
Inner Child
"Ayaaaaah."
Hakiki kecil berlari cepat ketika melihat Ayahnya yang berdiri di depan kantor polisi. Memeluk ayahnya dengan sangat erat. "Maafkan Kiki, Yah, karena enggak nunggu Ayah di dalam kelas," nyatanya pelan. Dia tidak menangis.
Pria berbadan kurus yang berjongkok menyambut anaknya dengan pelukan, menangis setelah mendengar perkataan anak sulungnya. "Ayah yang minta maaf, Sayang. Ayah yang lama jemput Kiki." Sembari mengeratkan pelukan ke tubuh anak sulungnya yang mungil. Wajah pria itu sangat kusut. Begitu juga dengan rambutnya. Panik, bingung dan resah, semua campur aduk ketika sampai di sekolah, anaknya sudah tidak ada di tempat. Dua belas jam lebih, anaknya berada entah dimana dan sekarang baru ditemukan.
Siang kemarin, Ayah Hakiki bergegas untuk menjemput anaknya pulang sekolah tapi ketika di perjalanan, dia bertemu dengan teman dan mengobrol sebentar. Mungkin sekitar lima belas menit, mereka mengobrol di pinggir jalan. Setelah menyelesaikan pembicaraan mengenai pekerjaan, pria itu bergegas menuju ke sekolah Hakiki seperti biasa. Sesampai di sekolah, tidak banyak lagi kerumunan di depan gedung sekolah, hanya ada beberapa pedagang dan anak sekolah beserta orang tua. Pria itu masuk ke halaman sekolah dan menuju kelas Hakiki. Mencari Hakiki dan bertanya kepada guru kelas anaknya. Gurunya memberi penjelasan bahwa semua siswa sudah pulang termasuk Hakiki. Dengan cepat, pria yang berwajah gusar mencari Hakiki ke sekeliling lingkungan sekolah. Termasuk ke warung-warung yang ada di samping bangunan sekolah.
Seorang pemilik warung mengatakan bahwa melihat Hakiki dibawa naik mobil Avanza berwarna hitam tapi menuju ke bawah. Ayahnya mulai panik. Berusaha menelpon istrinya di rumah. Mengecek keberadaan anaknya, apakah Hakiki sudah sampai di rumah. Ternyata anak sulungnya belum ada di rumah. Tak berpikir panjang lagi, Ayah Hakiki langsung menuju ke atas, ke arah Kota Brastagi. Tujuannya adalah Kantor Polisi. Berencana untuk melaporkan ke polisi bahwa anaknya telah diculik dengan saksi pemilik warung tadi.
Laporanpun diterima oleh pihak kepolisian. Ayah Hakiki disuruh menunggu di rumah dan jika ada perkembangan maka mereka akan memberikan kabar secepatnya. Sesampai di rumah, Ibu dan Nenek Hakiki sudah menangis dengan sejadi-jadinya. Mereka bingung dan tidak percaya dengan kejadian itu. Tetanggapun sudah berkerumun di rumah Hakiki.
Sampai tengah malam, mereka belum juga mendapat kabar dari kantor polisi. Ayah Hakiki sudah empat kali bolak-balik ke kantor untuk mengecek perkembangan kabar anaknya. Perasaannya kacau. Tidak bisa tidur, tak nafsu makan. Hanya rokok saja yang dihisap. Dari selesai Isya sampai tengah malam duduk termenung di teras rumah, memikirkan anaknya. Sesekali dia mengusap air mata yang jatuh ke pipi.
"Bang, makanlah sedikit. Aku ambilkan ya?" tanya istrinya yang keluar dari rumah. Wajahnya lesu dan terlihat pucat. Rambutnya sudah tidak beraturan lagi. Perempuan yang memakai baju daster membawakan secangkir kopi untuk suaminya. Berusaha untuk membujuk agar suaminya makan padahal dia juga tak selera untuk menyentuh makanan.
"Nantilah... abang makan. Tidak selera," nyatanya.
"Kita serahkan sama Allah, Bang. Mudah-mudahan Hakiki cepat ditemukan," suara istrinya pelan dan menangis tersedu. Mengelap air mata dengan ujung lengan baju.
"Salah Abang ini, Dek. Kenapa Abang harus cerita sama Imron di jalan, padahal Hakiki sudah harus dijemput."
Istrinya hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa lagi. Hanya sabar menunggu kabar dari kantor polisi dan berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan anaknya. Lama mereka duduk terdiam, berdua di depan teras. Pikiran mereka kalut. Hati mereka seakan hancur. Raga mereka terasa tak bisa lagi memijakkan tanah di bumi ini.
Pukul empat shubuh, Ayah Hakiki mendapat telpon dari kantor polisi Brastagi bahwa anaknya sudah ditemukan, tapi masih akan dibawa ke kantor polisi cabang Belawan. Ayah Hakiki segera mendatangi kantor polisi Brastagi dan pergi bersama para aparat kepolisian ke kantor cabang Belawan. Mereka melakukan perjalanan di waktu shubuh dari Brastagi ke Medan, menuju ke Belawan, memakan waktu sekitar 2 jam. Ternyata Hakiki dibawa oleh penculik itu sampai ke Pelabuhan Belawan.
Ayah Hakiki mendapat informasi dari aparat kepolisian bahwa Hakiki dan penculik dijemput oleh aparat kepolisian di gudang tua di sekitar Pelabuhan Belawan. Sungguh jauh sekali perjalanan penculik ini, pikirnya. Dari salah satu staf kepolisian, dijelaskan bahwa penculik itu sudah ditemukan terikat pingsan di gudang tua.
Cerita di kantor kepolisian berawal pada jam tiga dini hari. Pihak kepolisian mendapatkan kabar bahwa ada laporan mengenai pembekukkan seorang penculik di Pelabuhan Belawan. Yang melapor tidak menyebutkan nama tapi memberitahukan keberadaan gudang sebagai tempat penyekapan. Dan juga memberitahukan detail kondisi anak kecil yang menjadi korban penculikan. Dengan cekatan, staf Kepolisian Belawan langsung menyisiri alamat yang dimaksud dan memang benar, di sana, pihak kepolisian menemukan seorang pria yang pingsan dan seorang anak kecil duduk sendiri di dalam gudang. Tangan dan kakinya sudah tidak terikat lagi. Anak kecil sebagai korban penculikan hanya terdiam dengan wajah yang sangat polos.
Kemudian staf di lapangan melaporkan ke kantor polisi Belawan bahwa benar laporan dari seseorang mengenai pembekukkan penculik dan korbannya anak kecil dalam keadaan sehat. Pihak kantor polisi Belawan langsung mengabarkan ke pihak kantor cabang Brastagi. Berkat kerja sama seluruh kantor kepolisian yang menanggapi laporan dari kantor cabang Brastagi bahwa ada penculikan anak-anak sekitar jam satu siang tadi, oleh karena itulah mereka tahu bahwa keluarga korban penculikan berdomisili di Brastagi.
Ayah Hakiki sudah sampai di kantor polisi cabang Belawan. Pada saat itu sudah jam 6 pagi. Tapi aparat yang menjemput Hakiki belum sampai karena mereka mengurus penculik yang sudah dibekuk dan mengumpulkan barang bukti di TKP.
Ayah Hakiki melepaskan rangkulannya. "Kamu tidak apa-apa, nak?" tanyanya.
"Enggak apa-apa, Yah," Hakiki tersenyum.
__ADS_1
Memang tidak ada cacat sedikit pun di tubuh Hakiki tapi pergelangan tangannya memerah karena ikatan tali. Pria itu melihat ke pergelangan tangan dan memegangi tangan anaknya. Air matanya menetes tanpa sadar. Siapa yang tega memperlakukan anak kecil seperti in, pikirnya.
"Ayah jangan nangis lagi. Kiki sudah aman. Abang yang nolong Kiki bilang kalau Kiki udah aman dan bisa pulang," jelas Hakiki. Tangannya yang kecil menghapus air mata ayahnya.
Pria itu semakin mengeluarkan air mata. Hatinya sangat tersentuh dengan perkataan anak sulungnya. "Abang yang mana nolongin Kiki, Sayang?" tanya ayahnya dengan lemah lembut.
"Abang sama Om bertopeng nolongin Kiki, Yah. Tapi ayah jangan bilang-bilang sama Pak Polisi, nanti kalau dibilang, Om dan Abang itu enggak bisa lagi berbuat baik katanya," jelas Hakiki tapi dengan suara sedikit berbisik.
Pria itu keheranan. Tentu saja, penasaran dengan cerita Hakiki. Juga tak habis pikir dengan informasi yang diberikan oleh staf kepolisian bahwa Hakiki ditemukan sendirian dan penculik sudah terikat di Tempat Kejadian Perkara.
"Pak, anaknya dibawa masuk dulu ke dalam," saran petugas yang datang bersama Hakiki.
"Ouh... Iya pak." Ayah Hakiki cepat menggendong anak sulungnya dan bergegas masuk ke dalam kantor polisi.
Ayah Hakiki memberi makan anak sulungnya terlebih dahulu. Sengaja membeli roti untuk anaknya.
"Tadi Kiki udah makan juga, Yah... dibelikan oleh Pak Polisi. Kiki tadi makan bubur ayam," jelasnya santai.
Ayah Hakiki harus melengkapi beberapa berkas dan polisi berusaha menanyakan beberapa hal kepada Hakiki. Anak kecil yang bijak, bercerita dari awal dibawa ke mobil oleh penculik. Diberi permen dan tertidur. Hakiki kecil bercerita bagaimana tangan dan kakinya diikat dan ditinggal sendirian di gudang. Juga bercerita ada orang yang menyelamatkannya namun tidak bercerita secara detail kalau orang-orang tersebut memakai topeng. Dia menyimpan cerita itu sendiri.
Polisi sangat menyukai Hakiki karena anak kecil ini bercerita seperti orang dewasa, ceritanya jelas dan dimengerti. Sampai Kepala Staf kepolisian berkata bahwa Ayahnya beruntung memiliki anak sepintar Hakiki. Ayahnya sangat bangga padanya. Berkali-kali ayahnya mengelus kepala anak sulungnya. Akhirnya, mereka keluar dari kantor polisi sekitar jam sembilan pagi.
Mereka pulang ke Brastagi bersama dengan aparat kepolisian cabang Brastagi. Sesampai di rumah, tetangganya sudah berkumpul di sana. Ibunya langsung mengejar Hakiki dan memeluknya dengan erat ketika anak sulungnya turun dari mobil. Air matanya jatuh bercucuran, berulang kali dia mengucapkan syukur kepada Tuhan. Hakiki hanya terdiam. Wajahnya polos. Dia masih teringat dengan kerlingan mata seorang anak laki-laki yang lebih besar darinya yang dipanggil Artha.
*******
"Kita harus bergerak cepat, Artha, sebelum mereka mendapatkan yang lainnya." Pria bertubuh besar itu berujar sambil menyetir dengan tatapan yang fokus di kegelapan malam.
__ADS_1
"Iya pa. Tapi orang-orang yang masuk ke dalam pilihan kita, masih dibawah umur semuanya. Jadi kita harus menjaga mereka sampai mereka menemukan kekuatan masing-masing," jawab anak laki-laki yang telah melepaskan topeng di wajahnya. Wajahnya sangat kecil, putih dan sangat tampan. Umur anak laki-laki ini mungkin sekitar 12 tahun. Dia duduk di kursi penumpang disebelah pria yang dipanggilnya papa.
"Papa akan cari cara, gimana melindungi mereka satu per satu. Mereka berada di daerah, bukan di Jakarta, sepertinya kita agak kewalahan karena jarak dan waktu ini," jelas pria itu.
"Sebaiknya papa lebih mempercayai orang-orang yang kita urus untuk menjaga mereka masing-masing. Sesekali kita cek keberadaan mereka, sampai mereka siap untuk direkrut, dan Artha akan bantu pa," tutur anak laki-laki yang bernama Artha.
"Oke," jawabnya singkat. Dia mempercepat lompatannya di kegelapan malam, sepertinya ada yang harus mereka kejar. Menghilang tanpa jejak.
*******
__ADS_1