
So Far Away
Dio berjalan di depan, memimpin. Kali ini dia memakai mantel berbulu dari kulit rusa yang memang sudah ditemukan mati oleh ayahnya. Mantel berbulu dikancingkan dengan ketat. Penutup kepala yang berbulu di seluruh pinggiran berwarna coklat muda, disematkan ke kepala.
“Ayo,” serunya dengan penuh semangat ke arah Artha.
Artha mengikuti Dio dengan wajah penasaran.
Lima belas menit yang lalu, Dio membangunkannya di tengah malam. Artha turun dari tempat tidur yang terbuat dari kayu pohon Rhododendron ketika melihat Dio masuk ke dalam kamar tempat keluarganya tidur yang disediakan oleh Kepala Suku Maori, tak lain adalah ayah Dio. Berlari kecil dengan perlahan, berusaha untuk tidak membangunkan orang tuanya. Artha tak berisik sama sekali sesuai dengan aba-aba Dio yang menempelkan jari telunjuk kanan ke bibir secara tegak lurus.
Ketika berada di luar rumah, Dio berkata bahwa ingin menunjukkan sesuatu kepada Artha. Tentu saja dirinya sangat tertarik karena selama berteman dengan Dio, semuanya menjadi lebih seru dalam permainan mereka. Untuk urusan permainan, Artha nomor satunya.
“Sebentar lagi sampai,” nyata Dio dalam Bahasa Inggris kepada Artha. Selama ini mereka berkomunikasi dengan bahasa campuran. Inggris lebih dominan, dicampur dengan Bahasa Maori dan Bahasa Indonesia. Sebelumnya, enam bulan pertama berteman, Artha berkomunikasi dengan membaca Bahasa Tubuh dari temannya itu dan Artha mempergunakan Bahasa Indonesia untuk berinteraksi. Ternyata Dio mengerti akan setiap perkataan Artha. Sepertinya anak kecil yang berkulit sawo matang ini bisa membaca pikiran Artha.
Artha tetap mengikuti langkah Dio dengan penuh semangat. Melewati rerumputan panjang sebatas lutut, masuk ke dalam hutan. Tak ada rasa takut sama sekali di dalam dirinya. Mantel berwarna hitam berbahan poliester sudah dikenakan sedari tidur tadi. Penutup kepala juga menudungi kepalanya yang kecil. Langkah kaki kecilnya terkadang dipercepat karena merasa tidak sabar dengan sesuatu yang akan ditunjukkan oleh sahabatnya, Dio.
Anak laki-laki dari Suku Maori telah menggiring Artha masuk ke dalam hutan yang lebih dalam. Posisi hutan berada di hutan belakang pemukiman. Dio menghentikan langkah kakinya. Berdiri terpaku. Melihat ke arah Artha yang berada di samping. Anak kecil yang memakai mantel bulu panjang hampir ke mata kakinya tersenyum kecil.
“Di balik pohon itu... come on.” Dio menarik tangan Artha dan berlari kecil menuju satu pohon besar. Batang pohon itu sangat besar. Ketika sampai di depan pohon besar dengan batang selebar empat orang dewasa yang gemuk, Dio menyibakkan semak-semak di sekitaran pohon. Semak-semak yang terdiri dari pohon-pohon kecil dan tumbuhan pakis tumbuh di sekitaran pohon berbatang besar. Tanaman semak dan pakis lebih tinggi dari pada mereka. Dio berusaha berjalan pelan masuk ke balik pohon. Tangan kirinya masih menarik tangan kanan Artha perlahan. Dia tak takut dengan binatang yang menyakiti mereka berdua karena tak ada ular dan binatang yang buas di Selandia Baru. Sekitar lima langkah mereka berjalan menyusuri semak-semak dan tanaman pakis yang sangat lebat, Dio terus menyibak semak-semak sembari berjalan. Cahaya rembulan menyinari kegiatan mereka malam ini.
Sreet.
Dio menoleh ke arah Artha ketika menyibakan beberapa tanaman semak yang tumbuh teratur. Tanaman semak dan tanaman pakis tidak menyakiti atau membuat gatal di kulit.
“Waaaaaaah....” Tanpa sadar suara menandakan decakan kagum keluar dari mulut mungil Artha. Nada suara panjang diikuti kelopak matanya yang membesar ketika melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.
Di hadapannya telah terbentang satu danau dengan dipenuhi pohon, salah satunya adalah Pohon Rhododendron, hanya itu yang dia tahu. Tanah pinggiran danau dipenuhi oleh rerumputan yang indah. Tak hanya di sisi mereka berdiri, tapi di pinggir danau yang berada di seberang mereka berdiri, juga terlihat pemandangan yang sama. Keindahan tempat itu sangat mempesona. Ditambah lagi dengan lumut yang berwarna hijau menempel di beberapa sela-sela rumput dan batu-batu kecil, membuat kawasan itu terlihat sangat memanjakan mata. Tak ada tanah yang terlihat kosong, memperlihatkan warna coklatnya. Semua tanah ditutupi oleh tumbuhan dari kecil hingga besar.
Dedaunan pohon besar yang beragam jatuh ke dalam danau. Danau di tengah hutan memiliki warna air yang berbeda di ketiga sisi. Warna merah di seberang kiri. Warna biru di seberang kanan, sedangkan warna hijau berada di pinggir danau tempat mereka berpijak. Danau yang mengalir dengan perlahan, membawa dedaunan yang berguguran ke ujung. Entah kemana ujungnya. Dedaunan yang jatuh di atas pemukaan air tak terlalu banyak karena pada saat ini musim semi.
“Artha, duduk di sini?” tawar Dio sembari menarik pergelangan tangan Artha yang masih berada di genggaman.
Artha menurut dan mengabulkan keinginan Dio. Mereka duduk di sebuah pohon yang memiliki daun yang sangat rimbun. Pohon-pohon yang berjejer telah menutupi pemandangan indah dari luar. Hanya sekelompok orang yang tahu akan tempat yang indah ini. Sekelompok orang dari Suku Maori.
__ADS_1
“Ini Pohon Kauri. Pohon yang hanya ada Di Pulau Utara Selandia Baru,” nyata Dio dengan lugas. Sembari menarik tangan Artha untuk duduk di akar pohon.
Artha melihat ke sekeliling. Pohon yang dinamakan Pohon Kauri berbaris berjejer di pinggiran danau. Tanaman yang tumbuh tegak berbentuk kerucut sempit dengan cabang menjulur di sepanjang batang tapi semakin tinggi, cabang-cabang terendah akan rontok. Sepertinya pohon ini berupaya untuk tidak di panjat oleh manusia atau binatang dan dirinya juga mencegah tanaman merambat memanjat pohon.
Tak hanya selusin Pohon Kauri yang tumbuh di pinggiran danau, tapi lusinan Pohon Kauri dari yang termuda sampai tertua tumbuh di pinggir. Berjejer panjang di kiri kanan. Pohon Kauri yang paling tua adalah pohon yang tempat mereka berteduh saat ini. Terlihat dari batang yang paling besar dan tumbuh paling tinggi. Di bagian atas, Pohon Kauri akan membentuk mahkota sebagai kanopi. Berupaya melindungi tanaman yang ada di bawah. Danau yang indah pasti tak terlihat dari atas, karena tertutupi dengan dahan-dahan Pohon Kauri berdaun kecil tapi lebat.
Di sela-sela pohon Pohon Kauri, tumbuh beberapa pohon setinggi dua sampai empat meter. Pohon yang sudah berbunga dengan warna-warni yang cerah. Artha melihat beberapa pohon yang tak dikenalnya, tapi pohon itu tak kalah indah dengan Pohon Rhododendron. Memiliki daun yang sangat lebat, hingga hampir menyentuh tanah. Di setiap daun, tentu saja terdapat bunga yang sedang mekar. Walaupun di malam hari, bisa terlihat jelas bunga-bunga yang menguncup kecil. Pasti sangat indah jika sepanjang hari duduk di pinggir danau ini. Matahari tak akan terlalu menerpa wajah karena kawasan yang begitu teduh. Sinar matahari hanya akan menyusup di balik dedaunan Pohon Kauri yang melindungi kawasan ini.
Beberapa binatang kecil terlihat melompat di dahan pohon. Sesekali binatang kecil itu berhenti, melihat ke arah mereka berdua. Sepertinya mereka waspada dengan kehadiran manusia hutan indah ini. Serangga yang berkelap-kelip menambah kesan indah dari kawasan yang dipenuhi pohon, semak dan tanaman pakis serta lumut yang banyak menjadi alas.
“Indah, kan?” tanya Dio yang terduduk di samping Artha. Kedua kakinya berlipat. Lutut mengarah ke atas. Kedua pahanya menyentuh dada. Kedua tangan merangkul kedua kakinya yang berlipat. Anak laki-laki itu seakan menghangatkan dirinya sendiri. “Tapi... bukan melihat danau dan pohon tujuan kita kemari.” Nyata Dio.
Artha menoleh ke Dio. Mulutnya sedikit terbuka, berusaha mencerna ucapan sahabatnya. Wajahnya penasaran. Kedua bola mata membesar. Imut. Itu kesan yang terlihat. Tak ada suara yang keluar dari bibir mungil yang merah.
Dio tertawa kecil. Menoleh ke arah Artha yang berada di sebelah kiri. Mengedipkan mata kirinya sekali. Secara tiba-tiba, anak kecil yang memakai mantel bulu rusa bersenandung dengan indah. Suaranya yang renyah dan lembut, menghentikan pergerakan makhluk di sekitar. Hewan pengerat, hewan pemakan serangga, jenis burung yang sedang bertengger di dahan pohon dan serangga yang sedang terbang, menghentikan aktifitas mereka.
Artha menyaksikan Burung Kiwi yang sedang melihat ke mereka di seberang danau. Tupai dan cerpelai yang menuruni Pohon Kauri tempat mereka berteduh, sedang berhenti memanjat. Serangga yang terbang di atas danau, mengambang. Bergerak di tempat, tidak melakukan pergerakan terbangnya. Burung Hantu yang bertengger di Pohon Kauri muda, celingukan dengan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dan beragam jenis hewan yang tidak berbahaya yang sedari tadi berada di kawasan ini ingin menikmati tidur malamnya, terbangun karena senandung yang dikeluarkan oleh Dio. Senandung dalam Bahasa Maori. Artha tahu bahwa Dio memiliki suara yang indah dan Artha juga tahu bahwa Dio bisa berkomunikasi dengan segala jenis hewan.
Terdengar bunyi benda kecil seperti seruling mengiringi senandung yang dinyanyikan oleh Dio di kejauhan. Artha mencari-cari sumber suara kecil itu. Kedua bola matanya sengaja dibesarkan agar bisa menemukan sesuatu yang dicari. Suara seruling kecil seakan mendekat. Artha berpaling ke arah kirinya. Seekor kupu-kupu mendekat. Kupu-kupu itu mengeluarkan sinar berwarna kuning emas. Mengepakkan sayapnya berulang kali. Mendekati anak kecil yang berusia lima dan tujuh tahun.
Makhluk mungil berjenis kelamin perempuan yang cantik dan mungil masih meniupkan seruling seperti rumah keong yang memanjang ke bawah. Rumah keong yang panjang seukuran ujung jari menuju pangkal telapak tangannya.
Makhluk mungil mendekat ke arah mereka berdua. Terbang mendekat sambil meniupkan seruling, seakan berduet dengan nyanyian yang disenandungkan oleh Dio.
Dio menghentikan nyanyiannya.
Serta merta makhluk kecil itu menjauhkan seruling kecil dari bibirnya yang mungil. Terbang mengambang di hadapan Dio dan Artha. Bibirnya mengulas senyum saat ini ke arah Dio. Bola matanya yang besar, tak sesuai dengan ukuran kepalanya yang kecil, berkali-kali mengerjap. Walaupun bola matanya terlihat besar, namun makhluk kecil ini indah untuk dipandang.
Di sisi lain, Artha terbengong tanpa sadar bahwa mulutnya telah terbuka ketika melihat makhluk kecil ini. Wajahnya sangat imut saat ini.
“Peri kecil... dia peri kecil yang tinggal di hutan yang indah ini,” nyata Dio kepada Artha. Dio menoleh ke arah Artha yang masih terpaku melihat makhluk kecil di depan mereka. “Di Selandia Baru mereka dinamakan Patupaiarehe,” jelas Dio kembali kepada Artha.
Dio menoleh ke arah peri kecil karena tak ada respon dari Artha. Dio berkata, “Ini sahabatku, namanya Artha...,” nyata Dio kepada peri kecil yang melihat ke arah Artha ketika memperkenalkan sahabatnya.
Peri kecil tersenyum dan membungkukkan setengah badannya di hadapan Artha. Dia tersenyum kembali setelah menegakkan punggungnya. Senyum peri kecil ini sangat menawan. Kepakan sayapnya terus bergerak dengan cepat untuk mempertahankan tubuhnya yang mungil agar tetap mengambang.
__ADS_1
“Ini yang ingin aku tujukkan ke kamu,” nyata Dio.
Kali ini Artha menoleh ke arah sahabatnya tanpa sepatah katapun. Mulut mungilnya masih terbuka dengan wajah penuh rasa keheranan.
Malam ini, di dalam hutan yang sangat indah. Artha baru pertama sekali bertemu dengan makhluk mungil berwujud indah. Tubuhnya seperti Boneka Barbie yang sangat cantik. Semua bentuk dan lekuk tubuh dari Boneka Barbie dimiliki olehnya, namun hanya ujung kupingnya yang runcing ke atas dan sayapnya yang membedakan dengan Boneka Barbie pada umumnya.
Peri kecil yang sering disebut dengan nama Patupaiarehe sedang berbincang dengan Dio. Entah apa yang mereka bicarakan, Artha tak mengerti. Dia hanya terdiam dan menyimak apa yang dilakukan oleh Dio dan peri kecil itu.
Artha yang memiliki kepintaran di atas rata-rata dari balita lainnya, mengamati, menyerap dan menyimpan semua kegiatan yang dilakukan oleh peri kecil dan Dio. Pandangan matanya tak lepas dari mereka berdua.
Takjub dengan keindahan alam di awal, pada saat Artha melihat pemandangan indah bak surga, ternyata lebih lengkap lagi rasa takjubnya ketika bertemu dengan peri kecil yang tak takut sama sekali dengan dirinya.
Peri kecil yang telah lama berbincang dengan Dio, diperintahkannya untuk duduk di pundak sebelah kanan Artha. Peri kecil itu, saat ini berada di antara Artha dan Dio. Mereka kini terdiam memandang ke arah danau yang mengalir, membawa daun-daun kering menuju ujung danau. Kedua anak kecil yang memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, menikmati keindahan alam dalam diam.
Seluruh binatang yang berada di hutan indah itu, telah melakukan aktifitas mereka masing-masing seperti semula. Kini mereka tak menghiraukan lagi kedua manusia kecil yang sedang duduk terdiam di bawah Pohon Kauri yang paling besar di kawasan tersebut.
*******
__ADS_1