
- 21 Januari 2012 -
Waktu... yang tak terasa setelah beberapa bulan Hakiki dan Dapi menjadi teman dekat.
"Hai.... Sudah lama menunggu?" tanya pemuda berbadan kurus dan kecil tapi memiliki tinggi 173 cm. Bertanya kepada seorang pemuda yang duduk di bangku taman di pinggir Jalan Sudirman.
Pemuda yang sedang duduk, menoleh ke arah sumber suara dan diapun tersenyum tipis.
"Enggak kok. Baru 5 menit," nyatanya.
Pemuda yang sedang duduk memakai jaket denim, tiga warna. Bagian atas warna hitam, warna putih di tengah sedangkan warna merah di bagian bawah. Jaket itu terbagi ke dalam tiga warna mendatar. Di dalamnya, pemuda sedikit berambut ikal memakai kaos oblong berwarna putih dan menggunakan celana jeans biru sebagai bawahan. Alas kakinya memakai sendal jepit bertali biru. Wajah putihnya menyambut hangat kedatangan pemuda yang sudah berdiri di sampingnya.
"Duduk, Pi," tawarnya.
Pemuda yang ditawarkan untuk duduk di samping, sedikit mengerutkan dahi. Dia adalah Dapi.
"Kita di sini saja, Ki?" tanya Dapi.
"Iya. Di sini saja. Aku lagi pengen melihat kendaraan yang berlalu lalang dan melihat cahaya lampu yang bersinar malam ini," seru pemuda itu yang ternyata adalah Hakiki.
Dapi menurunkan pantatnya dengan perlahan di samping Hakiki. Bangku taman panjang yang berwarna putih, memang disediakan untuk orang yang ingin duduk di pinggir trotoar tersebut. Di atas tempat duduk, terdengar daun yang bergemerisik kecil tertiup angin malam yang semilir. Di belakang bangku terdapat pohon yang berjejer sepanjang trotoar. Pohon besar yang memang sengaja ditanam untuk menjaga keasrian tempat. Begitu juga di depan mereka, terdapat pohon besar yang ditanam berjajar di pinggir jalan. Jadi ada pohon besar di kiri kanan trotoar dan daunnya yang rindang, bersatu menutupi bagian atas selebar badan trotoar. Trotoar di Jalan Sudirman merupakan tempat yang nyaman untuk pejalan kali walaupun di hari yang panas. Itu salah satu maksud pemerintah menanam pohon di sepanjang jalan agar terlihat asri dan nyaman.
Dapi merapikan jaket kulit berwarna hitam yang dipakai setelah duduk di bangku taman.
"Ada sesuatu yang mau dibicarakan?" tanya Dapi.
Sebenarnya Hakiki menelepon Dapi tadi sore. Sekitar jam 5 sore, Hakiki menghubungi temannya dan ingin bertemu dengannya. Ada hal yang ingin ditanyakan kepada Dapi.
"Ya." Hakiki menjawab singkat.
"Apa?"
Hakiki menunduk, terdiam sekitar 30 detik. Kemudian pemuda itu, menoleh ke arah Dapi yang berada di samping kiri.
"Sejak kapan kamu mengikutiku?" tanyanya santai.
Deg.
Dapi sedikit memucat. Wajahnya terkejut. Tangan kanannya menggaruk ujung hidungnya.
"Maksudnya?" tanya Dapi sedikit berpura - pura.
"Aku tau kamu mengikutiku selama ini, jadi aku tanya sejak kapan kamu mendapat tugas itu dari Papa Arini?" tanya Hakiki lebih jelas.
Dapi semakin memucat. Kali ini salah tingkah. Wajahnya kaku.
" Eh... anu...."
"Ceritakan saja. Aku sudah tau status Kak Artha. Sebulan yang lalu kami sudah berbicara dan dia menjelaskan semuanya dan waktu itu kamu belum pindah ke sekolah kita," jelas Hakiki lagi.
Mata Dapi sedikit melotot. Dia sangat terkejut ketika Hakiki bercerita tentang Artha. Artha tidak ada sedikitpun bercerita soal itu.
"Tapi dari pembicaraan kami yang sudah berulang kali bertemu, tak ada dia membahas sedikitpun tentang dirimu. Padahal aku sudah berusaha mengorek semua informasi jika bertemu dengannya," nyata Hakiki.
"Sudah berapa kali kamu bertemu dengan Kak Artha?" Dapi bertanya.
"Saat ini, kamu Pi yang harus menjawab pertanyaanku, bukan aku yang harus diinterogasi," tukas Hakiki. Wajah datarnya menandakan kalau dia serius kali ini.
"Maaf," jawab Dapi cepat. Memalingkan wajahnya dari Hakiki.
"Jawab dong pertanyaanku?" Hakiki mendesak pemuda yang ada di sampingnya. Tatapan matanya tak bergeming melihat ke arah pemuda itu. Malah Dapi yang merasa canggung melihat tatapan itu. Dia kembali menggaruk ujung hidungnya.
"Sejak enam bulan yang lalu."
"Berarti kamu bohong mengatakan kepadaku dan Arini kalau kamu baru sebulan di Jakarta."
"Tidak."
"Mengapa tidak?"
"Ya karena emang baru sebulan aku menetap di Jakarta, enam bulan kemarin aku masih bolak balik Jakarta - Bali," bela Dapi.
"Bener juga ya," setuju Hakiki sembari jari telunjuknya mengelus dagunya sendiri.
"Eh... tapi itu bukan alasan untuk menghindar dari kesalahanmu selama ini," lanjutnya setelah sadar bahwa Dapi yang harus diyakini sekarang ini.
"Iya. Maaf." Kali ini Dapi sedikit tersenyum melihat tingkah Hakiki.
"Apakah tidak sebaiknya kita bercerita sambil makan di Cafe yang terdekat?" tanya Dapi mencairkan suasana.
"Aku pengen di sini saja," jawab lawan bicara Dapi.
"Kalau begitu, aku pesan makanan secara online. Dan kita makan di sini saja. Gimana?" tawar Dapi. Berusaha untuk meluluhkan hati temannya itu.
Hakiki hanya mengangguk.
Dapi tersenyum. Hakiki sudah masuk dalam perangkapnya. Perangkap agar tak marah lagi kepadanya.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku pengen makan kebab."
"Minumnya?"
"Minuman yang bernuansa strawberry." Hakiki menjawab dengan halus dan tentu saja wajahnya datar.
"Oke. Aku pesan ya." Saat ini Dapi tersenyum karena merasa lucu. Dia merasa dirinya seperti pelayan.
Pemuda yang memakai jam bermerk di tangan kiri dan seutas gelang emas putih di tangan kanan, menekan beberapa menu di handphone. Duduk dengan bergaya santai. Hitungan detik, dia tersenyum melihat ke layar itu.
__ADS_1
"Oke. On the way," nyatanya.
Hakiki melihat Dapi dengan wajah datar dan matanya menatap dengan tajam. Sepertinya dia memberi kode.
Dapi tertawa dan menutup mulut dengan tangan kanan. Mengerti maksud dari perilaku temannya.
Memang mereka sudah sangat akrab setelah mereka bertiga pergi ke pantai bersama Arini. Di sekolah, Arini dan Dapi sering menjemput Hakiki di kelasnya dan mereka pergi bersama ke kantin atau ke perpustakaan atau ke tempat lain. Dan setelah liburan pertama mereka ke pantai, dalam tiga minggu ini merekapun beberapa kali pergi dan hang out bareng.
Selama mereka berteman, Hakiki terus mencari di dalam otaknya, dimana pernah melihat pemuda ini dan namanya juga seperti tak asing baginya. Setelah beberapa hari dia baru teringat akan kejadian di Pasar Tanah Abang. Ternyata Dapilah yang menguntitnya. Dia bisa mengenali Dapi ketika duduk berdampingan dengan pemuda ini. Mengenali Dapi dari sisi samping dan bentuk rambut. Juga mengingat nama Dapi disebutkan Artha di telepon ketika mereka bertemu untuk menjelaskan tentang semuanya. Memang benar, Artha tak pernah menyebutkan nama Dapi dan menjelaskan status Dapi dihadapannya, karena saat itu Dapi belum pindah ke sekolah mereka.
"Oke. Dengar ya. Dengar baik-baik dan jangan lagi dibahas soal ini di kemudian hari," nyata Dapi. Mengarahkan ujung jari telunjuk kanan ke arah wajah Hakiki yang sedang fokus melihatnya. Berusaha untuk membuat suasana tidak terlalu tegang. Dapi sedikit tertawa karena malu dengan tatapan Hakiki.
"Aku bertemu dengan Papa Arini dan Kak Artha tujuh bulan yang lalu. Eh... Apakah Kak Artha juga bercerita tentang Papa mereka?" tanya Dapi tiba - tiba. Sepertinya dia spontan mengatakan itu karena takut akan salah berbicara.
Hakiki hanya menganggukkan.
"Oh." desahnya. Wajahnya kini sedikit lega. " Aku dan mereka bertemu tujuh bulan yang lalu di Bali. Mereka sengaja mencariku karena akan direkrut. Kita lewati kisah tentangku, sekarang kita fokus ke ceritamu. Begitu, kan?" tanya Dapi.
Masih tertawa kecil melihat ke arah Hakiki. Duduk santai mengarahkan badannya ke arah pemuda itu. Duduk menyamping. Paha dan betis kanannya berada di bangku taman berwarna putih. Menempel di situ. Sedangkan kaki kiri berada di bawah menapak di trotoar. Tangan kanannya juga menempel di atas badan bangku. Jadi, dia terlihat santai ketika berbicara dengan Hakiki.
Hakiki tersenyum. Kali ini kedua bibirnya berbentuk datar dan semakin lebar. Karena semakin geli melihat tingkah laku Dapi yang merasa malu di hadapannya.
"Om menawarkan aku untuk pindah ke Jakarta. Di balik misi agar aku dekat denganmu, Om juga memang mencarikan aku club untuk menyalurkan hobiku. Om memang mencarikan Club Tari Modern yang terbaik di Jakarta untukku. Selanjutnya membantu pengurusan pemindahan sekolah di tempat kita sekarang. Jadi, pada saat aku di Jakarta, ya aku memang menguntitmu beberapa kali. Karena ada seseorang yang mengintaimu. Sebenarnya bukan aku yang mengintai dan memata-mataimu tapi aku mengintai orang yang mengintaimu. Hmm.... Bingung, kan?" Dapi kembali tertawa setelah mencerna perkataannya.
"Trus...."
"Ada beberapa orang yang mengintai kalian berdua. Kamu dan Arini. Aku tau mereka adalah suruhan Chen."
"Chen?"
"Ya. Orang yang menjadi dalang penculikanmu di masa kecil," jelas Dapi.
"Kamu tau banyak tentang aku?" tanya Hakiki. Dia mengerenyitkan dahi.
"Aku tau banyak dari Kak Artha."
"Tapi aku tak tau banyak tentangmu."
"Ada saatnya kamu akan tau banyak tentangku."
"Trus...." Hakiki penasaran mendengarkan cerita Dapi selanjutnya.
"Sebentar." Tiba - tiba handphone Dapi berbunyi.
"Ya. Halo." Terdiam mendengarkan suara di balik benda itu.
"Oh. Iya mas. Mas maju sedikit lagi. Kami duduk di bangku taman. Ya. Saya memakai jaket kulit berwarna hitam. Oke." Benda elektronik itupun dijauhkan dari telinga dan jarinya menekan menu penutup untuk mengakhiri pembicaraan.
"Makanannya sudah sampai?" tanya Hakiki penasaran.
"Kurirnya sudah di depan Gelora Bung Karno, sebentar lagi nyampe," jelas Dapi.
"Masih mau denger kelanjutan ceritaku?" tanya Dapi, kepalanya sedikit maju ke arah pemuda yang ada di sampingnya. Lagi - lagi mengeluarkan tawa kecil di bibirnya yang tipis.
"Oh. Oke. Lanjut," nyata Hakiki yang pura - pura sedikit terkejut.
"Hmm.... Saat ini, kita sedang duduk di sinipun ada yang mengawasi kita," bisik Dapi.
Hakiki membeliakkan matanya. Lalu menoleh ke depan.
"Jangan bertingkah aneh, Ki. Anggap saja kamu tidak mengetahui hal itu," nyata Dapi.
Secepat kilat Hakiki mengalihkan pandang kembali ke arah Dapi dan berpura - pura tersenyum.
Dapi memundurkan kepalanya kembali. Punggungnya bersandar pada kayu di sandaran bangku. Kini kedua kakinya turun dan memijak lantai trotoar.
"Aku dan Kak Artha bergantian menjagamu. Misi kami selain melindungimu dari orang - orang yang mengintai, kami juga menjaga ketika kekuatanmu akan muncul dan berharap kami ada di situ. Jika kamu mengalami kesulitan, kami bisa cepat membantu."
"Ya. Aku tau tentang hal itu dari Kak Artha."
"Ya dan aku juga tau kejadian kamu menjebak Kak Artha pada malam Bulan Sabit beberapa bulan lalu."
"Apakah Kak Artha benar - benar cerita tentang itu?" tanya Hakiki seakan tak percaya. Dia tertawa lalu menengadahkan wajahnya memandangi daun - daun yang berada di atas kepala.
"Ah... Aku sangat jahat padanya saat itu. Menjebaknya dengan tiba - tiba."
Hakiki terkekeh dan sedikit menggelengkan kepala. Mungkin sedang mengingat bagaimana reaksi Artha ketika tertangkap basah olehnya.
"Ada apa?" tanya Dapi penasaran. Melihat Hakiki tertawa lebar. Mata pemuda itu juga sedikit menutup, berarti ada hal yang lucu di dalam pikirannya.
Lalu Hakiki menceritakan bagaimana ekspresi Artha ketika pemuda itu terjebak olehnya.
Dapipun sekarang ikut tertawa. Badannya membungkuk menahan tawa dan masih dalam kondisi duduk.
"Tapi, aku telah diselamatkan oleh Kak Artha dua kali."
"Ya. Aku dengar dari Kak Artha soal itu. Soal penculikan dan soal tato yang muncul di dadamu".
"Ah... benarkah Kak Artha cerita tentang tato itu. Wah.... Aku tak menyangka. Parah." Muka Hakiki seakan tak percaya mendengar perkataan Dapi. Dia menggelengkan kepala.
"Kita akan menjadi tim ketika direkrut, jadi memang harus tau tentang kelemahan dan kelebihan masing - masing. Itu menurutku," jelas Dapi.
"Ya. Aku tak menyalahkan Kak Artha jika bercerita denganmu tentang hal itu. Karena kitapun sekarang berteman baik."
"Hanya teman?" tanya Dapi dengan suara sedikit tinggi.
"Apa yang kamu harapkan?"
"Menjadi sahabat."
__ADS_1
"Mudah - mudahan kita bisa menjadi sahabat yang baik."
Tit... Tit... Tit..
Tiba - tiba di depan mereka terlihat kurir yang mengantar pesananan makanan membunyikan klakson. Pria itu memakai sepeda motor bebek dan ada seperti kotak di tempat duduk belakang.
Dapi langsung melompat ke depan, menghampiri pria yang bekerja sebagai kurir di salah satu cafe di daerah senayan. Melihat tagihan yang diberikan kurir, membayar dan mengambil pesanan yang diambil kurir dari kotak seperti bagasi. Lalu Dapi berulang kali mengucapkan terima kasih kepada pria yang berprofesi sebagai kurir.
"Ini nih yang aku tunggu - tunggu," nyata Dapi. Melangkah mendekati Hakiki yang masih duduk dengan posisi seperti tadi. Tak berubah.
Hakiki tersenyum.
Dapi meletakkan beberapa barang di atas bangku taman, ruang kosong di antara mereka berdua.
"Aku pesan kebab isi daging sapi. Porsi jumbo loh."
"Oh ya. Wah... pasti enak nih."
Hakiki mengambil satu bagian yang disodorkan Dapi ke arahnya.
"Dan ini minuman untukmu. Strawberry Soy Smoothies."
"Wah. Minuman apa ini?" tanya Hakiki.
"Susu soya dicampur madu dan strawberry. Jadi ada rasa asam dan manis gitu."
"Kamu pesan minuman apa?."
"Aku pesan Mango Strawberry Shake," jelas Dapi.
"Hmm.... Sepertinya kamu sangat berpengalaman dalam hal ini," nyata Hakiki sambil menyeruput minuman yang diberikan Dapi dan telah berpindah ke tangan kanannya.
Dapi tertawa kecil. Merasa senang malam ini.
Mereka berdua saling berbagi cerita perjalanan hidup masing - masing. Hakiki mengulang kembali kisah penculikan yang di alami sewaktu kecil. Selama ini Dapi hanya mendengar dari Artha, sedangkan sekarang dirinya langsung mendengar dari Hakiki.
Sebaliknya, Dapi juga bercerita mengenai perjalanan hidupnya di Bali sebelum ketemu dengan Om dan Artha. Bagaimana direkrut oleh mereka. Dapi juga bercerita bagaimana dia menemukan kekuatan pertama sekali dan apa yang dirasakan ketika menghadapi musuh yang diutus oleh Big Boss.
Mereka terlihat akrab. Hati mereka sekarang sudah terpaut. Belum sebulan Hakiki berteman dengan Dapi, tapi dia merasakan bahwa pemuda itu merupakan sosok yang perduli dengan orang lain. Bukan hanya sekedar ramah dan ulet tapi sangat penyayang.
"Jadi, apa gelar superhero-mu?" tanya Hakiki.
"Aku belum tau. Awalnya aku merasa sebagai Pengendali Air. Aku bisa mengendalikan air dan bisa merubah air itu menjadi kristal - kristal es, seperti ini," nyata Dapi. Mempraktekkan apa yang barusan dikatakan dengan cara mengembangkan telapak tangan kiri di samping Hakiki, lalu keluar uap es kristal dan membentuk es kristal padat berbentuk boneka salju. Boneka salju itu berdiri di telapak tangan dengan ukuran sekitar 5 inchi. Warna boneka salju itu putih bening seperti es batu yang ada di kulkas.
"Wah. Keren," nyata Hakiki. Matanya membeliak.
"Tapi, baru - baru ini aku mendapat kekuatan yang lain."
"Apa itu?"
Dapi tak menjawab pertanyaan Hakiki tapi tangannya mencairkan boneka salju tadi lalu mengeluarkan jurus baru. Sekarang di telapak tangan berputar angin kecil seperti angin ****** beliung mini.
"Pengendali Angin?" tanya Hakiki takjub.
"Lebih tepatnya Pengendali Udara. Aku baru mendapatkan kekuatan ini setelah pindah ke Jakarta."
"Wah. Aku iri padamu. Itu sangat keren," puji Hakiki.
Dapi tersenyum. Lalu berkata", Karena levelku sudah naik satu tingkat, jadi aku masih bingung dengan julukan superhero-ku."
Hakiki hanya terdiam. Menggigit kebab yang sudah tinggal setengah di tangannya.
"Kira - kira apa kekuatanmu, Ki?" tanya Dapi.
"Aku tak tau. Tapi aku pikir dan Kak Artha juga bilang kalau ada hubungannya dengan logam perak dan Bulan Sabit."
"Ya. Aku mendengar juga dari Kak Artha tentang itu."
"Aku pikir kekuatan itu akan keluar pada tanggal 30 Desember kemarin, pas di hari ulang tahunku tapi ternyata tidak ada reaksi sama sekali," nyata Hakiki.
"Tapi Kak Artha dan Om memprediksikan kekuatanmu akan keluar pada usia sekarang ini."
"Ya. Begitulah pendapat mereka. Tapi tato yang ada di dadaku sepertinya merupakan petunjuk baru untuk kekuatanku."
"Mungkin juga. Oh ya, aku boleh liat, Ki?"
Hakiki tak menjawab tapi langsung mengangkat baju kaos yang dipakai dari bagian bawah lalu memperlihatkan tato yang ada di dada kiri.
"Wah, pantesan kamu pingsan ketika mendapatkan itu," seru Dapi. "Sakit?" tanyanya.
"Sakit banget pada saat malam kejadian itu doang. Setelah itu tidak ada rasa sakit lagi sampai sekarang," nyata pemuda itu.
Dapi kembali menceritakan pertama kali mendapatkan kekuatannya dan merasakan ketakutan yang luar biasa.
Hakiki mendengarkan dengan sungguh - sungguh cerita temannya itu. Kemudian mereka mulai bercerita tentang keganjilan yang dimiliki Arini. Dapipun menyambut cerita itu dengan serius. Dia banyak mendengar hal itu dari Artha.
Mereka berusaha memecahkan misteri sedikit demi sedikit dalam perjalanan hidup mereka masing - masing dan misteri yang akan berlanjut setelah mereka membentuk tim di bawah naungan Ayah Arini.
Ada masa - masa kecil yang mempengaruhi kehidupan mereka pada saat remaja ini dan mungkin akan terus mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Masih banyak perjalanan hidup yang akan mereka lalui di masa depan dan berharap itu akan baik - baik saja. Takdir bisa dirubah, tapi yang pasti, langkah, rezeki, pertemuan dan maut itu tak bisa dihindari. Pertemuan mereka berdua dan pertemuan mereka dengan Artha dan yang lainnya merupakan takdir, bukan kebetulan.
Lalu lintas di depan mereka termasuk ramai karena malam ini adalah malam minggu, jadi masih banyak kendaraan yang berlalu lalang walaupun sekarang sudah jam 12 malam.
Dapi dan Hakiki pulang dengan menggunakan taksi. Hakiki diantar terlebih dahulu oleh Dapi, lalu pemuda itu baru pulang dengan taksi yang sama menuju ke rumah kostnya.
"Alangkah baiknya dia," bathin Hakiki.
*******
__ADS_1