
Stigma
- 20 tahun yang lalu -
Chen adalah seorang anak yang memiliki perawakan yang lucu. Mukanya bulat, putih, hidungnya kecil dan berbatang. Tapi dibalik kelucuannya, dia dikenal sebagai anak yang pendiam. Sikap ini berawal dari masa kecilnya yang suram.
Chen adalah seorang Tionghoa, keturunan China yang sudah menjadi Warga Negara Indonesia. Kakek buyutnya dahulu adalah Saudagar China yang berdagang di Indonesia pada masa penjajahan dan setelah Indonesia merdeka, mereka sudah beranak cucu di negri ini dan akhirnya menjadi Warga Negara Indonesia. Seperti layaknya orang keturunan Arab, India, Belanda dan negara lain yang setelah kemerdekaan, mereka dinobatkan menjadi warga negara Indonesia.
Dari Balita, Chen sudah mendapatkan perlakuan kasar oleh ayahnya. Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi. Awalnya ayah Chen adalah seseorang pedagang yang sukses pada masa muda. Setelah menikah dengan Ibu Chen yang berasal dari suku Sunda, bisnis Ayah Chen hancur. Dia menyalahkan istrinya yang menganggap sebagai pembawa sial di dalam kehidupannya. Itu pendapatnya. Karena kebenciannya, maka rasa benci juga berdampak dan menjalar untuk Chen walaupun Chen anak kandungnya.
Chen mendapat perlakuan kasar hampir setiap hari dari Ayahnya. Dipukul, ditendang, diperlakukan tidak seperti anak kandung selayaknya. Ibunya tentu saja berusaha membela Chen dan pastinya, Ibunya Chen mendapat perlakuan yang sama bahkan lebih parah daripada Chen.
Chen adalah seorang anak yang tumbuh dengan sifat pendendam, tertutup dan membenci setiap orang yang mem-bully atau menyepelekannya. Dia tidak memiliki teman dan tidak memiliki orang yang dipercaya selain Ibunya. Masa kecil dan remaja dilewati dengan perkelahian, teman-temannya yang menjadi lawan. Bukan karena dia anak yang nakal tapi karena berusaha melawan bully-an teman-teman terhadap dirinya.
Pada masa duduk di sekolah dasar, bully-an selalu didapat di sekolah dan kekerasan selalu didapatkan di rumah. Di masa itu, dia menanggapi semua tanpa perlawanan membuat dirinya menjadi pribadi yang pendiam, pendendam dan tak percaya dengan siapapun kecuali Ibunya. Di dunia ini yang paling dibenci adalah Ayahnya. Selanjutnya, di masa duduk di sekolah menengah pertama, Chen telah terkenal menjadi pribadi yang nakal. Hampir setiap hari, pulang ke rumah dengan baju yang kotor dan terdapat bercak darah. Masyarakat menilai, Chen sebagai pribadi yang buruk, trouble maker dan penjahat kecil. Sebenarnya, jika ditilik lebih lanjut, bukan Chen yang mengawali semua perkelahian tapi orang-orang yang di sekeliling yang mengusik hidupnya dan masyarakat pula yang membentuk pribadinya seperti itu. Di dalam pikirannya sudah cukup semasa di sekolah dasar berdiam diri dan hanya menerima pukulan, hinaan, cemoohan dan pem-bully-an dalam segala bentuk tanpa perlawanan apapun. Tapi di masa SMP, jiwanya mulai berontak. Dia akan melawan siapapun yang mem-bully atau menyepelekannya, apalagi jika ada orang yang menghina Ibunya. Dia akan marah besar.
Tak ada seorangpun yang dapat menghiburnya. Dia juga tak bisa banyak berbicara mengenai isi hati kepada Ibunya karena wanita itu juga penuh dengan beban hidup. Dia tak ingin menambah beban hidup ibunya lagi. Hanya sebuah seruling yang diberikan oleh pria setengah baya pada saat berjalan di pasar, yang bisa menghiburnya. Ketika menyendiri, seruling itulah yang menghibur hati. Rasa di dalam diri yang menganggap hidupnya tidak adil, berusaha diobati dengan bermain seruling.
Jiwa yang penuh dengan dendam kepada ayahnya sudah tertanam sejak kecil. Ayahnya sendiri yang membentuk pribadinya menjadi seorang pendendam. Dia sangat membenci pria itu yang tak pernah sekalipun menjadi sosok ayah untuk dirinya. Dan akhirnya, dia mengakhiri semua itu.
Ketika berumur 16 tahun, sepulang sekolah, dia melihat ibunya di dapur sudah bersimbah darah, tergeletak di lantai. Ada luka tusukan di dada tepat mengenai jantung. Melihat ayahnya berdiri dengan memegang pisau. Wajahnya semakin menggila ketika bertatap muka dengan Chen. Ayahnya langsung membentak Chen dan menyerangnya dengan pisau dapur di tangan kanan. Sebatan pertama, Chen bisa mengelak, tapi sebatan kedua mengenai tangan bagian atas. Chen meringis kesakitan. Ayahnya kembali menyerang dengan menghujamkan pisau dapur ke dada sebagai sasaran. Dengan gerakan cepat, Chen berusaha menahan serangan dari ayahnya menggunakan seruling yang diambil dari kantong celana.
__ADS_1
Ting.
Pisau dan seruling beradu. Seruling yang dipegang Chen terpental ke lantai. Ayahnya ditendang mundur oleh Chen dengan kaki kanan. Ayahnya semakin berang, menyerang Chen kembali dengan kekuatan penuh. Chen ditendang balik oleh ayahnya dan tersungkur ke tanah. Pria setengah baya, menghujamkan kembali pisau di tangan kanan ke dada Chen. Chen menahan serangan dengan kedua tangan. Dia menahan kedua tangan Ayahnya dengan telapak tangan menggenggam pergelangan tangan lawan. Berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan hujaman pisau yang sudah mendekati leher. Kedua tangan sekarang bersilang membentuk huruf X agar bisa menahan serangan tapi tenaga pria itu lebih kuat, ujung pisau sudah mendekati leher. Posisi dia tergeletak di lantai, bergumul dengan ayahnya yang berada di atas. Chen berpikir keras bagaimana cara mengalahkan pria di atas tubuhnya. Seruling yang pada saat itu, tepat berada tak jauh dari posisi dia tergeletak, berusaha diraih dengan tangan kiri. Mengambil resiko, tentunya ketika menahan serangan pria di atas tubuhnya dengan satu tangan. Tangan kanan yang sekarang ini menahan serangan, berusaha menyalurkan kekuatan penuh ke bagian itu. Ujung pisau malah tambah mendekat karena kekuatannya untuk menahan serangan semakin berkurang. Sedikit lagi ujung pisau menusuk lehernya. Dia melihat pria yang di atas badannya bukan seperti ayahnya lagi, wajahnya sudah sangat berubah seperti dirasuki iblis.
Tangan kiri Chen telah meraih seruling yang sedari tadi tergeletak di lantai. Dengan cepat menggerakkan tangan kiri, menancapkan seruling itu ke samping leher ayahnya.
Jleb.
Crash.
Wajah Chen sangat dingin. Dia segera melepaskan pisau dapur dari genggaman. Berlari mendekati tubuh Ibunya dengan cepat. Mengangkat dan menyandarkan tubuh yang kurus di pangkuannya.
"Maaaaaa...," jeritnya pelan sambil mengusap pipi wanita itu. Dia menitikkan air mata. Wajahnya sekarang terlihat pucat dan bingung.
Wanita separuh baya membuka sedikit mata. Dia berusaha meraih dan memegang pipi Chen. "Per...gi...lah.... Be... bas... kan... dirimu...." Wanita itu terbata dan akhirnya, tangannya jatuh ke lantai dengan cepat. Terkulai lemas.
Chen berteriak memanggil Ibunya. Memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa dengan erat. Darah yang keluar dari tubuh wanita itu, menempel di baju sekolah. Dia berusaha menggoyangkan badan wanita itu agar kembali sadar. Air matanya berderai. Namun nyawa yang telah hilang tak bisa kembali lagi.
__ADS_1
Sekitar satu jam Chen memangku tubuh Ibunya. Berusaha kembali ke alam sadar. Berhenti meratap. Wajahnya kusut. Darah yang ada di sebagian wajahnya sudah sedikit mengering. Berusaha menstabilkan emosi. Lalu membawa tubuh Ibunya yang sudah tak bernyawa ke halaman belakang rumah dengan cara mengangkatnya di bagian depan dengan kedua tangan. Diletakkan mayat itu di dipan tua yang berada di belakang rumah. Mencari-cari satu benda di sudut dapur. Dia menemukan benda yang dicari. Ada cangkul di sudut dapur. Dengan cepat, mengambil cangkul yang sering digunakan untuk berladang. Bergegas menuju ke halaman belakang rumah. Menggali dan menggali dan menggali tanah yang berada di halaman belakang.
Rumah Chen berada jauh dari pemukiman warga. Sejak ayahnya bangkrut, mereka menjual seluruh harta di kota dan pindah ke desa, lebih tepatnya ke hutan. Rumah warga yang terdekat sekitar 500 meter dari rumahnya menuju ke luar. Sedangkan masuk ke dalam hutan tidak ada rumah lagi. Jadi, kejadian ini akan lama diketahui oleh warga. Dia berniat untuk mengubur Ibunya lalu akan pergi meninggalkan rumah. Tak ingin mayat Ibunya dimakan oleh binatang buas. Mayat Ayahnya tak akan dipikirkan lagi olehnya. Kebencian dengan pria itu sudah mendarah daging.
Chen sudah menggali tanah sedalam tiga meter. Hal itu tidak susah baginya karena dia dibesarkan menjadi seorang petani. Di usia remaja ini tubuhnya sudah terbentuk dengan sangat keras dan berotot.
Malam sudah menghampiri. Kawasan itu hanya diterangi oleh lampu patromak yang dihidupkan setelah menggali lubang, setengah perjalanan.
Pemuda yang kurus tapi berotot, keluar dari lubang dan mendekati mayat Ibunya. Menggendong mayat wanita tua dan perlahan-lahan memasukan ke dalam lubang. Dia tak menangis lagi. Berusaha tegar dengan kejadian ini. Begitu banyak kepahitan yang dialaminya selama 16 tahun dan akhirnya jadi seperti ini. Bukan ini yang diinginkannya dalam perjalanan hidupnya tapi dia merasa tidak seberuntung orang lain. Siksaan, hinaan dan makian orang-orang yang ada di sekiling menjadikan dirinya seorang pendendam dan remaja yang nakal. Dia bukan pemabuk, dia juga tidak narkoba dan dia juga bukan penjudi seperti Ayahnya, tapi seorang yang gemar berkelahi demi mempertahankan harga diri. Inilah dia sekarang. Jiwanya yang penuh kebencian dan dendam kesumat sekarang dibalas dengan menusuk leher Ayahnya dan menghujamkan pisau di dada pria setengah baya tanpa penyesalan. Baru kali ini, dia membunuh orang tapi merasa iblis sudah bertepuk tangan dan menyatu dengan dirinya.
Setelah memasukkan tubuh Ibunya yang sudah tak bernyawa lagi ke dalam lubang, dengan cepat menutup sedikit demi sedikit lubang tersebut dengan tanah yang menggunduk di samping. Berusaha dilawannya kesedihan. Wajahnya menampakkan kebencian. Benci akan takdirnya, benci dilahirkan dari keluarga yang seperti ini. Benci dengan Ayahnya. Benci dengan Tuhan yang tak berpihak kepadanya dan benci dengan stigma-stigma masyarakat terhadap dirinya. Mereka yang membentuk dirinya seperti ini, pikirnya.
Sekitar satu jam, Chen baru selesai menimbun lubang. Setelah itu, bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa darah dan lumpur di badan. Berulang kali menyiramkan air ke tubuhnya. Tubuhnya terlihat sangat kekar ketika menanggalkan semua pakaian di badan. Lengan, kaki, otot perut yang berbaris enam kotak dan punggungnya yang lebar serta berotot. Semuanya begitu keras, sekeras kehidupan yang dijalani. Setelah menyiramkan beberapa air ke tubuh untuk membersihkan terakhir kali, dengan cepat menyambar handuk usang di pintu kamar mandi. Dia berusaha mengeringkan tubuh dan rambut, melilitkan handuk usang ke pinggang. Bergegas ke kamar, mengambil beberapa potong baju dan celana di lemari. Sebenarnya, dia juga tak punya pakaian yang bagus, jadi mengambil pakaian itu secara acak. Memasukkan ke dalam tas ransel yang sudah robek di sana sini. Mengambil baju kaos berwarna biru yang sudah sangat pudar dan jeans belel pendek. Dan memakai pakaian itu. Lalu keluar dari kamar, mendekati mayat Ayahnya dan mencabut seruling yang masih tertancap di leher pria itu tanpa ragu. Mengelap sisa darah di seruling dengan menggunakan baju kaos di badan Ayahnya. Mendengus sekali dan memperlihatkan wajah yang bengis. Tatapannya penuh kebencian.
Chen kembali menuju ke belakang rumah. Berusaha memakai sepatu yang usang dalam keadaan berdiri. Tak butuh waktu lama untuk memakai sepatu butut yang tak jelas warnanya lagi. Lalu mengambil lampu patromak yang dipakainya tadi. Berjalan beberapa langkah ke halaman belakang dan melemparkan lampu patromak yang masih hidup ke atap rumah yang terbuat dari daun rumbia. Berdiri, diam terpaku beberapa saat. Tak berapa lama, api mulai menyala di atap rumah. menjalar dengan cepat ke bagian lain. Chen berlari masuk lebih dalam ke hutan dari halaman belakang rumah. Berlari dengan cepat tanpa menoleh lagi. Atap rumah yang ditinggalkan, sudah dilalap api seluruhnya, sangat cepat karena atap berbahan daun rumbia yang mudah terbakar.
*******
__ADS_1