
Ketika Hakiki sudah mendekati tubuh Arini, dia mengambil tubuh gadis itu dari pangkuan Artha. Kini warna kulit Hakiki sudah kembali normal. Kulit putihnya yang terpapar sinar Bulan Sabit, seakan kembali cerah. Dadanya yang bidang sangat berbeda saat ini dibandingkan sebelum mendapatkan kekuatan. Lebih kekar dan berisi. Rambutnya kembali seperti semula, hitam sedikit ikal. Rambut depannya menutupi seluruh kening.
Hakiki memangku tubuh Arini yang terkulai. Menatap Artha yang berada di depan.
Artha menggelengkan kepala. Pemuda itu tak bisa membendung air mata yang keluar. Kali ini, dirinya mengeluarkan cairan kesedihan untuk ke sekian kali.
Hakiki mengerti maksud dari gerakan kepala Artha. Memegangi tangan Arini yang sangat dingin. Matanya tertuju ke arah leher Arini yang memakai kalung pemberian darinya sebagai hadiah ulang tahun ke - 16. Memeluk Arini dengan erat. Tubuh sahabatnya yang sudah tak bernyawa menempel di dada yang tak berbaju. Dia menangis. Suara tangisannya tertahan. Wajahnya seakan sakit karena menahan emosi kesedihan dan wajahnya berubah menjadi merah.
Saat ini yang sangat Hakiki sesali adalah kehilangan seseorang yang sangat dicintai dan belum pernah mengungkapkan perasaan yang ada di hatinya sama sekali.
Awalnya, dia bersahabat dengan Arini, berusaha memegang prinsip bahwa hubungan mereka adalah murni persahabatan. Tak ingin merusak hubungan yang sudah terjalin bertahun - tahun. Dalam pikirannya, jika mengungkapkan perasaan itu dan Arini menolak, maka persahabatan yang telah dijalani bersama akan hancur. Tetap pada prinsipnya bahwa persahabatan itu murni tanpa cinta sebagai seorang pria dewasa dan wanita. Tapi perasaan itu semakin terus bertambah ketika mereka sudah berada di SMA.
Hakiki berusaha untuk meredamnya. Juga berusaha untuk tidak mengungkapkan perasaan itu karena takut, apa yang dipikirkannya akan terjadi. Hubungan persahabatan itu akan hancur hanya karena ingin memiliki Arini seutuhnya. Dia terus menerus menyimpan rasa cinta.
Tapi kali ini, dia sangat menyesal. Menyesal karena Arini terlibat dalam pertempuran mereka dan menyesal karena tak sempat mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.
__ADS_1
Pemuda itu terus memeluk erat tubuh gadis berbaju putih. Wajahnya semakin memerah menahan tangis dan kesedihan. Air mata menetes di pipi.
Artha yang berada di samping berusaha menenangkan dengan mengelus lembut punggung Hakiki. Namun, hatinyapun hancur kehilangan seseorang yang sangat disayangi. Kejadian ini yang sangat ditakutinya.
Ketika Hakiki memeluk erat tubuh Arini. Dirinya merasakan hawa hangat menyentuh dada. Merenggangkan pelukan dari tubuh Arini. Dia melihat ke tubuh gadis itu. Tangisnya terhenti.
Artha juga merasakan ada yang aneh dan memperhatikan tubuh adiknya.
Tubuh Arini berpendar, mengeluarkan cahaya putih secara keseluruhan. Cahaya putih itu seakan keluar dari pori-pori membuat mata menjadi silau. Dalam hitungan detik tubuh gadis yang dibalut baju putih itu terpecah.
Sret... sret... sret....
Di pangkuan Hakiki, tubuh itu terpecah menjadi bagian - bagian kecil dan berubah menjadi ratusan kupu - kupu berwarna putih terbang ke atas.
Hakiki dan Artha mendongak keheranan. Dapi yang telah selesai memadamkan api juga melihat kejadian itu di kejauhan.
__ADS_1
Kupu-kupu putih yang berterbangan berjumlah ratusan, sekarang berkumpul di atas langit. Sekumpulan binatang indah berhenti sekitar dua puluh meter di atas langit dan membentuk wajah seorang gadis yang sedang tersenyum. Wajah itu memandangi Hakiki dan Artha, lalu dalam hitungan detik sekumpulan kupu-kupu itu berpencar dan terbang ke langit membentuk lingkaran seperti spiral yang memanjang keatas.
"Arini...," desah Hakiki pelan.
"Ya. Itu memang dia,” nyata Artha.
Mereka berdua terpana dengan keajaiban itu. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Arini berubah menjadi ratusan kupu - kupu dan meninggalkan mereka menuju ke langit? Pertanyaan baru, kembali muncul di pikiran Hakiki. Memandangi langit dengan perasaan yang hancur tapi dengan penuh tanda tanya.
Di telapak tangan Hakiki, tersemat kalung perak berliontin kepala seorang gadis. Kalung yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun Arini beberapa bulan yang lalu. Dia mengangkat kalung itu dan melihat lekat dengan tetesan air mata yang jatuh ke pipi.
Bumi serasa tak berpijak lagi. Takdir seakan tak berpihak dengannya. Perasaan yang hancur berkeping - keping entah kapan akan pulih kembali.
Tit... tit... tittit....
Jam tangan Artha berbunyi. Artha menaikkan pergelangan tangan kiri, melihat ke arah jam di tangannya. Di jam tangan digital berwarna hitam tertera angka 04 : 00.
__ADS_1
*******