
Pemuda yang memiliki kulit putih, berhidung besar dan mancung menatap tajam lawan bicara yang sedang duduk di hadapannya. Memasang muka datar. Bentuk rahangnya yang tegas menambah keseriusan di dalam wajah. Postur tubuhnya yang bidang, disandarkan di bangku yang diduduki dengan tegak lurus. Dia sangat serius. Pemuda ini tak lain adalah Hakiki. Sedangkan pemuda yang duduk di depannya adalah Artha.
Artha terdiam. Menatap lurus ke arah Hakiki. Tak ada senyum di wajah tapi masih terlihat mempesona. Wajahnya tidak menampilkan kesan garang tapi menyakitkan jika melihat keindahan wajah itu. Terlalu tampan.
"Aku minta penjelasan, Kak," ujar Hakiki membuka pembicaraan.
"Apa yang mau kamu tanyakan?" tantang Artha dengan wajah tenang.
Sebelumnya, sesuai janji, Artha menelepon Hakiki seminggu setelah kejadian pemuda itu pingsan. Menelepon Hakiki dan meminta Hakiki untuk memilih tempat mereka bertemu. Artha akan menceritakan semuanya kepada Hakiki. Dengan syarat, Arini tak boleh mengetahui tentang pertemuan mereka. Hakiki menyetujui, dia memilih Cafe terletak di Jakarta Selatan. Cafe yang jauh dari keramaian di Gedung FX. Mereka berada di Cafe berkonsep Korea.
"Aku bingung harus mulai dari mana Kak," lirih Hakiki. Kali ini, dia melemaskan sedikit pundaknya. Tertunduk sebentar.
"Hmmm.... Gimana dengan dadamu? Masih terasa sakit?" tanya Artha mencairkan suasana.
"Tidak lagi."
"Ada sesuatu yang aneh?"
"Sesuatu? Aneh? Hidupku sudah aneh sejak bertemu denganmu di usia 9 tahun." Suara Hakiki sedikit tinggi.
"Hmm.... Jadi kamu mau menyalahkan aku?"
"Bukan menyalahkan tapi aku meminta penjelasan dengan semua yang telah terjadi. Begitu banyak kejadian-kejadian yang tak habis pikir bagiku, apalagi setahun belakangan ini."
"Kamu orang pilihan, Ki."
"Pilihan?"
"Ya... pilihan. Kamu diberikan anugerah untuk mendapatkan kekuatan dari Bulan Sabit."
"Bulan Sabit? Apa kekuatanku, Kak?"
"Aku belum tahu kekuatan sebenarnya, tapi ada hubungannya dengan logam perak."
"Perak?"
Artha hanya mengangguk. Pemuda yang di depannya memang benar-benar bingung dan berulang kali melontarkan pertanyaan balik kepadanya.
"Jelaskan soal sumber dan prediksi kekuatanku, Kak. Sepertinya kakak lebih banyak tahu daripadaku."
"Bulan memilihmu untuk berbagi kekuatan dengannya. Sewaktu kita bertemu pertama sekali, Papa dan aku sudah mengetahui bahwa kamu punya kekuatan. Karena itulah kamu diculik."
"Oke. Bentar dulu. Aku potong. Jadi Om yang bersamamu menyelamatkan aku 7 tahun yang lalu adalah Papa Arini?" tanya Hakiki meyakinkan. Kepalanya sedikit maju ke depan. Kini punggungnya tidak menempel di kursi lagi.
"Ya. Kapan kamu menyadari itu?"
"Baru kemarin, di pesta ulang tahun Arini ketika dia memanggil namamu di atas panggung."
Artha tersenyum. Sekarang diapun memajukan badannya yang bidang, meletakkan kedua tangan di atas meja. Sikapnya santai kali ini. "Dan sejak kapan kamu menyadari aku adalah Pemanah Api?"
"Pertama kali ketemu kakak sewaktu di rumah. Kakak mengedipkan mata ketika mau beranjak ke kamar."
"Mengapa kamu bisa mengenali aku hanya dengan kedipan mata?"
"Kakak adalah orang yang aku puja dari umur 9 tahun ketika menyelamatkanku dari penculikan. Aku hanya mengenali kedipan mata dan punggungmu. Tapi 7 tahun yang lalu, punggungmu tak selembar sekarang," jelas Hakiki.
Artha tersenyum. Sepertinya dia merasa bangga dengan apa yang dikatakan oleh Hakiki. Tapi entah bangga karena hal apa. Apakah karena Hakiki menjadi pemujanya atau karena punggungnya yang lebar. Entahlah.
"Aku memang punya kebiasaan jika bertemu mata seseorang dalam hitungan detik, mataku akan berkedip," nyata Artha.
"Kebiasaan seperti apa itu?" tanya Hakiki dalam hati. "Bukankah itu dinamakan Tebar Pesona," gumamnya lagi. Tapi dia tak mau membahas hal itu.
"Aku berdoa kepada Tuhan untuk bertemu lagi denganmu tapi harapanku pupus ketika ayah mendapatkan pekerjaan di Jakarta karena aku berpikir bahwa kakak ada di Medan, bukan di Jakarta. Aku merasa sedih."
"Ayahmu mendapat pekerjaan di Jakarta bukan karena faktor kebetulan."
"Apa?" Hakiki mengerutkan dahinya.
"Ya. Papa yang mencarikan Ayahmu pekerjaan di Jakarta dan memberitahukan kepada Komisaris Utama BUMN itu supaya menerima Ayahmu atas rekomendasinya," jelas Artha dengan lugas.
" Jadi. Ayahku.... Papa Arini...." Hakiki terbata. Kalimatnya terputus-putus.
"Tidak. Mereka tidak saling kenal. Papa berusaha melindungimu karena pelindungmu yang ditugaskan papa, mati terbunuh. Orang yang menculikmu, berusaha kembali untuk melakukan aksi itu lagi. Lalu, Papa berinisiatif untuk memindahkanmu ke Jakarta agar kami bisa menjagamu lebih efektif."
Hakiki tercengang. Mulutnya terbuka lebar. Ekspresi wajahnya sangat lucu. Jadi itu yang menyebabkan keluarganya pindah ke Jakarta, pikirnya.
Artha hampir tertawa melihat wajah anak itu, tapi ditahan. Ini adalah momen yang serius, pikirnya.
"Dan takdir telah mempertemukan kamu dengan Arini," jelas Artha menambahkan.
"Itu diatur juga?"
"Tidak. Itu berjalan dengan sendirinya. Aku mengetahui hal itu sebulan setelah kalian berteman. Dan aku melaporkan kepada Papa mengenai kebetulan itu dan dia mensyukuri karena aku bisa menjagamu dan sekaligus menjaga Arini. Karena kalian sering bersama."
"Aku bingung mau bertanya apalagi karena begitu banyak yang ingin aku tanyakan, Kak."
"Tanya saja. Kita punya banyak waktu," jawab Artha sedikit elegan.
"Tentang kekuatanku, Kak."
"Seperti yang aku bilang, ketika kamu diculik, Big Boss tahu bahwa kamu akan punya kekuatan dan dia ingin mendoktrin kamu dari kecil supaya bisa menjadi kaki tangannya. Bukankah mudah untuk meracuni pikiran anak kecil dan doktrin yang telah diberikan akan terus melekatĀ sampai dia dewasa nantinya. Padahal doktrin itu salah."
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhenti. Pelayan perempuan datang membawa dua gelas minuman pesanan mereka. Pelayan itu tersenyum, lalu meletakkan Avocado Float ke arah Artha dan Strawberry Float ke arah Hakiki sesuai dengan pesanan mereka tadi.
"Kamu yang lebih tepat mengetahui kekuatan yang ada di dirimu. Aku hanya bisa melihat selama pengamatan ini bahwa Bulan Sabit berhubungan dengan logam perak dan kekuatanmu ada di logam perak dan bersumber dari Bulan Sabit."
"Sudah hampir setahun ini aku merasakan ada sengatan listrik di seluruh tubuh terutama tanganku ketika berdekatan dengan perak."
"Ya... kami tahu akan hal itu karena itulah aku sengaja memberikan cincin perak kepada Arini untuk membuktikan teori kami."
Hakiki ternganga untuk ke sekian kalinya. Dirinya tak habis pikir soal itu. Mereka sangat baik merencanakan segala hal.
Memang pernah Arini memakai cincin perak sewaktu di Kelas 3 SMP, di semester akhir dan Hakiki menjadi tahu dengan kejadian itu jika dirinya sensitif dengan logam perak, bukan logam yang lain. Tapi Arini hanya sekali saja memakai cincin itu, keesokan harinya tidak lagi dipakai Arini.
"Bener-bener deh kalian ya, Kak," seru Hakiki.
Artha tersenyum kecil. "Dengan cara itu kamu jadi tau kalau perak adalah logam yang sensitif untuk tubuhmu saat itu, kan?" jelas Artha. "Ambil saja sisi baiknya," lanjutnya santai.
"Saat itu? Emang sekarang, menurutmu aku tidak sensitif lagi terhadap perak."
" Tidak."
Hakiki terkejut. Mendekatkan kepalanya ke Artha," Jangan bilang kalau Kakak dan Om sekarang sudah tahu kalau aku tidak sensitif lagi dengan perak."
Artha hanya tersenyum kecil. Menyeruput minuman yang ada di hadapannya.
"Sungguh ajaib kalian ya. Aku merasa ditelanjangi," jawab Hakiki setengah bercanda. Kini dia tertawa kecil tapi dalam kondisi terpaksa.
"Prediksi aku dan papa, kamu akan mendapatkan kekuatan pada umur 16 tahun," jelas Artha.
"Itu sekitar 3 minggu lagi," gumamnya dalam hati. Kedua matanya yang sendu menatap ke arah Artha.
"Dan itu sekitar 3 minggu lagi," ujar Artha.
Hakiki membelalakkan matanya yang memang sudah besar. Tak menyangka akan perkataan yang diucapkan lawan bicaranya.
"Tidak usah heran. Hal yang kecil saja kami bisa tau apalagi tanggal lahirmu. Itu hal yang paling gampang untuk dicari." Cuek. Menyeruput kembali minuman di hadapannya.
Hakiki hanya manggut-manggut tanda menyetujui. Kali ini tersenyum kepada Artha. Senyum itu sangat menggoda.
"Malam itu, ketika aku pingsan, aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu, Kak. Kakak sudah menyelamatkan hidupku untuk kedua kali," nyata Hakiki pelan. "Ada sesuatu yang terjadi dengan dadaku, Kak. Sepertinya kakak harus tau itu."
Artha memasang wajah penasaran. Matanya sedikit tajam memandang Hakiki.
Hakiki melihat kanan dan kiri. Mengecek pengunjung lain apakah memperhatikan mereka atau tidak. Ketika dirinya sudah merasa aman dan tidak ada yang memperhatikan, dia membuka kancing bajunya, dua kancing bagian atas.
Artha melotot. "Hei... apa yang kamu lakukan?" tanyanya berbisik pelan. Sikap wibawa yang dijaga selama ini, hilang karena mimik wajahnya yang lucu.
Hakiki tak menggubris pertanyaan Artha. Tetap membuka kancing bajunya, sedikit membuka pakaiannya sehingga memperlihatkan dada kiri.
Hakiki dengan cepat menutup kembali dadanya dan mengancingkan baju.
"Sakit?" tanya Artha khawatir.
"Ya... sakit lah, aku sampai pingsan merasakannya."
"Bukan. Maksud aku, apakah sekarang masih sakit?"
"Tidak pernah lagi. Hanya sekali ketika muncul di malam itu."
Artha mengangguk. "Kita lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku akan berusaha membantu untuk menemukan kekuatanmu."
"Sudah berapa lama kakak menguntit aku?"
"Sejak kamu pindah ke Jakarta. Tapi tidak terlalu sering, hanya 1 tahun belakangan ini aku rutin mendatangi rumahmu setiap Bulan Sabit muncul. Itu perintah Papa supaya aku tahu tentang kondisimu."
"Pantesan aku merasa selalu diikuti oleh orang lain, hampir setiap hari."
"Orang yang mengikutimu tidak hanya aku, pihak lawan kita juga mengikutimu. Mereka sekarang tidak berencana menculikmu lagi tapi... berusaha membunuhmu."
"Apa?" Suara Hakiki tercekat.
"Ya. Tak hanya kamu, aku dan beberapa orang lain yang akan kami rekrut, termasuk Arini."
"Arini?"
"Ya, Arini. Aku baru sadar kalau Arini juga akan punya kekuatan ketika acara pelepasan Burung Merpati di pesta ulang tahun kemarin. Apa kamu melihat hal itu?"
"Maksud Kakak, kupu-kupu itu?"
"Ya."
"Aku tidak melihatnya sekali, tapi itu yang kedua kali."
"Kamu melihat dari foto yang kamu ambil, kan? Kupu-kupu itu tertangkap kamera."
"Loh... Kakak kok tau?"
"Aku juga melihatnya di foto pada saat kita bertemu pertama kali di rumah."
"Tapi...."
"Aku bisa melihat bayangan foto itu tanpa harus berbentuk hitam putih, Ki," jelas Artha. Kali ini memanggil nama Hakiki dengan santai.
__ADS_1
Hakiki terdiam. Kekuatan Artha sepertinya sangat besar. Hakiki menyimpulkan hal itu karena hanya orang yang berilmu tinggi yang bisa melihat bayangan dengan mata telanjang.
"Om tau soal ini, Kak?"
"Papa lebih lama tau dari aku, mungkin sudah tau dari Arini kecil tapi tidak memberitahuku. Papa bilang kalau Arini adalah titisan dari Lady Raffles karena itulah sewaktu di Monumen Kebun Raya Bogor, Arini bertingkah aneh."
"Kakak juga tau soal itu? Apakah Arini cerita soal itu?"
"Tidak. Aku ada di sana bersama kalian."
"Heh...." Hakiki hanya menghela nafas. Menghempaskan punggungnya yang bidang di badan kursi. Merasa dicurangi selama ini. Ternyata hidupnya di bayang-bayangin oleh Artha. Dia tak perlu merasa jengkel lagi dengan pemuda di hadapannya. Percuma saja. Itu pikirnya.
Artha tersenyum melihat aksi Hakiki. Seakan tahu apa yang ada dipikiran pemuda di hadapannya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Kak?"
"Kamu fokus dengan kekuatanmu. Kamu pasti butuh bantuan untuk mendapatkan kekuatan itu dan aku siap membantu."
"Apa memang sesakit ini jika kekuatannya keluar, Kak?" tanya Hakiki polos.
"Tidak juga. Aku tak pernah merasakan sakit ketika menyadari ada kekuatan di dalam diri. Papa yang membimbing aku terus dari kecil sampai aku mendapatkan kekuatan pertama di umur 10 tahun."
"10 tahun?"
"Ya... Aku sudah mahir memanah di umur 8 tahun dan di umur 10 tahun jariku mengeluarkan api dan setahun kemudian aku bisa mengontrol api itu kemanapun aku inginkan."
"Wah... hebat," nyata Hakiki kagum. Mulutnya terbuka lebar. Matanya membeliak. " Jadi, sewaktu menyelamatkan aku, kakak umur berapa tahun?"
"12 tahun."
"Wah," seru Hakiki. Dia seakan terpesona dengan cerita Artha.
"Semuanya butuh proses dan nikmati proses itu."
"Kenapa aku yang terpilih, Kak?"
"Kalau pertanyaan itu, bukan kuasa aku menjawabnya. Tuhan yang berkehendak. Kita hanya menjalani takdir ini dengan ikhlas. Itu kata Papa. Terkadang aku juga berpikir bahwa hidupku tak seperti manusia normal lainnya. Setiap hari aku mengawasi beberapa orang yang harus direkrut dan berhadapan dengan kaki tangan Big Boss. Hidupku tak normal seperti remaja lain, aku juga tak memiliki teman dekat seperti layaknya remaja pada umumnya. Aku merasa hidupku jauh dari kata normal tapi aku harus tetap menjalani."
"Berapa orang yang bakal direkrut, Kak?"
"Mungkin 7 orang termasuk aku. Kamu orang ke enam yang akan menemukan kekuatan dari orang yang dalam pengawasan kami."
"Berarti sudah ada empat orang lain lagi selain aku dan kakak?"
"Ya."
"Dimana mereka?"
"Ada. Di sekitaran Jakarta. Kita hanya menunggu 1 orang lagi untuk mendapatkan kekuatannya, lalu berkumpul bersama."
"Apa sebenarnya misi kita, Kak?"
"Big Boss juga telah merekrut beberapa orang yang sefaham dengannya untuk menghancurkan manusia di dunia ini, perlahan-lahan tapi pasti. Ada serangan yang akan dilakukan tapi kami tak tahu pasti kapan itu akan terjadi, karena itulah papa dan timnya berusaha mencari tahu apa yang direncanakan oleh Big Boss."
"Kapan aku bisa bertemu dengan yang lain, Kak?"
"We'll see. Ada masanya. Kita menunggu satu orang lagi yang masih berada di luar Jakarta dan masih dalam pengawasan. Umurnya lebih muda dua tahun darimu."
Hakiki kaget. Berarti tim yang mau direkrut adalah para remaja. "Kita masih muda Kak, apakah yang ke empat orang yang sudah muncul kekuatannya lebih tua dari kakak?"
"Tidak. Aku yang paling tua di antara kalian."
Hakiki kembali tercengang. Kisaran umur Artha sekitar 19 tahun, berarti jika lebih muda dari Artha maka yang lainnya sekitar umur 16 sampai 18 tahun. Mengapa mereka merekrut tim yang semuanya remaja.
"Jangan terlalu dipikirkan yang lain. Saat ini kamu fokus dengan kekuatanmu. Papa dan timnya percaya dengan kita bahwa kita bisa diandalkan."
Handphone Artha berbunyi. Dengan cepat segera merogoh kantong celana dan menempelkan alat komunikasi itu ke telinganya setelah menggeser satu menu.
"Ya. Oke. Kakak segera ke sana. Kamu lagi dimana, Dapi? Oke. Setengah jam lagi Kakak sampai di sana," jawabnya.
Hakiki hanya diam mendengar pembicaraan itu.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tantang Artha.
"Kita harus sering ketemu, Kak. Jadi aku tanya sama Kakak di lain waktu saja."
"Ya. Aku juga buru-buru nih. Ada keperluan lain," jelasnya.
"Urusan superhero?" tanya Hakiki sedikit berbisik. Kepalanya menjulur ke depan.
Artha hanya tersenyum melihat tingkah Hakiki. Dia bangkit. "Kamu jaga diri. Kamu harus belajar menjadi lebih waspada saat ini karena banyak musuh yang mengincar. Kakak selalu ada di sampingmu pada saat kamu membutuhkan."
Hakiki juga ikut berdiri. Berjalan mendekati Artha. Lalu dengan spontan memeluk Artha. "Terima kasih, Kak. Terima kasih kembali telah menyelamatkan hidupku dua kali. Aku bangga padamu. Aku telah mencarimu bertahun-tahun dan akhirnya aku menemukanmu. Aku akan berusaha untuk membalas jasamu yang telah menyelamatkan aku."
Sebenarnya Artha tak ingin berada di momen ini tapi diapun ikut larut dalam sikap dramatis pemuda yang berada di pelukannya." Kakak selalu memikirkanmu setelah kejadian 7 tahun yang lalu. Ketika kamu pindah ke Jakarta, hati kakak sedikit lega. Kamu ternyata baik-baik saja dan kakak bisa melihatmu setiap saat."
Artha melepaskan pelukan dari Hakiki, memegang pundak pemuda itu." Kamu sudah seperti adikku, sudah seperti saudara kembar Arini. Jadi hati kita dekat. Sudah menyatu walaupun misi kita belum berjalan. Jaga dirimu untukku Hakiki, karena suatu saat kakak tak bisa melindungimu terus dan jaga Arini yang selalu bersamamu." Suara Artha sedikit tertahan. Tak ingin mengeluarkan air mata di depan Hakiki. Menarik tubuh Hakiki ke dalam pelukannya kembali.
"Oke. See you. Nanti kita cerita lagi." Dengan cepat melepaskan tubuhnya dari pelukan Hakiki. Segera beranjak pergi. Tiba-tiba, berbalik. "Oh, ya. Bayarkan minuman Kakak. Nanti kakak ganti." Diapun segera pergi.
Hakiki tersenyum melihat Artha. Akhirnya ada sedikit rasa lapang di dalam hati. Dia telah menemukan pahlawan yang dicari selama ini. Ternyata pahlawan itu berada di dekatnya.
__ADS_1
*******