
Stigma
Hari sudah sore. Matahari sudah mulai mendekati arah barat bumi. Seakan perlahan-lahan ingin melepaskan letihnya setelah menyinari Bumi sepanjang hari.
Para tamu undangan di pesta ulang tahun Arini sudah menikmati makanan dan hiburan. Mereka merasa begitu gembira bertemu dengan teman-temannya di pesta ini.
Pesta di rumah Arini masih berlanjut ke tahap akhir. Saat ini, Ayah Arini sedang memberikan kata penutup dan ucapan terima kasih untuk acara pesta ulang tahun yang telah diadakan. Ayahnya berkata dengan tegas dan bijak sebagai orang tua, menginginkan yang terbaik untuk Arini. Dalam segi pendidikan, pergaulan, dan cinta. Itulah beberapa isi kata penutup dan ucapan terima kasih ayahnya karena para undangan sudah mau hadir ke pesta ulang tahun anaknya. Selanjutnya adalah kata penutup dari Arini sekaligus ucapan terima kasih teruntuk para tamu undangan.
Arini berjalan ke tengah panggung. Sebenarnya sedari tadi sudah berada di panggung bersama ayah dan ibunya, tapi berada di pinggir. Saat ini, kakinya hanya berjalan sedikit dan berada di tengah panggung. Dia memang benar-benar keliatan cantik dengan gaun yang dipakai. Sangat... sangat mempesona. Para tamu undangan perempuan sangat menginginkan bentuk tubuh yang hampir sempurna seperti Arini dan para tamu undangan lelaki sangat menginginkan hatinya jatuh ke pelukan mereka.
"Assalamualaikum. Selamat sore para undangan dan teman-teman semua. Pertama sekali yang saya ucapkan adalah terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah-Nya setiap hari kepada kita semua. Yang pasti hari ini kita diberikan anugerah kesehatan sehingga acara pesta ulang tahun ini dapat terlaksana dengan baik dan teman-teman sekalian bisa memenuhi undangan dari saya.”
“Pertama sekali, saya mengucapkan terima kasih kepada Papa dan Mama.... Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Papa dan Mama saya, yang terhebat di dunia ini." Arini memberikan kode tepuk tangan hangat untuk kedua orang tuanya, diikuti oleh para tamu undangan.
"Dan juga untuk kakak saya, tapi saya tidak tahu dimana keberadaannya sekarang." Arini berusaha mencari seseorang dengan pandangan ke seluruh halaman, tapi tak menemukan yang dicari. "Ya sudahlah... kita skip saja ucapan terima kasih untuk kakak saya." Arini tertawa, tamu undangan juga ikut tertawa pelan.
"Selanjutnya adalah ucapan terima kasih kepada sahabat saya, Hakiki Hulmi yang selalu berada di samping saya, baik dalam keadaan suka ataupun duka." Tangan Arini bergerak sambil menunjuk ke arah Hakiki yang duduk di kursi barisan paling depan tapi berada di posisi paling pinggir sebelah kanan. Arini memberikan tepuk tangan kepada Hakiki, diikuti dengan para tamu undangan. Kali ini banyak mata memandang ke arah Hakiki sembari memberikan suara tepuk tangan yang keras. Arini tahu bahwa banyak teman perempuannya yang menyukai Hakiki karena itulah tepuk tangan di halaman rumah sangat meriah.
Hakiki berdiri dengan salah tingkah. Membungkukkan sedikit badan. Memasang senyum tipis di bibirnya. Lalu duduk kembali dengan wajah yang memerah.
"Terima kasih sudah menemani aku selama hampir 4 tahun ini, mudah-mudahan persahabatan ini akan selamanya terjaga,” lanjut Arini.
Lagi-lagi tamu undangan yang merupakan teman Arini memberikan tepuk tangan yang gemuruh, bahkan ada yang bercuit dengan keras.
Arini hanya tertawa kecil di atas panggung, melihat aksi temannya.
Dan Hakiki, tentu saja memasang wajahnya yang polos. Duduk. Santai seakan tak ada kejadian.
"Dan terima kasih juga kepada teman-teman yang sudah hadir di acara pesta ulang tahun kali ini." Arini sedikit membungkukkan badannya, memberi gerakan bertanda kesan hormat kepada teman-temannya dan tamu undangan yang lain.
"Kali ini, ada satu hal yang ingin saya sampaikan terutama kepada teman-teman. Di ulang tahun yang ke-16 kali ini, saya selalu berdoa untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Selalu berusaha untuk menjadi manusia yang baik, sebagai anak atau juga sebagai teman bagi kalian semuanya. Satu hal yang ingin saya sampaikan, jika nanti kita berpisah, kenanglah saya sebagai seseorang dari sisi kebaikan yang telah saya berikan, jangan kenang saya sebagai seseorang yang memiliki sisi keburukan. Jika memang ada kesalahan atau keburukan yang saya lakukan kepada teman-teman semua, saya mohon dengan sangat untuk dimaafkan. Beri saya teguran jika saya melakukan kesalahan, terutama kepada Papa, Mama, kakak dan sahabat terbaik... Hakiki. selalu ingatkan saya agar menjadi manusia yang lebih baik." Semua orang yang mendengarkan ucapan Arini terdiam. Mereka terharu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu. Saat ini Arini juga sedang membendung air matanya agar tidak jatuh.
"Oke. Mungkin itu saja kata penutup dari saya, sebelum acara pesta ini menjadi lebih terharu,” katanya sedikit tertawa.
Teman-teman dan tamu undangan menjadi tersenyum tipis mendengar ucapan itu.
"Nah.... Kali ini sebagai acara penutup, ada satu hal yang ingin saya laksanakan di sore ini. Pasti kalian senang melihatnya,” seru Arini yang membuat para tamu undangan penasaran.
"Di samping saya sudah ada Papa... Mama.... Hakiki tolong naik ke atas panggung juga. Dia akan membantu saya,” seru Arini mengkode Hakiki dengan tangannya agar cepat naik ke panggung.
Hakikipun langsung bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju atas panggung. Wajahnya datar.
"Dan kakak. Tolong Pak Satpam, cari kakak sampai ketemu supaya bisa naik ke atas panggung juga,” pinta Arini.
Satpam yang disebutkan Arini dari pengeras suara langsung bergerak.
__ADS_1
"Papa telpon aja, Rin, dia ada di sekitar sini kok, tapi mungkin lagi di dapur,” saran papanya.
Arini mengangguk.
Papa Arini sudah berbicara di balik handphone-nya. Sepertinya respon dari orang yang ditelepon mengiyakan untuk hadir di atas panggung.
Dan benar. Dalam waktu lima menit kakak Arini sudah berjalan menuju ke atas panggung.
Pemuda yang tinggi, kurus, memiliki dada yang bidang dan berambut hitam lurus, langsung menjadi sorotan mata para tamu undangan dan teman-teman Arini. Wajah pemuda itu sangat cerah dan dia melemparkan senyum kepada tamu undangan.
Sontak suara menjerit kecil terdengar dari mulut para gadis. Mereka menahan jeritan agar tidak kebablasan. Teman-teman Arini juga seakan-akan merasa leher mereka tercekat melihat sosok pemuda yang tak lain adalah kakak Arini. Memang tak ada satu dari temannya yang pernah bertemu dengan kakak Arini kecuali Hakiki. Itupun baru sebulan yang lalu bertemu dengan pemuda yang memakai jas berwarna hitam.
Mata-mata yang seakan kelaparan melihat wajah yang tampan, membuat keadaan pesta semakin riuh. Di atas panggung sudah ada satu cowok tampan yang tak pernah tersentuh oleh mereka walaupun berada di sekolah yang sama. Saat ini, ditambah lagi dengan satu orang yang rupawan, berjalan menuju panggung bak model berjalan di catwalk.
"Ya Tuhan. Cobaan apalagi ini." Teman Arini yang bernama Emon menggigit sudut bibirnya.
"Ah elu mon. Jangan baper lu,” hardik seorang gadis yang duduk di samping Emon.
"Biasanya, kalau laki-laki seganteng itu, pasti romantis,” sela seorang gadis satunya lagi.
"Ya Tuhan, berikanlah dia padaku,” jerit emon dengan manja. Jari-jarinya yang keriting menutup mulutnya.
Di atas panggung sudah lengkap keluarga Arini, ditambah dengan Hakiki. Hakiki memasang wajah sangat penasaran. Apa sebenarnya yang akan dilakukan Arini untuk menutup acara pesta ulang tahunnya.
Arini mengkode beberapa orang untuk membawakan satu benda ke atas panggung. Benda itupun bergerak naik ke atas panggung diangkat oleh kedua pemuda di sisi kiri dan kanannya. Dua orang itu membawa semacam peti bujur sangkar yang kira-kira panjangnya 2 meter dengan lebar 80 cm. Peti itu ditutupi kain putih. Jadi isi di dalamnya tidak terlihat karena masih tertutup kain. Dua pria yang membawa benda tidak terlihat terlalu terbebani membawanya ke atas panggung. Sepertinya peti itu ringan, pikir Hakiki. Dari awal, dia sudah memperhatikan dengan baik, berusaha mencari tahu untuk menghilangkan rasa penasarannya. Hakiki juga memperhatikan wajah anggota keluarga Arini. Mereka tidak menunjukkan wajah penasaran, berarti mereka tahu isi di dalam benda yang berbentuk peti itu, pikirnya lagi.
Di atas panggung, Arini berdiri di tengah, sedangkan Ayah dan Ibunya berdiri di samping kanan dan Hakiki serta kakaknya berdiri di samping kiri. Setelah para pria meletakkan benda di atas panggung yang masih terselubung dengan dengan kain putih di hadapan mereka, maka Arinipun berkata, "Tahun ini umur aku 16 tahun, jadi.... Yang ada di dalam benda ini, berjumlah yang sama dengan umurku."
Para tamu undangan kali ini terdiam dan menahan nafas, karena penasaran dengan benda apa yang ada di balik kain putih.
Arini memerintahkan kepada dua orang yang membawa benda untuk menarik kain putih di atasnya. Mereka melakukan sesuai perintah. Menarik dengan sigap.
"Waaaaaaaaaaah...."
Semua tamu undangan berteriak. Tersenyum dan tertawa kecil. Mata-mata yang memandang berbinar bahagia.
Hakiki melihat kegiatan itu dengan rasa penasaran dan mengernyitkan keningnya ketika kain putih yang menutupi benda terbuka.
Sedangkan Ayah dan Ibu Arini hanya tersenyum kecil. Melihat ke arah benda yang penutupnya telah tersingkap.
Kakak Arini menoleh ke arah Hakiki yang berada disamping. Kali ini, dia tertawa tertahan melihat mimik wajah Hakiki, bukan karena melihat benda di atas panggung. Terdengar sedikit suara dengusan kecil karena menahan tawa.
__ADS_1
Di atas panggung, benda yang sudah dibuka oleh kedua pria adalah sarang burung yang berukuran sekitar 2 meter. Sarang burung berkerangkeng dari bahan kawat. Di dalamnya terdapat Burung Merpati yang semuanya berwarna putih. Dan memang benar, burung merpati itu berjumlah 16 ekor.
"Mau diapain, kak, burung-burung itu?” tanya Hakiki penasaran kepada kakak Arini yang berada di sampingnya.
"Mau dibebasin,” jawabnya singkat tanpa melihat wajah Hakiki kali ini. Wajahnya menatap lurus ke depan, ke arah para undangan.
"Oh."
"Nah... jadi burung-burung merpati akan kita bebaskan sore ini. Gimana teman-teman?” teriak Arini.
Terdengar suara riuh dari tamu undangan.
"Be...baskan... Be...baskan... Be...baskan...,” teriak mereka berirama.
"Papa, Mama, Kakak dan Hakiki akan membantu saya untuk membuka sarang burung yang panjang ini,” jelas Arini sambil tertawa geli karena melihat sangat burung terbuat dari kawat-kawat yang lumayan besar.
Arini memberi aba-aba kepada orang-orang yang disebutnya tadi untuk bersiap membuka penutup sangkar burung bagian atas. Penutup sarang burung berada di atas dan selebar sarang barang tersebut. Hakiki berada paling pinggir kiri Arini juga segera mendekat dan memegang benda terbuat dari kawat, bagian atasnya.
"Satu.... Dua... Tiga....." Arini menghitung dengan semangat dan setelah hitungan ketiga, mereka berlima membuka penutup sangkar tersebut. Satu per satu burung merpati terbang, keluar dari sarang itu. Mereka seakan terbebas dari beban hidup ketika berada di sarang.
Suara riuh dari tamu undanganpun bergema di halaman. Mereka tertawa kegirangan dan bertepuk tangan. Mata mereka melihat ke atas. Suara mereka bertambah riuh karena bukan hanya Burung Merpati yang terbang dengan indah ke atas langit tapi ada makhluk yang lain.
Hakiki tercengang. Mulutnya terbuka lebar. Kepalanya menghadap ke atas. Bukan tercengang melihat Burung Merpati yang terbang bebas, tapi ada makhluk lain yang ikut terbang. Bergerombol menuju ke atas langit. Selain merpati berwarna putih, ada begitu banyak kupu-kupu berwarna putih juga terbang bebas mengikuti burung-burung merpati. "Kupu-kupu itu seperti di dalam foto,” gumamnya. Dia masih menampilkan ekspresi terkejut dengan kejadian itu.
Disebelahnya, Kakak Arini juga terkejut. Wajahnya memucat. Mulutnya sedikit terbuka. Kepalanya menengadah ke atas, kedua matanya sedikit membesar ketika melihat kupu-kupu terbang dengan indah. Dia menoleh ke arah Hakiki dan ternyata Hakiki juga melihat tatapannya.
Hakiki tersontak karena tatapan. Dia membesarkan bola matanya.
Kakak Hakiki langsung berpaling dan segera bergeser, melangkah ke barisan kanan, mendekati Ayah Arini, melalui bagian belakang Arini dan Ibunya.
Pada saat itu, Arini tertawa kecil dan begitu bergembira. Melihat ke atas lalu melambai-lambaikan tangannya, seakan berpisah dengan hewan yang sedang terbang bebas.
Sedangkan Ayah Arini dan Ibunya, hanya melihat ke arah hewan-hewan yang terbang ke atas langit. Tidak ada wajah terkejut, keheranan atau wajah tertawa kecil dan bahagia. Hakiki memperhatikan raut wajah itu. "Apakah mereka tidak melihat kupu-kupu itu,” bathinnya.
Kakak Arini yang sudah mendekat ke Ayahnya, berbisik beberapa kata kepada pria itu. Pria yang memakai jas berwarna putih berpaling dan mendengarkannya ucapan anak sulungnya. Kemudian Kakak Arini pergi. Langkah kakinya begitu lebar. Ayah Arini berusaha mencegahnya dengan memegang tangan kakaknya, tapi pemuda bertubuh kurus memaksa untuk pergi.
"Arthaaaaaaaa...." panggil ayah Arini.
Deg.
Jantung Hakiki seakan terhenti untuk kesekian kali, mendengar kata itu. Nama yang dipanggil oleh Ayah Arini langsung masuk ke dalam otaknya.
*******
__ADS_1