Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Stigma : Ep. 25


__ADS_3

"Ki."


Hakiki menoleh. Pemuda yang memiliki bidang dada yang besar sedang bersandar di dinding kelasnya, membaca sebuah buku. Menoleh ke sumber suara yang akrab di telinganya.


Arini melangkah mendekat. "Ayo, kita pulang." Tangan Arini mengambil lengan Hakiki dan bergelayut di sana setelah tubuhnya mendekati sahabatnya.


Hakiki mengangguk. Berjalan berbarengan dengan Arini. "Sudah dibuka kado dari aku?" tanya Hakiki serius.


"Belum. Ntar aja. Di rumah. Jadi lebih tenang. Aku penasaran apa sih isinya, tapi sengaja aku tahan rasa penasaran itu. Sepertinya kado tahun ini sangat spesial," nyata Arini.


Hakiki hanya terdiam. Sembari memasukkan buku yang dibacanya tadi ke dalam tas.


"Buku apa itu?" tanya Arini.


"Novel..., ceritanya bagus. Di Novel itu menceritakan kalau kita sebagai manusia mempunyai 4 kali kehidupan di dunia ini. 4 kali bereinkarnasi. Dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain saling berkaitan dan merasakan semua tingkatan kehidupan," jelas Hakiki. "Kamu percaya dengan reinkarnasi, Rin?" tanya Hakiki sambil menoleh ke sahabatnya.


"Antara iya dan tidak."


"Kok gitu?"


"Papaku bilang, semua kehidupan di dunia ini ada maksud dan tujuannya. Kita sebagai manusia cuma menjalankan tapi kehidupan yang kekal itu hanya di akhirat."

__ADS_1


Hakiki terdiam. Sebenarnya dirinya juga tidak percaya dengan reinkarnasi karena itu tak ada di dalam agamanya tapi mengapa beberapa tahun ini, dia merasa bahwa ada yang ganjil dengan perjalanan hidupnya yang sering mengingatkan akan sesuatu hal. Dan dia juga merasa pernah merasakan hal yang dikerjakan tapi tidak pernah benar-benar dilakukan.


"Terkadang, pendapat manusia bisa membuat manusia lainnya menyetujui hal tersebut, walaupun mereka tak memiliki bukti. Awalnya, satu hal itu adalah pendapat, selanjutnya berkembang menjadi kepercayaan, setelah sekian tahun akan menjadi cerita, lalu menjadi dongeng dan terakhir kata orang-orang yang berabad-abad hidup setelah manusia yang mengeluarkan pendapat itu, mereka akan mengatakan itu mitos. Seperti cerita naga, putri duyung, alien atau apalah yang belum kita lihat selama ini, namun yang aku pikirkan adalah mengapa mereka bisa menggambarkan seekor naga secara detail dan mengapa mereka bisa menceritakan putri duyung bentuknya seperti yang kita ketahui sekarang ini, berarti kan memang ada yang pernah melihat. Karena itulah mereka bisa bercerita dan menjelaskan bentuk dari naga atau putri duyung atau alien. Begitu sih pendapat aku, Ki, " jelas Arini.


"Trus kamu tau kan teori Bumi Datar. Selama berabad-abad dipertahankan pendapat itu, tapi akhirnya dibantah oleh Galileo Galilei. Tapi masyarakat tetap memberikan cap bahwa dia sebagai penista agama, sampai menjadi tahanan rumah di umur 70 tahun dan akhirnya meninggal dunia. Dunia terus mengecam bahwa dia adalah penista agama sampai pada tahun 1992, Paus Yohannes Paulus II mengatakan bahwa itu adalah kesalahan besar yang dibuat oleh pihak agamawan dulu terhadap Galileo Galilei dan akhirnya pada tanggal 21 Desember 2008 dipertegas lagi oleh pihak Gereja Khatolik Roma bahwa itu adalah kekhilafan dan berusaha untuk merehabilitasi kembali nama Galileo Galilei. Jadi jawaban yang kamu tanyakan tadi, aku tidak sepenuhnya percaya, tapi ada juga sedikit percaya akan reinkarnasi. Terkadang, pendapat masyarakat membuat orang-orang yang hidup sedikit berbeda, menjadi seperti musuh di bumi, padahal masyarakat tidak berhak menghakimi hidup seseorang karena dia yang menjalaninya."


Diam. Hakiki berpikir keras. Dia banyak memikirkan hal belakangan ini. Perak. Kupu-kupu yang ada di foto Arini. Dan perasaannya yang seperti selalu diikuti oleh seseorang.


"Oh ya. Aku mau minta pendapat kamu." Arini menghentikan langkah mereka berdua. Berhenti tepat di hadapan sahabatnya, menatap wajah Hakiki.


Tiba-tiba wajah Hakiki memerah. Dia langsung teringat kecupan Arini di pipinya tadi pagi.


"Aku sudah 16 tahun sekarang. Aku mau minta pendapat kamu tentangku. Kita sudah berteman hampir 4 tahun." Arini menatap Hakiki. Kedua pasang mata bertemu pandang


"Stop. Aku tidak mau pendapat mengenai fisik. Aku sudah bosen. Jadi aku mau pendapat kamu tentang karakterku. Selama ini kamu pasti tau aku seperti apa. Coba bayangkan, seandainya kamu dari awal mengenalku dengan mata buta, tak bisa melihatku secara fisik, tapi kita bersahabat terus sampai sekarang, gimana pendapat kamu tentangku?" Arini mengutarakan keingintahuannya dengan sungguh-sungguh. Masih berdiri di hadapan Hakiki dan menatapnya dengan penuh rasa penasaran.


Hakiki yang terdiam di hadapan Arini, menutup matanya dengan pelan. Diam sesaat.


"Aku melihatmu sebagai pribadi yang ramah, peduli, penyayang dengan orang di sekitarmu, ceria. Kamu baik seolah-olah semua beban orang di dunia ini ingin kamu pikul. Kamu seperti dewi, bukan dari pandangan fisik tapi seperti dewi keadilan yang berusaha membantu dan menegakkan keadilan di bumi ini," ujar Hakiki. Kalimat yang panjang diutarakan dengan jelas dan lugas. Lalu kembali membuka kedua mata setelah selesai mengutarakan pendapatnya.


"Nah, itu dia. Pendapat itu yang mau aku dengar." Arini menarik tangan Hakiki untuk melanjutkan perjalanan. "Dari kecil mungkin aku diajarkan oleh Mama dan Papa untuk menjadi seperti itu. Peduli dengan orang lain dan merasa bahwa manusia lain butuh bantuanku untuk menyelesaikan masalahnya. Aku dan kakakku dididik seperti itu. Karena orang-orang yang melihat sifatku yang baik, ramah, sopan, ceria dan suka menolong orang lain, mereka melabeli diriku adalah gadis yang baik dan seperti seorang dewi. Nah, pendapat masyarakat itu yang terus lekat di dalam diriku dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Berusaha untuk menghindari sifat-sifat buruk agar orang lain tidak kecewa dengan perilakuku. Tapi, kita sebagai manusia juga punya sifat buruk. Pasti ada. Kalau menurut pendapatmu, apa sifat aku yang paling buruk."

__ADS_1


Arini menoleh ke Hakiki.


"Kamu terlalu percaya dengan omongan orang lain, jika ada yang minta dikasihani. Akhirnya kamu dimanfaatkan oleh orang lain. Dan kamu seolah-olah menjadi dewi keadilan untuk menolong orang lain tapi mengorbankan diri sendiri dan menyakiti diri sendiri," jelas Hakiki tanpa ada kata ragu sedikitpun mengatakan hal itu.


Arini tertawa kecil. Ternyata sahabatnya itu sangat mengenal dirinya." That's right. Nah, itu yang aku maksud tadi, tidak ada manusia yang sempurna tapi berusaha untuk memperbaiki keburukan dalam dirinya agar mendekati sempurna."


"Trus... kalau aku gimana menurut pendapatmu?"


"Kamu...?" Arini menoleh ke Hakiki. Wajah Arini sedikit berkerut.


"Ya."


"Kamu 90 persen idiot dan hanya 10 persen smart." Arini berkata dengan lugas. Wajahnya serius menatap ke Hakiki.


Langkah Hakiki terhenti. Tak menduga sahabatnya berkata demikian. Wajah polosnya keluar tapi ada raut kesedihan di wajah.


"Kenapa?" Arini juga menghentikan langkahnya. Melihat ke arah Hakiki lagi dan tersenyum. "Itu pendapat manusia tentangmu. Aku kan manusia juga, singkirkan dulu aku sebagai sahabatmu yang mengenalmu lebih baik. Itu pendapat awal. Semua orang akan berpikir seperti itu karena sifat dan karaktermu yang dilihat orang lain sehari-hari. Tapi bagi yang mengenalmu lebih dekat, mereka akan mengagumimu, menyayangimu karena kamu begitu menggemaskan dan sangat murni. Kamu tidak munafik, apa adanya, tidak "jaim" dan unik. 90 persen idiot adalah kelebihan, jadi bukan idiot secara psikis maksudku. Dan 10 persen smart-mu, menjadikanmu sempurna bagi orang yang mengenalmu. Nah, karena kamu berwajah tampan, akhirnya orang-orang menerima kamu dengan keunikan itu. Pengen mengenal jauh karena wajah tampan ini dan akhirnya mereka melihat sifat kamu yang pure (murni) tanpa harus dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Kamu apa adanya. Setelah mengenal karakter lebih dekat, orang-orang akan lebih mencintaimu karena kamu sangat menggemaskan dibalik pesona." Arini menjelaskan semua itu sambil berjalan pelan dan menarik tangan pemuda disampingnya.


Hakiki hanya terdiam. Kali ini wajahnya tidak sedih lagi. Berpikir dan berusaha mencerna perkataan Arini dan juga berpikir mengapa hari ini sahabatnya terlalu banyak ngomong yang berat, apakah karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, pikirnya.


*******

__ADS_1


 


 


__ADS_2