Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
Stigma : Ep. 29


__ADS_3

"Jadi... Papa tahu selama ini mengenai Arini?" tanya Artha.


Pria itu mengangguk pelan. Berdiri membelakangi Artha di ruang tamu.


"Kenapa Papa enggak ngasi tau Artha sebelumnya?" tanyanya lagi dengan wajah yang serius. Pemuda itu menatap punggung pria yang membelakanginya. Kelopak matanya yang kecil, sekarang membesar.


"Kamu harus fokus dengan ke enam orang yang akan menjadi timmu. Orang-orang yang akan kita rekrut. Papa tidak ingin terlalu membebanimu dan membuyarkan fokusmu," jawab pria itu dengan lantang. Kini dia membalikkan tubuhnya yang tegap dan menatap balik mata Artha dengan mimik wajah yang tegas.


Artha tertunduk. Dia tak ingin melawan pria yang sudah berada di hadapannya.


"Pa, kalian adalah orang yang dekat dengan Artha sekarang ini. Papa, Mama, dan Arini. Hanya kalian yang Artha punya sekarang. Artha tak ingin kehilangan keluarga lagi. Artha tak ingin hidup sendiri lagi. Artha juga tak ingin Arini tersakiti." Pemuda yang memiliki wajah mungil, sekarang berbalik perlahan membelakangi pria yang dipanggilnya Papa. Dia menitikkan air mata. Menyembunyikan bulir bening dari Papanya.


"Artha..... Dengar Papa, Nak" Pria itu sedikit berjalan mendekati Artha, membalikkan tubuh pemuda yang ramping secara perlahan. " Kita hidup menjalani takdir masing-masing. Banyak kepedihan yang sudah kita rasakan dan yang akan kita rasakan nantinya. Kita diberi takdir seperti ini dan akan terus berkorban untuk umat manusia. Harus kita jalani, Nak. Papa punya takdir yang harus di jalani ketika bertemu Mama Tiara. Kamu juga punya takdir yang harus kamu jalani ketika bertemu dengan Papa, dengan Kami... keluarga kecilmu. Dan Arini juga punya takdir sendiri. Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti... dengan Papa, Mama, kamu dan Arini. Tapi... yang pasti... kita harus berusaha, berdoa dan menjalani takdir kita dengan ikhlas," jelas pria yang berwajah maskulin. Mengangkat dagu Artha, sedikit ke atas dengan ujung jari telunjuk, agar bisa bertemu dengan mata anak sulungnya. Dia menghapus air mata yang jatuh di kedua pipi pemuda itu. "Kamu anak baik, Papa merasa beruntung menemukan dan membesarkanmu. Papa bangga dengan dengan kamu, begitu juga dengan Arini." Kini kedua tangan pria itu berpegangan pada kedua pundak Artha.


"Tapi, Pa.... Arini akan tersakiti jika musuh kita mengetahui kekuatannya."

__ADS_1


"Ya. Benar yang kamu katakan. Dan Papa percaya kamu akan melindungi adikmu, begitu juga dengan Hakiki dan Dapi. Sudah ada tiga malaikat yang akan melindungi dewi kecil kita. Papa tidak terlalu khawatir," jawab pria yang masih memegang pundak dan menatap mata Artha, dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih, Pa," jawab Artha. Mengusap sisa air mata di pipi.


Pria itu membalikkan tubuh tegapnya dari hadapan Artha, berjalan perlahan-lahan di ruang tamu rumah mereka.


"Arini sudah 16 tahun. Tapi Papa masih belum melihat kekuatannya akan keluar di usia ini. Hanya beberapa petunjuk yang sudah bisa Papa baca. Sekarang, kamu dan Dapi harus fokus ke Hakiki. Tadi siang, di pesta ulang tahun Arini, Papa melihat kalau Hakiki sudah mulai menyatu dengan logam perak itu. Anak itu tidak merasa sakit ketika berdekatan dengan liontin yang kamu buat untuk Arini. Dan Papa juga sengaja meletakkan beberapa peralatan makan yang terbuat dari perak di meja prasmanan tadi siang. Benda perak seakan ingin menyatu dengan Hakiki ketika dia mendekatinya. Papa melihat reaksi anak itu. Dia juga merasa heran mengapa tidak merasakan sakit lagi ketika berdekatan dengan logam perak, bahkan bisa memegangnya. Anak itu pintar Artha..., bentuk luarnya saja seperti Mr. Bean." Pria bertubuh tegap menjelaskan situasi sekarang dengan berdiri di tengah ruang tamu rumahnya. Jaraknya beberapa langkah di depan Artha. " 2 bulan lagi Hakiki ulang tahun, kan?" tanya pria itu kepada Artha.


" Iya, Pa. Tanggal 30 Desember 2011 umurnya genap 16 tahun,"terang Artha.


"Sebulan yang lalu, ketika Artha melihat foto Arini yang diambil Hakiki sewaktu mereka ke Kebun Raya Bogor. Artha melihat bayang-bayang sekumpulan kupu-kupu di foto itu. Jika orang biasa tidak akan bisa melihatnya, Pa," jelas Artha.


"Sepertinya Arini mendapatkan kekuatan dari Lady Raffles tapi Papa belum tahu apa kekuatannya," nyata pria itu.


"Lady Rafless?"

__ADS_1


"Ya. Di foto itu Arini berpose di Monumen Lady Raffles, istri pertama dari Sir Thomas Stanford Raffles," jelasnya. "Papa akan mencari tahu tentang Arini. Kamu fokuslah dengan Hakiki, Papa yakin kekuatannya akan keluar beberapa bulan ini."


"Iya, Pa." Artha mengangguk pelan. Wajahnya masih kelihatan sedih.


"Papa bangga sama kamu. Masa lalu jangan menjadi hambatan kamu untuk bergerak di masa sekarang dan masa depan... Artha." Pria itu memeluk Artha dengan sangat erat.


Pemuda itu mengangguk dalam pelukan pria berbadan tegap.


"Papa bangga sama kamu," bisik pria itu ke telinga Artha. Lalu melepaskan pelukan yang manis dan beranjak menuju tangga ke lantai atas.


Di lantai atas, seseorang langsung menutup pintu kamar dengan perlahan-lahan. Dia sudah mendengar pembicaraan antara Artha dan pria itu dari awal dan tak ingin ketahuan oleh pria itu.


"Dapi?" lirihnya pelan. "Siapa dia?"


*******

__ADS_1


__ADS_2