Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
4 O'clock : Ep. 40


__ADS_3

Chen berdiri tegap dengan memegang seruling di tangan kanan. Wajahnya sangat pucat. Di hadapannya sudah berdiri seorang pemuda bertelanjang dada. Ada tato Bulan Sabit bercahaya  di dada kiri. Pemuda yang menatap nanar ke arahnya, berkulit perak di seluruh tubuh, begitu juga dengan mata dan rambut. Rambutnya berdiri ke atas membentuk kerucut. Seluruh tubuh dialiri sengatan listrik yang menjalar. Wajahnya penuh kemarahan yang sangat membara. Pemuda itu adalah Hakiki.


Hakiki yang telah mendapatkan kekuatan, kini berhadapan dengan Chen. Berniat untuk membunuh pria yang ada di hadapannya. Pemuda itu akan melampiaskan kemarahan karena musuhnya telah membunuh orang yang sangat disayangi.


*******


Satu jam sebelumnya.


Cerita berawal dari Yusuf yang berhasil menjemput mereka bertiga di halte. Mereka pergi ke daerah Cibubur, Jakarta Timur, membawa Hakiki. Di sanalah markas mereka didirikan oleh ayah Arini. Sengaja dibuat menjauh dari kota agar identitas mereka aman.


Sebelum sampai ke markas, Chen dan komplotan telah berhasil menemukan mereka. Chen berniat untuk membunuh anak laki - laki yang merupakan anggota ke tujuh dari mereka. Namun, Chen seakan tersenyum gembira karena melihat tim yang akan direkrut, lengkap di hadapannya pada saat menghadang. Dia merasa beruntung. Berniat untuk mengalahkan semua pemuda itu dengan tangannya. "Mereka tak terlalu hebat, mereka hanya sekumpulan anak kecil yang masih suka main game," pikirnya.


Saat ini Chen bersama dengan dua komplotan.  Yang pertama adalah Manusia Serigala yang pernah menjadi lawan Dapi di malam hujan deras beberapa minggu lalu.


Manusia serigala itu berdiri dengan ke empat kaki. Menggeram dengan menunjukkan gigi-gigi yang runcing. Matanya sangat tajam memandang lawan. Mata kirinya cacat. Ternyata bekas luka ketika bertempur dengan Dapi beberapa minggu lalu. Berdiri dengan posisi agak mundur dua langkah di belakang pemimpinnya.


Sedangkan anggota Chen yang lain adalah seorang pria yang cukup lumayan tampan. Wajahnya oriental. Tak terlihat kebengisan di wajah manisnya. Malahan, sosok manusia ini seperti pemeran utama di film laga. Tak ada muka antagonis sedikitpun. Kulitnya berwarna kuning langsat. Matanya besar dengan alis mata tebal. Tubuhnya tinggi, menunjukkan otot-otot di balik Baju Wushu Taolu berwarna hitam, berlengan pendek, membuat dia terlihat perkasa. Bibirnya mengeluarkan senyum manis tapi sinis. Di tangan kanan, memegang pedang bermata tajam sepanjang satu meter. Berdiri sejajar dengan Manusia Serigala, jaraknya sekitar empat langkah dari binatang setengah manusia itu, tapi berada di samping kanan Chen.


Sedangkan di depan mereka, telah berdiri dengan gagah Artha dan Dapi. Hakiki berada di belakang mereka berdua, terduduk di tanah dan setengah sadar. Dia sudah bangun dari pingsan ketika di dalam mobil tapi kondisi badannya belum stabil. Masih terhuyung dan pandangannya kabur jika menatap seseorang. Disamping Hakiki, seorang anak laki - laki setengah berjongkok memegangi pundaknya dan di belakang mereka ada tiga orang pemuda yang menatap tajam ke depan dan bersiap untuk menyerang ketika diperintahkan oleh Artha. Saat ini, ada tujuh orang pemuda yang masih remaja di hadapan Chen.


"Bagus. Kalian sudah berkumpul. Jadi aku bisa sekaligus membunuh kalian semua," seru Chen dengan suara lantang dan sombong.


"Bacot lu Chen. Jika memang kau bisa membunuh kami, mungkin kami sudah tidak berdiri di sini. Nyatanya kau tak sehebat itu Chen," tukas Artha melawan. Berdiri di samping kanan Dapi. Di tangan kanan telah siap busur panah  mengarah ke musuh.


"Keparat, siap-siaplah kalian semua mati!" bentak Chen, meniup seruling dengan gerakan cepat. Serta merta, angin dingin keluar dari lubang seruling dibarengi dengan ribuan jarum berwarna emas.


"Biar aku saja, Kak," nyata Dapi sambil menghalau Artha ketika akan melepaskan anak panah  untuk melawan Chen.


Dapi merentangkan kedua tangan lurus ke depan. Kedua telapak tangan membuka, vertikal. Kakinya sedikit merenggang, membentuk kuda-kuda, badan sedikit menurun dan lutut sedikit menekuk. Dari kedua telapak tangan keluar uap es menyembur ke depan. Uap es membentuk dinding kristal yang merentang di hadapan mereka sekitar empat meter dan setinggi enam meter. Hakiki berniat melindungi mereka dari serangan jarum-jarum emas Chen.


Melihat aksi Dapi, Artha dengan sigap menuju ke belakang. Berkata kepada seseorang, "Habibi, sekarang tugasmu  untuk membawa yang lain ke markas. Gunakan kekuatan teleportasimu."


"Baik, Kak," balas pemuda yang diperintahkan sembari mengangguk.


Pemuda yang berdiri di tengah di antara ketiga pemuda yang lain, segera melihat ke kiri dan ke kanan ke arah dua pemuda di sampingnya. Tinggi badannya lebih dari keduanya. Parasnya sederhana tapi ada lesung pipi di pipi kiri ketika tersenyum. Pemuda ini terlihat lebih maskulin dari yang lain.


"Aku tinggal di sini saja, Kak," jawab Hakiki terbata.


Artha melihat ke arah Hakiki yang masih terduduk di tanah dan dipegang oleh anak laki-laki yang berhidung mancung.


"Tapi badanmu kurang sehat, akan jadi sasaran empuk bagi mereka," ujar Artha.


"Tapi, Kak, aku merasa kekuatanku akan keluar malam ini. Apalagi, malam ini adalah Bulan Sabit kedua setelah ulang tahunku," jelas Hakiki.


Artha memang melihat Bulan Sabit di atas langit. Bulan Sabit terlihat terang di antara ujung-ujung Pohon Pinus dari penglihatannya. Saat ini mereka berada di tengah Hutan Pohon Pinus. Di sekeliling mereka hanya terdapat Pohon Pinus yang kurus menjulang ke atas, menambah kesan seram malam itu.


"Oke."


Artha memandang ke arah pemuda yang dipanggil Habibi.


"Kamu pergi dengan Yusuf dan Sidik dan jangan lupa selamatkan Panca dari tangan siapapun. Kalian bertiga harus melindungi Panca dengan nyawa kalian," jelas Artha kepada ketiga pemuda yang berdiri di depannya.


"Panca, ikutlah dengan Kakak-kakakmu," perintah Artha.


Anak laki-laki yang setengah berjongkok dan memegangi Hakiki, ternyata bernama Panca, mengangguk.


"Baik, Kak," jawabnya. Menoleh ke arah Hakiki.


"Kak, jaga dirimu," ujarnya pelan. Tangannya menepuk pundak Hakiki sekali.


Mereka baru bertemu ketika di dalam mobil tapi sudah merasa akrab seperti layaknya saudara. Panca berdiri dan bergabung dengan ketiga pemuda yang berada di belakang.


Habibi meraih pergelangan tangan Sidik dan Yusuf, memerintahkan kepada Yusuf untuk meraih tangan Panca yang berada di sebelahnya, dengan mengkode pemuda yang menyelamatkan Artha dan dapi dari Chen beberapa minggu yang lalu.


Wuuuush.


Dalam hitungan detik mereka menghilang dari hadapan Artha.


Sekarang hanya tinggal Hakiki yang terduduk di hadapan Artha. Artha setengah berjongkok, menurunkan badannya, menatap Hakiki.


"Kamu yakin baik - baik saja? " tanya Artha.


"Baik kak. Sekarang kepalaku terasa ringan. Tapi... seperti ada sesuatu yang menarik aliran darahku. Bantu aku berdiri, Kak," pinta Hakiki.


Arthapun membantu Hakiki berdiri.


"Kak...! Kenapa kakak tak memerintahkan ke Habibi untuk berteleportasi ketika kita membawa Hakiki dari rumahnya?"


Tiba - tiba Dapi menyeletuk. Tangannya masih lurus ke depan mengeluarkan uap es. Di depan terdengar suara dentingan dan gesekan es kristal. Membentur suatu benda dan tergesek oleh benda yang lain. Sepertinya ada perlawanan dari sisi depan untuk memecahkan dinding es kristal.


Artha mengerutkan dahi. Di tengah pertempuran seperti ini, pemuda yang di depannya bertanya tentang hal yang tidak terlalu penting, pikirnya. Walaupun demikian dia tetap menjelaskan. "Habibi baru mendapatkan kekuatan teleportasi, dia baru saja naik level. Lagian, Habibi tidak akan bisa berteleportasi jika belum pernah ke tempat yang dituju," jelas Artha.


Dapi hanya mengingat betapa lucunya membawa Hakiki dengan Mobil Avanza ke vila, padahal mereka adalah superhero yang bisa meringankan tubuh mereka untuk melompat, apalagi didengarnya tim mereka, yaitu Habibi mempunyai kekuatan teleportasi.


Artha kembali menghadap ke depan, bersiap untuk melawan serangan dari Chen dan komplotan. Dan di belakang mereka berdua, Hakiki sudah berdiri tegak.


Di sisi lain. Ketika Chen mengeluarkan jarum-jarum emas yang sangat banyak untuk melukai lawan tapi ternyata dihadang oleh dinding es kristal dan akhirnya benda-benda kecil berwarna emas menancap di dinding. Dia merasa geram karena serangan itu diblokir oleh dinding es kristal.


"Bimo, hancurkan dinding es itu," tukas Chen. Nada suaranya bergetar akibat kemarahan yang tertahan.


"Siap."


Pemuda yang dipanggil Bimo maju beberapa langkah ke depan. Berdiri memasang kuda-kuda. Kakinya sedikit merenggang, sedikit menekukkan lutut dan sedikit menurunkan badan yang berotot. Memegang gagang pedang dengan kedua tangan. Pedang itu berukuran satu meter. Bagian tengah pedang lebih lebar dari bagian bawah dan bagian atas meruncing membentuk kerucut. Pedang yang berkilau dengan lebar 30 cm di tengah, siap beraksi.


Bimo menebas pedang itu ke depan, memotong ruang kosong. Jarak tempat dia berdiri dengan dinding es kristal yang dibuat lawan sekitar tujuh meter. Ternyata, tebasan dari pedang yang memotong ruang kosong di depan, mengeluarkan cahaya berbentuk bilahan pedang, melesat dan menghantam dinding es. Cahaya itu seperti pedang yang dilemparkan secara mendatar dan berusaha membelah dinding es kristal. Pria ini melakukan serangan dari jarak jauh.


Wuuuush. Crash.


Serangan pertama tidak membuat es kristal itu bergeming. Hanya goresan. Bimo yang bertitel sebagai pendekar pedang, melepaskan tebasan sebanyak tiga kali.


Wuush. Wuuuush. Wuuuush...


Crash. Crash. Crash. Cahaya yang melesat, berusaha memecahkan didnidng es, kemduian menghilang.


Kreteeeek.


Terdengar suara bergemeretak berasal dari bagian atas dinding.


Secepat mungkin Dapi mengarahkan kedua telapak tangan ke bagian atas. Menutupi retakan akibat serangan dari lawan.


"Kak, apa aku perlu membuat perlindungan secara menyeluruh untuk kita?" tanya Dapi.


"Tidak usah, Pi. Sekarang ini akan aku hadapi mereka," nyata Artha.


Dapi mengangguk. Sebelumnya berniat untuk membuat rumah dari dinding es kristal agar mereka bertiga terlindungi tapi Artha melarang.


Terdengar kembali suara retakan di bagian tengah.


"Sudah, Pi. Biarkan mereka merobohkan dinding," nyata Artha.


Dapi mengangguk lagi, menurunkan kedua tangan. Bersiap untuk mengeluarkan jurus yang lain.


Bimo kembali mengeluarkan tebasan sebanyak tiga kali untuk memecahkan dinding es kristal dan Chen juga meniupkan seruling dengan keras dan mengeluarkan paku-paku sebesar jari telunjuk ke arah dinding itu.


Wush. Wush. Wush.


Cahaya berkilau melesat dengan cepat. Berusaha menggoyahkan dan menghancurkan dinding.


Crash. Crash. Crash.


Menabrak dinding es.


Tak. Tak. Tak. Tak. Tak.


Disusul dengan paku - paku yang dikeluarkan oleh Chen. Paku - paku tak hanya tertancap di dinding tapi berputar, mengebor dinding dan berusaha menembus ke dalam.


Treeek. Kretek. Kretek.


Dinding es kristal berderak. Ada garis yang membelah ke seluruh penjuru. Garis retakan itu berasal dari ke enam titik paku emas yang masuk ke dalam dinding. Dinding es kristal, saat ini retak membentuk pola garis sembarangan ke segala penjuru seperti kaca mobil yang akan pecah berhamburan.


Tiba - tiba dengan sigap, Manusia Serigala yang berada di samping Chen berlari dengan cepat menuju ke arah dinding kristal dan menabrakkan kepalanya ke dinding itu.


Kreteek.... Braaaak.


Secara otomatis dinding es kristal pecah berkeping. Manusia Serigala mundur ke belakang. Dia masih mengatur langkah dan masih menstabilkan kepalanya yang telah membentur dinding es kristal, tapi tiba - tiba melesat tiga anak panah ke arah mereka, keluar dari dinding yang sudah pecah berantakan. Manusia Serigala dengan cepat menghindar tapi satu anak panah menggores kaki kiri di bagian samping. Sedangkan kedua anak panah yang lain mengarah ke Chen dan Bimo.


Chen menangkis anak panah dengan seruling, sedangkan Bimo menebas anak panah terbelah menjadi dua bagian dengan cahaya pedang yang dikeluarkan dengan cepat.


Chen menggeram, di depannya telah terlihat Artha dan Dapi dengan jelas, berdiri tegak, siap untuk melawan, sedangkan Hakiki berada di belakang berdiri terpaku. Diam.


Dinding es kristal telah hancur berkeping-keping. Manusia Serigala yang sedikit terluka menerjang maju ke depan. Dapi langsung melompat ke depan, melangkahi sisa dinding es yang dibuatnya tadi dan dengan cepat melesatkan beberapa buah es kristal panjang berbentuk ujung tombak dari telapak tangan kanan.


Manusia Serigala menatap tajam ke arah Dapi. Masih ada sisa dendam yang belum diselesaikan karena kejadian beberapa minggu lalu. Dengan cepat mengelak dari serangan lawan, berlari cepat menyerang pemuda berbadan kecil sebagai lawannya.


Dapi berdiri dengan sedikit membungkukkan punggung, mengarah ke depan, memasang kuda-kuda. Kaki kanan merentang ke belakang, sedangkan kaki kiri sedikit menekuk. Menantang makhluk yang menjadi lawannya dengan menggerakkan jari-jari kanan dari tangan yang terentang ke depan,  seolah-olah mengatakan 'Ayo, cepat kemari, aku menunggumu'. Mengoyangkan ke empat jari yang merapat di telapak  kanan yang terbuka, dengan memasang senyum mengejek ke arah lawan. Tubuhnya sangat lentur. Dapi sengaja menjauh dari Artha dan Hakiki, agar Manusia Serigala bisa diladeni dengan konsentrasi penuh.


Manusia Serigala yang berwarna hitam pekat menggeram. Semakin menggeram ketika melihat kode mengejek yang diberikan lawan dan melancarkan serangan ke arah Dapi. Gigi - giginya yang panjang dan tajam, siap mengoyak tubuh lawan. Cakar dari kedua kaki depan, siap mencengkram dan mendaratkan serangan ke tubuh lawan. Berlari dengan sangat cepat, menerjang angin malam yang dingin.


Dapi berpikir dengan keras. Berusaha mengimbangi kecepatan lawan. Manusia Serigala itu sangat gesit. Dapi sudah berulang kali menembakkan es kristal sebesar ujung tombak tapi lawannya dapat menghindar dengan baik. Serangan demi serangan bisa dihindari oleh Siluman Bintang Buas. Tubuhnya yang berbulu semakin mendekat ke arah Dapi.


Artha yang masih berdiri tegak setelah melihat aksi Dapi, beberapa menit yang lalu, langsung melesatkan anak panah dari busur yang sudah direntangkan sedari tadi. tiga anak panah kembali melesat, namun kali ini anak panah yang dilepaskan menyemburkan api yang sangat besar berwarna kuning dan merah membentuk Burung Elang. Artha memainkan tangan kirinya seperti mengepakkan sayap. Mengendalikan anak panah berapi dengan tangan kiri dan menggerakkan Elang Api menuju dua sosok musuh yang ada di depan.

__ADS_1


Bimo mengayunkan pedangnya sebanyak dua kali tebasan. Cahaya putih keluar menyerang api berbentuk Burung Elang secara mendatar, tapi serangannya meleset. Burung Elang Api yang dikendalikan Artha mengelak dengan cepat, terbang ke atas sekitar lima meter, menungkik kembali ke arah bawah menyerang Chen dan Bimo dengan cepat. Sayap Burung Elang Api semakin melebar. Bimo kembali menebaskan pedangnya mengarah ke atas. Serangannya mengeluarkan cahaya putih melengkung sebanyak tiga lembar.


Artha menjentikkan jarinya. Suara jentikkan jari itu lebih keras dari sebelumnya. Burung Elang Api yang dikendalikan tetap menungkik ke bawah, melawan serangan Bimo. Api yang awalnya berwarna merah bercampur kuning, berubah menjadi berwarna biru. Api itu semakin panas, mungkin panasnya 1000 derajat celcius. Burung Elang Api yang sekarang berwarna biru melalap cahaya putih yang dikeluarkan oleh Bimo ketika mendekat. Ketiga lembaran putih itu hilang tak berbekas di hantam badan dan sayap Elang Api Biru.


Artha bisa melihat wajah Bimo yang sangat pucat.


Burung Elang Api Biru terus melesat menuju sasaran dengan kekuatan yang sangat dahsyat.


Chen segera beraksi karena melihat Bimo tersudut. Bergerak cepat menendang Bimo agar terhindar dari serangan pemuda yang ada di hadapan mereka. Tapi ujung sayap kanan Burung Elang Api Biru mengenai wajahnya. Bimo menjerit. Tangan kirinya menutupi bagian wajah sebelah kiri. Chen berhasil mengelak, berdiri siaga ke samping.


Chen melihat ke arah Artha dan  dengan cepat berteleportasi dalam hitungan detik. Tiba-tiba tubuhnya yang kurus tapi berotot sudah berada tepat di hadapan Artha. Mendaratkan lutut kanannya ke perut pemuda itu.


Bug.


Ugh.


Tubuh ramping Artha membungkuk menahan sakit, terdorong empat langkah ke belakang. Masih tetap membungkuk menahan sakit di perut. Mulutnya memuncratkan darah segar. Jurus teleportasi Chen ini yang sedikit susah untuk di lawan Artha.


Chen kembali berusaha menyerang Artha, tapi tiba - tiba.....


Syuuuuuuut.


Gerakannya tertahan oleh suatu benda.


Tangan kanan Chen terlilit beberapa benda yang menyerupai tali berwarna perak. Tak bisa menyerang Artha karena tali berwarna perak sangat kuat mencengkram di tangan dan lengan. Ada lima utas tali melilit penuh di seluruh tangan kanan hingga ke pundak.


Chen sangat kaget melihat kejadian itu. Kedua mata melihat ke arah lengan kanan. Di detik berikutnya, wajahnya langsung dipalingkan ke asal sumber benda yang melilit lengan. Di belakangnya, sekitar dua langkah jarak dari dirinya, berdiri kaku Hakiki dengan tangan lurus ke depan. Tangan kanan lurus ke depan, menggenggam, menahan dan menarik benda menyerupai tali yang berwarna perak, membentang lurus di depan, mengikat lengan musuh.


Ternyata dari kelima jari Hakiki keluar benda seperti tali yang berwarna perak. Wajah pemuda itu sangat datar, walaupun saat ini menahan perlawanan dari Chen untuk melepaskan untaian-ntaian berbentuk tali.


Ketika Artha dan Dapi sibuk melawan tiga sosok di depan, Hakiki yang berada di belakang sudah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya seperti mendidih, seperti ada yang akan keluar dari tubuh jangkungnya dan ditarik ke atas. Selain itu, dia juga merasakan ada sengatan listrik mengalir di seluruh tubuh mengikuti aliran darah.


Dia merasakan ada sesuatu yang keluar dari ke sepuluh ujung jari, bergerak perlahan. Hakiki mengangkat kedua tangan dan  mengarahkan telapak tangan ke atas, melihat kelima ujung jari di kedua tangan. Ada sesuatu yang keluar perlahan dari setiap ujung jari. Benda berwarna perak sebesar paku dua inchi, keluar dari ujung - ujung jari. Benda itu sangat tajam.


Awalnya benda itu keluar bertekstur keras, tapi setelah keluar memanjang sekitar 10 cm, benda itu lentur tapi solid, tak mudah untuk diputuskan. Hakiki tak merasakan sakit sedikitpun ketika benda itu keluar, tapi wajahnya pucat. Pucat karena terkejut dan takut. Pandangannya tak lepas dari benda yang bergerak keluar dari ujung jari.


Hakiki berusaha mengendalikan diri, apalagi ketika melihat Artha dibekuk oleh Chen dan juga melihat Dapi yang berada sepuluh langkah dari posisinya, dalam kondisi terdesak dibuat lawan.


Pada saat Chen ingin menyerang Artha kembali, disitulah gerakan spontan yang dilakukan tangannya. Padahal hanya berpikir untuk menahan tangan Chen, seandainya diirnya dekat dengan pria itu. Dia berpikir untuk memegang tangan Chen agar tidak menyerang Artha lagi. Tapi ternyata pikirannya itu langsung menggerakkan tangan kanan, merentang ke depan, lalu benda lunak yang menyerupai tali berkelebat cepat menangkap tangan kanan Chen dan langsung melilitnya.


Kali ini Hakiki tak pucat lagi. Menatap Chen dengan wajah datar karena sudah menyadari jika kekuatan yang ditunggu saat ini sudah didapatkan. Tangan kanannya, kali ini mengepal, seakan menggenggam kelima benda yang seperti tali agar menjerat dengan erat.


Chen pun terkejut dengan kejadian itu. Menatap terpaku ke arah pemuda yang berdiri tak jauh dari dirinya.


Sedangkan Artha masih sedikit membungkukkan badan menahan sakit, tapi melihat ke arah Hakiki.


Chen berusaha melepaskan lilitan benda yang berwarna perak dari tangan kanannya. Menarik benda dengan tangan kiri tapi benda itu sangat solid walaupun lentur. Lawannya juga menarik benda yang dikeluarkan tanpa bergeming sama sekali dan memasang wajah datar. Semakin berusaha melawan, benda berwarna perak itu semakin ketat melilit tangan kanan seperti ular yang akan mematahkan tulang mangsanya.


Chen sedikit terperanjat dengan kekuatan pemuda yang berdiri dua langkah di hadapannya. Benda itu mulai menggesek kulit dan membuat luka di lengan kanan bagian atas. Dia merasakan kulitnya perih.


Chen berpikir dengan cepat. Berteleportasi. Itu satu-satunya cara untuk lepas dari serangan lawan. Chen lepas dari serangan Hakiki, karena menghilang dalam hitungan detik dan muncul kembali tak jauh dari tempat awal berdiri.


Hakiki tersentak mundur karena korbannya secara tiba-tiba menghilang dan lepas dari lilitan. Berusaha menyeimbangkan tubuh dengan memasang kaki kiri, mundur setapak, sebagai penahan tubuh agar tidak terlontar ke belakang. Benda yang seperti tali itu melesat mundur dengan cepat, masuk ke ujung jari Hakiki. Pemuda itu berdiri tegak, merapatkan kaki kembali ke posisi semula. Wajahnya tetap datar. Terpaku menatap musuh di hadapannya.


Artha melompat untuk mendekati Hakiki sambil memegangi perutn. Dia khawatir dengan pemuda itu. Belum sempat mengucapkan sebait katapun kepada Hakiki, pemuda itu malah bertanya kepadanya.


"Kak Artha tidak apa-apa? Kali ini biar aku yang menghadapinya, "ujar Hakiki datar. Tak ada senyum di wajah pemuda itu. Bahkan berbicara tanpa memalingkan wajah ke arah Artha tapi tetap menatap lawan yang ada di depan.


Chen menepukkan kedua tangan beberapa kali.


Plok.... Plok.... Plok....


Tepuk tangan mengejek.


"Hebat. Hebat. Oh, elu anak kemarin sore yang sudah mendapatkan kekuatan itu. Jangan sombong dulu saudara, kamu belum ada apa-apanya dibandingkan denganku."


Chen berjalan mondar-mandir di depan Artha dan Hakiki. Tangannya masih menimbulkan suara tepukan.


"Anak kemarin sore ini sudah berulang kali ingin kau bunuh, tapi sampai sekarang masih berdiri di hadapanmu," balas Hakiki dengan ringan tapi bernada ketus.


Artha berdiri di samping Hakiki, hanya terdiam. Masih menahan rasa sakit di perut. Sedikit meringis.


Muka Chen memerah. Dia langsung memasang kuda-kuda, kemudian meniupkan seruling emasnya.


Wush.... Kreit....kreit.... Kreket...


Dapi melompat di samping Artha dan Hakiki, merentangkan tangan dan membuka telapak tangan. Menyemburkan uap es membentuk dinding es kristal. Berusaha melindungi Artha dan Hakiki. Urusannya dengan Manusia Serigala telah selesai.


Chen melihat ke samping, sumber uap es itu berasal. Berdiri pemuda berkulit putih, berbadan kecil. Di depannya, telah terbentuk didning es kristal, melindungi kedua lawannya dari serangan jarum emas yang dikeluarkan. Jarum-jarum itu sudah tertancap di dinding eskristal, melindungi Artha dan Hakiki.


"Ya. Aku masih hidup,” tantang Dapi. Dia berdiri dengan tegak, tak jauh di samping Chen dan kedua pemuda yang terlindungi dinding es. Membungkukkan badan 90 derajat dan tangan kanan menggerus ke bawah, bergerak melebar ke samping sejajar dengan posisi sekarang. Seakan memberi hormat kepada seorang raja, sedangkan tangan kiri berada di belakang, menempel di bagian belakang lingkaran pinggang. Gerakannya cepat. Hanya hitungan detik, lalu


Menegakkan kembali badannya dan memasang senyum mengejek kepada Chen.


Crash....


Aaagh....


Cakar Manusia Serigala mendarat di perut Dapi. Dia meringis. Dengan sigap mengeluarkan sekeping es kristal berbentuk pipih seperti pisau yang tajam dan menyayat kaki Manusia Serigala yang sebelumnya sudah terluka pada awal pertempuran.


Sret....


Kepingan es kristal mengoyak tangan lawan hampir putus.


Kaing.....


Manusia serigala mundur beberapa langkah. Melompat dan menahan rasa sakit. Kaki kirinya tak bisa ditapakkan ke tanah. Mengatur nafas yang tersengal.


Dapi berdiri dengan cepat. Melihat ke arah Hakiki karena mendengar suara berkelebat. Melihat selintas benda yang keluar dari tangan Hakiki. Dia terkejut. Hakiki sudah mendapatkan kekuatan, pikirnya.


Kemudian Dapi kembali fokus dengan lawan yang dihadapannya. Dengan cepat melemparkan tombak yang berada di tangan kanan ke arah Manusia Serigala di depan. Lawannya masih bisa mengelak.


Dapi tersenyum tipis, lalu berkata, "Kau tak akan bisa mengelak dengan jurus baruku. Aku bukan saja Pengendali Air menjadi benda beku tapi aku adalah Pengendali Udara yang akan menghantarmu masuk ke dalam neraka."


Dapi mengangkat kedua tangan, sejajar di perut. Kedua telapak tangan itu dibentuk saling tumpang tindih. Menggerakkan kedua tangan seperti membentuk pusaran bola. Suara angin berdesing di sekitar dada. Dengan kekuatan penuh bersumber dari tangan, melemparkan pusaran bola yang kecil ke depan mendekati sasaran. Anehnya pusaran itu semakin membesar ketika mendekati musuh dan membentuk angin ****** beliung. Pusaran angin setinggi enam meter dan berdiameter sekitar empat meter menyerang Manusia Serigala.


Manusia Serigala tak bisa menghindar dari serangan Dapi. Karena rasa sakit di kakinya juga membuat gerakannya semakin melambat. Pusaran angin menangkap tubuh makhluk itu dan memutar tubuh berbulu masuk ke dalam lingkaran dengan cepat.


Dapi membuat tombak es kristal andalannya dengan kedua tangan dan dengan cepat melemparkan ke dalam angin ****** beliung. Sasarannya ke tubuh lawan.


Kaing.... Aaaaaaaung.


Terdengar suara Manusia Serigala menjerit dan melolong panjang. Tombak menancap di tubuhnya dan terlempar keluar dari pusaran angin, mendarat dua puluh meter mundur ke belakang di balik pepohonan pinus.


Itulah akhir pertempuran Dapi dengan Manusia Serigala.


Sekarang, dia telah berdiri di samping mereka untuk menyelamatkan Hakiki dan Artha.


Melihat aksi Dapi datang dan mempermainkannya, muka Chen memerah menahan amarah.


"Bimo, habisi keparat itu!!!" bentaknya.


Bimo yang dari tadi terduduk di belakang, tak jauh dari Chen, karena serangan Artha, langsung bangkit. Masih meringis menahan luka bakar yang ada di wajah kiri. Tangan kiri masih menutupi luka bakar.


Dapi dengan sigap melompat ke arah Bimo. Menerima tantangan, walaupun darah sudah membekas di baju bagian perutnya bekas cakaran Manusia Serigala.


Sedangkan di sisi lain, Artha dan Hakiki berhadapan dengan Chen.


Bimo langsung mengeluarkan jurus tebasan cahaya yang dimilikinya dan Dapi melawan serangan dengan es kristal yang bertebaran ke depan, meluncur dengan cepat menuju sasaran. Mereka saling serang dan mengeluarkan jurus masing-masing.


Chen yang sedang memuncak emosinya pada saat itu, secepat kilat berteleportasi. Tiba-tiba, sudah di depan Hakiki dan Artha dan dinding es yang dibuat Dapi berada di belakangnya. Dinding es itu tidak berguna untuk melindungi mereka dari jurus teleportasi musuh.


Bug.


Bug.


Masing-masing pemuda mendapat pukulan oleh Chen yang mendarat di perut. Mereka terpaksa mundur dan tersungkur.


Hakiki tersungkur paling parah. Baru kali ini merasakan pukulan yang sangat keras.


Artha segera menoleh ke Hakiki, masih dalam keadaan telungkup, dia bangkit dengan perlahan dan membantu Hakiki yang berada di sampingnya yang juga akan berdiri.


Belum sempat mereka berdiri dengan tegak, Chen kembali berteleportasi.


Zzep.


Bug.


Bug.


Kali ini pukulan Chen mendarat di punggung kedua pemuda. Artha terjerembab. Begitu juga dengan Hakiki. Kepalanya terasa pusing. Darah keluar dari mulut. Artha meringis di sampingnya. Dia tak sanggup berdiri kembali apalagi untuk menolong Hakiki.


Di sisi lain, Dapi tak fokus melawan Bimo karena melihat kondisi kedua temannya. Pemuda itu berpikir keras dan mencari cara supaya bisa langsung melumpuhkan lawan.


Dapi berusaha mengalahkan Bimo dengan membuat angin ****** beliung yang dipergunakan untuk membunuh Manusia Serigala tadi. Ketika angin ****** beliung menyelubungi tubuh Bimo, dapi menembakkan es kristal sebesar ujung tombak beberapa kali.


Wush. Wush. Wush.


Bimo memang kewalahan dengan serangan lawan. Dia juga tidak bisa keluar dari jeratan pusaran angin yang sangat cepat. Rasa sakit di wajahnya juga membuat dirinya tak konsentrasi untuk menahan serangan. Ditambah lagi angin ****** beliung yang dibuat Dapi mengaburkan mata, debu-debu di tanah menghalangi pandangan dan ada yang masuk ke mata. Kondisi dia saat ini sudah sangat terpojok. Pemuda yang memakai Baju Wushu masih berada di dalam lingkaran angin yang dibuat oleh Dapi, lalu melesat tiga batang es kristal masuk ke dalam lingkaran angin menyerang tubuhnya.


Jleb.... Jleb.... Jleb....

__ADS_1


Aaaaaaagh....


Tiga es kristal berbentuk ujung tombak menancap di tubuh Bimo. Kepala, perut dan tepat di jantung, benda itu tertancap. Tubuhnya terpental ke atas dan tertancap di batang pohon pinus. Es kristal berbentuk tombak menembus tubuh Bimo sehingga menancap di batang pohon pinus. Pria yang sudah tidak memakai baju, terkulai tak bernyawa di Pohon Pinus.


Dapi berusaha menyelamatkan Hakiki dan Artha. Berpaling dari pandangan tubuh musuh yang sudah tak bernyawa di Poho Pinus. Belum sempat dia melompat untuk mendekati temannya. Tiba-tiba....


Zzep.


Taaaak....


Uuuugh....


Chen sudah berdiri di depan Dapi dan mengepalkan tinju ke dagu, memukul Dapi dari bawah. Pukulan itu sangat keras. Dapi terpental sepuluh langkah, menjauh dari Artha dan Hakiki.


Bruuk....


Pemuda bertubuh kurus, tak memiliki dada bidang, tak sadarkan diri.


Melihat aksi itu, Artha bangun dan mengambil tiga anak panah, melesatkan ke arah Chen. Anak panah membentuk Burung Elang berwarna biru. Api itu sangat panas, berusaha mengejar Chen.


Chen mengelak dengan cara berteleportasi, berpindah - pindah tempat, serangan dari Artha menjadi kacau karena Chen bergerak dengan sangat cepat. Api membakar pohon pinus. Mayat Manusia Serigala dan Bimo sudah tak kelihatan lagi.


Zepp.


Chen berteleportasi. Sekarang berada di belakang Artha, meniupkan seruling emas di bibir. Ratusan jarum emas bertebaran menyerang punggung Artha.


Artha terjebak. Tak sempat lagi mengambil anak panah. Berbalik dan langsung menjentikkan jari, melempar api biru kecil ke arah musuh. Dia bermaksud untuk membentuk api biru itu menjadi seekor burung dan menyerang musuh, tapi yang diharapkan tak sempat terjadi. Api itu tak menghalangi jarum-jarum yang melesat menuju tubuhnya.


Pada saat itu Hakiki yang masih tersungkur, melihat serangan dari Chen menuju punggung Artha, secara spontan berdiri dan menutupi tubuh Artha. Kedua tangannya  membentang ke samping. Dia benar-benar melindungi Artha dari serangan musuh. Jarum-jarum itu menancap di seluruh tubuh Hakiki, semua permukaan bagian depan tubuh dari kaki sampai kepala terkena serangan benda-benda kecil itu.


Aaaagh....


"Kiki...," jerit Artha. Dia menahan tubuh Hakiki yang lunglai tak berdaya.


"Hakiki...." Suara itu berasal dari Dapi yang sudah tersadar dari pingsannya. Dapi yang berada jauh dari mereka berdua, berusaha bangkit. Merentangkan tangan kanan ke arah Chen dan menembakkan beberapa es kristal sebesar ujung tombak dengan perasaan marah. Dia tak perduli dengan darah yang masih keluar dari hidung dan mulut. Keadaannya sangat buruk saat ini. Dia memutar kedua telapak tangan di dada membentuk bola, mengeluarkan jurus angin ****** beliung dan melepaskan jurus itu ke arah musuh. Debu-debu terangkat dan angin itu berputar ke arah Chen. Tapi serangannya tak sesempurna sebelumnya dan Chen dengan mudah mengelak dari serangan itu dengan berteleportasi.


Tubuh Hakiki yang ditahan oleh Artha perlahan-lahan jatuh ke tanah. Artha merebahkan tubuh pemuda yang sudah seperti landak, di pangkuannya. Artha masih waspada dengan serangan Chen selanjutnya, tapi pria itu sedang sibuk berteleportasi, mengelak serangan yang datang secara bertubi-tubi dari Dapi.


Ada hal yang aneh pada saat ini yang disaksikan Artha. Kulit Hakiki berubah warna menjadi perak. Jarum-jarum emas yang tertancap melebur dan masuk ke dalam tubuh rampingya. Tak ada darah sama sekali, tapi jarum-jarum emas mencair dan masuk ke dalam tubuh, bersatu dengan kulitnya yang berubah menjadi perak.


Artha memeriksa denyut nadi Hakiki, ternyata pemuda yang berada di pangkuannya mempunyai denyut nadi yang normal. Ketika semua jarum-jarum melebur ke dalam tubuh, warna kulitnya berubah kembali menjadi normal. Artha terkesima dengan apa yang sedang terjadi. Tak berapa lama Hakiki membuka matanya, lalu berkata, " Selamatkan Dapi, Kak. Aku tidak apa-apa."


Artha terdiam, terpaku. Masih heran dengan apa yang sedang terjadi.


Aaaagh....


Terdengar suara jeritan tak jauh dari Artha dan Hakiki. Artha menoleh ke arah sumber suara dan melihat, lagi-lagi Dapi dipukul telak oleh Chen, tubuhnya terpental sekitar  delapan langkah. Kali ini, tubuh pemuda itu terseret ke tanah dan terbujur diam.


"Selamatkan Dapi, Kak," ujar Hakiki lagi. "Aku tak apa-apa."


Artha mengangguk. Segera membawa tubuh kurusnya melompat tiga kali dengan cepat, dia telah berada di samping Dapi. Artha membantu Dapi berdiri. "Kamu bisa berdiri?" tanya Artha.


Dapi mengangguk. Berusaha menggapai tangan Artha yang akan merangkulnya.


Artha merangkul badan pemuda tak berbidang. Mendengar Dapi meringis. Sepertinya  Dapi terluka parah. Mungkin ada tulang rusuknya yang patah. Darah sudah mengalir di beberapa bagian tubuh dan wajah. Baju bagian belakang sudah robek karena terseret di tanah. Terlihat luka-luka akibat gesekan di punggungnya. Artha sangat kagum dengan semangat pemuda pengedali Air dan Udara. Pengorbanan pemuda ini sangat besar untuk melindungi dirinya dan Hakiki.


"Kalau kamu tak sanggup, biar aku saja yang menghadapinya."


"Aku akan bertahan sampai titik darah penghabisan. Om mempercayaiku untuk melindungi Hakiki dan kewajiban itu akan kulaksanakan dengan baik," jawabnya lirih. Berusaha berdiri tegak, tapi meringis saat badannya berusaha ditegakkan.


Posisi mereka sekarang berada di tengah Hutan Pohon Pinus yang sedang membara. Api menyala dengan liar melahap Pohon Pinus yang menjulang tinggi.


Artha dan Dapi, berusaha berdiri di hadapan Chen. Jaraknya sekitar delapan langkah. Sedangkan Hakiki sudah berdiri di belakang Chen berjarak empat langkah. Chen berdiri di antara mereka. Tapi Chen tidak mengetahui itu.


Chen akan melancarkan serangan selanjutnya.


Artha dan Dapi sudah bersiap untuk menerima serangan. Namun....


Syuuuuut....


Hakiki kembali mengeluarkan untaian-untaian seperti tali dari sepuluh jarinya, melilit tubuh Chen dari belakang.


Dapi terkejut. Membelalakkan kedua matanya yang kecil. Secara spontan memandang ke Artha. Dia mungkin ingin bertanya, Hakiki masih hidup?. Pertanyaan itu yang ingin dilontarkan.


Artha seakan mengerti maksud dari wajah Dapi. Menoleh ke pemuda itu dan mengangguk.


Tentu saja Chen sangat terkejut, sedikit memalingkan kepala tapi tidak bisa melihat ke belakang. Di dalam bathinnya, dia tidak percaya. Apakah anak muda itu yang menyerangnya? Mengapa dia bisa selamat dari jarum-jarum emas itu? Beberapa pertanyaan itu yang saat ini ada di pikiran Chen. Dia merasa cengkraman benda yang membelitnya semakin kuat. Lebih kuat dari sebelumnya. Berpikir untuk berteleportasi. Itu satu - satunya cara lepas dari lilitan benda yang berwarna perak.


Tapi sebelum niatnya dilaksanakan, Hakiki sudah mengeluarkan sengatan listrik. Ya, sengatan listrik keluar dari tangan. Logam perak merupakan benda yang sangat baik sebagai penghantar listrik. Sengatan listrik menjalar dengan cepat dari jari tangan merambat ke untaian-untaian benda berwarna perak menuju tubuh Chen.


Chen bergetar. Tak bisa berteleportasi. Dia sangat terkejut dengan apa yang telah terjadi. Tubuhnya lemas tak berdaya dan jatuh terjerembab. Otaknya lemah, tak bisa memberi perintah kepada tubuhnya.


Dapi kembali terbelalak. Membesarkan kembali matanya yang kecil. Tak percaya Hakiki memiliki kekuatan yang sangat hebat.


Sedangkan Artha hanya tersenyum tipis.


Benda yang fleksibel berbentuk tali langsung bergerak cepat, mundur, masuk kembali ke jari - jari Hakiki. Dia berjalan perlahan menuju tubuh Chen yang sudah tak berdaya.


"7 tahun yang lalu, aku bukan siapa-siapa tapi sekarang aku sudah siap, tak hanya melawan dirimu tapi juga melawan akan Big Boss," nyata Hakiki dengan wajah datar.


Sekarang pemuda berbidang dada yang besar, berdiri berjarak selangkah dari Chen. Wajah dengan mimik datar tertuju ke tubuh Chen yang tersungkur di tanah.


Chen meringis. Berusaha untuk bangun dan menahan rasa sakit.


Hakiki membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak takut lagi dengan Chen. Kini bisa menguasai kekuatannya dan merasa mampu untuk mengalahkan Chen. Mata pemuda itu mengikuti gerakan Chen dengan wajah datar. Bersikap siaga, jika Chen balik menyerang.


"Aku tak punya dendam denganmu. Aku hanya ingin merubah dunia ini dengan tanganku agar tak ada orang lain lagi yang menderita seperti aku. Aku punya masa lalu yang kelam."


"Aku tak tertarik dengan masa lalumu," jawab Hakiki santai. "Yang kau lakukan selama ini adalah kejahatan bukan kebaikan. Apa kau sadar akan hal itu?" tanya Hakiki menggeram.


"Stigma masyarakat yang menjadikanku seperti ini. Aku tidak minta hidup dengan penuh kebencian. Aku tidak punya pilihan lain."


"Selalu ada pilihan. Pilihan untuk menjadi orang baik akan selalu terbuka. Apapun takdir dan bebanmu di dunia, seharusnya kau tetap menjadi orang baik. Apalagi kau punya kekuatan yang bisa membela banyak orang."


"Aku tak ingin membela banyak orang!!!" bentak Chen. "Aku akan menghabisi orang-orang yang telah menghinaku!!!" bentaknya lagi.


Wajahnya memerah, penuh amarah. Matanya membesar seakan menantang pemuda yang berada di depannya.


"Aku tak kenal dirimu, tapi mengapa kau ingin membunuhku?" tanya Hakiki.


"Karena kau menghalangi jalanku untuk merubah dunia ini. Aku ingin merubah dunia ini dengan hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang akan menang, bukan hidup di bawah stigma masyarakat dan merekalah yang membentuk manusia menjadi baik atau jahat," jelasnya.


"Kau salah Chen," nyata Hakiki dengan suara pelan.


"Aku tak perduli. Yang penting aku bisa menjalankan keinginanku dan keinginan Big Boss, kami bisa memerintah dunia ini dengan tangan kami," nyatanya.


Chen menendang Hakiki secara tiba-tiba. Tapi Hakiki mengelak ke samping.


Artha dan Dapi berlari mendekati Chen. Mereka berusaha untuk mematahkan serangan Chen dan mengakhiri pertarungan ini.


Tapi kekuatan Chen sudah pulih. Ternyata, dia sengaja mengulur waktu ketika berbicara dengan Hakiki. Chen kembali menghilang. Berteleportasi dengan cepat. Sekarang berada dua langkah di belakang Hakiki. Mengangkat seruling berwarna emas ke atas, terlihat dari lobang seruling itu sebilah pisau yang juga berwarna emas.


"Kiki.... awas!" teriak Artha sambil berlari mendekat. Dapi mengikuti dari belakang.


Wuuuush.


Jleeeb.


Bayangan putih tiba-tiba berada di antara Chen dan Hakiki. Hakiki menoleh ke belakang. Chen menancapkan pisau ke dada seorang gadis yang tiba-tiba terbang dan melompat di antara mereka. Tubuh gadis itu menghadap Chen, membelakangi Hakiki.


Chen mundur selangkah. Menarik seruling yang sudah melukai gadis yang muncul secara tiba-tiba. Tepat di jantung.


Mata Hakiki membesar. Mulutnya terbuka ketika berbalik dan melihat sosok tubuh berpakaian putih di belakang.


Siapa?


Kata itu yang ada di kepala Artha dan Dapi.


"A...rini...." Hakiki berseru pelan. Menopang  punggung Sang Gadis dari belakang. Gadis itu terkulai lemas dan jatuh dipelukannya.


"Tidaaaaak. Rini...," teriak Artha. Dia baru menyadari siapa gadis yang muncul secara tiba-tiba. Artha langsung melepaskan anak panah ke arah Chen. Anak panah mengeluarkan api biru yang menyala tak hanya di ujung tapi keseluruhan anak panah berapi. Dengan cepat Artha mendekati Hakiki yang telah memangku Arini.


Chen mengelak dengan berteleportasi. Sekarang posisinya menjauh mundur, berada sepuluh langkah dari mereka.


"Jangaaaaan...! Jangaaaaan...! Jangaaaaan Arini Tuhan. Jangan dia...!" Artha menjerit histeris lalu tersungkur di samping adiknya. Mukanya memerah. Air matanya langsung jatuh berderai.


Dapi mengikuti gerakan Artha dan berada di samping pemuda yang sudah dianggap kakak olehnya. Wajah Dapi seakan tak percaya, gadis itu adalah Arini. Bingung dengan apa yang telah terjadi.


Hakiki yang sedang memangku Arini, terdiam. Tak percaya akan kejadian ini. Tak habis pikir, mengapa ada Arini di sini? Mengapa Arini terlibat dengan semua ini? Di pangkuannya, tergeletak tubuh Arini yang bersimbah darah. Baju putih panjang yang dikenakan, kini memiliki noda merah yang melebar di bagian atas tubuh Sang Gadis.


Hakiki kini menjerit dengan sangat kuat.


"Tidaaaaaak!" Wajahnya menghadap ke langit.


Malam itu, di tengah Hutan Pohon Pinus yang terbakar dan di langit terdapat Bulan Sabit yang cahayanya kalah dengan sinar api yang menyala, wajah Hakiki yang menghadap ke langit berubah menjadi perak secara perlahan-lahan, kulit di sekujur tubuhnya juga mulai berubah warna sampai ke ujung kaki. Dia berdiri, melepaskan sandaran Arini dari pangkuan, digantikan oleh Artha.


Artha dan Dapi sangat terkejut melihat hal itu. Belum lagi hilang rasa terkejut mereka dengan kehadiran Arini, kali ini mereka terkejut dengan perubahan wujud Hakiki.


Hakiki berjalan ke depan. Berhadapan dengan Chen yang berjarak sepuluh langkah darinya. Lalu kembali menjerit dan mengerang, aliran listrik muncul dan menjalar di seluruh tubuh. Rambutnya berdiri membentuk kerucut. Rambut itupun berwarna perak. Baju yang dipakainya hangus termakan api yang berasal dari sengatan listrik di tubuhnya.


Seluruh tubuh pemuda yang baru satu jam yang lalu mendapatkan kekuatan, kini mendapatkan kekuatan baru yang luar biasa. Tubuhnya memang benar-benar berwarna perak termasuk matanya yang menatap nanar ke depan. Kini... berdiri tegak, bertelanjang dada. Di dada kirinya terlihat tato bulan sabit mengeluarkan cahaya.

__ADS_1


*******


__ADS_2