
- 03 Januari 2012 -
Terdengar suara gemerisik dedaunan di pohon depan rumah Hakiki yang ditiupkan oleh angin malam. Hakiki melihat jam tangan. Ada angka 01.45 di jam tangan digital berwarna abu - abu.
Pemuda yang memakai celana olahraga dengan baju kaos berwarna merah otak udang memandangi langit dari sela - sela daun pepohonan yang rimbun. Duduk di dahan pohon yang besar, punggungnya bersandar di batang utama pohon. Satu kaki menggantung ke bawah dan yang satu lagi menapak di dahan tempat dia duduk. Kaki itu menekuk sehingga pahanya menempel di dada. Tangan kirinya memegang satu toples plastik berwarna merah berbentuk segi empat dan tangan kanan sibuk memasukkan kacang yang berasal dari toples itu ke mulut. Dia sangat santai ketika menatap Bulan Sabit yang ada di langit.
Srek.... Kresek.... Tap.
Tiba - tiba satu sosok masuk dan menginjakkan kedua kaki ke dahan yang lain, lebih tinggi dari dahan tempat Hakiki duduk. Berusaha mengatur keseimbangan tubuhnya.
Hakiki menoleh dan berkata, "Kak, mau kacang? " tawarnya sambil tertawa dan mulutnya membentuk kotak.
"Waaaaaaah.... Kenapa kamu bisa sesantai ini?" tanya pemuda yang memakai baju serba hitam. Pemuda itu membuka masker kain yang menutup mulutnya dan mengeluarkan ekspresi wajah yang menggelikan. Dia adalah Artha.
"Malam ini Bulan Sabit, kan?" lanjutnya dengan pertanyaan. Kemudian duduk di dahan tempat dia berpijak. Kedua kaki menggantung ke bawah.
"Ya. Dan aku merasa tidak ada tanda - tanda akan dapat kekuatan malam ini," nyata Hakiki datar. Fokus menggenggam kacang telur yang ada di tangan agar tak jatuh ke bawah setelah Artha tak menyambut penawaran makanan itu darinya.
"Waaaah..... Kenapa bisa seperti itu? Jadi kenapa kamu duduk di sini sendirian di larut malam seperti ini? Apa kamu besok tidak sekolah?" tanya Artha.
Pemuda itu berbicara dengan sangat cepat dan terdengar lucu ketika suara nyaring keluar dari mulutnya yang mungil. Wibawanya sebagai seorang yang lebih tua dari Hakiki seakan hilang.
"Besok aku enggak sekolah. Masih libur Tahun Baru. Tanggal 4 baru masuk," jawab Hakiki santai.
"Berikan kacang itu!" bentak Artha ke Hakiki secara tiba - tiba.
"Loh... Kakak mau?"
"Mau lah!" sewotnya.
Dengan cepat Hakiki melempar sebutir kacang ke arah mulut Artha.
Artha terkejut, tapi dengan cepat menangkap kacang telur dengan mulutnya dan berhasil. Masih sedetik kacang itu masuk ke dalam mulut dan dia berkata, "Kamu pikir aku binatang peliharaan yang dilindungi di Ragunan!" nyatanya sambil mengunyah makanan yang masuk ke mulut.
Hakiki terkekeh, melempar sebutir kacang lagi ke arah mulut Artha dan anehnya pemuda yang berjarak sekitar tujuh jengkal di sampingnya, tetap menangkap sebutir kacang telur dengan mulut dan berhasil kembali masuk ke dalam.
"Kapan kakak balik dari Palembang?" tanya Hakiki.
"Tadi sore."
"Arini dimana?"
"Di rumah. Istirahat."
Kali ini Artha mengkode Hakiki dengan tangan untuk melempar sebutir kacang lagi ke mulutnya.
Hakiki menuruti keinginan pemuda itu. Dia hanya tertawa kecil melihat kelakuan Artha yang tiga tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
Arini dan keluarganya pergi ke Palembang untuk liburan. Sebenarnya bukan liburan tapi ada misi yang harus dilaksanakan Artha dan Ayah Arini di salah satu kota di Pulau Sumatera itu. Mereka pergi pada tanggal 30 Desember. Karena itulah Arini tak bisa merayakan ulang tahun Hakiki bersama.
"Malam ini, Bulan Sabit pertama setelah ulang tahunmu, kan?" tanya Artha.
"Iya."
"Mengapa kekuatanmu belum keluar juga?"
"Ya, enggak tau," jawab Hakiki cuek. Nadanya sedikit meninggi dan penuh canda. Kacang telur telah dilemparkannya kembali ke arah mulut Artha.
Artha mengunyah makanan sambil berpikir dengan keras. Kelihatan dari mimik wajahnya.
"Kak, Arini memberikan kado yang aneh kepadaku," nyata Hakiki.
"Kado?."
"Ya. Kado ulang tahun kemarin. Dia memberikan sebuah kotak kepadaku tapi kotak itu tidak bisa terbuka. Terkunci."
"Kok bisa?"
"Ya, enggak tau," seru Hakiki sewot dengan nada yang sama seperti tadi.
Artha dengan spontan mengambil busur panah yang ada dipunggung, memukulkan ujung busur itu ke kepala Hakiki.
Pemuda yang menjadi sasaran Artha sedikit menggeser kepalanya dan tertawa. Menoleh ke Artha.
Hakiki menyodorkan toples sambil tertawa.
Toples yang berwarna merah telah berpindah tangan. Artha memasukkan tangan ke dalam toples, meraup kacang telur ke dalam genggaman tangan kanan. Dia mulai sibuk memasukkan makanan itu satu per satu ke mulut.
"Emang Arini ngasi apaan sih?" tanya Artha.
"Kotak loh kak. Kotak itu berwarna putih kecoklatan. Tapi aku tak bisa membukanya karena harus ada kunci dari kotak itu."
"Tanya Arini dong."
"Nanti deh aku tanya, kalau udah ketemu di sekolah."
"Kenapa harus nunggu ketemu di sekolah? Kan bisa ditelpon?" nyata Artha sewot. Masih terus mengunyah.
"Kalau ketemu langsung, enak ngobrolnya."
"Apa emang baru kali ini, Arini memberi kado semisterius itu?" tanya Artha.
"Iya."
"Aneh ya. Kenapa Arini memberikan kado itu? Buka aja pake obeng," sarannya dengan nada cuek.
__ADS_1
Tiba - tiba saran Artha yang tak masuk akal itu membuat Hakiki tertawa.
"Kok ketawa?"
"Kakak aneh."
"Dimana anehnya?" Artha melempar sebutir kacang telur ke arah Hakiki.
Hakiki sedikit menggeserkan kepalanya untuk mengelak dari lemparan itu.
"Udah ah. Aku mau tidur!" seru Hakiki. Berusaha berdiri di dahan yang diduduki sebelumnya dan mulai bergegas turun.
"Eh... mau kemana?" tanya Artha.
"Mau tidur. Udah malam." Hakiki bicara dengan wajah serius.
"Hei... aku ke sini jauh - jauh karena ingin melihatmu di malam Bulan Sabit ini. Apakah kau tidak menghargaiku sama sekali? Trus, aku ngapain di sini?"
Artha melontarkan kata - kata itu seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. Bicaranya sangat cepat.
"Ya, enggak tau," ketus Hakiki. Berusaha untuk tetap turun dari pohon secara perlahan. Dia belum bisa melakukan seperti Artha hanya dengan sekali lompatan untuk turun dari pohon.
Melihat Hakiki yang berusaha turun dari pohon, Artha melemparkan sesuatu ke badan Hakiki. Tengkuknya menjadi sasaran dari benda yang dilempar.
"Aduh!" jerit Hakiki. Ternyata ada debu api kecil mendarat di tengkuknya. Setelah dia menyadari benda itu, lalu berteriak, "Hei Kak, jangan pake kekuatan menggodaku. Songong banget sih, mentang - mentang kekuatanku belum ada." Hakiki menjerit dan membeliakkan mata.
Artha tertawa cekikikan. "Gemes gua ngeliat elu," nyatanya.
"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku."
Hakiki kembali berusaha untuk turun dari pohon.
"Bener - bener kurang ajar nih anak," nyatanya pelan. Melihat Hakiki yang bergelut berusaha turun dari pohon besar. "Hei... apa enggak ada air minum yang disuguhkan untukku. Seret nih," seru Artha sedikit membujuk.
"Males ah. Kakak minum di rumah kakak aja. Cepat pulang sana," ujar Hakiki. Dia tertawa setelah mengucapkan kalimat itu dan juga sudah mendaratkan kakinya ke tanah.
Artha menggeram. "Toples ini bagaimana? Apa aku bawa pulang juga?" tanya Artha sedikit mengancam.
"Bawa saja. Aku ngantuk. Bye," tukas Hakiki. Berjalan dengan santai menuju pintu masuk ke dalam rumah.
"Waaah.... Dia sangat kurang ajar kepada kakaknya," cibir Artha dengan nada sangat kesal. Bibirnya maju ke depan.
*******
__ADS_1