" Hakiki menyodorkan tangan kirinya ke arah Artha.
Artha memberikan kotak ke pemuda yang berdiri di hadapannya. Dia masih duduk di pinggir tempat tidur.
Di tangan kiri Hakiki sudah terdapat kotak tersebut dan tangan kanannya telah memegang anak kunci yang sangat kecil. Berusaha untuk memasukkan anak kunci tapi memang sedikit susah karena terlalu kecil, sedangkan jari - jarinya berukuran besar, jadi dia susah memegang anak kunci yang ukurannya setengah inchi.
Hakiki berusaha mengulang kembali kegiatannya untuk memasukkan anak kunci ke lubang yang terdapat di dalam kotak. Masuk. Anak kunci itu berhasil masuk ke dalam lubang kunci di kotak. Lalu dengan perlahan memutar anak kunci.
Klik.
Terdengar bunyi kecil sekali. Wajahnya tersenyum.
Artha juga tersenyum lega.
Kemudian Hakiki membuka perlahan penutup kotak. Penutup kotak sedikit terbuka, berpendar sinar berwarna biru dan sedikit hijau dari dalam. Cahaya biru kehijauan itu sangat terang. Pada saat itu, lampu di ruangan kamar tidur memang tidak mereka hidupkan, hanya ada lampu meja belajar sebagai sumber penerangan.
Hakiki membuka perlahan kotak yang berada di telapak tangan Artha sehingga terbuka secara keseluruhan. Cahaya berwarna biru kehijauan berpendar ke seluruh ruangan. Mereka ternganga. Di dalam kotak, ada batu berwarna biru terang dengan sedikit warna hijau berbentuk hati. Sangat indah. Batu itu terpahat dengan rapi. Besarnya sekitar 3 inchi.
"Wooooooaaaaaaaah...."
Mereka berdua mengeluarkan suara kaget secara spontan. Kedua pemuda sangat terkesima dengan batu berwarna biru kehijauan yang ada di dalam kotak.
__ADS_1
Tapi Artha mengernyitkan kening ya setelah melihat batu itu. Ada sesuatu yang dipikirkannya.
*******
Di Hutan Hujan Tropis yang luas di salah satu pulau besar yang ada di Indonesia, terbentang pepohonan yang lebat dan besar. Hutan yang belum terjamah oleh manusia dipenuhi dengan kupu-kupu yang beraneka ragam. Serangga cantik berterbangan ke sana kemari.
Dimana ada kupu - kupu, pasti ada bunga yang bermekaran dengan indah. Begitu juga dengan hutan ini yang banyak memiliki bunga. Bunga-bunga bermekaran sepanjang hari. Apalagi hari ini yang begitu cerah, matahari berada di sepenggalahan langit yang baru beberapa jam terbit dari timur.
Di Hutan, berdiri satu pohon besar. Mungkin, pohon inilah yang terbesar di Hutan Hujan Tropis. Batang yang kokoh, dahan dan ranting yang sangat banyak serta daun-daunnya yang rimbun dan melebar, membuat hewan serangga cantik berkumpul berjumlah jutaan di sekitar pohon. Hal yang aneh adalah pohon itu juga menumbuhkan bunga-bunga di batang dan dahannya seperti simbiosis mutualisme, bukan sebagai parasit.
Di dahan paling atas, tergantung satu benda yang besar, seukuran manusia dewasa. Benda itu berwarna putih berbentuk kantung, terbuat dari serat-serat halus seperti benang sutra. Benda ini merupakan kepompong yang sangat besar.
Ribuan kupu-kupu mengitari kepompong ini. Seolah - olah mereka menunggu sesuatu.
Di pagi yang cerah, di Hutan Hujan Tropis, matahari menyinari kepompong yang besar bergantung di dahan pohon yang kokoh. Kini, bagian atas kepompong bergerak perlahan seperti pintu yang terdorong keluar. Ada makhluk yang akan keluar dari kepompong itu setelah dua bulan bermetamorfosis secara sempurna.
Perlahan - lahan bagian atas kepompong terbelah secara melingkar. Dengan perlahan pula keluar benda seperti antena disusul dengan kepala dan kedua kaki depan.
Makhluk itu merangkak keluar. Ke enam kakinya sudah merangkak di dahan pohon besar di tengah hutan. Berhenti tak jauh dari kulit kepompong tempat dia bersarang sebelumnya. Menggelantung. Diam.
Makhluk yang besarnya seukuran manusia, masih terlihat basah pada sayap - sayapnya. Warna putih mendominasi pada bulu - bulu badan, namun warna ungu bercampur merah muda terdapat pada sayapnya yang kecil. Dia masih menggelantung di dahan pohon. Diam mengatur nafas.
Ribuan kupu - kupu dengan berbagai ukuran dari yang kecil, hingga besar berkeliling mengitari makhluk yang baru saja keluar dari kepompong, seakan mereka menari bergembira menyambut kedatangannya. Makhluk itu yang paling besar dari semua serangga yang ada. Tubuhnya sebesar manusia dewasa.
Makhluk itu sengaja mencari sinar matahari untuk menyinari diri. Perlahan - lahan, cairan yang terdapat di seluruh tubuhnya mengering dan keajaibanpun terjadi dalam beberapa jam. Sayapnya tumbuh semakin melebar dan keindahan dari warna sayap yaitu perpaduan ungu cerah dan merah muda menghiasi bagian itu. Sayap yang tumbuh berkisar 2 meter dari setiap ke empat sayapnya yang indah, digerakkan perlahan - lahan. Berusaha mengepakkan ke empat bagian itu.
Tak hanya bagian sayap yang berubah. Bagian tubuh yang lain juga berubah. Awalnya dia memiliki enam kaki, ternyata sekarang bagian tubuhnya membentuk diri menjadi tubuh manusia. Kaki atas berubah menjadi tangan, bagian tengah berubah menjadi sayap kecil dan bagian bawah tetap menjadi kaki, tapi kecil dan ramping. Tubuhnya sangat halus dan indah. Bersih, mempesona. Bentuk tubuhnya menjelma menjadi seorang gadis dengan sayap yang lebar. Tubuhnya mungkin setinggi 170 cm. Semampai dan sangat cantik. Ada dua antena panjang di kepalanya.
Setelah mengepakkan sayap - sayapnya berkali - kali, makhluk itu berusaha untuk terbang. Berusaha untuk fokus dengan ke empat sayap yang besar dan menyalurkan kekuatan di sayap itu. Lalu, terbang mengitari pohon besar di hutan. Kupu - kupu kecil mengikuti pergerakannya. Sekarang, jutaan kupu - kupu membuat gelombang yang besar mengitari langit Hutan Hujan Tropis. Mereka sekarang berada di habitat yang tepat. Tempat ini sering disebut dengan The Kingdom of Butterflies dan tempat ini berada di salah satu bagian di Pulau Sulawesi.
Makhluk itu melesat ke atas langit, tertawa ceria lalu terbang mendatar diikuti oleh kupu-kupu yang lain. Dia adalah dewi dari habitat kupu-kupu. Dia adalah Arini.
*******
__ADS_1