Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Winter Bear : Ep. 46


__ADS_3

Sudah hampir sebulan kepergian Arini dari kehidupan normal Hakiki. Sekarang, dia sering melakukan segala aktifitas bersama Dapi dan kelima anggota lainnya.


Hakiki dan Dapi memang sekolah di tempat yang sama. Sedangkan yang lain sekolah di tempat yang berbeda - beda. Panca sekolah di salah satu SMP di Jakarta sedangkan Artha mahasiswa di salah satu Universitas Negri di Jakarta.


Mereka bertujuh sekarang fokus dengan kerja sama tim. Setelah pulang sekolah mereka kembali ke markas yang disediakan oleh Om Bagas. Palingan seminggu sekali mereka pulang ke rumah atau kost masing - masing.


Mereka bertujuh berusaha untuk melatih dan mengembangkan kekuatan masing-masing, tapi Panca belum juga memperlihatkan kekuatannya sampai saat ini. Sehari-hari, hanya menemani kakak-kakaknya dan berlatih secara fisik. Mereka berenam dan Om Bagas belum melihat petunjuk kekuatan yang akan dimiliki oleh anak laki - laki itu. Tapi, di sela-sela latihan dari ke enam pemuda lainnya, Panca selalu menjadi perhatian bagi Om Bagas. Dia melihat ada sedikit keganjilan dari diri Panca.


Artha berusaha mengajari Panca cara memanah. Sedangkan Dapi berusaha mengajari Panca ilmu meringankan dan kelenturan tubuh.


Kalau Hakiki mengajari Panca dalam bidang fotografi, tidak ada hubungan dengan ilmu superhero-nya tapi sangat serius mengajari anak laki - laki termuda di tim mereka.


Habibi adalah yang terpintar dari ketujuh pemuda. Dia mengajari Panca Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Juga mengajari Panca cara berfokus dengan sesuatu hal karena Habibi mempunyai kekuatan dapat menggerakkan benda - benda di sekitarnya dan sudah mendapatkan level kedua yaitu berteleportasi.


Lain dengan Yusuf, dia mengajari Panca dengan hal yang berhubungan dengan kekuatannya yaitu suara. Yusuf lebih sering mengajarkan Panca berdendang daripada mengajarkan ilmu superhero-nya. Dan soal kebersihan Yusuf juga selalu mengajarkan anak laki - laki itu tapi belum berhasil karena karakter Panca yang tidak rapi belum bisa dikendalikan.


Panca mendapatkan hal yang menarik dari Siddik yaitu akhlak. Dia mendapatkan ilmu yang berhubungan dengan kebaikan, tata cara berbicara, kesopanan di hadapan orang yang lebih tua dan beberapa ilmu tata krama lainnya.


Anak laki - laki ini menyerap pribadi dari ke enam kakak-kakaknya dan belajar dengan cepat. Seakan tumbuh dari 6 karakter pemuda.


Panca sangat tertutup. Lebih sering diam ketika berkumpul dengan yang lain. Melihat perilaku ke enam kakak - kakaknya, seakan dia merekam perilaku mereka ke dalam pikirannya. Terkadang menyendiri. Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya. Di saat Panca sering berperilaku menyendiri dan lebih banyak diam, saat itulah Dapi sebagai anggota yang memiliki karakter yang lebih bijaksana dari yang lain, menghibur anak laki – laki itu agar tetap semangat dan kembali ceria.

__ADS_1


Om Bagas sangat tertarik dengan ke - 7 pemuda. Dia yakin bahwa para pemuda yang telah diawasi sejak mereka kecil, akan merubah dunia dengan cara mereka sendiri.


*******


- 01 Maret 2012 -


Panca merentangkan busur panah milik Artha di dada. Tubuhnya miring ke kanan. Matanya membidik sasaran di depan. Melesatkan anak panah dengan cepat. Sasaran di depan adalah Habibi yang langsung berteleportasi dengan cepat ketika anak panah itu melesat dan mendekatinya.


"Jangan bernafsu untuk mengenai Habibi sebagai sasaranmu karena tak akan bisa mengimbangi itu. Tahap awal kamu hanya mengimbangi kecepatannya terlebih dahulu. Mengambil anak panah dengan cepat dan membidik ke arahnya berkali-kali," jelas Artha kepada Panca.


Anak laki - laki yang memliki batang hidung yang tinggi, hanya mengangguk. Terus mengambil anak panah dari punggungnya dan melesetkan ke arah Habibi yang berpindah - pindah tempat.


Artha sangat bangga dengan adik bungsu mereka. Dia bisa belajar dengan cepat.


"Sekitar umur 10 tahun."


"Kak Artha kaget ketika tau ada yang aneh di dalam diri kakak?" tanyanya lagi.


"Ya. Aku sempat menangis ketika aku membakar kasur di kamar tidurku."


"Setiap orang di sini mendapatkan kekuatan di umur yang sama kak?"

__ADS_1


"Tidak. Setiap orang berbeda dalam mendapatkan kekuatan, tapi yang pasti dari kami berenam, kekuatan itu muncul sebelum 17 tahun." Artha menjelaskan hal itu sembari memerintahkan Panca untuk tetap fokus.


Anak laki - laki di hadapan Artha terdiam.


"Sabar. Kekuatanmu pasti akan muncul. Hanya tinggal menunggu waktu saja," nyata Artha. Pemuda yang merupakan paling tua dari timnya, menebak hati anak laki - laki yang berada di sampingnya, menafsirkan bahwa anak itu memikirkan akan kekuatannya yang belum muncul.


Panca termenung. Dia adalah seorang anak laki-laki yang tertutup. Raut wajahnya menyembunyikan sesuatu. Bukan masalah ilmu dan kekuatan yang dipikirkannya, tapi ada hal lain.


"Kakak pernah merasa hidup di dalam tubuh orang lain?"


Artha mengerutkan kening ketika mendengar pertanyaan dari anak laki - laki yang sudah seperti adik bungsu bagi mereka.


"Tidak. Kenapa?"


"Ah... tidak apa - apa, Kak. Aku hanya sekedar bertanya."


Artha mengelus kepala anak laki-laki beberapa kali. Wajah Artha terlihat sedih. Dia teringat Arini.


 


*******

__ADS_1


 


 


__ADS_2