
Boyz with Fun
"Waaaaah..... Seger banget!" seru Hakiki sambil berlarian ke sana kemari. Merentangkan kedua tangan. Kepala sedikit menengadah. Hidungnya berusaha menarik sedalam mungkin udara di pinggir pantai. Berlari menuju air yang dihempas berkali-kali oleh ombak. Dia tertawa. Bibir membentuk kotak. Suara tawanya begitu renyah. Berhenti di posisi ketika air sudah berada di betis.
"Mmmmmuaaaah.... Mmmmmuaaaah...."
Menempelkan ciuman di telapak tangan dan memberikan kepada laut yang seolah-olah adalah kekasihnya, tentu saja sambil tertawa renyah. Sendirian.
"Dia sangat mempesona tapi bukan kekanak-kanakan," jelas Dapi. Menatap hakiki dari kejauhan.
"Ya, begitulah Hakiki. Aku selalu mengaguminya dalam kondisi apapun," nyata Arini.
Mereka berdua berjalan beriringan, ketinggalan jauh dari Hakiki. Mereka masih berada di pangkal pantai yang dekat dengan trotoar.
"Kita cari tempat, yuk... untuk bersantai nantinya," ajak Dapi.
"Oke."
"Hakikiiiiiii...!" jerit Dapi.
Yang dipanggil tidak menoleh. Mungkin karena begitu kerasnya deburan ombak, sehingga tidak mendengar suara Dapi.
Dapi mengulangi kembali panggilannya. Tak ada sautan. Dapi berkali-kali memanggil Hakiki.
Arini merasa tak punya tenaga untuk memanggil sekeras itu, suaranya juga tidak sekuat dan senyaring Dapi. Dia lalu mengambil handphone dan memencet beberapa menu.
"Wait," seru Arini.
Di ujung pantai.
"Oh." Hakiki terkejut dengan getaran di kantong celana. Raut wajahnya spontan menggambarkan ekspresi keheranan. Mengambil handphone di kantong celana, dahinya sedikit berlipat. Menoleh ke belakang, mencari-cari sambil menempelkan handphone di telinganya yang besar.
"Blank face, cepat kemari, kita cari tempat untuk nyantai." Terdengar suara Arini di balik benda elektronik.
Hakiki tertawa pelan. Menutup handphone dan berlari mendekati kedua temannya setelah menyadari posisi mereka.
"Cara itu paling simple dan tidak membuang tenaga," nyata Arini.
Dapi tertawa sambil membungkukkan punggung. Sembari memperhatikan Hakiki yang berlari mendekati mereka. "Memang, sungguh aneh manusia ini, darimanakah dia berasal?" gumamnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju pantai, mereka bertiga selalu tertawa dan gembira, karena ulah Hakiki yang bukan berpura-pura tapi memang secara natural. Dapi akhirnya melihat langsung kekonyolan Hakiki, selama ini hanya mendengar cerita dari Arini. Dia, Hakiki tentunya, begitu banyak cara untuk mengekspresikan diri dengan mimik wajah dan segudang emosi yang dirinya punya. Dan yang paling membuat takjub, perubahan mimik wajah dalam hitungan detik bisa berubah. Natural, tidak dibuat - buat dan tidak ada kata "jaga image" dari ekspresinya. Sangat mempesona dan menggemaskan. Memang, Dapi baru kali ini bertemu dengan sosok manusia seperti Hakiki. Dapi merasa bahwa ingin terus berteman dengannya.
Mereka telah mendapatkan tempat yang bagus untuk bersantai. Ada beberapa kursi pantai dengan payung di masing-masing kursi. Tamu bisa juga tiduran di kursi karena sekalian seperti bangsal atau tempat tidur.
Hakiki duduk, bersandar dan meluruskan kaki. Kemudian berbaring, bersandar di kursi pantai yang panjang. Arini mengambil posisi duduk di sampingnya sedangkan Dapi berada di sebrang mereka, tak jauh, hanya berjarak beberapa sentimeter, duduk di kursi yang lain.
Mereka bertiga menikmati udara pantai yang sangat bersih dan segar. Angin bertiup cukup tenang. Semilir dan menyejukkan hati ketiga makhluk Tuhan. Mereka bercanda, bersenda gurau, tertawa sedikit, lalu terpingkal-pingkal. Dapi beberapa kali harus mengendalikan tawanya dengan berjongkok atau tertunduk tapi akhirnya tergeletak di kursi panjang untuk melepas tawanya melihat gurauan dari Hakiki.
"Kita pesan makanan yuk?," saran Dapi.
"Makanan buat aku mana?" tanya Hakiki ke Arini.
"Tuh... di dalam tas," sambil menunjuk ke tas berwarna merah muda yang berada di samping Dapi. Ada dua tas yang dibawa Dapi dari bagasi mobil. satu berisi makanan dan satunya lagi berisi handuk dan pakaian ganti Arini.
"Makanan yang mau dipesan, jangan terlalu banyak Pi, karena takutnya ntar enggak habis. Aku juga bawa makanan lain selain untuk Hakiki," jelas Arini.
"Oke. Aku hanya ingin merasakan masakan khas di sini dan minumannya."Dapi berjalan menuju tempat pemesanan makanan.
"Dia sangat baik. Iya kan, Ki?" tanya Arini.
"Ya. Kamu sangat baik. Aku juga mungkin orang baik karena itulah kita dipertemukan dengan Dapi yang baik pula. Kamu percaya kalau ini bukan kebetulan, tapi takdir. Aku berharap, jika aku pergi nanti, kamu harus tetap berteman baik dengan Dapi. Jadi ada yang menjagamu. Seminggu aku mengenal Dapi... dia sangat penyayang dan peduli bukan hanya sekedar baik. Dia akan menjagamu, seperti aku menjagamu, Ki, " jelas Arini.
Hakiki hanya terdiam. Wajah dengan ekspresi datar terlihat kembali. Hatinya merasa akan kehilangan Arini, pergi jauh darinya dan itu pasti. Mungkin hanya tinggal dua tahun lagi mereka bersama, menjalani aktifitas bersama setiap hari. Setelah itu, mereka akan mengejar impian masing masing. Arini akan pergi ke negara lain, sedangkan Hakiki, mungkin masih di Jakarta. Bermain musik, melukis dan mengembangkan bakat fotografi. Itu yang dia pikirkan. Ayahnya tak akan mampu untuk menguliahkan ke luar negri, paling hanya di sekitar Jakarta saja atau mungkin di Medan, karena masih banyak saudara Ayahnya di sana.
Di dalam hati, Hakiki selalu ingin bersama Arini, selamanya. Karena Arinilah yang merawat dan menjaganya selama ini, bukan sebaliknya. Arini yang mengerti kondisi dan karakternya. Arini yang tahu seluruh sifat baik dan buruk, tapi Arini tak tahu hatinya, sedalam apa rasa sayang untuk Arini. Sebagaimana penting Arini untuk dirinya karena Hakiki sudah berjanji dengan diri sendiri dan akhirnya termakan dengan janji dan prinsip yang dijaga. Dia berharap akan bersama lagi dengan Arini ketika masa-masa pengejaran impian anak muda ini usai.
Dapi kembali ke tempat semula. Tersenyum melihat Arini dan Hakiki. Terlihat bahagia terpancar di raut wajahnya. "Sudah aku pesan," nyata Dapi.
"Rin, aku sudah boleh makan? Aku lapar." Hakiki memelas manja.
"Ya sudah. Dapi, tolong tas warna Pink itu, Ambilkan, please...," pinta Arini.
Dapi bergegas mengambilnya dan menyerahkan ke Arini. Dapi penasaran, makanan apa yang disukai oleh makhluk ini, pikirnya.
Arini mengambil tas yang diberikan Dapi, membuka perlahan, mengeluarkan tiga kotak makanan berukuran sedang berwarna putih. Kemudian meletakkan di kursi pantai yang panjang.
__ADS_1
Hakiki memperhatikan dengan penuh semangat.
"Ini makanan kesukaanmu. Ini Nasi Goreng dan Ayam Goreng kalasan," jelas Arini sambil membuka kotak makanan itu satu per satu. Di dalam satu kotak, terdapat Mie Hun Goreng yang dicampur dengan irisan daging, udang, sayuran yaitu wortel, potongan brokoli dan sedikit sawi. Sedangkan di kotak lain berisi, Nasi Goreng dan Ayam Goreng Kalasan beserta sambal yang khas.
Hakiki bersemangat membuka kotak makanan berisi Mie Hun Goreng. Mengambil garpu yang ada di dalam tas, mulai menyantap makanan itu. Hakiki sangat menyukai Mie Hun Goreng komplit ini. Itu yang paling disuka. Apalagi yang masak Si Mbok Arini, pas di lidahnya.
Hakiki pernah memberi saran kepada Arini untuk belajar memasak dengan Si Mbok dan itu dilakukan Arini tapi rasa masakannya belum tepat.
Di sisi lain, rasa penasaran Dapipun akhirnya terjawab. "Ouh... Ternyata itu makanan kesukaan dia," lirihnya pelan.
"Ini ada Nasi goreng, Ayam Goreng dan buah, kita makan sama-sama yuk," tawar Arini kepada Dapi.
"Wah.... Pasti enak nih. Ayo kita makan. Tadi aku juga pesan Ikan Bakar dan Cumi Goreng Mentega dan beberapa minuman," jelas Dapi.
Hakiki terbelalak. Mengangkat wajah terkejut di hadapan Dapi. Berhenti menyantap makanan. Posisi Mie Hun masih tergantung di mulut yang sedikit terbuka, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Dapi tertawa. "Kenapa dia?" tanyanya ke Arini.
"Dia juga suka cumi, apalagi digoreng dengan mentega. Tapi... hampir semua makanan sih disukainya," nyata Arini semangat. Berusaha untuk mengambil kotak makanan yang berisi buah dan mendekatkan ke Hakiki. "Ini Buah Melon untukmu, sengaja aku potong kecil - kecil."
Hakiki kembali mengangkat kepala dan matanya terbelalak. Padahal tadi sudah berada di posisi normal ketika Arini menjelaskan kesukaannya akan Cumi Goreng Mentega. Sekarang kembali lagi di posisi semula. Mulut sedikit ternganga, ada sedikit mie di sudut bibir bawah dan wajah menatap Arini dengan terkejut. Matanya menatap Arini. Terpaku sekian detik.
Dapi tertawa terpingkal-pingkal sampai terbatuk karena sedang memakan buah yang diberikan Arini dan Dapi tidak bertanya lagi mengapa Hakiki berperilaku seperti itu.
Arini ternyata menggoda Hakiki dengan Buah Melon yang disukai dan sudah bisa menebak ekspresi seperti apa yang akan dikeluarkan oleh sahabatnya itu. Arini juga tersenyum melihat mimik wajah Hakiki, walaupun sudah bertahun-tahun dan ratusan kali melihat ekspresi itu. "Sebenarnya, dia memang hobi makan, jadi hampir semua makanan adalah kesukaannya". Arini tertawa kecil sembari menjelaskan lagi. "Jadi, Dapi... mulai sekarang kamu enggak usah heran melihat Alien ini dengan wajah yang unik."
"Hehe..." Hakiki tertawa renyah. Berhenti tertawa. Melanjutkan makan.
Dapi kembali tertawa kecil. Tiba-tiba berseru "Aaaaah... itu makanan yang dipesan, sedang menuju kemari." Menunjuk ke arah pelayan yang membawa beberapa menu menuju tempat mereka bersantai.
Hakiki menoleh ke belakang. Sekilas. Kemudian Hakiki seakan mempercepat gerakan untuk menghabiskan Mie Hun Goreng yang dibawa oleh Arini dan memang sudah hampir habis dilahap, padahal Arini dan Dapi baru mulai dengan memakan Buah Melon.
Dapi benar-benar merasa lucu dengan tingkah Hakiki. Bukan jijik, malah lucu dengan tingkah yang jauh dari kata "jaga image".
*******
__ADS_1