
Dua orang telah berada di teras rumah. Mereka adalah Arini dan Artha. Mereka menunggu Hakiki keluar dari rumah.
Sekarang pukul 20.00 Wib. Arini sengaja minta ditemani oleh Artha ke rumah Hakiki karena hari ini tanggal 29 Desember 2011 dan itu berarti besok adalah ulang tahun sahabatnya.
Arini sengaja ingin memberikan kado kepada Hakiki malam ini. Karena besok, Hari Minggu, dia sudah ada jadwal dengan keluarga untuk pergi ke luar kota.
Sebenarnya, Arini ingin merayakan ulang tahun bersama Hakiki di tanggal 30 Desember besok tapi Papa dan Mamanya serta Artha akan melakukan liburan ke luar kota bersama dan dia harus mengutamakan keluarga.
Hakiki keluar dari rumah dengan wajah terkejut.
"Arini... Kak Artha," ujarnya. Sedikit membungkukkan badan ketika melihat Artha tapi dia merasa geli ketika melakukan itu.
Artha yang sedang duduk dengan sikap berwibawa, hanya mengangguk. Diam.
Kelakuan Artha itu yang membuat Hakiki geli. Karena pada saat pemuda yang lebih tua darinya memasang wajah serius dan berwibawa, Hakiki langsung mengingat kekonyolan Artha yang pernah dilihatnya. Melihat wajah yang tak berekspresi itu sangat tak cocok jika seseorang telah mengenal sifat aslinya.
"Selamat Ulang Tahun, Ki," Ujar Arini. Berdiri dan menyalami Hakiki lalu memeluknya.
"Loh... ada apa ini, Rin?" tanya Hakiki. "Ulang tahunku besok," jelasnya.
"Ya, besok aku tak bisa merayakan acara ulang tahun bersamamu," nyata Arini.
"Enggak ada acara kok untuk merayakan ulang tahunku besok."
"Iya. Aku mengerti. Maksudku tidak bisa seperti tahun lalu, kita pergi berdua untuk merayakan ultahmu," jelas Arini.
Hakiki tidak membalas lagi pernyataan Arini. Duduk di kursi tamu, di antara Arini dan Artha.
Arinipun kembali duduk.
Artha hanya terdiam. Berprilaku layaknya seperti bodyguard.
"Kamu lagi ngapain?"
"Tak ada yang spesial. Cuma nonton tv doang," nyata Hakiki.
"Kak Artha apa kabar?" tanya Hakiki.Menoleh ke sebelah kanan.
"Baik," jawab Artha sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Hakiki, lagi - lagi tertawa kecil melihat ekspresi standar yang dikeluarkan Artha.
"Ki, ini kado untukmu. Selamat ulang tahun yang ke - 16 ya," nyata Arini. Menyodorkan dan memberi bungkusan plastik berwarna merah muda.
Hakiki menyambut pemberian Arini dengan wajah datar dan mulut sedikit terbuka.
"Oh."
Pemuda itu lalu membuka plastik dan melongok ke dalam. Ada benda yang dibungkus kertas kado berwarna dominan abu-abu. Benda itu berbentuk persegi panjang dengan lebar sekitar dua inchi dan panjang sekitar lima inchi.
"Apa ini?" tanya Hakiki. Matanya sedikit membesar menatap Arini. Mulutnya sedikit terbuka.
"Nanti saja buka kadonya dan ntar kamu tau sendiri cara menggunakannya," nyata Arini.
"Cara menggunakan?" gumam Hakiki. Meletakkan bungkusan itu di meja tamu. Dia tidak terlalu mencerna kalimat terakhir Arini. Hanya bergumam dengan penuh tanda tanya dan sekali lewat di dalam pikirannya.
"Tadi akunya mau ke rumah kamu, sendirian doang naik mobil, tapi Kak Artha mau nemeni. Khawatir sama aku katanya," jelas Arini.
Artha dengan spontan membelalakkan matanya ke arah Arini.
Hakiki menoleh ke Artha. Mulutnya setengah terbuka.
"Ya. Aku khawatir dengan adik kecilku yang keluar di malam hari seperti ini," nyata Artha.
Arini tertawa melihat kelakuan kakaknya.
Hakiki memandang dengan wajah datar, masih ke arah Artha. Lalu, "Oh. Sebentar ya. Aku buatkan minuman terlebih dahulu," ujar Hakiki tiba - tiba. Dirinya baru tersadar akan hal itu.
Artha mendelik dan memajukan sedikit kepalanya. Kedua bibirnya juga sedikit manyun. "Anak ini sangat aneh," pikirnya. "Dia tidak merespon apa yang baru diucapkan Arini."
"Ini, sekalian bawa ke dalam," saran Arini ke Hakiki. Memberikan bungkusan lain yang berbentuk kotak segi empat. Ada bacaan Bakery di kotak kue. Arini sengaja membelinya ketika di perjalanan menuju rumah Hakiki.
Kotak yang disodorkan Arini, sekarang sudah berpindah tangan ke Hakiki. Dia tahu kalau isi di dalam kotak itu adalah kue ulang tahun untuknya. Bangkit dari tempat duduk dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama pemuda itu keluar. Ternyata Ibunya menyuruh dirinya untuk menemani tamu yang ada di luar dan wanita itu yang akan mempersiapkan makanan dan minuman untuk mereka.
Di malam yang cerah dan penuh bintang, Arini lebih banyak bercerita tentang masa kecilnya bersama Artha. Bercerita tentang masa kecilnya di Selandia Baru. Dia dan Artha menetap lama di Selandia Baru di masa kecil. Pada saat kelas 1 SD, dia ingin menetap di Jakarta, itu yang diminta kepada orang tuanya. Mungkin terlalu capek untuk pindah lagi.
Mereka bercerita sambil menikmati secangkir teh dan kue yang dibawa oleh Arini.
__ADS_1
Arini juga bercerita, sejak menetap di Jakarta, dirinya dan Artha sering ditinggal orang tua mereka. Terkadang enam bulan sekali baru bertemu. Si Mboklah yang mengurus dirinya dan Artha. Terkadang dirinya merasa rindu juga dengan orang tuanya di masa - masa kecil dulu. Tapi semenjak bertemu dengan Hakiki, dirinya punya semangat baru. Hal itu diceritakannya di depan Artha.
Artha hanya terdiam mendengar cerita Arini. Terkadang, Artha juga merasa sedih jika melihat adiknya merasa kesepian. Apalagi semenjak SMA sampai sekarang dirinya sibuk dengan rutinitasnya.
Di sisi lain, Hakiki yang duduk di antara mereka berdua, di tempat duduk yang berbeda, pemuda itu mendengarkan cerita sahabatnya dengan baik, sesekali berusaha menghibur Arini dengan candaan kecil.
Kakak dan adik itu pamit dari rumah Hakiki ketika jam sudah hampir mencapai angka 11. Cukup lama juga mereka mengobrol, bercanda dan tertawa.
Hakiki tentu saja tidak kaku lagi dengan kehadiran Artha di antara mereka, jadi Arini juga merasa senang akan hal itu.
Arini dan Artha pun berpamitan kepada kedua orang tua Hakiki dan mereka berjalan menuju depan rumah. Mobil Arini terparkir pas di depan rumah Hakiki. Dia sudah tahu kondisi gang itu akan sepi jika malam hari.
Hakiki memandangi punggung kedua orang yang dekat di hatinya, saat ini. Arini yang telah menjadi sahabatnya selama empat tahun dan Artha yang menyelamatkan nyawanya sewaktu kecil. Pemanah Api yang selalu dipuja sebagai pahlawan idola sampai sekarang.
Dia tersenyum. Bibirnya mendatar, kesan manis terukir di wajahnya yang lembut.
*******
Pemuda berwajah tampan duduk di samping tempat tidur yang terbuat dari besi. Tangannya meraih bungkusan berwarna merah muda. Membukanya lalu mengeluarkan sebuah benda dibungkus kertas kado berwarna dominan abu - abu.
Menggapai benda itu dan menariknya keluar dari kantong plastik, di letakkan di tempat tidur, tepat di depan posisi duduknya. Dengan perlahan, membuka kertas pembungkus benda. Benda itu berbentuk kotak, panjangnya sekitar 5 inchi.
Dia membuka pembungkus itu dengan berhati - hati. Plester demi plester yang tertempel dilepaskan olehnya. Berusaha untuk tidak merusak kertas kado sebagai pembungkus benda.
Dan berhasil. Semua plester telah dilepas. Kemudian membuka kertas pembungkus benda dengan perlahan. Beberapa kali, membuka lipatan kertas kado dan akhirnya terlihat isi di dalam yaitu kotak berwarna putih kecoklatan yang terbuat dari kayu.
Mengerutkan dahi. Tangannya yang besar mengangkat benda yang berbentuk kotak itu mendekati wajahnya. Lalu berusaha untuk membuka dengan kedua tangan. Tapi tak berhasil. Kotak itu tertutup rapat.
Matanya tertuju ke arah belahan kotak yang berada di sisi depan. Ada lubang kecil di situ. Lubang itu berbentuk seperti lubang kunci, bukan hanya sekedar lubang yang bulat.
Mengambil plastik yang menjadi pembungkus awal kado. Tangannya merogoh ke dalam plastik. Berusaha menemukan sesuatu, tapi tak berhasil. Akhirnya membalikkan mulut plastik ke arah bawah. Mungkin ada sesuatu yang keluar dan terjatuh dari dalam plastik, pikirnya tapi tak sesuai dengan perkiraan. Tak ada apa - apa.
Keningnya kembali berkerut. Terdiam memandangi kotak yang berwarna terang. Matanya penuh dengan rasa penasaran.
"Mungkin Arini lupa memberikan kunci kotak ini," gumamnya pelan.
Dia adalah Hakiki yang tanggal 30 Desember 2011 besok, genap berumur 16 tahun.
Hakiki meletakkan kotak berwarna putih kecoklatan di atas meja belajar yang ada di samping dengan pelan. Selanjutnya membuka selimut berwarna abu - abu yang berada di tempat tidur dan memasukkan kedua kaki. Gerakan selanjutnya adalah merebahkan punggung yang mulai terlihat bidang dan besar.
__ADS_1
*******