Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
(Hakiki Hulmi) Episode 11


__ADS_3

Scenery


-3 September 2011 -


Malam ini, Hakiki kembali duduk di teras rumah. Rutinitas yang dilakukannya setiap sebulan sekali adalah melihat Bulan Sabit yang berada di langit. Momen untuk melihat Bulan Sabit, itu adalah hal yang selalu dinantikan. Jika memandang Bulan Sabit seperti ada kekuatan yang mengisi batre diri. Dia akan terlihat lebih jernih dalam berpikir, lebih bersemangat menjalani aktifitas dan ada energi yang masuk ke aliran darah, karena itulah Hakiki suka dengan Bulan Sabit. Nanti, sekitar dua puluh tujuh hari lagi akan muncul kembali Bulan Sabit karena adanya pertukaran bulan dan akan menyaksikan duduk kembali seperti malam ini. Tiga atau empat hari kemudian akan keluar lagi Bulan Sabit menandakan masuk bulan baru seperti sekarang ini.


 


 


 


 


 


 


Hakiki mulai tahu tentang pergerakan Bulan Sabit ketika dirinya duduk di bangku SMP. Dia mencari - cari di internet mengenai fase pergerakan bulan dari awal sampai akhir. Indah. Begitu pikirnya tapi di balik keindahan Bulan Sabit, ada kenangan pahit masa kecil yang di derita. Usia sembilan tahun, dia menjalani malam sendirian di gudang kosong. Sangat menyeramkan jika mengingat kembali masa kelam itu. Oleh karenanya, Bulan Sabit yang pernah menemani di gudang kosong, dilihat dari balik jendela gudang yang terbuka, menepis rasa menyeramkan, di masa itu. Namun, saat ini Bulan Sabit menepis kenangan buruk di masa lalu.


 


 


 


 


 


 


Berdiri menengadahkan kepala, kemudian mengangkat kedua tangan. Jari telunjuk dan jempol dari kedua tangan membentuk huruf  L. Menyatukan ujung-ujung jari dari kedua tangan sehingga membentuk kotak atau seperti bingkai. Melihat dari balik jari seperti bingkai dengan menggunakan mata kiri dan memicingkan mata kanan. Tersenyum mendatar. Senyum di bibir membentuk garis sedikit menurun tapi mempesona.


 


 


 


 


 


 


*******


 


 


 


 


Hakiki dan Arini sudah dari seminggu yang lalu berencana untuk pergi ke Kebun Raya Bogor. Mereka ingin mengambil foto di sana dan akhirnya keinginan itu terwujud.


 


 


 


 


 


 


Dari jam 10 pagi, sudah berangkat menuju ke Kebun Raya Bogor. Seperti biasa, Arini menjemput Hakiki.


 


 


 


 


 


 


Sekarang, mereka sudah berada di Kebun Raya Bogor, cuaca yang cerah menambah semangat. Bunga-bunga di tempat wisata di bilangan Jakarta, juga seakan senang menyambut hari yang cerah dengan menunjukkan kembangnya. Mungkin karena sudah 3 hari cuaca hujan, mereka ingin menikmati udara di hari yang cerah ini.


 


 


"Kita makan yuk, Ki. Nanti Setelah makan, baru kita mulai ambil foto. Gimana?" tanya Arini.


 


 


"Oke."


 


 


Mereka mencari tempat makan di sekitar kawasan itu. Seingat Arini ada Cafe and Resto di sekitar Kebun Raya Bogor. Menyetir perlahan, mengingat-ingat tempat yang pernah dikunjungi dengan keluarga.


"Nah... Itu dia," lirihnya, tanpa mengharapkan jawaban dari Hakiki. Membelokkan stir mobil dan menuju tempat parkir Cafe and Resto.


 


 


Hakiki hanya terdiam. Melihat sekeliling tempat dengan wajah polos. Mata sendunya melihat ke sana kemari.


 


 


Arini perlahan memakirkan mobil. Mereka segera keluar dan beranjak menuju Cafe and resto. Arini terlihat anggun. Kali ini dia memakai topi boater bulat dengan bahan anyaman berwarna merah muda dengan pita berwarna putih mengelilingi mahkota topi. Baju yang dikenakan Model Sabrina berwarna ungu muda dan disempurnakan dengan sepatu strap stiletto berwarna hitam. Sepatu yang memiliki tali melilit di badan kaki hingga pergelangan kaki dengan hak tinggi membuat terlihat anggun dan menawan seperti Gadis Belanda. Rambutnya hanya dibiarkan tergerai panjang.


 


 


 


 


Hakiki cepat mendekati Arini, menyamakan posisi agar dapat berjalan beriringan.


 


 


Arini dan hakiki mencari tempat yang nyaman setelah memasuki kawasan Cafe and Resto. Rumah makan yang berlabel rumah makan nusantara ini bernuansa modern. Terlihat telah berjejer dan tersusun rapi meja makan dan beberapa tempat lesehan. Tempat duduk yang berada di pinggir bersebelahan dengan taman Cafe and Resto itu menjadi pilihan mereka.


 


 


 


 


Beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka. Satu orang pelayan perempuan mengikuti dari belakang. Pelayan memberikan menu makanan dan menawarkan beberapa pilihan makanan yang menjadi andalan di tempat tersebut. Arini dan Hakiki memilih beberapa menu makanan berat dan snack serta beberapa minuman. Mereka mendengarkan pelayan membacakan ulang pesanan mereka. Mengangguk dan akhirnya pelayan itupun pergi.


 


 


 


 


Hakiki mengotak-atik kamera kesayangan yang dibeli dari hasil tabungannya sembari berbagi rencana dengan Arini, gaya apa saja yang harus dipakai nanti pada saat gadis itu berfoto. Hakiki mahir dalam mengarahkan gaya agar mendapa kualitas dan pose yang bagus. Sambil bercerita ringan dan bersenda gurau, tak berapa lama, pesanan merekapun datang.


 


 


 


 


Pemuda berbadan ramping tak menunggu lama. Langsung merapikan dan menyingkirkan kamera dan meletakkan di posisi yang aman. Dia mulai bersiap untuk makan. Tentu saja, akhirnya Hakiki makan dengan lahap. Sedangkan Arini menikmati makanan dengan santai. Sembari menikmati makanan, Arini banyak bercerita tentang ayahnya yang lagi di New Zealand saat ini. Bercerita bahwa betapa indah di sana seperti dunia dongeng. Alam terpelihara. Begitu banyak pemandangan indah. Terjaga dan terawat dengan baik. Ada beberapa hewan yang merupakan ciri khas dari negara itu, tidak terdapat di negara lain. Ada Burung Kiwi kecil yang tentu saja tidak bisa terbang, kecil seperti burung puyuh, nyatanya. Pinguin bermata kuning dan pinguin kecil atau pinguin kate yang menjadi daya tarik wisatawan untuk melihat hewan itu.


 


 


Arini menunjukkan kepada Hakiki foto-foto yang dikirim lewat Facebook oleh ayahnya. Pegunungan yang hijau, pemukiman yang asri, pantai yang mempesona. Rumah-rumah penduduk yang unik dan pemukiman masyarakat yang tertata rapi. Dan di sana tidak ada binatang buas, nyatanya lagi. Informasi itu semua didapat dari ayahnya. "Pantes saja Film Lord of The Ring banyak mengambil gambar di sana," seru Arini." Aku ingin ke sana, Ki. Pasti seru berselfi ria di New Zealand."


 


 


Hakiki mendengarkan cerita Arini dengan seksama. Wajahnya datar. Tapi memang mendengarkan cerita dengan baik sambil melahap makanan yang ada di meja.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


"Mudahan mudahan Papaku masih menjabat ya, Ki, pada saat aku kuliah nanti. Jadi masih bisa membiayai aku di luar negri."


 


 


"Amiin."


 


 


Setahu Hakiki, Ayah Arini sudah lama menjabat menjadi Duta Besar bagi Indonesia untuk negara lain. Tiga tahun lebih berteman dengan Arini, mungkin sekitar tiga atau empat kali bertemu dengan Ayah dan Ibu sahabatnya ini. Itu masih lumayan, karena sampai sekarang Hakiki belum pernah bertemu dengan kakak laki-laki Arini. Padahal kakak laki-lakinya itu berada di Jakarta dan serumah dengan Arini. Mungkin karena Hakiki juga tidak terlalu sering bermain ke rumah sahabatnya itu. Semasa mereka berteman mungkin hanya sepuluh kali berkunjung ke rumah Arini. Pada saat Hakiki berada di sana, kakak satu-satunya, mungkin sedang tidur atau sedang keluar atau belum pulang dari kampus. Tapi Hakiki kenal dengan kakak laki-lakinya kalau bertemu di suatu tempat karena dia hapal betul dengan wajah keluarga Arini melihat dari foto keluarga yang terpajang begitu besar di ruang tamu utama. Hakiki tak ambil pusing dengan saudara laki-laki Arini.


 


 


Arini adalah gadis baik yang pernah dikenal semasa hidup. Tak hanya baik dengan dirinya saja, tapi juga dengan orang lain. Dia gadis penurut. Apapun yang dikatakan orang tua, akan dituruti demi kebaikan. Dia bukan seperti anak manja yang hanya mengandalkan harta orang tua untuk hal-hal yang percuma. Segala fasilitas yang diberikan orang tua dimanfaatkan dengan baik. Arini mengambil kursus Bahasa Inggris supaya mahir untuk mendukung cita- citanya nanti. Rencana gadis itu, kelas sebelas, tahun depan, akan mengikuti tes TOEFL untuk melihat seberapa mahir kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki. Arini juga mengambil kelas balet. Untuk jaga-jaga katanya jika suatu saat nanti keahlian seni ini diperlukan di negara orang. Hakiki tak mengerti maksud perkataan sahabatnya.


 


 


"Mudah- mudahan juga kita bisa pergi bersama dan mengabadikan momen- momen yang terbaik dengan tangan handalmu," nyata Arini.


 


 


Hakiki hanya terdiam. Dalam pikirannya, itu hal yang mustahil. Tapi entahlah, takdir siapa yang tahu, pikirnya. Berusaha menghabiskan nasi yang ada di piring. Dilanjutkan dengan mencuci tangan kanan di dalam mangkok kecil.


 


 


"Ki, kita ke Istana Bogor saja terlebih dahulu, aku mau berfoto di danau depan istana. Sepertinya teratai sedang mekar di danau itu. Trus ngasi makan rusa. Setelah dari istana baru kita masuk ke ke taman yang lain. Gimana?" tanya Arini.


 


 


"Oke. Kamu mau fotonya yang gimana nih?" tanya Hakiki.


 


 


"Maksudnya? " Arini balik bertanya.


 


 


"Hasilnya nanti mau yang gimana? Apakah asli penuh warna atau hitam putih, gaya klasik," jelas Hakiki.


 


 


"Yang mana saja, yang penting bagus."


 


 


"Pasti bagus semua. Hasil jepretan aku bagus, modelnya bagus trus view-nya juga bagus," lirih Hakiki. "Aku udah selesai nih, kamu udah apa belum?"


 


 


"Yeee... Aku mah udah selesai dari tadi." Arini melempar tisu yang tergulung di tangan kanan ke arah sahabatnya.


 


 


Hakiki mengelak dan tertawa pendek. Tawa itu sangat khas. Hanya Hakiki yang punya. Mulut membentuk kotak dan sedikit terbuka ketika tertawa. "Ayolah, kita Come on," candanya.


 


 


 


 


Hakiki berjalan menuju kasir dan membayar makanan. Bergerak ke luar dari tempat itu. Diikiti oleh Arini. Mereka menuju mobil yang terparkir. "Aku yang nyetir, Rin. Engga ada razia juga di lingkungan sini," pintanya.


 


 


 


 


"Ayo, kita sudah sampai," terang Hakiki.


 


 


Mereka keluar dari mobil Honda Jazz putih. Berjalan beriringan, santai, tidak tergesa-gesa sembari menghirup udara yang segar. Sepertinya memang banyak bunga yang bermekaran dilihat dari awal masuk sampai ke dalam komplek Istana, belum lagi di dalam taman, pasti lebih banyak bunga yang bersemi. Mereka berjalan beriringan, sesekali Hakiki mengambil beberapa foto Arini dari samping. Dari sisi mana pun Arini akan terlihat cantik dan mempesona. Dia fotogenic. Tak berapa lama, mereka pun sampai di danau kecil, tepat di depan Istana.


 


 


"Oke. Bagusnya dimana, Ki?" tanya Arini.


 


 


"Dimana saja oke. Ayo, kita mulai." Hakiki langsung membidikkan kamera ke Arini. Tentu saja Arini sudah berpose bak model.


 


 


Di areal Istana, Hakiki mengambil beberapa foto berlatar belakang istana dan danau kecil. Bunga teratai yang lagi mekar menambah keindahan hasil foto. Setelah beberapa kali mengambil momen yang terbaik, mereka menuju taman yang berisi rusa. Arini berusaha untuk mendekati rusa dan memberinya makan. Sudah ada beberapa petugas yang membawa makanan untuk rusa yang membimbing mereka. Di momen ini Hakiki benar benar mengambil foto-foto Arini secara natural tanpa aba-aba. Arini memang memiliki aura yang sangat spesial. Momen ketika dia memberikan makan rusa itu seperti dewi yang turun ke bumi, menebar kasih sayang untuk seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Gadis cantik ini tertawa kecil, tersenyum manis, betingkah manja dan terkadang bertingkah menggemaskan dengan mengembangkan kedua pipi dengan bentuk bibir yang bulat maju ke depan. Hakiki sampai tertegun melihat foto-foto berisi Arini sebagai modelnya dan dilihat berulang kali. Hampir 2 jam mereka berada di komplek Istana Bogor.


 


 


Melanjutkan perjalanan ke Taman Teijsmann, itu yang mereka lakukan. Tentu saja dengan berkendara karena jaraknya cukup jauh dari Istana Bogor. Sekitar 10 menit mengendarai mobil dan akhirnya mereka sampai di taman yang dituju. Berjalan kaki untuk masuk ke taman. Mobil di parkir di luar. Di taman ini banyak bunga - bunga kecil yang sengaja di desain untuk menampilkan keindahan. Ditata rapi, bersekat-sekat membentuk berbagai bidang dan ruang. Pohon - pohon yang sengaja dibentuk dengan rapi. Kecil, sedang dan sedikit besar dengan tinggi sekitar tiga atau empat meter. Taman Teijsmann begitu luas. Antara desain satu tempat yang terdiri dari bunga dan pohon atau hanya bunga atau pohon saja berjarak jauh, sehingga banyak tanah kosong yang ditutupi oleh rumput hijau. Tapi rumput hijau rapi dan terpotong pendek. Taman kelihatan bersih dan asri apalagi sudah disediakan trotoar jalan untuk pejalan kaki, jadi bisa menelusuri taman dengan teratur.


 


 


Di taman ini, Hakiki mengambil foto Arini cukup banyak. Karena begitu banyak tempat yang indah. Dia seperti tak habis ide untuk mengambil momen-momen yang bagus.


 


 


"Gimana Ki hasilnya?" tanya Arini.


 


 


"Bagus - bagus kok. Coba liat," tawar Hakiki seraya menyodorkan kamera mendekat ke Arini.


 


 


Arini menautkan senyum di bibir. Memang hasil jepretan Hakiki sangat bagus. Arini merasa semakin tahun kemahiran Hakiki dalam fotografi bertambah. Terkadang dia tertawa kecil melihat hasil foto karena merasa ada hasil yang diambil Hakiki tanpa mengarahkannya dengan gaya, sangat natural.


 


 


"Ayo Ki, kita ke Danau Gunting. Keluar dari Taman ini, di seberang jalan itu sudah keliatan danaunya." Arini tahu tempat ini karena sudah beberapa kali datang ke Kebun Raya Bogor bersama orang tuanya.


 


 


"Oke, yang kita lewati tadi kan?"


 


 


"Iyaaaaa."


 


 


Ternyata mereka berjalan cukup jauh ke dalam Taman Teijsmann, sekarang baru tersadar setelah berusaha berjalan untuk mencari pintu keluar.


 

__ADS_1


 


"Capek, Rin?" tanya Hakiki.


 


 


"Enggak. Cuma enggak sabar aja mau ngeliat danau itu."


 


 


"Duduk lah sebentar, terus minum nih," tawar Hakiki.


 


 


"Enggak usah, bentar lagi nyampe pintu keluar kok. Tuh udah keliatan."


 


 


Hakiki merasa khawatir dengan Arini. Berusaha menjaga Arini dengan memperhatikan jalan yang dilewati dengan hati-hati. Pasti kaki sahabatnya terasa pegal dengan memakai sepatu berhak tinggi, pikir Hakiki.


 


 


Setelah 15 menit berjalan dengan santai, akhirnya sampai di pintu keluar taman. Danau yang bernama Gunting sudah keliatan dari pandangan. Mereka menyebrangi jalan aspal. Hari ini terlihat ramai pengunjung Kebun Raya Bogor. Keliatan dari mobil dan sepeda motor berlalu lalang.


 


 


"Oke. Aku sudah siap untuk berfoto kembali," nyata Arini dengan semangat.


 


 


"Minum dulu nih...," tawar Hakiki sambil memberikan botol minuman berwarna hijau yang diambil dari tas ransel.


 


 


 


 


Arini mengambil botol, duduk di bangku beton yang disediakan untuk pengunjung. Duduk santai sambil melihat danau yang terbentang di depan. Hakiki duduk disamping, mengambil beberapa pemandangan danau. Indah, tentunya.


 


 


"Ayo, kita mulai," ajak Arini.


 


 


Pemuda yang memiliki hidung mancung dan besar mengarahkan beberapa gaya untuk Arini. Banyak juga hasil jepretan Hakiki di satu tempat ini. Terkadang langsung menunjukkan hasil foto dari kamera ke Arini. Jika foto itu disukai oleh Arini maka akan dipertahankan, yang tidak disukai, segera dibuang. Cara itu langsung dilakukan Hakiki, supaya tidak bingung untuk memilihnya lagi.


 


 


Arini sangat ceria. Senyumnya menawan yang akan menggoda setiap orang melihat, sangat maksimal dikeluarkan pada saat ini. Sesekali Arini mengajak Hakiki untuk foto berdua. Terkadang juga, orang yang lagi berjalan di depan mereka, dimintai tolong oleh Arini untuk mengambil foto mereka berdua. Dia sangat bahagia. Begitu juga dengan Hakiki, berusaha menampilkan ekspresi terbaik. Tentu saja wajahnya kaya akan ekspresi.


 


 


"Wah... Bunga Teratai sangat menggoda. Aku jadi ingin memetiknya," seru Arini.


 


 


"Udah deh. Kasian," balas Hakiki cepat.


 


 


"Loh... kok kasian?"


 


 


"Iya... Bunga itu kan mau hidup, trus kamu petik, trus nanti kamu buang, kan sia-sia hidupnya."


 


 


"Ah... alesan. Kamu enggak mau kan kalau aku suruh metik bunga teratai itu...."


 


 


"Ya elah rin. Apa aku harus berenang untuk memetik Bunga Teratai. Udah deh, nanti aku cetak foto Bunga Teratai seberapa lembar kamu mau, jadi bisa diliat terus, sampe bosan," ujar Hakiki sambil tertawa.


 


 


Arini tertawa kecil. Menyubit dada Hakiki.


 


 


"Oh... Sakit."


 


 


Tiba tiba Arini tersentak kaget. Kepalanya sedikit mendongak, dilanjutkan melihat sekeliling. Seperti ada sesuatu yang didengar. Bola matanya membesar. Di menit berikutnya, dengan spontan menutup kedua telinga dengan tangan. Wajahnya memerah. Mata dipejamkan. Menahan rasa sakit. Gadis berbaju seperti Gadis Belanda berjongkok.


 


 


Hakiki terheran melihat kondisi sahabatnya. "Rin, kamu enggak apa-apa?" Mendekati Arini yang sedang berjongkok. Hakiki mendekati Arini dengan posisi yang sama. "Rin..." panggilnya lagi. Dia memegang punggung Arini. Mengelus-elus beberapa kali. Ekspresi wajah Hakiki tampak sangat cemas.


 


 


Arini sedikit mengangkat kepala secara perlahan. Kedua matanya memerah. Melihat lurus ke depan. Masih dalam kondisi berjongkok. Tiba-tiba bangkit dan berlari menuju lawan arah danau, berlari menuju tempat yang terdapat pohon besar. Pohon besar yang berada berlawanan arah dengan danau tempat mereka tadi.


 


 


Hakiki terperanjat melihat aksi Arini.


 


 


Sekitar sepuluh langkah setelah berlari, kaki Arini terhenti. Hak sepatu kanan patah. Bergegas melepas kedua sepatu dengan cepat dan berlari kembali, kali ini semakin cepat.


 


 


"Arini...!" panggil Hakiki dengan nada keras tapi tersendat karena suaranya yang berat. Beberapa Pengunjung di sekitar melihat ke arah Hakiki.


 


 


Hakiki mengejar tanpa berpikir panjang lagi. Wajahnya cemas, sangat cemas. Hakiki memanggil berulang. Tiba-tiba dia melihat Arini melanjutkan larinya, masuk ke balik pohon-pohon besar. Hakiki memungut sepatu Arini. Berusaha melakukan semua dengan cepat.


 


 


"Rini...!" teriaknya. Suara yang berat, terdengar pecah. Arini hilang dari pandangan.


 


 


*******


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2