
27 November 2011 -
Pemuda berbadan kurus tinggi memakai baju dan celana serba hitam melompat dari satu atap ke atap yang lain di komplek perumahan. Bajunya sangat ketat, lekat di tubuh. Wajah dan kepalanya tertutup dengan masker kain. Di punggungnya tersemat busur dan anak panah dengan wadah.
Dia melompat dengan lincah dan gesit. Sepertinya sudah sangat hafal dengan seluk beluk rute yang dilalui, saat ini.
Tap. Tap. Tap. Kresek......
Tubuhnya yang ramping masuk ke dalam rimbunan dedaunan pohon yang berdiri tegak dan subur di depan rumah Hakiki. Posisinya setengah berjongkok. Kaki kanan menjadi tumpuan, bagian atas kaki merapat ke dada. Kaki kanan berlipat.
"Mudah-mudahan anak itu sudah tidur," bisiknya kepada diri sendiri.
" Ya, pasti sudah tidur dong. Sekarang sudah jam 2 malam," bisiknya lagi kepada diri sendiri, tentunya.
"Tapi... biasanya, dia terbangun dan melihat Bulan Sabit". Lagi-lagi berbicara dengan diri sendiri. Menatap ke atas langit, berusaha melihat Bulan Sabit dari rimbunnya daun-daun di pohon.
"Mana Bulan Sabitnya? Apa aku salah jadwal?" tanyanya lagi.
"Ah... mengapa aku seperti orang gila berbicara sendiri. Kampret," makinya. Tentu saja untuk dirinya sendiri.
Pemuda itu adalah Artha yang setiap bulan, dua kali akan datang ke rumah Hakiki pada saat Bulan Sabit muncul. Awal bulan dan akhir bulan berdasarkan Kalender Hijriah, bukan Kalender Masehi. Dia harus mengecek Hakiki pada saat Bulan Sabit setiap bulan karena prediksinya, kekuatan Hakiki akan keluar pada saat itu. Tapi sudah hampir satu tahun Artha mengintai dengan sabar, kekuatan pemuda itu belum muncul. Masih terlihat tanda-tandanya saja.
"Aku harus mendekat, melihat dari teras," lirihnya. Dia hanya perlu melompat sekali, mengerahkan kekuatan ke kaki kanannya, menggenjotkan sekali maka sudah sampai ke teras itu. Itu rencana yang ada di dalam pikirannya.
"Semoga dia tertidur pulas," bisiknya. Memasang ancang-ancang.
Namun... tiba-tiba disampingnya terdengar suara seseorang.
"Kakak mau kemana?
__ADS_1
"Aaaaaaah..., Ya Allah...." jerit Artha dibalik topeng. Menoleh ke samping kanan. Matanya melotot seakan mau keluar. Wajahnya sangat terkejut. Masker kain seakan ingin terlepas dari depan mulut. Sikap wibawanya dari tadi hancur seketika dengan jeritan histerisnya yang sedetik ini.
Suara itu keluar dari mulut Hakiki. Ternyata yang bertanya tadi adalah Hakiki. Dia duduk berjarak sekitar 10 jengkal dari Artha. Duduk di dahan pohon, santai, kedua kakinya menjulur ke bawah dan bergoyang seperti duduk di ayunan mainan anak-anak di Taman Kanak-kanak. Wajahnya datar melihat Artha.
"Kamu sedang apa di sini...?" teriak Artha. Suaranya terdengar nyaring di tengah malam yang hening.
"Loh... seharusnya aku yang bertanya, kakak ngapain malam-malam di sini?" tanya Hakiki datar. Suaranya pelan dan santai. Masih duduk dengan posisi yang sama, menatap Artha dengan mata sendu, tak bergerak satu inchipun dari posisi sebelumnya.
"Kita tidak saling kenal, jangan sok akrab," seru Artha. Masih mengeluarkan suara penuh kepanikan. Wajahnya sengaja dipalingkan ke arah lain. Masker kain dirapikan agar wajahnya tak terlihat.
"Siapa bilang kita tidak saling kenal?" tantang Hakiki pelan. Santai.
"Aku. Aku. Akuuuuuuu... yang barusan ngomong kalau kita tidak saling kenal," jawab Artha. Nada dari suaranya masih tinggi dan was-was. Kepalanya bergoyang. Hatinya sangat jengkel karena terjebak oleh anak muda yang berumur tiga tahun di bawahnya.
"Kak Artha, kan? Alias Pemanah Api?" tukas Hakiki. Suara dan gelagatnya juga masih santai dan masih berada di dahan. Kini... Hakiki tertawa kecil. Suara yang dikeluarkan sangat pendek.
"Waaaah.... kamu sok tau!!!!" bantah Artha. Suara dan nada bicaranya semakin tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang pahlawan yang berwibawa. Ditambah lagi dengan gerakan kepala yang menggelikan. Kalut.
Kali ini Hakiki tertawa geli dengan kelakuan Artha. Terbayang di pikirannya, pertemuan pertama dengan Artha di rumah Arini beberapa bulan yang lalu. Wibawa yang disandang oleh pemuda di hadapannya, sangat membuatnya segan. Tapi di sisi lain, pemuda yang menolongnya di masa kecil, tingkah lakunya sangat menggelikan, saat ini.
"Enggak. Aku hanya..... Aaaghhhhh...." Hakiki meringis. Memegang dadanya dengan tangan kanan. "Aaaaaghhhh.... Kali ini menjerit lebih keras.
"Kiki....," lirih Artha pelan." Jangan bercanda," serunya panik.
Hakiki masih memegang dada dengan tangan kanan. Wajahnya pucat. Keseimbangan badannya mulai goyah. Tangan kiri yang berpegangan pada dahan tak bisa menahan tubuh. Tubuhnya terasa lemas dan mulai lunglai, jatuh ke bawah.
"Kikiiiii...," jerit Artha. Dengan cepat melompat ke bawah pohon.
Tap.
Memasang kuda-kuda di atas tanah, memantapkan kaki lalu menangkap tubuh Hakiki yang jatuh seperti burung yang kena ketapel.
Dug.
__ADS_1
“Aagh....” Jerit Artha. "Ternyata anak ini berat juga," ujarnya sambil meringis.
Untung Artha dengan cekatan langsung melompat ke bawah dan menangkap badan Hakiki. Seandainya tadi, dia menangkap dengan cara lain yaitu berusaha menangkap tangan Hakiki dari atas pohon, maka itu tidak akan sempat dilakukan, Hakiki sudah terjerembab ke tanah.
Hakiki pingsan. Entah apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Artha berusaha membopong Hakiki menuju teras rumah yang berada di bawah. Sesampai di sana, menidurkan Hakiki di lantai. Membuka masker kain yang menutup wajah dan dengan cepat Artha memeriksa denyut nadi di leher Hakiki.
"Pingsan...," lirihnya setengah berbisik. "Hakiki, bangun.... Kamu tidak apa-apa?"
Artha berusaha menepuk-nepuk pipi Hakiki dengan pelan. Tak mau orang di rumah Hakiki terbangun karena keadaan ini dan mereka menjadi curiga. Dicobanya lagi menepuk pipi Hakiki.
"Bangun, Ki," nyatanya, tentu saja dengan suara pelan.
Artha memeriksa badan Hakiki, mencari sesuatu yang menyebabkan pemuda ini pingsan. “Apakah tiba-tiba kepala anak ini pusing?” pikirnya.
Hakiki sedikit menggerakkan mata kanan. Berusaha untuk membuka mata.
Wajah Artha sedikit cerah. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Artha.
"Kak, bisa tolong bawa aku ke kamar. Kalau di sini takut Ayah dan Ibu tahu kondisi kita," pinta Hakiki setengah terbata. Pemuda ini terlihat sadar akan keadaannya.
Artha berusaha mengangkat badan Hakiki. Menggendongnya kembali.
"Aku bisa jalan, Kak. Buka saja pintunya, tidak dikunci karena aku keluar tadi."
Artha berusaha mendirikan Hakiki agar bisa berjalan dan membopongnya. Berjalan menuju pintu utama masuk ke dalam rumah. Perlahan-lahan membuka pintu dan dengan perlahan-lahan juga membopong Hakiki, agar tidak ada suara sedikitpun. Menyangkutkan tangan kanan Hakiki di pundaknya.
Artha berusaha dengan sangat keras untuk tidak menimbulkan suara, dari pintu masuk sampai menuju tangga. Selanjutnya menaiki anak tangga yang berbentuk L perlahan - lahan agar tidak menimbulkan suara yang keras ketika sudah memasuki ruangan. Memperhatikan Hakiki yang sesekali memegangi dada dan mendengar sedikit rintihan pemuda yang dikuntitnya selama ini. Mungkin Hakiki memang sengaja menahan rasa sakit.
Sekitar 15 menit, mereka berusaha untuk menaiki tangga perlahan-lahan. Tak jauh dari anak tangga yang teratas, Artha melihat kamar Hakiki. Langsung menuju pintu yang bercat warna putih. Membawa Hakiki masuk, kali ini tidak membopong lagi di pundak, tapi langsung menggendong Hakiki di punggungnya supaya cepat masuk ke dalam kamar.
Tentu saja Hakiki terkejut.
Artha tak perduli dengan ekspresi pemuda yang digendong. Membuka pelan pintu kamar dan berusaha bergerak dengan hati - hati agar kepala Hakiki tidak terbentur dengan pintu atau dinding kamar. Mereka masuk ke dalam kamar. Artha langsung menuju ke tempat tidur yang terbuat dari besi, merebahkan Hakiki yang berada di punggungnya ke tempat tidur.
__ADS_1
"Aaaaaah...." lirihnya ketika meletakkan Hakiki di tempat tidur. Berbalik dan memperbaiki posisi tidur Hakiki. Memasukkan kedua kaki pemuda itu ke dalam selimut. Duduk di pinggir tempat tidur, melihat wajah Hakiki yang pucat. Sepertinya Hakiki kembali pingsan. Artha sesekali memegangi kening pemuda itu, dia ingin merasakan suhu tubuhnya. "Normal," lirihnya.
*******