Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
4 O'clock : Ep. 39


__ADS_3

- 24 Januari 2012 -


Jam dinding berdentang dua kali. Suaranya terdengar tak terlalu nyaring di kamar Hakiki. Pemuda itu bangun dengan wajah sedikit pucat. Memegangi dada sebelah kiri. Terasa nyeri. Hakiki berusaha mendudukkan tubuh rampingnya di tempat tidur dan bersandar di kepala tempat tidur.


Tes.


Tes.


Tes.


Ada cairan yang menetes dari lubang hidung, jatuh mengenai selimut yang menutupi tubuhn. Berusaha mencolek tetesan dengan jari telunjuk kanan.


"Darah," pikirnya.


Tapi ada yang aneh. Dia mengerenyitkan dahi ketika mendekati jari telunjuk yang terdapat cairan di ujung jari.


"Bukan darah," gumamnya pelan.


Di ujung telunjuk memang ada cairan tapi tidak berwarna merah, melainkan berwarna perak.


Hakiki termenung. Berusaha untuk memikirkan sesuatu. Dengan cepat mengambil handphone yang terletak di meja belajar. Menekan beberapa menu, lalu menempelkan benda itu ke telinga. Ada nada tunggu untuk memanggil seseorang terdengar dari benda elektronik. Sekian detik menunggu tapi tidak diangkat. Mencoba lagi, tapi tidak juga dijawab oleh nomor yang dituju. Kemudian menekan beberapa menu lagi. Menunggu.


"Haloo." Terdengar suara jawaban dari balik telpon.


"Dapi."


"Ya. Ada apa, Ki?" tanya pemuda di ujung telpon, ternyata adalah Dapi.


"Sepertinya aku butuh bantuanmu sekarang juga. Aku merasa ada yang aneh di tubuhku. Tadi aku telpon Kak Artha, tapi tidak diangkat," jelas Hakiki sedikit meringis karena menahan rasa sakit.


"Kak Artha ada denganku, kami ada urusan di luar. Kami segera ke sana." Sambungan pembicaraan itu diputus tanpa basa basi lagi.


Hakiki tak sempat mengucapkan kata terima kasih. Dia berusaha bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju teras. Membuka pintu teras dan keluar dengan tertatih. Melihat Bulan Sabit di atas langit. Pandangannya kabur. Kepala seakan berputar. Lalu terjatuh di lantai teras. Badannya terasa seperti tak bertulang. Lemas. Di telinga dan hidungnya keluar cairan berwarna perak.


*******


Kedua sosok tubuh melompat searah, beriringan menembus gelap malam. Mereka melompat dengan tangkas dari satu gedung ke gedung lain. Tubuh mereka terlihat sangat ringan dan sepertinya mereka sangat lihai melompati gedung-gedung itu. Mereka adalah Dapi dan Artha.


"Kita harus cepat, Kak. Mungkin malam ini saatnya," nyata Dapi.


"Ya. Malam ini juga Bulan Sabit," jawab Artha.

__ADS_1


Mereka berpakaian serba hitam dan menggunakan topi baseball cap di kepala masing-masing. Lompatan demi lompatan telah dilakukan dengan cepat.


Malam ini, Artha dan Dapi mendengar kabar bahwa Chen telah mengetahui status anggota terakhir yang akan direkrut oleh mereka. Lalu Chen berusaha untuk membunuh anak laki-laki tersebut. Anak laki-laki itu masih berumur 14 tahun, anggota yang termuda dari mereka dan belum memperlihatkan kekuatan sedikitpun. Karena itulah Chen ingin membunuhnya, agar tim mereka menjadi tidak lengkap.


Malam ini, Dapi, Artha dan ketiga anggota lainnya berkumpul  dan membawa pergi anak laki-laki menjauh dari Kota Jakarta. Mereka membawa ke sebuah rumah di pinggiran Jakarta, rumah yang dijadikan markas oleh Papa Arini. Tapi akhirnya mereka berpencar. Artha dan Dapi ke rumah Hakiki sedangkan yang lainnya langsung berangkat ke markas membawa anak laki - laki itu.


"Cepat kak. Sebentar lagi sampai," nyata Dapi. Nafasnya tersengal.


Artha mengangguk. Mempercepat lompatannya. Sekitar 10 kali lompatan tubuh kurusnya sudah masuk ke dalam rimbun pohon di depan rumah Hakiki, diikuti oleh Dapi.


"Sepertinya itu Hakiki, Kak," nyata Dapi dengan nada cemas. Segera melompat dengan cepat menapakkan kaki di lantai teras. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Artha juga ikut melompat dengan cepat.


Dapi langsung mengambil tubuh Hakiki dari lantai teras atas rumah. Langsung memangku Hakiki di paha. Melihat ke hidung dan telinga Hakiki. Mencolek cairan yang keluar dan mencium cairan yang sudah menempel di ujung jari telunjuk.


“Bukan darah,” gumamnya. "Ki..," panggilnya pelan.


Dapi menepuk lembut pipi Hakiki, tapi pemuda itu tidak berkutik. Memeriksa denyut nadi di leher Hakiki. Dapi melihat ke arah Artha yang masih berdiri, lalu mengangguk. Maksudnya ingin memberitahu bahwa nafas Hakiki masih ada. Merasa khawatir dengan temannya itu.


Semenjak pengakuan Dapi tentang dirinya yang tergabung dalam tim yang direkrut oleh ayah Arini, dirinya merasa sangat bertanggung jawab dengan keadaan Hakiki. Apalagi Ayah Arini sengaja memindahkan Dapi dari Bali ke Jakarta untuk menjaga dan membantu Hakiki menemukan kekuatannya.


"Seharusnya, salah satu dari kita menjaga Hakiki. Padahal ini Bulan Sabit, kenapa aku lupa untuk melihat dia," sesal Artha. Pernyataan yang dilontarkan tak perlu dijawab oleh Dapi.


Artha duduk di samping Dapi dan memegang kepala Hakiki. Membersihkan cairan yang keluar dari hidung dan telinga Hakiki dengan kain pada lengannya.


"Hakiki harus kita bawa ke markas malam ini juga. Jika seperti ini terus, orang tuanya akan membawnya ke rumah sakit dan akan terbongkar jati dirinya," jelas Artha. Mengambil handphone dari kantong celana.


"Yusuf, kalian sudah dimana?" tanya Artha melalui handphone.


"Masih di perjalanan kak, mau menuju markas," jawab seseorang di balik handphone.


"Jemput kami Yusuf. Nanti aku kirimkan alamat penjemputan dari Google map."


"Oke kak."


"Ayo, kita bawa Hakiki dari sini. Kita menunggu di halte saja, Yusuf akan menjemput kita," ajak Artha.


"Apa orang tidak akan curiga dengan kita membawa orang pingsan, Kak?" tanya Dapi.


"Hmm... iya juga ya," sadarnya.  "Sebentar. Aku ada ide," tukasnya. Artha segera masuk ke dalam kamar Hakiki. Mendekati meja belajar. Berdiri sesaat, terdiam di depan meja belajar. Matanya mencari sesuatu.

__ADS_1


"Sepertinya kemarin aku melihatnya di sini. Aaaaah... ini dia," serunya. Mengambil benda dan keluar dari kamar dengan cepat.


Dapi melihat dengan wajah penasaran di teras atas, apa yang dilakukan Artha. "Kak Artha ngapain?" tanya Dapi.


Artha menunjukkan benda itu ke Dapi. Memasangkan ke wajah Hakiki menutupi matanya.


Dapi tertawa kecil. Menutup mulut, menahan tawa.


"Eh... situasi lagi serius, kamu jangan tertawa, Pi," seru Artha.


"Kakak yang membuat lucu," balas Dapi.


"Dimana lucunya, aku mencari solusi agar orang tidak curiga dengan kita," jelas Artha sewot.


"Terserahlah, Kak. Ayo kita pergi, kalau semakin lama kita di sini, orang tua Dapi bisa melihat kita," jelas Dapi sambil menahan tawa kecil.


"Ya. Angkat dia ke punggungku," pinta Artha. Dia sedikit membungkukkan badan.


Dapi mengangkat tubuh Hakiki dan meletakkan di punggung Artha. Hakiki sekarang menempel di punggung pemuda kurus yang bidang. Dapi tiba-tiba tertawa.


"Dapi...!" Jerit Artha. Suaranya menjerit pelan dan tertahan tak bisa berteriak untuk memarahi Dapi. Mimik wajahnya sangat lucu ketika mengeluarkan suara itu.


"Siap. Sudah Kak. Kak Artha bisa bawa Hakiki, kan?" tanya Dapi. Dia sadar kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.


"Bisa. Ilmu meringankan tubuhku sudah lama terlatih, sejak umur 10 tahun," jawabnya pelan tapi sewot.


"Oke. Aku menyusul dari belakang."


"Bagaimana dengan orang tua Hakiki. Siapa yang akan memberikan penjelasan. Jika besok mereka melihat anaknya tidak ada di kamar, mereka akan panik," tanya Artha.


"Serahkan padaku, Kak," ujar Dapi.


Artha mengangguk. Bersiap untuk melompat ke pohon besar. Hakiki yang telah berada di punggungnya tak sadarkan diri. Di wajahnya terpasang kaca mata hitam yang diambil Artha di dalam kamar. Hal itulah yang membuat Dapi geli.


"Bisa-bisanya dia berpikir sampai sejauh itu," pikir Dapi.


Artha melompat dengan cepat, masuk ke rimbunan pohon, diikuti oleh Dapi. Rencananya mereka akan menunggu Yusuf di Halte Bis, terletak beberapa blok dari rumah Hakiki. Jadi mereka akan merasa aman membawa Hakiki dan mendudukkan di bangku halte dengan mengenakan kaca mata.


Dapi masih menahan rasa geli jika membayangkan yang akan terjadi. Duduk di halte, bertiga. Mereka memakai baju serba hitam, sedangkan Hakiki memakai piyama dengan kacamata hitam. Bukankah orang lain akan semakin curiga dengan mereka bertiga, pikirnya. "Ah... sudahlah, lagian sekarang sudah jam setengah 3 pagi, tidak akan banyak orang yang melihat," gumamnya.


Mereka melompati beberapa gedung. Mereka berhenti di satu gedung yang di depan terdapat Halte Bis. Artha melihat situasi di sekitar, melompat turun ketika merasa keadaan aman. Tak ada seorangpun yang berlalu lalang di situ. Suasana sepi.

__ADS_1


Mereka duduk bertiga di Halte Bis. Artha di sebelah kiri, Hakiki di tengah. Badan Hakiki di tahan oleh Artha sehingga tetap berada di posisi duduk, tapi kepalanya bersandar di bahu Artha. Kacamata hitam masih melekat di wajah Hakiki. Sedangkan Dapi berada di kanan. Pemuda yang satu ini tersenyum sendiri memikirkan kejadian yang mereka lakukan saat ini.


*******


__ADS_2