
- 2 Februari 2012 -
Udara dingin malam ini terasa lebih dingin dari malam sebelumnya. Seminggu ini, setiap malam Kota Jabodetabek diguyur hujan. Rata, menyeluruh di setiap kota.
Di Hutan Pohon Pinus yang sepi dan dingin, terdengar suara air yang jatuh ke bumi dengan deras. Titik - titik air hujan menderu keras menghantam atap villa yang terbuat dari bahan seng spandek berwarna biru.
Di ruang tengah, duduk 7 pemuda berhadapan dengan seorang pria. Mereka semua terdiam mendengarkan pria itu berbicara. Suara gemeretak api dari perapian yang berada di sudut ruangan, sesekali terdengar. Api yang membara menghangatkan mereka di malam yang dingin.
Di sofa berwarna krim, berukuran untuk tiga orang telah duduk Artha, Dapi dan anak laki - laki yang bernama Panca. Umurnya mungkin sekitar 14 tahun. Wajahnya masih terlihat sangat polos. Sofa itu berada di tengah dari unit sofa yang lain.
Sedangkan di kiri sofa, terdapat loveseat berwarna krim, berukuran untuk dua orang, duduk Hakiki dan Yusuf dan di sebelah kanan dengan loveseat yang berukuran sama, duduk Habibi dan Siddik.
Di depan mereka, seorang pria duduk di armchair. Tangannya menempel di lengan kursi yang berwarna kuning cerah.
Pria itu sengaja memerintahkan Artha untuk mengumpulkan pemuda yang dijaganya selama ini. Sudah saatnya para pemuda mengetahui misi dari perekrutan mereka.
Pria itu adalah Ayah Arini bernama Bagaskara Wicaksana. Dia berusaha menjelaskan kepada para pemuda mengenai musuh yang akan mereka hadapi.
Om Bagas, nama itu yang mereka panggil ke pria berbadan tegap, memulai cerita tentang Big Boss yang akan menjadi musuh mereka. 20 tahun terakhir ini, Big Boss tidak turun tangan langsung untuk menjalankan misi mereka, tapi mengirimkan orang-orang pilihannya untuk melaksanakan tugas kotor itu. Merekrut pemuda yang ada di hadapannya dari kecil adalah salah satu misi dari Big Boss, kecuali Artha. Dia tahu jika mereka mempunyai kelebihan dan tahu bahwa Artha tak akan berpihak kepadanya jika direkrut.
Big Boss berhasil merekrut beberapa anggota yang bertujuan sama dengannya. Merubah dunia dengan peraturan Hukum Rimba. Makhluk - makhluk itulah yang sudah pernah berhadapan dengan para pemuda yang duduk di hadapannya, kecuali Panca, sepengetahuan Om Bagas.
Saat ini, awal dari misi Big Boss yang ingin merekrut mereka sewaktu kecil telah gagal. Misi itu berubah yaitu membunuh ke-7 pemuda. Artha sudah berhadapan dengan musuh sejak berumur 12 tahun. Sedangkan ke lima lainnya, baru dua tahun belakangan ini berhadapan dengan utusan Big Boss. Sedangkan Panca tidak secara langsung berhadapan dengan musuh karena masih belum memiliki kekuatan. Sepengetahuan mereka.
Ke tujuh pemuda mendengarkan penjelasan dari pria yang duduk santai di depan mereka dengan serius. Mereka lebih banyak diam, termasuk Hakiki dan Artha.
Masih terlihat di wajah Hakiki, raut wajah yang sedih. Tak bersemangat setelah melalui hari-hari kehilangan Arini dalam seminggu ini. Dia juga belum masuk ke sekolah seperti biasa.
Sedangkan Artha, mulai beraktifitas kembali setelah empat hari mengurung di kamar. Menyesali dirinya yang tak bisa menjaga dan melindungi Arini dengan baik.
Dapilah yang terus menerus memperhatikan dan menghibur mereka berdua, supaya mereka kembali stabil seperti biasa.
__ADS_1
Sedangkan ke empat yang lain, yaitu Yusuf, Habibi dan Sidik, sejak kejadian penyelamatan Panca dari kaki tangan Big Boss untuk membunuhnya, mereka sudah tinggal di vila. Om Bagas mengurus kebutuhan mereka, termasuk perpindahan sekolah mereka seluruhnya dari kota kelahiran mereka masing - masing. Selama ini mereka sudah tinggal di Jakarta, Dapi yang baru saja menetap di Jakarta. Sedangkan Panca mulai kejadian di Hutan Pohon Pinus, baru diurus oleh Om bagas.
Om Bagas belum menetapkan tim mereka secara permanen karena Panca belum mendapatkan kekuatan. Misi yang akan dilakukan selanjutnya adalah misi untuk meningkatkan kekuatan mereka masing-masing dan membangun kekuatan dalam kerja sama tim. Karena itulah mereka harus tinggal bersama di satu atap. Om Bagas sudah memiliki alasan yang tepat kepada orang tua mereka masing-masing untuk perpindahan mereka ke vila di Hutan Pohon Pinus.
Ke - 7 pemuda tidak terlalu banyak bertanya dan berbicara. Mereka masih remaja yang bingung dengan situasi yang ditakdirkan di hidup mereka. Tapi Om Bagas akan berusaha terus untuk membimbing mereka dibantu oleh beberapa orang suruhannya yang akan menjadi perpanjangan tangan pria itu.
"Nah... oke. Sekarang kalian satu tim. Berusahalah untuk menjadi satu ke satuan. Satu yang sakit, harus merasakan semuanya sakit. Satu yang senang, maka semuanya harus merasakan kesenangan itu juga. Kerja sama tim, itulah yang harus diutamakan. Panca adalah adik kalian yang terkecil. Jaga dia dengan nyawa kalian karena belum memiliki kekuatan sama sekali. Jadi, ada yang mau ditanyakan?"
Panca melihat Om Bagas dengan tatapan yang polos. Mulutnya sedikit terbuka.
Om Bagas memandangi wajah ke - 7 pemuda silih berganti. Diraut wajah mereka seakan tergambar begitu banyak kebingungan tapi seperti tak bisa diungkapkan. Di akhir tatapan, pria berbadan tegap melihat Panca dan menatap matanya. Anak laki-laki itu berpaling, perlahan menunduk muka ketika ditatap oleh Om Bagas. Pria berbadan tegap melihat reaksi Panca dan sedikit tertegun. Berpikir.
"Takdir itu harus dijalani. Kita tidak meminta diciptakan seperti ini tapi takdir merupakan anugerah untuk kalian. Kalian adalah orang - orang pilihan. Kalian bisa hidup normal seperti biasanya tapi ada tanggung jawab yang akan kalian emban sebagai superhero. Just go with the Flow. Seperti air yang akan mengalir menuju titik terendah dan akhirnya berputar kembali membentuk siklus hujan yang bermanfaat untuk dunia ini. Saya tahu betapa bingungnya kalian dengan anugerah ini, tapi berjalannya waktu kalian akan menikmati dengan baik."
Ke - 7 pemuda tak mengeluarkan suara sedikitpun. Panca kembali lebih sering melihat Om Bagas ketika pria itu berbicara sedangkan yang lain tertunduk. Masing - masing berpikir dengan pikiran remaja mereka.
"Oke. Panca, Yusuf, Habibi dan Sidik boleh beristirahat. Saya ingin bicara dengan mereka bertiga." Om Bagas menunjuk kepada Artha, Hakiki dan Dapi.
"Apa yang kamu pikirkan, Hakiki?" tanya Om bagas. Pertanyaan itu terlontar ketika ke empat pemuda yang lain sudah menapaki lantai atas. Hakiki sudah berpindah dudukk di antara Artah dan Dapi. Posisi yang sebelumnya diduduki oleh Panca.
Hakiki terdiam.
Pria yang duduk dengan punggung yang tegak, menunggu jawaban sekitar 3 menit dari Hakiki. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut pemuda yang memiliki rambut sedikit ikal.
"Artha?" Papanya bertanya kepada anak sulungnya.
Artha tertunduk. Dia menangis.
"Ada apa?" tanya pria itu seakan heran dengan perilaku Artha sekarang ini. Memajukan punggungnya. Kedua tangannya menggenggam ke depan, bersatu menjadi satu kesatuan, sikutnya tertumpu pada masing - masing paha kanan dan kiri.
Melihat Artha menitikkan air mata, Hakiki mengikuti perilaku pemuda yang duduk di sebelahnya. Tertunduk menyembunyikan air mata.
__ADS_1
"Om. Saya boleh bicara?"
Tiba - tiba Dapi yang duduk di sebelah Artha, mengangkat tangan kanannya ke atas.
Pria berbadan tegap, mengangguk.
"Maaf sebelumnya Om. Saya merasa bersalah dengan kejadian seminggu yang lalu. Om memberikan saya tugas untuk menjaga Hakiki dan Arini tapi saya tidak berhasil melakukan itu," sesal Dapi. Suaranya terdengar lirih.
Tiba - tiba Artha berkata, "Artha minta maaf, Pa. Artha tak bisa menjaga Arini dengan baik. Kejadian ini yang Artha takutkan. Arini menjadi korban dari musuh-musuh kita." Artha terisak. Dia sangat merindukan adiknya.
Hakiki hanya terdiam. Berulang kali menyeka air mata dengan telapak tangan. Dapi berusaha menenangkan teman yang berada di samping dengan mengelus punggungnya.
"Saya tidak menyalahkan kalian semua. Apalagi kamu, Artha. Arini, memang menjadi korban dari musuh kita, Papa akui itu."
Om Bagas menjelaskan hal itu dengan tenang. Dia seolah tak merasa kehilangan anak perempuan satu-satunya. Seharusnya dia tidak bersikap seperti itu. Orang tua mana yang tak sedih jika kehilangan anaknya.
Setelah kejadian, Artha memberitahukan ke papanya tentang apa yang terjadi. Pria yang dipanggil Om Bagas, pada saat kejadian sedang berada di New Zealand. Artha menangis tersedu ketika menceritakan musibah yang telah terjadi. Pria itu hanya terdiam dan menanggapi santai ketika Artha menelponnya. Tiga hari kemudian, baru pulang ke Indonesia dan menemukan Artha yang sedang mengurung diri di kamar.
Artha langsung memeluk pria itu dengan erat. Menangis tersedu-sedu. Meminta maaf berulang kali karena Arini telah menjadi korban musuh. Tubuhnya semakin kurus. Matanya sembab dan rambutnya acak-acakan pada saat itu.
Papanya hanya terdiam dan balas memeluk pemuda yang dirawatnya dari umur tiga tahun. Dia sangat terharu melihat pemuda yang merasa terpukul. Laporan dari Si Mbok, Artha tak selera makan selama tiga hari setelah kejadian.
"Seperti yang saya bilang tadi bahwa takdir masing-masing harus dijalani, termasuk Arini," jelasnya santai.
Om Bagas terdiam. Tak berapa lama, berdiri dan berjalan menuju jendela kaca yang berada di ruang tamu. Ruang tamu itu lumayan besar. Melihat keluar melalui kaca jendela yang penuh dengan tetesan air hujan jatuh ke bawah secara perlahan. Hujan masih deras di malam ini.
"Biarkan dia menjalani takdirnya sampai waktu yang telah ditentukan," nyatanya lirih. "Ketika waktu itu tiba, maka Arini akan kembali bergabung dengan kita," nyata pria itu lagi. "Biarkan dia tidur seperti Beruang Kutub untuk mengumpulkan kekuatannya."
Mereka bertiga terkejut mendengar perkataan pria berbadan tegap yang sedang berdiri membelakangi mereka. Artha menghentikan tangisnya. Dapi mendongakkan kepalanya. Sedangkan Hakiki mengusap air mata dan berusaha mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh pria yang bernama Bagas Wicaksana.
*******
__ADS_1