
- 4 Oktober 2011 -
"Hallooooooo.... Selamat pagi sahabatku yang paling ganteng." Kepala Arini menyembul dari balik pintu ruangan Kelas 10-2.
Hakiki yang masih duduk sendirian di ruangan, terkejut. Dia sedang mendengarkan musik dari handphone dengan menggunakan earphone. Cuma 1 eartip yang disumbatkan ke lubang telinga. Jadi masih bisa mendengar siapa yang menegurnya. Hakiki melihat ke arah sumber suara. Ketika melihat sosok Arini, wajahnya otomatis tersenyum. "Pagi sayang", jawabnya manja. "Arini, sini bentar deh."
Tanpa disuruh juga, Arini bakal mendekati pemuda itu. Setiap pagi hal ini dilakukannya. Dalam sekejap, berlari kecil mendekati sahabatnya dan berdiri tepat di samping.
Hakiki menyambut dengan berdiri, biasanya tidak seperti ini. Biasanya, hanya duduk memasang wajah datar. Kini dia berdiri lalu menjulurkan tangan kanannya. "Selamat Ulang Tahun ya sahabatku tersayang. Semoga menjadi Haji Mabrur," canda Hakiki. Tertawa geli. Suara tawa hanya sekali dan pendek. Mulutnya membentuk kotak. Matanya sedikit menyipit.
Arini reflek memukul pelan dada Hakiki. "Kok Haji Mabrur sih."
"Oh. Sakit," Ringis Hakiki. "Iya... iya.... Semoga diberi umur yang panjang dan diberi rezeki yang banyak, tambah cantik dan tidak melupakan aku." Lalu Hakiki memeluk Arini dengan erat.
__ADS_1
"Makasih ya, Ki." Arini balas memeluknya. "Dan makasih juga sudah menemani aku selama hampir 4 tahun ini."
"Aku juga. Makasih banget kamu sudah merawat aku dan selalu ada ketika aku lagi butuh seseorang untuk memahami aku," balas Hakiki.
Mereka masih berpelukan.
Di menit berikutnya, Arini berusaha untuk melepaskan pelukan dari Hakiki namun pemuda di hadapannya belum mau melepaskan pelukan hangat itu. "Udah deh. Nagih nih kayaknya," seru Arini ketus.
"Biarin dulu. Aku pengen seperti ini sebentar lagi," jawab Hakiki manja.
"Lebih penting baju daripada aku ya?" tanyanya Hakiki manja. Kali ini dia sudah melepaskan Arini dari pelukannya. Memasang wajah cemberut tapi manja. Matanya sengaja dipasang sedih disesuaikan dengan mimik wajah saat itu.
Arini tertawa. "Dasar kamu." Arini mencubit kedua pipi Hakiki. Menggoyang kepala pemuda itu dengan menempelkan kedua telapak tangan di kedua sisi pipi, setelah mencubitnya "Udah ah, aku mau ke kelas," nyata Arini. Melepaskan kedua telapak tangan yang ada di pipi sahabatnya.
"Eh... wait," ujar Hakiki.
__ADS_1
Langkah Arini tertahan. Melihat Hakiki yang bergerak mengambil tas. Memandang pemuda itu membuka tas dan mengambil sesuatu dari dalam. Ada kantong kertas kecil berwarna merah muda dengan tali di atasnya. Hakiki menyodorkan benda itu kepadanya. "Apa ini?" tanya Arini.
"Kado untukmu."
"Kiki.... kamu tak perlu repot." Arini mengambil kantong dengan wajah sumringah. Bergegas membuka dan mengeluarkan isi kantong. Ada kotak kecil berwarna hitam dibalut dengan pita bersilangan berwarna merah di atas kotak.
"Eits... jangan buka di sini. Ntar aja bukanya. Di kelas atau di rumah," seru Hakiki.
Gerakan Arini tertahan. Melihat ke mata Hakiki. Diam sejenak.
Hakiki tertawa kecil.
"Makasih ya, Ki." Arini secara spontan mendekati bibirnya ke pipi Hakiki lalu mengecupnya. Tersenyum dan segera pergi keluar dari kelas itu setengah berlari.
Hakiki terdiam. Tak ada suara sedikit pun keluar dari mulut tapi bibirnya terbuka sedikit. Pipinya memerah. Baru kali ini Arini menciumnya. Dia benar-benar keluar dari kehidupan nyata beberapa detik. Jiwanya melayang. Berusaha menyadarkan diri di menit selanjutnya dan terduduk di bangku. Tangannya menggapai earpit sebelah kanan yang masih tergantung, sedangkan yang sebelah kiri masih tersumbat di telinganya sejak tadi. Tangan kanannya membesarkan suara musik di handphone. Mulutnya masih terbuka. Melongo.
__ADS_1
*******