
Hakiki kecil menangis. Kepalanya terasa pusing. Dia berusaha membuka kedua mata dan menggerakkan tangan dan kaki. Matanya terbuka tapi kaki dan tangan seolah tak bisa bergerak. Melihat ke arah tangan dengan sedikit membesarkan mata agar terlihat jelas pandangannya di ruangan gelap saat ini. Ada tali yang mengikat pergelangan tangan, begitu juga dengan kaki. Hidungnya mencium bau pesing dari ruangan yang gelap, tapi masih ada cahaya matahari dari luar masuk ke sela-sela kaca jendela. Posisi saat ini, Hakiki kecil sedang terduduk di sudut ruangan.
Dia langsung menangis. Tak bisa berpikir kecuali menangis. "Ayah...! Ayah...!" panggilnya. Menjerit dengan sangat kuat.
"Gubrak...."
Hakiki tersentak. Kaget. Mukanya pucat.
Dari balik pintu, keluar seorang pria setengah baya yang memiliki perut buncit. Di pinggangnya terlihat lemak tubuh. Badannya yang pendek tak sesuai dengan tubuh yang melebar. Mulutnya sepertinya susah untuk ditutup karena gigi-giginya yang maju keluar.
Hakiki langsung menangis sejadi-jadinya. Berteriak kembali memanggil ayahnya. Berusaha untuk melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki. "Diam kau anak *******!. Manusia seperti kaulah yang membuat hidup seperti diriku ini sengsara. Kalau kau tidak diam, aku potong leher kau!" Pria itu mengarahkan pisau dari kejauhan ke arah Hakiki.
Mulut Hakiki tersekat. Suaranya seperti hilang. Wajahnya ketakutan. Dia sadar kalau diculik oleh pria yang mengarahkan pisau dari kejauhan kepadanya.
__ADS_1
Ayah dan Ibunya sering berpesan mengenai orang asing yang tidak boleh langsung dipercaya. Kedua orang tuanya juga berpesan, jika Ayah atau Ibu atau orang yang dikenalnya belum menjemput, disarankan untuk menunggu di kelas bersama guru atau temannya. Kini... dia menyesal tidak menuruti perkataan Ayahnya untuk menunggu di dalam kelas sampai ayahnya menjemput.
Muka Hakiki pucat. Suaranya tak dikeluarkan lagi karena dia takut dengan ancaman pria yang dipanggilnya uwak tadi. Ya, akhirnya dia mengenali wajah penculik itu setelah pria itu mendekatinya.
"Kau anak *******!. Anak seperti kaulah yang menghancurkan masa kecilku!" bentaknya lagi. Pria itu mengambil kain yang terjuntai di kantong celananya. Merentangkan kain ke mulut Hakiki dan mengikatkan ke belakang kepalanya. Sebagian kain bagian depan, masuk ke dalam mulut dan bersentuhan dengan giginya.
Hakiki sedikit meronta. Menangis pelan. Air matanya jatuh tapi suaranya tertahan. Dirinya tak ingin pria yang di depan, mendengar suara tangisnya. Perasaannya benar-benar sangat takut.
Hakiki kecil memejamkan matanya, air matanya semakin deras. "Ayah.... Mama.... Nenek..." Memanggil beberapa nama dengan pelan. Mulutnya susah berbicara karena tersekat dengan kain. Menangis tersedu-sedu. Rasa takut terus menjalari pikirannya. Dia merasa letih. Capek. Tangan dan kakinya sakit. Rasa letihnya membuat dirinya tertidur kembali.
*******
Suara tokek di gudang terdengar sangat nyaring. Hakiki sayup-sayup mendengar suara tokek seakan memanggilnya dan terdengar jelas ketika membuka mata. Ruangan tempat dirinya disekap, saat ini bertambah gelap. Tak ada lagi cahaya matahari. Kedua mata berusaha untuk melihat ke sekeliling ruangan. Perutnya terasa lapar. Tenggorokannya juga kering. Dia merasa sangat haus. Matanya berulang kali melihat
__ADS_1
ke sekeliling ruangan. Rasa takutnya masih menjalar di seluruh tubuh. Kedua matanya terhenti ke arah satu tempat. Dia memandang ke arah jendela satu-satunya yang ada di ruangan. Tinggi jendela itu hampir tiga meter dari lantai. Jendela berukuran 50 x 80 cm. Ada beberapa bilah kaca yang tersemat lebar di antara kusen jendela, itupun hanya satu yang bagus, tiga lainnya sudah pada rusak di pinggir-pinggir kaca.
Menatap keluar dari balik kaca bening di jendela. Ada Bulan Sabit. Dia bisa melihat jelas Bulan Sabit. Ditatapnya Bulan Sabit dengan tatapan kosong. Teringat keadaan ayahnya yang mungkin mencari-cari dirinya. Lalu Ibu dan Nenek. Dia juga mengingat adik-adiknya. Ibunya pasti sangat sedih karena saat ini adiknya sedang sakit, ditambah lagi memikirkan keadaan dirinya saat ini.
"Bulan, tolong sampaikan kepada Ayah dan Ibu juga Nenek, Kiki baik-baik saja di sini." Tiba-tiba Hakiki kecil berkata pelan. Suaranya begitu memilukan. Suaranya tidak jelas karena kain yang ada di mulutnya, masih tersekat. "Tolong Kiki... Bulan, sampaikan pesan Kiki supaya mereka tidak khawatir. Bilang ke Ayah, Kiki baik-baik saja dan segera pulang." Suaranya masih pelan. Tiba-tiba air matanya menetes di kedua pipi. Dia berusaha menyeka tetesan air mata itu dengan bahunya.
Mulut kecilnya, berusaha terus bercerita kepada Bulan Sabit tentang Ayahnya, tentang Ibunya, tentang Neneknya yang begitu menyayangi dirinya dan juga bercerita tentang kedua adik-adiknya. Dia masih ingin bertemu dengan mereka. Berjanji jika sekolah lagi nanti, dia akan bermain dengan Hendra dan tidak akan menangis lagi. Semua itu
diceritakan dengan pelan. Awalnya, air matanya jatuh terus menerus, tapi... lama kelamaan tak ada air mata lagi yang mengalir. Dia merasa tenang. Tak merasa haus dan lapar lagi. Juga tidak merasa takut lagi. "Terima kasih Bulan, sudah menyampaikan pesan Kiki ke mereka. Terima kasih...," ujarnya pelan. Cukup lama juga Hakiki kecil bercerita sendiri. Tak tahu jam berapa saat ini dan juga tak tahu dimana keberadaan penculik itu.
Tiba-tiba Hakiki kecil mendengar suara ribut di luar ruangan. Suara beberapa orang yang saling membentak. Beberapa kali terdengar suara berderak keras dan jeritan seseorang. Dia tidak takut lagi sekarang. Hakiki berpikir, ketika penculik itu masuk, dirinya akan memohon untuk diantarkan pulang ke rumah dan akan memberikan uang di dalam celengan yang ada di rumah kepada penculik itu sebagai gantinya.
*******
__ADS_1