
"Peluk aku, Rin. Peluk aku. Walaupun sebentar saja. Aku merindukanmu," rintih Hakiki di kamar tidurnya. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu meja belajar.
Sudah tiga malam sejak kejadian di Hutan Pohon Pinus, Hakiki tak keluar kamar. Juga tidak pergi ke sekolah seperti biasa. Dia tak sanggup. Tak sanggup melalui kenyataan bahwa Arini tak ada lagi di sampingnya.
Orang tua Hakiki semakin khawatir dengan keadaannya. Setiap makanan yang dibawakan Ibunya ke kamar, tidak disentuh sama sekali. Hanya minum beberapa teguk susu yang diberikan oleh Ibunya.
Dia tak sanggup menelan makanan itu. Rasanya tak semangat untuk menjalani kehidupan ini lagi.
"Mengapa Tuhan? Mengapa Kau ambil Arini dari hidupku? Aku ingin bersamanya menjalani hari - hari kami seperti biasa."
Duduk di sudut kamar. Kedua kakinya berlipat. Kedua tangan mempererat lipatan kaki yang mendekat ke dada. Wajahnya kusut. Rambutnya terlihat acak - acakan. Matanya bengkak dan terdapat kantung mata di bawah kedua mata.
"Kamu berjanji, Rin. Kamu berjanji jika suatu saat nanti kita akan ke New Zealand untuk mengambil foto di sana. Tempat yang kamu bilang indah seperti syurga dunia. Tempat yang kamu idam - idamkan untuk pergi bersamaku. Tapi kamu langgar janji itu. Kamu meninggalkan aku sendirian di sini."
Hakiki berbicara sendiri dengan pelan. Menengadahkan kepala dan membiarkan air mata jatuh di pipi.
"Tuhan. Kembalikan dia kepadaku. Aku mohon, aku mohon. Aku masih ingin bersamanya," ratap Hakiki.
Pemuda itu menangis sesegukan. Memohon dengan suara pelan. Merasa sakit yang akan diderita dalam jangka waktu yang panjang.
"Rin, bagaimana aku bisa melalui hari - hari ini tanpamu?" tanyanya lirih.
Dia menidurkan badannya yang berlipat ke lantai kamar. Seolah - olah memeluk diri sendiri. Menangis lebih pelan, tapi air matanya mengalir lebih deras.
"Peluk aku. Peluk aku sebentar saja. Peluk aku, agar aku bisa memaafkan kebodohanku saat ini," bisiknya pelan dan terisak.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Arini."
__ADS_1
*******
Di dalam sudut kamar yang gelap, hanya ada cahaya lampu meja belajar yang sudah mulai redup, Dapi duduk di depan Hakiki yang bersandar di dinding.
"Makan ya. Aku suapin," bujuk Dapi.
Hakiki menggelengkan kepala dengan pelan.
"Ki, kamu harus makan, enggak bisa gini terus," nyata Dapi dengan lembut.
Hakiki tak menjawab.
"Aku bawakan makanan kesukaanmu. Nih ada Mie Hun goreng. Ada daging sapi dan udang di dalamnya. Kamu suka ini, kan?" tanya Dapi dengan suara lembut.
Hakiki tak menoleh sedikitpun. Hening.
Memang tiga hari setelah kejadian, Dapi setiap hari menjenguk Hakiki dan Artha. Kondisi Artha juga tak sebagus Hakiki. Artha juga mengurung diri di kamar. Merasa bersalah dengan kejadian di Hutan Pohon Pinus. Dapi semakin bingung ketika melihat mereka berdua. Dia baru dekat dengan Arini tapi juga merasa sedih dengan musibah ini. Kesedihannya bertambah ketika melihat Artha dan Hakiki yang masih tidak mau keluar rumah. Mereka belum mau makan dan berinteraksi dengan orang lain selain Dapi. Dirinya berusaha terus mengontrol, menjenguk, membujuk dan merawat mereka berdua. Dirinya sudah lama mengenal Artha dibandingkan Hakiki saat ini, namun mereka adalah bagian dari hidupnya sekarang yang harus bangkit kembali dari keterpurukan.
"Hari ini kamu harus makan. Sudah dua hari kamu tidak makan, hanya minum susu doang. Orang tua kamu khawatir tuh," nyata Hakiki pelan.
"Kamu tidak mengerti perasaanku sekarang, Pi." Akhirnya Hakiki berbicara dengan suara pelan. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. "Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Aku sangat menyesal dengan jalan hidupku saat ini. Mengapa ketika aku mendapatkan kekuatan yang aku tunggu, tapi aku kehilangan seseorang yang aku sayang," lanjutnya pelan.
Dapi sangat sedih melihat kondisi Hakiki saat ini. Dipandangnya wajah temannya lekat-lekat. Dia ingin berbagi rasa itu, tapi perasaan Hakiki pasti lebih dalam kepada Arini dibandingkan dirinya yang baru saja kenal dengan gadis itu.
"Aku merasa, hari - hariku tak berarti lagi. Aku selalu bersamanya. Aku selalu merindukannya. Bagaimana aku hidup tanpa dia," nyata Hakiki lagi. Air mata keluar perlahan menetes di pipinya yang putih.
"Aku mengerti dengan perasaanmu saat ini," jawab Dapi pelan.
__ADS_1
"Kamu tak akan pernah mengerti, Pi. Kamu tak akan pernah mengerti."
Hakiki terisak. Dia berusaha menahan tangisnya.
"Aku pernah mengalami hal yang lebih buruk darimu. Aku kehilangan, aku dikhianati, aku hancur sehancur - hancurnya tapi waktu yang mengobati luka ini. Ketika aku bertemu denganmu dan Arini, aku sangat senang. Aku bahagia. Lukaku akan sembuh dengan sendiri. Aku pikir begitu. Tapi siapa yang tau jika musibah ini terjadi," jelas Dapi.
"Wajah Arini terbayang terus setiap hari, Pi. Senyumnya, tawanya, wajahnya yang cemberut ketika aku menggodanya. Aku mengingat wajah itu ribuan kali setiap hari. Apa aku sanggup menjalani hidup ini tanpanya?" tanya Hakiki pelan.
"Ketika kita diberi musibah dan cobaan. Tuhan percaya bahwa kita bisa melalui itu semua dengan baik dan kita sanggup untuk menjalaninya. Tuhan tau kita mampu untuk itu," jelas Dapi.
Dapi mendekati Hakiki. Duduk sejajar dengan pemuda itu, merangkul pundaknya.
Hakiki menjatuhkan kepalanya di pundak pemuda yang tak memiliki bidang dada yang besar.
"Aku berjanji, akan selalu menjaga dan merawatmu seperti layaknya Arini. Walaupun itu terasa beda tapi aku akan berusaha sebaik mungkin," jelas Dapi. "Kita akan menjadi tim yang hebat. Kita hanya tinggal menunggu Panca untuk mendapatkan kekuatan. Aku yakin, Papa Arini memilih kita karena banyak alasan baik untuk itu," yakin Dapi kepada pemuda di sampingnya.
"Terima kasih, Pi," lirih Hakiki pelan.
"Sekarang makan ya? Beberapa suap saja juga udah syukur banget akunya kalau kamu mau makan," pinta Dapi.
Hakiki mengangkat kepalanya dari pundak Dapi dan mengangguk.
Dapi memanfaatkan kesempatan itu dengan mengambil sesendok Mie Hun goreng, mengarahkan ke mulut Hakiki. Pelan - pelan memasukkan makanan ke mulut temannya yang masih belum semangat secara menyeluruh. Kemudian Dapi mengambil sepotong daging sapi kecil dan diarahkan lagi ke mulut Hakiki.
Dapi berusaha untuk memulihkan kesedihan Hakiki dan Artha. Dia akan ke rumah Artha setelah ini, menghiburnya kembali seperti hari kemarin. Berharap secepat mungkin, mereka berdua bisa menjalankan aktifitas seperti biasa.
*******
__ADS_1