Peta 7 Jiwa

Peta 7 Jiwa
(Hakiki Hulmi) Episode 14


__ADS_3

Singularity


 


 


Sudah seminggu sejak kejadian Monumen di Kebun Raya Bogor, namun Hakiki tak mendapat kejelasan cerita sebenarnya dari Arini. Dia menanyakan kepada Arini mengenai hal itu ketika di dalam mobil di perjalanan pulang dari Kebun Raya Bogor tapi yang ditanya hanya diam. Hakiki tidak mau memaksa sahabatnya, nanti ketika sudah tenang pasti akan cerita, pikirnya.


 


 


Irama musik yang pelan terdengar sayup-sayup adalah sebagai tanda istirahat kedua dari jadwal sekolah. Hakiki keluar kelasnya menuju kelas Arini dan mencari gadis itu. Dia menemukan Arini sedang berbincang dengan teman perempuannya. Belum sempat Hakiki memanggil Arini, gadis yang bertubuh ramping sudah menoleh karena diberitahu temannya akan keberadaan Hakiki yang masih berjalan mendekati mereka.


 


 


"Hei... Ki, mau kemana?" tanya Arini.


 


 


"Mau nemuin kamu, ada yang ingin aku bicarakan," bisik Hakiki. Tubuhnya sudah mendekati Arini.


 


 


"Ya udah... apaan?"


 


 


"Kita ke kantin yuk...," ajak Hakiki. "Ngobrol di kantin deh."


 


 


"Oke," jawab Arini cepat. "Hei... girls, gue pergi ke kantin ya. Elu-elu pada mau pesan apa? Belum sempat temannya menjawab, “Udah deh, tawaran gue batal, kelamaan elu ngasi jawaban." Arini sudah menolak duluan. Mempermainkan teman-temannya sambil bertingkah konyol. Mengaitkan tangannya ke lengan Hakiki yang sedari tadi sudah di sampingnya. Berjalan membelakangi temannya dan sedikit menyeret pemuda tampan itu.


 


 


"Gue kagak mau pesan ape-ape, tapi gue pesan jaga hatiku untuk sahabat lu," teriak seorang gadis, teman Arini dari kejauhan.


 


 


Arini menoleh ke belakang. Tersenyum penuh pesona. Menempelkan kecupan dari bibirnya yang mungil ke tangan kiri, selanjutnya menempelkan tangan itu di pipi kanan Hakiki. Dia menggoda teman-temannya.


 


 


Sontak para gadis yang berdiri saling merapat, berteriak histeris.


 


 


Hakiki juga ikut menoleh ke belakang karena suara teriakan dari sekumpulan gadis. Pemuda ini tertawa pendek. Mulut terbuka sedikit. Kedua matanya menatap tajam para gadis yang berdiri berkelompok, tatapan tajam Hakiki berkesan lembut tapi maskulin. Merobak hati para gadis yang berkumpul.


 


 


Para gadis semakin berteriak dan melompat kegirangan.


 


 


Malu. Terlalu banyak yang memuji. Itu yang dirasakan oleh Hakiki saat ini.


 


 


"Hadeeehh... begitu banyak penggemarmu di dunia ini, Ki," keluh Arini manja. Meneruskan perjalanan mereka menuju kantin. Masih menggandeng Hakiki. Arini tak memperdulikan teman-teman yang sudah berjarak beberapa langkah yang masih sedikit histeris.


 


 


Manusia yang dikomentari hanya diam dan menatap lorong yang disusuri dengan wajah blank face.


 


 


Berjalan berdua menyusuri lorong kelas sebanyak lima ruang, berbelok ke kiri menuju kantin di belakang bangunan kelas. Mereka melakukan itu dengan perlahan. Sepanjang jalan tentu saja banyak mata yang memandang tapi mereka berusaha berjalan santai, tidak dengan gaya sombong. Sesekali Arini menegur teman-teman yang tersenyum padanya. Sedangkan Hakiki memasang wajah datar.


 


 


"Aku mau ngambil cetakan foto yang kemarin, pulang sekolah ini, kamu mau ikut?" tanya Hakiki. Berjalan pelan sembari mengeratkan rangkulan tangan Arini kepadanya. Memandang ke Arini yang bergelayutan di tangan kirinya.

__ADS_1


 


 


"Oh... udah selesai toh?"


 


 


"Udah dari tiga hari yang lalu."


 


 


"Kenapa baru mau diambil sekarang?"


 


 


"Beberapa hari ini aku sibuk bantu mama di rumah," nyata Hakiki.


 


 


"Oke. Aku ikut deh."


 


 


Mereka sudah sampai di kantin. Mencari bangku kosong yang berada di pinggir. Hakiki yang memilih. Dia kurang suka jika di tempat keramaian berada di tengah, akan jadi pusat perhatian orang di sekitar. Menjadi pusat perhatian akan membuat dirinya tak nyaman. Walaupun... sebenarnya, dimanapun posisinya berada akan menjadi perhatian manusia lain. " Kamu duduk deh, Rin, aku yang pesan makanan," ujarnya. "Kamu mau pesan apa?"


 


 


"Aku minum jus alpukat doang, Ki."


 


 


"Ditanya mau makan apa, malah jawabannya pesan minuman," sewot Hakiki. Wajahnya sekarang bermimik mengejek. Segera beranjak menuju gerai-gerai makanan dan minuman yang berjejer. Kantin itu besar. Ukurannya sekitar 25 x 20 meter. Ini adalah kantin pertama sekali di bangun di sekolah mereka. Kantin ini yang paling ramai di bandingkan dua kantin lainnya.


 


 


Sesampai di depan gerai, Hakiki memesan roti bakar selai nenas satu porsi dengan minuman bersoda dan jus alpukat untuk Arini. Pemuda itu memberi tahu nomor meja tempat mereka duduk. Setelah selesai, dengan cepat kembali  ke meja semula.


 


 


 


 


"Tidak. Kami sedang libur karena kemarin baru selesai ujian mid semester," terang arini.


 


 


Hakiki mengangguk kecil.


 


 


"Ki, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu denganmu tentang kejadian minggu lalu di Kebun Raya Bogor."


 


 


"Oh." Hakiki mengeluarkan suara singkat, mulutnya membentuk huruf O dan sedikit terbuka. Matanya menatap Arini. Tatapan serius. Berusaha mengatur posisi tubuh yang baik untuk mendengar cerita Arini. Cerita ini yang ditunggunya selama seminggu terakhir dan dia berhasil memancing Arini dengan membawanya ke kantin.


 


 


"Waktu itu, aku merasa ada seseorang yang memanggilku. Suara perempuan. Awalnya... suara itu pelan menggema, berulang-ulang. Tapi setelah beberapa kali memanggil dengan suara yang pelan dan menggema, akhirnya, suara itu memanggil namaku dengan berteriak dan membentak. Pada saat itu, telingaku terasa berdesing dan sakit. Tak berapa lama kemudian ada seseorang yang menarik tanganku. Berlari... menarikku dan aku berusaha untuk menyeimbangkan langkahku supaya tidak terjatuh. Sesosok makhluk aku rasakan menggiringku ke monumen, Menyuruhku membaca tulisan yang berada di prasasti. Setelah itu... aku merasa makhluk itu berada dalam tubuhku. Memori masa lalu menyatu dengan tubuhku, begitu hangat, penuh cinta dan kasih sayang. Makhluk itu sangat menghargai kehidupannya yang dulu. Lalu, dia menangis, bersimpuh di prasasti. Menangis bukan karena sengsara, tapi menangis karena bahagia. Aku merasa dia meninggalkan cintanya dengan ikhlas. Aku ingat semua ini setelah beberapa hari dari kejadian, sebelumnya aku tak mengingat sama sekali," jelas Arini panjang lebar.


 


 


Hakiki masih terdiam. Raut wajahnya masih sangat serius. Matanya besarnya menatap ke Arini.


 


 


"Tapi aku tidak apa-apa, Ki. Ketika aku berada di monumen, perasaanku senang, bebas, bahagia karena aku merasa banyak orang-orang yang berada di sekelilingku, tertawa bersama dan ikut bahagia."


 


 

__ADS_1


Cerita Arini terpotong karena pelayan kantin datang untuk mengantar makanan dan minuman. Setelah meletakkan empat benda di atas meja mereka, pelayan itu pun pergi setelah mengeluarkan kata-kata mempersilahkan.


 


 


"Minum deh," seru Hakiki sambil menyodorkan gelas kaca polos, berbentuk seperti belimbing karena terdapat ruas-ruas pada sisi. Diapun mengambil botol minuman bersoda yang dipesan, menuangkan ke dalam gelas yang berisi batu es. Menarik piring roti selai nenas dan berusaha membelah roti menjadi potongan kecil-kecil dengan garpu. "Trus... kelanjutannya gimana?" tanya Hakiki.


 


 


"Apa ya? Ya... aku merasa tidak terbebani dengan kejadian itu. Aku merasa kejadian itu adalah kejadian yang aneh tapi membuat aku senang di dalam hidupku. Seperti terjadi sekarang, aku bahagia, banyak teman, ceria, penuh dengan cinta, dan berusaha untuk menjadi manusia yang baik."


 


 


"Hmmm... kamu yakin baik baik saja?"


 


 


"Ya." Arini menjawab cepat dan menyeruput minumannya.


 


 


"Ya udah. Yang penting kamu baik-baik saja." Hakiki diam sesaat. "Atau pernah terbawa mimpi kejadian itu, Rin?" tanya Hakiki lagi. Dia berusaha untuk meyakinkan kalau Arini memang baik-baik saja.


 


 


"Enggak. Malah ketika aku kepikiran makhluk yang berwujud perempuan itu, membuat aku merasa bersemangat."


 


 


Hakiki mengerenyitkan kening. Pelan-pelan mengunyah makanannya sambil sedikit berpikir.


 


 


"Emang kenapa?" tanya Arini yang melihat raut wajah Hakiki. Berusaha mencari jawaban dari raut wajah sahabatnya. "Apa yang kamu pikirkan?"


 


 


"Ah... sudahlah. Ini tentang aku, tak ada hubungannya dengan kejadian kamu di monumen."


 


 


Arini hanya terdiam, kembali menyeruput minuman di hadapannya. Tak ingin memaksa Hakiki untuk bercerita tentang apa yang dipikirkan karena dia tahu, Hakiki tak suka jika didesak.


 


 


"Aku yakin, hasil cetakan foto pasti bagus semuanya," nyata Hakiki mencairkan suasana.


 


 


"Ish... pasti dunks. Kan, aku modelnya."


 


 


"Aku fotografernya," timpal Hakiki cepat.


 


 


Lalu mereka tertawa berbarengan.


 


 


 


 


 


 


*******


 


 

__ADS_1


__ADS_2