Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
(Hakiki Hulmi) Episode 19


__ADS_3

So Far Away


 


-11 September 1997-


Sudah hampir dua tahun Artha berteman dengan Dio. Bagas juga sudah mengetahui asal-usul Dio dan sudah bertemu beberapa kali dengan orang tua teman anaknya itu. Selama dua tahun terakhir, sudah dua kali Bagas dan istrinya bertemu dengan orang tua Dio.


Awal pertemuan, lima bulan setelah Artha dan Dio berteman, Bagas dan Tiara tanpa membawa Arini dan Artha pergi ke perkampungan Suku Maori di malam hari. Tentu saja penduduk lokal sangat terkejut dengan kedatangan orang asing. Mereka melihat bahwa ras dari kedua pasang manusia bukan dari Eropa yang kebanyakan menduduki Selandia Baru. Tapi kulit kedua pasang manusia sedikit mirip dengan Suku Maori, walaupun lebih putih.


Seorang pria bertubuh tegap maju ke depan. Pria bertubuh tegap dengan otot-otot yang menyembul di daerah dada, tidak menggunakan busana. Hanya celana pendek yang menutupi auratnya. Itupun tidak sampai ke lutut, hanya sampai ke tengah paha. Pria bertubuh tegap memiliki tato yang sangat banyak di sekujur tubuh, termasuk di kaki dan betis. Pria berkulit sawo matang berjalan ke depan. Di belakangnya beberapa puluh pria dan remaja berbaris menutupi pintu gerbang perkampungan mereka. Berjalan dengan gagah membawa sebuah tombak dan memegang sesuatu di tangan kirinya. Setelah beberapa langkah pria bertubuh tegap berhenti. Di hadapannya, telah berdiri diam dengan gagah pula, pria bertubuh tegap hampir berbanding sama dengan pria dari Suku Maori. Di sampingnya dengan ayu, berdiri istrinya yaitu Tiara.


Kini, pria bertubuh tegap penuh dengan tato berasal dari Suku Maori menatap ke depan. Menatap kedua pasang manusia yang memakai baju mantel tebal dan panjang untuk melindungi diri dari udara dingin. Setelah beberapa menit terdiam dan menatap mereka, pria bertubuh tegap yang merupakan perwakilan dari Suku Moari melangkah sebanyak dua langkah mendekati Bagas. Meletakkan benda yang berada di tangan kirinya ke atas rumput, tepat di hadapan Bagas. Hanya berjarak setengah jengkal dari kakinya. Kemudian pria bertato itu mundur perlahan.


Bagas melihat ke bawah, begitu juga dengan istrinya. Bagas tersenyum. Kemudian menunduk dan mengambil benda yang berada di rerumputan. Benda yang diletakkan oleh pria perwakilan dari Suku Maori. Benda itu adalah sebatang dahan kecil. Kemudian Bagas berdiri dan memasang senyum. Suku Maori mempunyai adat istiadat yaitu meletakkan dahan kecil kepada tamu yang tak dikenal. Hal ini menyatakan bahwa prilaku ini sebagai simbol perdamaian. Jika orang asing yang datang mengambil dahan kecil yang diletakkan di atas tanah atau rerumputan, maka mereka membawa misi perdamaian. Datang ke pemukiman Suku Maori dengan damai. Maka akan disambut dengan baik. Tapi jika sebaliknya, dahan kecil tidak diambil dan berjalan melewati dahan itu, maka Suku Maori menyimpulkan orang asing yang datang ke pemukiman mereka membawa rencana peperangan, maka mereka akan siap meladeni. Setelah hidup beberapa tahun di Selandia Baru, Bagas mengerti akan kebiasaan ini.


Ketika Bagas tersenyum, maka pria bertubuh besar dan bertato juga ikut tersenyum. Mendekati Bagas dan memberikan Salam Hongi, salam khas Suku Maori. Yaitu menempelkan ujung hidung ke hidung lawannya dengan lembut. Setelah melakukan Salam Hongi kepada Bagas, pria besar itu mendekati Tiara dan juga melakukan Salam Hongi. Kemudian mempersilahkan masuk menuju ke perkampungan. Para penjaga yang merupakan pria bertubuh besar yang sedang berbaris juga tersenyum lebar. Awalnya, belasan pria yang memasang wajah tegang, kini melepaskan senyum yang sangat ramah.


“Om...!” jerit seorang anak kecil.


Bagas melihat lurus ke depan ke arah sumber suara. Anak kecil yang memakai bandana berwarna merah berlari ke arahnya.


“Dio...” seru Bagas. Berjongkok dan menyambut tubuh kecil ke dalam pelukannya. Mereka sudah terlihat akrab, karena Dio setiap sore ke rumah mereka.


Dio masuk ke dalam pelukan Bagas, melepaskan pelukan dan bergeser ke arah Tiara yang sedikit berjongkok.


“Tan...,” serunya pula.


Tiara yang sedikit berjongkok mengelus punggung Dio yang tidak memakai baju.


Dio tersenyum. Dalam lima bulan berteman dengan Artha, anak kecil yang berusia hampir lima tahun -dua tahun beda dengan Artha- telah terbiasa memanggil Bagas dengan sebutan Om dan memanggil Tiara dengan sebutan Tan. Tapi dia belum lancar berkomunikasi dengan mereka berdua. Hanya Artha yang mengerti Bahasa Tubuh Dio.


“Bapak mengenal anak ini?” tanya pria bertubuh tegap dengan berbahasa Inggris.


Bagas terkejut. Terkejut karena pria yang menghadangnya tadi lancar berbahasa Inggris. Tiara juga menoleh ke arah pria bertato dengan tersenyum kecil. Dirinya masih memeluk Dio yang berada di pinggulnya. Sedangkan Dio terdiam melihat Bagas dan pria bertato.


“Ya. Saya mengenalnya. Anak kecil ini setiap sore bermain dengan anak saya, di rumah saya di Kota Kimbolton,” jelas Bagas sembari menoleh ke arah Dio. Sedikit menundukkan pandangan ke bawah, mengarah ke Dio.

__ADS_1


“Tapi Bapak memanggil namanya dengan kata Dio?” tanya pria yang memiliki brewok dan berambut gondrong.


“Ya. Bukankah namanya Dio?” tanya Bagas melihat ke arah pria yang berbadan tegap.


“Bukan. Namanya adalah Akahata. Dia anak Kepala suku kami,” jelas pria itu dengan wajah serius.


“Oh.” Kerutan kecil terlihat di dahi Bagas.


“Mengapa Bapak memanggil anak Kepala Suku kami dengan nama Dio?” tanya pria bertubuh tegap dengan rasa penasaran.


“Dia sering mengucapkan kata itu ketika pertama kali berteman dengan anak saya. Kata itu diucapkan sambil meletakkan telapak tangan kanannya ke dada anak saya,” jelas Bagas.


Pria berambut gondrong terdiam. Dia mengelus brewoknya. Termenung.


“Ada yang salah dengan ucapan saya?” tanya Bagas penasaran.


“Dimana anak Bapak sekarang?” tanyanya juga dengan wajah serius.


“Di rumah. Ada apa?”


“Sebelum bertemu dengan Kepala Suku kami, saya ingin menjelaskan perihal perkataan yang diucapkan oleh Akahata. Boleh saya jelaskan sebentar?” tanyanya dengan sopan.


“Dio berasal dari Bahasa Suku Maori yang berarti Tuhan. Dia mengucapkan hal itu karena ada yang dilihatnya dari diri anak Bapak. Karena itulah saya merasa penasaran dengan anak Bapak yang berteman dengan Akahata. Anak pertama dari Kepala Suku kami mempunyai kelebihan. Akahata bisa berbicara dengan segala jenis hewan di seluruh Selandia Baru ini,” jelas pria yang menjadi perwakilan dari Suku Maori.


Bagas terperanjat. “Benarkah?” Menoleh ke arah Dio yang tersenyum kecil. Mungkin dia tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Tiara, istri Bagas juga terkejut mendengar akan hal itu.


“Sebaiknya, dengan cepat saya bawa Bapak dan istri untuk menghadap Kepala Suku kami. Silahkan...,” tawarnya dengan menjulurkan telapak tangan kanan menunjuk ke arah gerbang utama sebagai pintu masuk ke pemukiman mereka.


Bagas menoleh ke arah istrinya dan mengangguk kecil. Mengikuti pria yang bertubuh penuh tato tadi. Bagas sangat salut dengan pria ini. Salut dengan Bahasa Inggrisnya yang lancar dan salut dengan kesopanan dan tata kramanya.


Tiara, istri Bagas, bergerak mengikuti suaminya dari belakang dengan memegangi pergelangan tangan anak kecil yang memiliki nama asli Akahata.


Itulah pertama sekali kisah Bagas dan Tiara berkunjung ke pemukiman Suku Maori.


Kini mereka sekeluarga kembali bertemu dengan Kepala Suku. Malam ini mereka diundang untuk menginap di pemukiman Suku Maori, tentu saja Artha dan Arini dibawa serta. Artha yang akan menginjak umur lima tahun, sedangkan Arini akan berumur genap dua tahun.

__ADS_1


Malam yang cerah, begitu banyak bintang di langit. Sinar rembulan menyinari malam menambah kesan ceria di malam ini. Awal musim semi telah tiba di tahun ini. Saat ini merupakan Musim Semi kedua bagi keluarga kecil Bagas di Selandia Baru.


Mereka sengaja diundang oleh Kepala Suku Maori yang bermukim di pinggiran Kota Kimbolton. Diundang untuk makan malam dan menginap di pemukiman Suku Maori. Dengan senang hati Bagas menerima undangan dari Ayah Akahata atau biasa dipanggil Dio oleh mereka. Nama Dio tak lekang walaupun mereka sudah mengetahui nama asli dari anak kepala Suku Maori yang sudah berusia tujuh tahun pada tahun ini.


Mereka dijamu dengan makanan khas Suku Maori. Jamuan makan malam disajikan di halaman utama pemukiman. Begitu ramai dan penuh semangat suasana di pemukimana Suku Maori malam ini. Setelah makan malam yang begitu lezat, mereka dihibur dengan tarian diiringi alat musik sederhana oleh Suku Maori.


Keluarga Bagas sudah sangat dekat dengan keluarga Dio. Bagas dan istrinya berbincang dengan Kepala Suku Maori yaitu Ayah Dio dan istrinya juga ikut serta. Banyak hal yang mereka perbincangkan. Dari kebiasaan positif Suku Maori yang begitu banyak melindungi tanah leluhur ini. Contohnya adalah Tiaki Promise atau perjanjian Tiaki. Yaitu perjanjian yang sengaja dibuat yang diadopsi dari kebiasan Suku Maori. Warga Selandia Baru percaya hidup berdampingan dengan alam berarti harus menjaganya agar tetap lestari. Sebagai negara yang diberkati dengan alamnya yang indah dan beragam, serta berbagai habitat flora fauna yang unik, Selandia Baru memiliki satu solusi yakni Tiaki Promise. Perjanjian ini merupakan sebuah janji yang harus ditepati oleh setiap pengunjung dan warga Selandia Baru untuk menjaga alam agar dapat dinikmati sampai ke anak cucu.


Bagas juga bertanya mengenai kerajinan tangan yang dibuat oleh Suku Maori yaitu tenunan dan pahatan. Kerajinan tangan yang terkenal secara mendunia merupakan pekerjaan rutin yang dilakukan oleh Suku Maori. Menenun adalah pekerjaan yang dilakukan oleh kamu wanita, sedangkan memahat dilakukan oleh kamu pria.


Perbincangan paling lama yaitu pembahasan yang dilakukan Bagas dan Kepala Suku adalah mengenai bakat alami yang dimiliki oleh Akahata atau Dio. Bakat yang sudah dimiliki semenjak Dio pandai berbicara. Ayahnya yaitu Kepala Suku Maori di pinggiran Kota Kimbolton telah mengetahui bahwa anak sulungnya memiliki kelebihan semenjak istrinya mengandung Dio. Ada beberapa petunjuk tentang kekuatan yang dimiliki Dio ketika masih di dalam kandungan. Setiap hari para binatang yang berbeda mendatangi pemukiman Suku Maori untuk mendekat ke istrinya dan mengelus perut istrinya dengan kepala mereka, seakan-akan hewan yang datang ingin dimanja. Ditambah lagi dengan mimpi yang memberitahukan bahwa anak sulungnya akan menjadi seseorang yang penting di Selandia Baru ini suatu saat nanti.


Bagas mendengarkan cerita Kepala Suku Maori dengan baik. Dia tak ingin membahas tentang Artha dan prediksi kekuatan yang akan muncul di diri Artha. Tapi, Kepala Suku ini mungkin punya intuisi yang lebih baik daripada dirinya. Kepala Suku yang memiliki beda usia sepuluh tahun dengan Bagas menyatakan kepada Bagas dan istrinya untuk mendidik dan menjaga kedua anak mereka dengan baik. Agar memberikan pelajaran yang baik selama di Selandia Baru sebelum kembali ke asal mereka.


Bagas termenung. Dia yakin bahwa Kepala Suku mengetahui sesuatu tentang keluarga kecilnya.


*******


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2