
Sesosok tubuh yang berdiri tegak di Hutan Pohon Pinus yang membara, di bawah sinar Bulan Sabit, mengerang dengan keras. Kepalanya menengadah ke atas. Cahaya keluar dari tato Bulan Sabit di dada kiri. Cahaya itu berpendar ke atas langit. Tubuhnya yang berubah berwarna perak, hanya terbungkus dengan celana pendek. Terlihat beberapa lubang di celana karena terbakar, terkena sengatan listrik yang dikeluarkan. Seluruh rambut yang berwarna perak berdiri tegak membentuk kerucut ke atas. Kedua mata berubah menjadi warna perak secara keseluruhan, menatap tajam ke depan setelah berhenti mengerang.
Sosok itu adalah Hakiki yang berusaha untuk kembali menstabilkan emosinya.
Di hadapannya, Chen berusaha untuk menghilangkan wajah terkejut karena aksi pemuda sebagai lawannya. Tak menyangka kekuatan pemuda itu sangat besar. Aura yang terpancar di sekitar tubuhnya sangat kuat.
Di belakang Hakiki, Artha memangku Arini. Menyandarkan tubuh mungil adiknya di kedua paha. Melihat adiknya dengan perasaan hancur. Air matanya jatuh tak terbendung. Hal inilah yang sangat ditakutinya.
Sedangkan Dapi berusaha untuk merawat luka Arini. Mengoyak sedikit baju gadis yang baru dikenal beberapa bulan, di area luka tusukan. Merentangkan telapak tangan ke arah luka, berusaha untuk mengatur peredaran darah dari gadis yang tergeletak di paha Artha. Mengeluarkan udara dingin berbentuk kristal-kristal kecil dari telapak tangannya agar luka tertutup. Berusaha untuk menghentikan pendarahan. Matanya sedikit terfokus ke arah kalung perak berliontin kepala seorang gadis yang dikenakan oleh Arini.
Arini masih tak sadarkan diri.
Setelah Dapi melakukan beberapa perawatan kepada Arini, Pemuda Pengendali Air dan Udara duduk bersila untuk mengatur aliran darah di dalam tubuh. Dia sangat terluka parah. Menempelkan telapak tangan kanan ke arah perut yang terluka karena cakaran Manusia Serigala. Mengatur kembali jalan aliran darahnya ke arah luka-luka di wajah dan bagian punggung. Berusaha untuk meredakan luka di tulang rusuk dengan cara mengalirkan hawa dingin ke bagian yang sakit. Duduk bersila di samping Artha. Sedangkan Artha masih memangku Arini dan menyaksikan pertarungan Hakiki dan Chen.
Hakiki merentangkan tangan kanan dan jari-jari lurus ke depan. Terdengar suara lembut di udara. Lima benda fleksibel menyerupai untaian tali keluar dari jarinya, menyerang Chen yang ada di depan. Gerakan benda itu sangat cepat.
Chen mengelak dari serangan kelima untaian berwarna perak dengan berteleportasi.
Benda yang berada di tangan Hakiki masuk kembali ke dalam jari dengan cepat seperti pegas setelah tidak mengenai sasaran. Matanya memperhatikan gerakan Chen dengan seksama. Ketika Chen muncul di tempat lain, Hakiki kembali menyerang, kali ini untaian-untaian keluar dari kelima jari kiri. Serangan dilakukan bertubi-tubi. Dilepaskan dari ke sepuluh jarinya. Untaian berwarna perak bergelayut menyerang musuh yang memakai Baju Labu. Serangannya juga cepat mengikuti gerakan Chen yang berteleportasi ke sana kemari.
Akhirnya Chen merasa kewalahan. Lawannya menyerang dirinya secara bertubi-tubi dan sangat cepat. Oleh karena itu, Chen mengeluarkan serangan ganda. Meniup seruling dan mengeluarkan jarum-jarum kecil yang banyak, ketika berteleportasi. Sekarang setiap sudut melesatkan benda-benda yang keluar dari seruling Chen menyerang Hakiki.
"Pi, buat tameng untuk kita bertiga. Serangan Chen bisa melukai kita kalau tidak berlindung", teriak Artha.
Dapi membuka matanya. Mengangguk dengan cepat, masih dalam posisi bersila. Selanjutnya mengangkat kedua tangan ke atas, kedua telapak tangan membuka dan mengeluarkan kristal-kristal es. Semburan kristal es yang mencuat ke atas, jatuh dengan cepat ke bawah, mengembang seperti payung dan melindungi mereka bertiga. Es kristal membentuk bangunan seperti rumah eskimo. Sedangkan Hakiki masih berada di depan mereka, beberapa langkah dari hadapan mereka, di luar dari tameng yang dibuat oleh Dapi. Masih terlihat menyerang lawan.
Jarum - jarum emas berjumlah ribuan dari ke sembilan arah mata angin telah menyerang Hakiki yang berdiri tegak. Pemuda itu tak bergeming. Matanya menganalisa serangan lawan. Ketika melihat ribuan jarum menyerang, dia hanya mengangkat tangan kanannya ke dada dan meluruskan tangan itu mendatar. Punggung telapak tangan di dada tepat berada di bawah dada kiri, dimana Tato Bulan Sabit berada. Sedangkan tangan kirinya melipat ke samping tato Bulan Sabit. Telapak tangan kiri berdiri secara vertikal. Dia memfokuskan sinar tato Bulan Sabit yang keluar. Cahaya kuning keluar dari tato itu. Tubuhnya tetap berwarna perak. Percikan aliran listrik tetap berada di sekujur tubuh dan rambutnya tetap berdiri membentuk kerucut ke arah atas.
Chen telah berpindah tempat sebanyak sembilan kali mengelilingi lawan dengan gerakan acak. Setiap berpindah tempat, langsung meniupkan seruling dan mengeluarkan jarum - jarum emas dalam jumlah ratusan, menyerang ke arah lawan.
Chen merasa aneh, karena Hakiki tak bergeming sama sekali. Musuhnya juga tidak melawan. Dan akhirnya terkejut ketika melihat fenomena jarum-jarum yang disemburkan mendekati lawan yang bertubuh perak. Benda-benda kecil yang berwarna emas menancap di tubuh lawan, tapi tak melukai lawan. Ratusan jarum melebur masuk ke dalam tubuh pemuda tinggi yang bertelanjang dada.
Ketika jarum menusuk ke badan Hakiki, benda kecil berwarna emas mencair dan melebur, warna kulit di daerah tusukan berubah menjadi warna keemasan dan dalam hitungan detik menghilang. Warna kulitnya berubah lagi menjadi perak.
Ribuan jarum yang menyerang seluruh bagian tubuh Hakiki menjadi seperti itu, kecuali jika mendekati daerah tato yang bersinar, jarum emas terpental. Hakiki tetap fokus dengan sinar dari Tato yang berasal dari Bulan Sabit.
Chen sangat pucat melihat serangannya yang bertubi-tubi ternyata sia-sia. Dirinya baru melihat seseorang yang mempunyai kekuatan seperti ini sepanjang hidup. Rasa takut mulai menjalar di dalam hati.
__ADS_1
Di dalam bangunan yang terbentuk seperti rumah eskimo, Artha melihat pertempuran dengan sangat takjub. Arini masih di dalam pangkuannya, tak bergerak. Sedangkan Dapi yang duduk bersila dan berusaha untuk memulihkan fisiknya, juga terkesima dengan kejadian itu.
"Aku butuh satu tahun untuk menaikkan level kekuatanku Kak, tapi sepertinya Hakiki langsung mendapatkan kekuatannya 2 kali lipat", nyata Dapi. Wajahnya memang benar-benar menggambarkan ketakjuban yang sangat luar biasa.
Artha hanya mengangguk.
Hakiki yang berdiri tak bergeming, hanya memandang pergerakan Chen yang berteleportasi dengan sudut matanya. Itupun tidak menggerakkan kepala ketika Chen muncul secara tiba - tiba di arah mata angin yang tak bisa dilihat dengan kepala tegak lurus ke depan. Hanya matanya saja yang bergerak, menganalisa pergerakan Chen. Terkadang hanya melirik dengan matanya yang berwarna perak dan memasang telinga dengan baik agar bisa mendengar suara dari pergerakan musuh.
Hakiki menganalisa pergerakan Chen, berpindah - pindah dengan cepat secara acak dari satu arah mata angin ke arah mata angin lain. Musuhnya berteleportasi ke sembilan arah mata angin berulang-ulang dan tetap meniupkan seruling. Semburan ratusan jarum yang sia-sia dikeluarkan oleh musuh, tetap melesat ke arah tubuh Hakiki.
Jarum - jarum itu tetap menyerang, menusuk dan melebur di tubuh Hakiki. Dirinya fokus dengan pergerakan Chen, bukan dengan ratusan jarum yang menyerang. Berusaha untuk membaca pergerakan musuh. Membaca pergerakan acak musuh yang secara berulang - ulang. Akhirnya pemuda yang memiliki sumber kekuatan dari Bulan Sabit, dapat membaca pergerakan musuh selanjutnya ketika akan berteleportasi. Setelah musushnya bergerak secara acak selama empat kali putaran.
Setelah pergerakan ke empat puluh, Hakiki merasa yakin dimana posisi musuh akan berteleportasi selanjutnya. Tubuhnya sedikit bergeser ke samping kanan membentuk 67 derajat. Merentangkan tangannya ke arah mata angin Barat Daya. Dari jari - jarinya mencelat keluar lima untaian benda seperti tali berwarna keemasan. Ya, keemasan. Bukan berwarna perak, dibarengi dengan sengatan listrik yang menjalar ke benda itu.
Syuuut....
Zzzz....
Tap. Sreet.
Tepat di arah Barat Daya, Chen tertangkap oleh Hakiki. Kelima untaian benda berwarna keemasan berasal dari kelima jari tangan sebelah kanan telah menjerat kedua kaki Chen. Chen terjebak. Mukanya pucat dan melihat ke bawah. Berusaha untuk melepaskan cengkeraman dengan berteleportasi kembali tapi niatnya tidak bisa dilaksanakan karena aliran listrik yang lebih besar dari sebelumnya telah menyengat kedua kaki. Kakinya terasa lumpuh. Belum lagi rasa terkejutnya mereda, serangan berikut dari lawan telah mendarat di bagian atas tubuh, melilit perut dan dada.
Wuuuush....
Tubuh Hakiki melayang mendekati Chen, bukan tubuh Chen yang ditarik mendekatinya. Dia membuat tubuh Chen sebagai pegangan dan patok agar dapat melesat dengan cepat ke depan. Tubuhnya sangat ringan, seperti kapas yang ditiup angin.
Di depan wajah Chen, hanya berkisar setengah jengkal, terlihat wajah berwarna perak, termasuk mata dari sosok itu. Semuanya berwarna perak tak ada warna hitam dan putih. Wajah Chen sangat memucat. Memucat karena sengatan listrik yang sudah menjalar di tubuh dan semakin memucat disebabkan karena lawan sudah di depan mata. Dia menelan ludah. Terlihat jelas jakunnya bergerak turun.
Di dalam ruangan yang berbentuk rumah eskimo, Artha dan Dapi yang sedari tadi menyaksikan pertempuran itu, kini bereaksi dengan spontan. Artha membelalakkan kedua mata seakan tak percaya. Matanya semakin membesar ketika tubuh Hakiki mencelat ke hadapan Chen.
Sedangkan Dapi ketika melihat aksi yang sama, spontan berdiri, meluruskan tangannya ke depan dan mengeluarkan uap air panas untuk mencairkan ruangan berbentuk rumah eskimo. Aksinya agar bisa melihat pertempuran yang sangat hebat di depan mata mereka. Kemudian berkata pelan, "Mampos kau ndes keleng,” maki Dapi dalam Bahasa Bali.
Hakiki yang sudah mendekati tubuh Chen, melepaskan cengkraman di kedua kaki musuh. Mengangkat tubuh Chen ke atas. Cengkraman benda yang melilit bagian dada Chen, menggerakkan badan pria itu ke atas. Chen tergantung di udara. Kakinya menjauh dari tanah sejauh dua jengkal.
Kemudian Hakiki mengangkat tangan kanan, mendatar. Jari-jari dirapatkan dan membentang lurus ke depan. Dia membentuk jari tengahnya menjadi runcing seperti mata tombak sepanjang 2 inchi. Benda itu bukan berwarna perak dan berada sejajar dengan dada Chen. Sedikit lagi ujung benda yang runcing berbentuk tombak mengenai kulit di dadanya.
Ekspresi Hakiki di wajah berwarna perak, sangat dingin, terulas senyum sinis. Hakiki sedikit mengangkat ujung kanan sudut bibirnya. Wajah pemuda yang biasa berwajah Blank Face, kini tak ada lagi. Dia berkata, "Apakah kau tak belajar Kimia di sekolahmu? Jika emas bertemu dengan perak maka perak akan semakin kuat dan akan semakin berharga nilainya. Aku bersyukur bisa mengetahui itu."
__ADS_1
Chen terdiam. Mukanya memang sangat pucat. Dia mungkin tak bisa mencerna lagi perkataan Hakiki.
"Dan aku juga membaca caramu berteleportasi. Lain kali, jika kau dihidupkan kembali, cobalah lebih cerdas untuk melawan musuhmu,” ujar Hakiki sinis.
Mata Chen penuh ketakutan. Mungkin telah menyadari kesalahan dari strategi teleportasi yang terbaca oleh lawan.
"Kau telah merenggut nyawa orang yang aku cintai. Nyawa dibalas dengan nyawa. Aku kembalikan hartamu." Suara yang keluar dari mulut pemuda itu sangat datar dan dingin.
Ujung jari tengah tangan kanan pemuda, perlahan - lahan mendekat ke dada Chen. Benda itu tumbuh dan perlahan maju menusuk dada. Benda berwarna emas menusuk ke jantung Chen dengan sangat perlahan. Ini yang dimaksud dengan perkataan Hakiki akan mengembalikan harta milik Chen.
Ugh.
Darah segar menyembur dari mulut Chen.
Aaaaaaaaaaaaghh....
Chen menjerit dengan sangat keras. Kedua kakinya yang tergantung, menggelepar. Badannya meronta. Dia merasakan sakit yang amat sangat. Dirinya pernah tertikam ketika berkelahi dengan musuhnya yang lain, tapi sakit yang dirasakan ketika ditikam dengan cepat, sangat berbeda dengan cara yang dilakukan lawannya saat ini. Kepalanya mendongak ke atas. Matanya terbeliak. Perlahan - lahan darah mengucur di bajunya.
Benda sepanjang 6 inchi telah masuk perlahan dan menembus dada hingga ke punggung. Pemuda yang di hadapannya memerintahkan tangan untuk menarik benda itu keluar. Benda keemasan menyusut kembali ke jari tengah tangan kanannya dengan cepat.
Chen tersentak. Suaranya hanya sekali mengaduh, dibarengi dengan dengusan kecil dari lubang hidung. Darah segar kembali muncrat dari mulut. Kepalanya terkulai ke bawah. Matanya masih tetap terbeliak.
Wajah Hakiki sangat datar. Dia seperti pembunuh berdarah dingin. Tak ada rasa penyesalan tersirat dari wajah itu.
"Ter... ri... ma... ka... sih,” ujar Chen terbata. Dia merasa terbebas dari beban dunia ini dengan kematian yang telah menjemput. Tubuhnya terkulai lemas. Masih tergantung. Dadanya sejajar dengan pundak pemuda berwarna perak yang ada di hadapannya.
Hakiki melemparkan tubuh musuhnya ke tanah. Melepaskan cengkraman untaian yang telah berubah warna menjadi perak yang berasal dari jarinya. Wajahnya tanpa ekspresi sedikitpun. Hanya datar.
Dapi berlari dan menghampiri Hakiki yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari mereka. Mendekati Hakiki, memegangi pundak kanan pemuda itu.
"Kamu tak apa - apa?" tanya Dapi.
Dapi menatap wajah pemuda yang berwarna perak di hadapannya. Wajah itu tanpa ekspresi. Tak ada emosi yang terpasang di wajah. Datar. Tapi di balik kulit berwarna perak, Dapi masih bisa merasakan kehangatan di wajah temannya yang berparas hampir mendekati sempurna. Dia juga bisa merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
"Kembalilah ke Kak Artha, aku akan membereskan semua ini,” nyata Dapi.
Hakiki langsung teringat dengan sosok gadis yang dipangku Artha. Melesat sekali mendekati Artha. Sangat cepat dan tubuhnya sangat ringan, berkelebat dalam satu detik.
__ADS_1
Dapi yang ditinggalkan oleh Hakiki di posisi sebelumnya, membuat gerakan pada kedua tangan. Angin berkumpul pada bagian depan tubuhnya. Melemparkan angin yang berkumpul sebesar bola kaki ke arah tanah tepat di tubuh kaku Chen yang tergeletak. Angin itu menyebar ke seluruh tubuh Chen dan mengangkat mayat ke atas. Dapi membuat gerakan mengendalikan angin untuk mengangkat mayat Chen, melemparkan tubuh Chen ke dalam Hutan Pohon Pinus yang membara di malam itu. Terdengar suara letupan kecil. Dapi berdiri memandangi kobaran api yang hampir berada di sekeliling mereka. Tak berapa lama, melompat ke atas sekitar enam meter sejajar dengan jilatan api paling atas. Menahan posisinya tetap di atas dengan cara mengendalikan angin di kedua kakinya sebagai tumpuan. Tubuh kecilnya, mengambang di udara. Merentangkan kedua telapak tangan ke arah api yang berkobar yang membakar Pohon Pinus. Dari telapak tangan keluar kristal-kristal kecil menderu dengan cepat, berusaha untuk mematikan api yang sedang berkobar di hutan agar tidak menjalar lebih jauh.
*******