
Singularity
Pemuda yang berbadan tinggi berjalan dengan perlahan. Dia menggunakan pakaian hitam, serba hitam. Wajah dan kepalanya ditutupi penutup berwarna hitam. Hanya matanya saja yang terlihat. Mengendap-endap di dalam kegelapan malam. Berhenti, mengamati tembok yang ada di hadapannya, sedikit mendongak ke atas. Gerakan selanjutnya, mengambil busur panah yang ada di punggung, disusul mengambil anak panah, mengikat ujungnya dengan tali. Menembakkan ke pagar tembok yang tingginya sekitar enam meter.
Swiiiiiiing.... Dug....
Busur panah melesat dengan cepat dan menancap di ujung tembok. Sangat tepat sasaran sesuai keinginannya. Berusaha menarik-narik tali, mencoba mengukur kekuatan tali. Mengangguk dan sedikit tersenyum. Kedua tangannya menggenggam tali, berusaha mengangkat tubuhnya dengan menyalurkan kekuatan di kedua tangan. Gerakannya sangat cepat. Tanpa suara. Pemuda ini pasti sudah terlatih. Dalam hitungan detik sudah berada di atas pagar Komplek perumahan. Pemuda ini sengaja masuk dari belakang untuk menuju salah satu rumah di dalam komplek perumahan warga. Dengan cepat menggulung tali dan berusaha mencabut anak panah itu tanpa suara.
Menyusuri tapak tembok dengan cepat, terlihat kakinya yang panjang. Sedikit berlari dan setengah membungkuk. Matanya dalam kondisi waspada, takut jika ada seseorang melihat. Dia melompati atap rumah beberapa kali warga beberapa kali. Kebanyakan rumah warga yang dilalui memiliki bangunan berlantai dua.
Tap. Tap. Tap.
Tubuhnya sangat ringan. Dia berhenti ketika melompat yang ketiga kali. Matanya mengawasi arah lompatannya. Mengambil ke arah kanan dan melompat kembali.
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap. Sreeeek.....
__ADS_1
Setelah melompati atap rumah beberapa kali, badannya yang ramping masuk ke dalam pohon besar dan rimbun. Pemuda ini bertengger setengah berjongkok, kaki kirinya menjadi tumpuan untuk menjaga keseimbangan, mendatar ke depan, sedangkan kaki kanan menekuk, lututnya menempel ke dada. Bersiaga. Melihat ke kanan dan ke kiri. Malam itu tampak lebih terang, padahal malam ini hanya ada Bulan Sabit, bukan Bulan Purnama, pikirnya. Diapun waspada agar tak terlihat. Bersiap untuk melompat menuju teras rumah yang berada di depan pohon. Kaki kirinya berusaha untuk melonjakkan tubuh seperti pegas.
Klik.... Ngeeeeet.... Ngeeeeet.... Klik....
Pemuda berpakaian hitam itu mengurungkan niat. Matanya yang kecil memicing, melihat seseorang keluar dari rumah yang diawasi. Seorang pemuda membuka pintu teras dan berjalan ke luar. Pemuda yang mengintai berusaha untuk menahan gerakan tubuhnya. Menurun dari gaya pegas yang akan dikeluarkan kaki kiri. Dia memperhatikan gerak-gerik pemuda yang berada di teras. Berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun di dalam rimbun pohon, bahkan berhati-hati dalam mengeluarkan nafasnya. Lama dia bertengger di dahan pohon besar, memperhatikan pemuda yang sedikit berambut ikal. Pemuda yang diawasi sedang memandangi Bulan Sabit. Tak berapa lama, dia melihat pemuda yang berambut ikal tertunduk, melihat kedua telapak tangannya.
"Sebentar lagi," lirihnya pelan. "Sebentar lagi kau akan mendapat kekuatanmu." Dia tersenyum di balik masker yang dikenakan. Melompat keluar dari pohon dengan cepat, mendarat di atap rumah di belakang pohon besar dan berlanjut melompati beberapa atap rumah dengan cepat pula. Sangat cepat. Bayangannyapun sampai tak berbekas.
*******
Hakiki duduk di pinggir tempat tidur. Berkali-kali mengusap mukanya dengan kedua tangan. Rasa kantuknya sudah tidak ada lagi. Dilihatnya jam dinding berwarna hitam dan putih tapi warna putih lebih mendominasi, menempel di dinding kamar. Jarum pendek pada jam menunjukkan arah mendekati angka empat dan jarum panjang ke angka sembilan. Wajahnya datar. Mulutnya sedikit terbuka. Dilihat dari wajahnya, dia fokus memikirkan sesuatu.
Pemuda yang memiliki bidang dada yang lumayan besar menghidupkan lampu meja belajar supaya ada cahaya di kamar. Menggerakkan tubuhnya menuju meja belajar yang ada di samping tempat tidur. Berusaha meraih tas ransel. Kondisi dia setengah berdiri saat ini. Setelah tas diraih, duduk kembali di pinggir tempat tidur. Perlahan membuka tas ransel. Mengeluarkan amplop coklat. Dia kembali meletakkan tas ransel di meja belajar. Kali ini sedikit mencampakkan tas itu dengan tangan kanan. Melanjutkan membuka amplop berwarna coklat.
Dengan perlahan membuka amplop berwarna coklat, seolah-olah tak ingin keluarganya mendengarkan kegiatan yang dilakukan di malam yang larut. Memasukkan tangan kanan, merogoh ke dalam amplop dan menarik benda yang ada di dalam. Sekarang Hakiki telah memegang beberapa lembar foto di tangan. Foto-foto itu berwarna hitam putih.
__ADS_1
Dia melihat foto-foto itu satu per satu. Wajah Arini lebih banyak di lembaran-lembaran foto. Hakiki tetap memasang raut wajah polos tapi kali ini kedua bibirnya tertutup. Tak ada senyum sepotongpun di bibir yang lebar.
Setelah beberapa lembar melihat foto, tangannya terhenti. Dahinya berkerut. Matanya sedikit melebar. Dengan cepat memindah-midahkan foto yang lain dari tangan kanan ke tangan kiri. Jempol kirinya bergerak dengan cepat seperti bermain kartu. Ada foto lain yang dicari. Sesaat kemudian berhenti, gerakan jarinya tertahan kembali.Menarik sebuah foto, memisahkan foto dan meletakkan di atas bantal yang ada di samping kiri. Kemudian mencari lagi, mempercepat gerakan jempol dalam menyeleksi foto. Gerakan jempolnya tertahan dan dia segera menarik foto yang dipilih untuk kedua kali dan juga menarik lembaran foto satu lagi yang pertama kali dilihatnya.
Ada tiga lembar foto yang sudah dipisahkan olehnya saat ini. Foto-foto Arini yang diambilnya pada saat di monumen Kebun Raya Bogor. Wajahnya aneh melihat ketiga foto tersebut. Dahinya tetap berkerut. Matanya menatap tajam seakan tak percaya dengan yang dilihat.Menghidupkan lampu utama kamar. Mengangkat satu lembar foto dan menerawang, mengarahkan foto ke atas, ke arah lampu utama kamar. "Apa ini?" lirihnya. Dia bergegas bergerak menuju lemari yang ada di samping meja belajar. Kali ini tidak berjalan perlahan. Sedikit tergesa. Mencari benda di dalam lemari. Tak berapa lama, kedua tangannya memegang kamera. Dia berdiri sambil menekan beberapa tombol di kamera. Sangat cepat. Berhenti pada satu foto, memencet tombol sekali lagi, berhenti dan memencet sekali lagi. Diam. Terpaku. Memikirkan sesuatu.
Cukup lama Hakiki berdiri memandang layar kamera. Kembali menggerakkan tubuhnya ke tempat tidur. Meletakkan kamera di atas foto-foto yang berserakan, tapi tiga foto lain berada di atas bantal.
Hakiki menggigit sudut bibir bawah. Dahinya masih berkerut. Matanya tajam dan serius melihat foto. Foto yang berwarna hitam putih, di atas bantal, diambil dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan mengambil kamera. Di layar kamera, terdapat foto yang sama yaitu foto Arini yang sedang berpose di prasasti monumen. Tapi terdapat satu perbedaan yang mencolok, selain warna dari foto itu. Di layar kamera, Arini sedang berpose di samping prasasti monumen, kepala Arini setengah mendongak ke atas, matanya terpejam, lalu tangannya, lebih tepat bagian punggung tangan kanan, sedikit menempel di kening dengan jari-jari melentik ke atas. Sedangkan tangan kiri berkecak pinggang. Posenya bak model berkelas, tapi bukan pose itu yang membuat kedua foto terlihat ganjil oleh Hakiki.
Di layar kamera, foto itu biasa saja dan nampak sempurna dengan penuh warna seperti foto yang sudah dicetak dan diberikan kepada Arini, tapi lembaran foto yang di tangan kiri adalah lembaran yang dicetak dengan warna hitam putih. Di foto itu, di atas kepala Arini terlihat jelas ada sekumpulan kupu-kupu terbang mengelilingi kepalanya. Kupu-kupu itu berterbangan membentuk seperti topi kerucut di atas kepala sahabatnya. Mungkin sekitar dua puluh sampai dua puluh lima kupu-kupu berwarna putih. Hal ini yang membuat Hakiki heran. Mengapa kupu-kupu itu tidak kelihatan di foto yang berwarna ataupun di kamera, tapi terlihat di foto hitam putih. Kali ini Hakiki merinding. Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya dan berusaha untuk mencari-cari arti dari semua keganjilan ini.
*******
__ADS_1