
Awake
Empat tahun waktu telah berselang. Keluarga kecil Bagas hidup dengan damai di Kimbolton Selandia Baru. Bagas mengisi hari-harinya dengan bekerja di Kantor Kedutaan untuk Indonesia di Wellington. Pria ini masih terus merahasiakan kekuatannya dari masyarakat umum. Sedangkan istrinya -Tiara- berkebun untuk mengisi hari-hari yang di jalani di negara lain. Kekuatan Tiara sangat mendukung dengan pekerjaan yang digelutinya saat ini. Tanah yang ditanami Tiara dengan bunga khas Negara Selandia Baru dan Pohon Apel, berkembang dengan baik. Masyarakat Kimbolton telah mengenal Tiara dengan perempuan yang bertangan dingin karena dapat merawat dan menjaga segala jenis tanaman. Tentu saja, Tiara tak memberitahukan tentang kekuatannya ke masyarakat umum seperti yang dilakukan suaminya.
Artha telah berumur 7 tahun saat ini. Balita yang telah tumbuh menjadi anak kecil yang manis dan periang, telah bersekolah tingkat dasar di Kimbolton. Sekolah yang sangat sederhana tapi memiliki sistem pembelajaran yang baik. Artha telah lancar berbahasa Inggris dan sedikit Bahasa Maori dikuasai olehnya. Dio selalu bersama Artha walaupun mereka tidak bersekolah di tempat yang sama. Dio yang telah berumur 9 tahun, bersekolah di pemukiman Suku Maori di pinggiran Kota Kimbolton.
Anak asuh dari Bagas dan Tiara tanpa disadari telah memiliki kemampuan berkuda dengan baik. Kegiatan berkuda sering dilakukan Artha dan Dio di akhir pekan di pemukiman Suku Maori. Kegiatan yang telah dilakukan Artha dan Dio sejak dua tahun yang lalu.
Ayah dan Ibunya juga sering menemani dan berkunjung ke Pemukiman Suku Maori, hampir setiap akhir pekan dengan membawa Arini yang telah berumur 4 tahun untuk ikut serta bersama mereka.
Kehidupan yang tenang dan damai berdampingan dengan Kepala Suku Maori membuat mereka betah tinggal di Kimbolton, Selandia Baru. Tapi, hanya tinggal tiga tahun lagi waktu mereka untuk menetap di Kimbolton, karena janji untuk bertemu dengan Kiai yang akan menjadi guru Artha harus ditunaikan sesuai dengan rencana manusia.
******
Artha tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawanya sangat unik. Suara tawa itu seperti suara seseorang yang sedang membersihkan kaca dengan kain basah. Gesekan kain basah dengan kaca yang berdecit berulang-ulang, seperti itulah suara tawanya ketika melepaskan hormon endorfin yang diperintahkan otaknya.
Anak kecil yang berada di Hutan Indah di balik hutan -di belakang pemukiman Suku Maori- mengeluarkan suara tawa yang terpingkal karena sedang bermain dengan peri kecil berjenis kelamin laki-laki.
Peri kecil yang dikenal dengan nama Patupairahae di Selandia Baru, mengeluarkan ekspresi yang menggemaskan ketika seekor burung menjatuhkan kotoran di atas kepalanya.
Peri kecil yang semula sedang bermain dengan Artha, terbang ke sana kemari, mengambang dan tertawa gembira. Ketika dia sedang mengambang dan mengepakkan sayap kecilnya di depan wajah Artha, seekor burung sejenis merpati melewatinya dan membuang kotoran tepat di kepala. Peri kecil itu tidak sempat mengelak karena fokus bermain dengan Artha.
Wajah peri yang menunjukkan ekspresi terkejut bercampur marah ketika menyadari hal yang telah terjadi, membuat Artha tertawa terpingkal-pingkal. Wajah putih Artha memerah karena kejadian yang sangat lucu bagi dirinya.
Dio yang berada di samping, meraih peri kecil yang telah berlumuran kotoran burung di atas kepala. Anak laki-laki berkulit sawo matang membawa peri kecil ke pinggir danau di dalam genggaman tangan.
Air danau mengalir dengan tenang, terlihat air berwarna hijau cerah di dalamnya. Daun-daun dari pohon-pohon yang berada di pinggir danau, berserakan di atas permukaan air, bergerak menuju ujung danau mengikuti pergerakan aliran air.
Dio dan Artha sedari tadi duduk di bawah pohon, di pinggir danau. Jadi, tak terlalu jauh Dio melangkah ketika membawa peri kecil dengan tujuan untuk membersihkan tubuhnya. Dio masih mendengar tawa sahabatnya yang terpingkal-pingkal. Kelucuan yang dirasakannya, mungkin belum hilang sama sekali.
Tubuh kecil Dio, berjongkok di pinggir danau. Mengambil air dengan tangan kanan yang dipergunakan sebagai wadah untuk menampung air. Air danau yang berada di telapak tangan berwarna bening seperti layaknya air biasa. Namun karena pengaruh ganggang di dalam danau yang membuat air tersebut terlihat menjadi beberapa warna.
__ADS_1
Dio membersihkan kepala dan tubuh peri kecil yang berada di genggaman tangan kiri dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Anak kecil itu melontarkan kata-kata lembut untuk menenangkan peri kecil. “Sabar ya, sebentar lagi selesai kok.”
Artha berlari kecil mendekati Dio. Masih tersisa suara tawanya.
"Maafkan aku, Jondy. Kamu sangat menggemaskan," ujar Artha. Suara yang dikeluarkan masih bercampur tawa, ketika dirinya sudah mendekati Dio yang sedang membersihkan peri kecil bernama Jondy.
Peri kecil yang berada di dalam genggaman Dio, memasang wajah murung. Kedua bibir kecilnya maju beberapa milimeter. Kedua tangannya berlipat di dada. Dia tetap tidak merubah bentuk wajah, walaupun Dio sedang mengucurkan air untuk membersihkan kepala dan tubuhnya dari kotoran burung.
Artha melihat wajah Jondy, kembali tertawa terpingkal-pingkal. Karena suara tawanya yang terus berlanjut sedari tadi, para peri kecil yang lain berterbangan dan datang untuk melihat kejadian yang dialami oleh salah satu teman mereka.
Tentu saja sekumpulan peri kecil yang berjumlah puluhan tertawa melihat temannya yang tertimpa musibah kecil. Musibah kecil itu telah menjadi penyegaran bagi peri-peri yang lain di pagi hari yang cerah ini.
“Maafkan aku, Jondy. Aku tidak bermaksud membuatmu malu. Aku tebus kesalahanku dengan mencarikan serangga kesukaanmu. Nanti,” nyata Artha sembari mengelap muka Jondy yang basah dengan jempol kanannya.
“Senyum dong,” saran Artha. Artha mengulas senyum di bibir, seolah-olah ingin memberikan contoh cara mengulas senyum terbaik kepada peri kecil.
*******
Sampan kecil yang hanya muat untuk dua manusia, dikayuh oleh Dio di tengah danau berwarna tiga. Pada saat ini, sampan yang dikayuh sedang melalui air danau yang terlihat berwarna biru. Butuh waktu lima belas menit Dio mengayuh dari pinggir yang airnya terlihat berwarna merah, menuju seberang danau yang airnya terlihat berwarna biru. Beberapa kayuhan lagi, sampan itu akan mendekat di pinggir danau.
Peri kecil bernama Jondy duduk di pundak Artha. Artha yang duduk di bagian belakang sampan, tepatnya di belakang Dio, sesekali memperhatikan peri-peri kecil yang berterbangan di belakang sampan yang mereka naiki. Puluhan peri kecil mengikuti mereka dari belakang.
Tujuan Dio dan Artha saat ini adalah perkampungan para peri yang terletak di seberang danau. Mereka sudah sering berkunjung ke perkampungan para peri dan hal ini sudah biasa dilakukan oleh mereka setiap mengunjungi Hutan Indah.
Dio mengayuh sampan dengan kayuhan yang kuat. Kemudian membiarkan sampan bergerak mendekati daratan pinggir danau. Beberapa menit, ujung sampan kecil terbuat dari kayu beradu dengan daratan yang ditumbuhi lumut dan beberapa semak.
Dio segera berdiri, melihat ke arah Artha dan mengkodenya untuk menunggu. Dio melihat puluhan peri kecil di belakang sampan telah terbang terlebih dahulu menuju daratan. Anak laki-laki yang berkulit sawo matang, melangkah dengan perlahan menuju ujung sampan. Melompat kecil sekali dari ujung sampan ke daratan. Menarik tali sampan yang berada di ujung sampan dan mengikatkan tali itu di pohon berukuran sedang yang tumbuh di pinggir danau.
“Ayo, Artha...!” perintah Dio.
__ADS_1
Artha bangkit dari duduknya. Melangkah perlahan, melewati kayu yang melintang sebagai alas duduk Dio tadi. Kemudian berjalan perlahan menuju ujung sampan. Melompat dengan pasti dari ujung sampan ke daratan. Jondy yang berada di pundaknya, duduk santai tanpa rasa was-was.
Artha menunggu Dio yang sedang mengetatkan tali tambatan sampan ke pohon. Kemudian berjalan masuk ke balik semak-semak, mengikuti puluhan peri yang sudah berterbangan dengan cepat di depan mereka.
Semak-semak yang tumbuh teratur, menutupi ruang di depan, disibak oleh mereka satu per satu. Semak-semak yang terdiri dari pohon pakis dan rumput yang setinggi mereka, dilalui dengan perlahan.
Sekitar sepuluh langkah mereka berdua melalui semak-semak dan pohon pakis, langkah mereka sedikit tertahan. Di depan mereka terdapat pohon merambat yang melindungi kawasan di depan mereka. Pohon merambat yang berjuntai batang dan daunnya yang rimbun, berasal dari atas pohon besar yang berumur lebih dari 1000 tahun. Pohon merambat berdaun dengan warna hijau cerah, tumbuh di atas pohon Kauri. Hanya satu-satunya pohon merambat ini yang hidup di Pohon Kauri. Biasanya Pohon Kauri tak menyukai tanaman lain tumbuh di batang pohonnya.
Artha yang sedari tadi memimpin jalan di depan, menyibak juntaian batang dan daun berwarna hijau cerah. Terlihat sinar-sinar kecil yang sedikit menyilaukan mata. Artha berdiri, menunggu Dio yang berada di belakangnya, sembari tersenyum kepada Jondy yang berada di pundaknya.
Dio telah berdiri di samping Artha. Mereka berdua berdiri di atas sebuah tanah tinggi di balik daun yang terjuntai seperti tirai tadi. Di hadapan mereka, berterbangan peri-peri kecil, berjumlah ratusan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Puluhan peri yang datang bersama mereka telah menyatu dengan peri yang lain.
Di bawah mereka telah terlihat pemukiman peri yang terdiri dari rumah-rumah kecil yang berbentuk kerucut kecil. Rumah-rumah kecil yang terang benderang dengan lampu-lampu alami yang mereka ciptakan sendiri dari tubuh kunang-kunang yang telah mati. Mereka menghiasi rumah mereka dengan tanaman bunga yang beraneka warna. Warna lampu dan bunga sangat indah. Menyatu dengan baik, terlihat indah dipandang mata.
Artha dan Dio berjalan menuruni lereng bukit. Perkampungan itu berada di bawah mereka. Lereng bukit yang ditanami rumput hijau yang berujung kecil dan tanaman bunga yang teratur tumbuh di lereng.
Mereka berdua berjalan beriringan. Menuju perkampungan peri yang sudah sering mereka kunjungi. Kedua anak kecil itu telah menjadi tamu istimewa di rumah peri yang hampir 4 tahun beradaptasi dengan peri-peri Selandia Baru yang sering disebut dengan Patupairahae oleh Suku Maori.
*******
__ADS_1